Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Luna perlahan membuka matanya yang tampak menyipit ditambah kerutan di keningnya menyesuaikan berkas-berkas cahaya yang memasuki matanya
Pagi ini langit terlihat amat cerah sebagai sebuah pengawal aktivitas seolah ikut bahagia menyambut keberhasilan operasi Luna
Selama 2 minggu menjalani pemulihan, Juan, Vani, dan Dira selalu datang bergantian menjaga Luna, Yana pun sesekali datang secara diam-diam untuk menjenguk kakak yang sangat dia sayangi itu, dan selama itu juga tidak sekalipun Luna melihat kehadiran sosok kedua orangtuanya
Tok tok tok!
"Ehh dokter ganteng pagi-pagi udah mampir aja, mau nemuin saya ya"
Kata Vani dengan genitnya menyambut kedatangan Rey
"Silahkan dok, maafin teman saya emang rada miring anaknya"
Sahut Dira dengan menekankan kata "miring" dan memicingkan matanya ke arah Vani mempersilahkan Rey ke sisi ranjang Luna yang tadi dia tempati
Rey pun mulai berjalan melangkah dengan tersenyum menunduk tidak tau ingin menjawab apa
"Gimana? ada keluhan?"
Begitu tanyanya setelah berada di dekat Luna
"Ada dok, frekuensi detak jantung saya akhir-akhir ini lebih cepat dari biasanya, apalagi kalau ada dokter, itu kenapa ya dok?"
Tanya Vani menyela percakapan Rey dan Luna yang masih gencar mendekati dokter yang sudah menarik perhatiannya sejak awal mereka bertemu
Rey menggaruk tidak gatal belakang kepalanya, dia selalu kehabisan kata-kata dengan setiap penuturan Vani
"Apaan sih loe, dokter Rey lagi mau ngecek kondisi Luna, Silahkan dok dilanjutkan gak usah dengerin dia ini"
Sigap Dira menarik lengan Vani menjauh
"Alhamdulillah gak ada, kira-kira kapan ya saya bisa pulang dok?"
"Besok udah bisa pulang kok"
Cepat Rey menjawab
"Yahhh kok besok sih..."
Keluh Vani yang membuat semua orang di ruangan itu kompak menoleh heran padanya, Vani pun gelagapan dan cepat meluruskan perkataannya tadi
"Nggak bukan maksudnya gue gak suka Luna pulih, seneng dongg... seneg banget malah, cuma ada baiknya dirawat aja lagi dok sampe Lunanya bener-bener pulih, kasihan tuh masih pucet gitu mukanya, gitu maksudnya belum selesai juga gue ngomong jangan mengintimidasi gitu dong tatapannya"
Sahut Vani tidak rela jika dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk kerumah sakit bertemu dokter Rey
"Luna sudah cukup sehat kok untuk pulang, tapi tetap banyakin istirahat dan kontrol kesini ya"
Jawab Rey mengingatkan
"Ohh gitu ya, tenang aja, nanti saya kok dok yang nemenin dia kontrol setiap hari juga saya jabanin, sama dokter kan ya kontrolnya?"
Tanya Vani semangat
"Iya benar dengan saya"
Jawab Rey lembut sambil tersenyum
Tak lama Juan masuk dan langsung mendekat ke sisi ranjang yang Luna satunya lalu mendaratkan tangannya mengelus pucuk kepala Luna, Rey memperhatikan secara bergantian wajah Luna dan Juan
"Kalau gitu saya permisi dulu"
"Iya, terimakasih banyak dok"
Kata Juan menjawab
Setelah dokter Rey keluar Juan kembali menoleh pada Luna
"Kamu sebenarnya udah kenal berapa lama sih sama dokter Rey"
Luna tampak berpikir sebentar
"Waktu aku pertama masuk rumah sakit ini dan ngeliat dokter Rey aku emang kayak gak asing sih, tapi kalo diinget lagi juga kaya belum pernah kenal"
Juan tampak mengangguk pelan
"Emang kenapa?"
Tanya Luna penasaran karena tidak biasanya Juan bertanya tentang dokter Rey
"Gak papa kok, dia dokter yang baik"
Jawab Juan dengan tersenyum
"Ohh iya, tapi kalau aku liat kayanya dokter Rey cukup deket deh sama Ayah, manggil Ayah aja Om, tapi kalau lagi gak di tempat umum sih"
"Oo iya, berarti mungkin kalian udah pernah ketemu sebelumnya"
Tambah Juan kemudian
"Itu dia, aku lupa"
Vani dan Dira terkekeh mendengar perbincangan dua orang di depan mereka
"Ngapain loe berdua cekikian gak jelas"
Tanya Juan yang menyadari tingkah mereka
"Lun, masa gak ngerti sih Juan lagi ngapain"
Luna memiringkan kepalanya heran kemudian mengggeleng tanda tak mengerti dengan yang dimaksud Dira
"Juan cemburu tau Lun sama perhatiannya dokter Rey ke loe"
Kata Dira dengan senyum jahilnya kepada Juan
"Beneran kamu cemburu? Dia kan cuma dokter aku"
Tanya Luna dengan senyum tipisnya menatap Juan yang gelagapan
"E..Enggak kok, sok tau nih mereka, aku kan cuma nanya aja tadi"
Lunapun mengangguk dengan tetap tersenyum
"Gak usah cemburu wann, tenang aja... dokter Rey udah dituliskan sebagai jodoh gue di Lauhul Mahfudz (kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta)"
Ungkap Vani dengan percaya dirinya
"Mimpi aja loe, bahkan dalam mimpi aja dokter Rey ogah sama loe"
Jawab Juan yang seketika meruntuhkan senyumnya Vani dan disambut gelak tawa Dira dan Luna
"Kamu lagi ada masalah ya?"
Tanya Luna yang menyadari kegelisahan yang berusaha disembunyikan Juan sejak tadi tapi tetap terbaca oleh Luna
"Hmm... "
Dengan ragu Juan ingin menjawab
"Ngomong dong, kamu kaya lagi sama siapaa aja"
"Tau loe, belagu pake malu - malu gitu, biasanya jug malu - maluin"
Sahut Vani menambahkan kalimat Luna sebelumnya
"Aku harus ke Bandung, Ayah kondisinya mulai lemah lagi..."
Innalillahi
Ucap Luna, Vani, dan Dira kompak
"Terus kenapa kayak ragu gitu, ya berangkat la kamu ke Bandung"
"Kamu gimana, besok kamu juga pulang, siang sampe malem juga Vani Dira gak bisa nemenin kamu"
Ungkap Juan dengan memandang Luna
"Ayah kamu lebih penting la wan... lagian disini juga ada mereka, udah sana berangkat"
Desak Luna sambil menunjuk Vani Dira
"Iya wan, gak papa pergi aja, ada kita kok, Luna juga udah lumayan sehat kalo ditinggal siang sampe malam, habis isya' juga gue udah bisa nyusul kesini lagi"
Timpal Dira ikut mendesak Juan yang disertai anggukan kepala Vani
Juan tampak berpikir, saat pandangannya kembali mengarah ke Luna dilihatnya Luna tersenyum dan mengangguk meyakinkan Juan
"Jaga diri baik-baik ya, ingat kamu harus banyak istirahat"
"Iyaa... Kayak aku anak kecil aja, ohh iya sampein salam aku sama Ayah kamu, maaf banget aku belum pernah jenguk dan ketemu langsung sama beliau, semoga cepat diberi kesembuhan sama Allah ya"
Aamiiinnn
Kompak Juan, Vani, dan Dira mengaminkan do'a Luna
"Kalau gitu aku berangkat sekarang ya"
Pamit Juan dengan senyum khasnya mengelus kepala Luna
Assalamu'alaikum
Salam Juan begitu di ambang pintu
Wa'alaikumsalam
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!