"Ayo kita bercerai!"
Hana tiba-tiba diceraikan oleh Heston karena sang suami mengalami kecelakaan dan amnesia.
Dunia Hana hancur apalagi dia diceraikan dalam keadaan hamil.
Apa yang akan Hana lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat Keputusan
TIDAK!
Heston menyangkal dengan keras, dia tidak percaya dengan pernyataan Hana.
"Ada apa?" tanya Queen karena melihat calon suaminya melamun.
"Apa kau tidak menyukai gaun atau jas pengantinnya?"
"Tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita," balas Heston.
Queen selalu membesarkan hatinya karena tahu kalau Heston memang tidak mencintai dirinya.
"Bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama?" Queen akhirnya mengalihkan pembicaraan.
Heston mengetuk-ngetuk jarinya, dia sedang merangkai kalimat yang tepat untuk Queen.
"Queen, apa kau menyukaiku? Aku tahu kau bersedia menikah denganku karena orang tuamu, bukan?" Heston tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kita bernasib sama, Queen. Tapi, bukankah kita juga berhak memilih jalan hidup lain?"
Queen terdiam sejenak, dia mencoba mencerna perkataan Heston. Memang benar dia berusaha menuruti permintaan orang tuanya.
"Aku dibesarkan dengan baik oleh orang tuaku, untuk urusan jodohpun aku yakin pilihan orang tuaku adalah pilihan terbaik," balas Queen kemudian.
"Tapi, aku bukanlah orang baik itu. Kau sangat tahu kalau aku melupakan sebagian memori hidupku, mungkin saja aku orang yang buruk di masa lalu," ucap Heston seraya menatap calon istrinya itu.
"Jadi, bisakah aku meminta bantuanmu sebelum kita melangkah lebih jauh?"
Queen membalas tatapan Heston, ada rasa ragu-ragu luar biasa di sana. Memang perasaan tidak bisa dipaksakan.
"Apa itu?" tanya Queen ingin tahu.
"Tolong cari tahu kejadian sebelum aku hilang ingatan lima tahun lalu, kalau kau yang melakukannya tidak akan ada yang curiga. Aku selalu diawasi kalau aku meminta bantuan detektif swasta pasti keluargaku akan membayar lebih mahal dan mengirimkan informasi yang salah," jelas Heston seraya mengeluarkan obat yang selama ini dia konsumsi.
"Orang tuaku memberi obat ini supaya ingatanku tidak pernah kembali, aku baru sadar akhir-akhir ini!"
Tentu saja hal itu membuat Queen sangat terkejut.
Artinya memang ada sesuatu yang disembunyikan dari Heston selama ini.
"Aku tidak berjanji tapi aku akan berusaha," sahut Queen.
Heston langsung meraih tangan Queen penuh harapan. Dia memang sengaja meminta bantuan calon istrinya supaya perempuan itu juga berpikir untuk masa depan hubungan mereka.
"Aku mengandalkanmu, Queen!"
*
*
Aston tersenyum simpul saat mendapat panggilan dari Hana.
"Aku menunggumu di kafe dekat sekolah, apa kau bisa kemari?" tanya Hana.
"Baiklah, aku akan kesana," balas Aston.
Saat jam makan siang, Aston pergi dari perusahaan untuk menemui Hana seorang diri.
Benar saja Hana sudah menunggunya di kafe dekat sekolah si kembar.
"Apa kau sudah memikirkan semuanya?" tanya Aston tanpa basa-basi.
"Duduklah dulu!" pinta Hana.
Belum juga Aston duduk tapi Hana sudah dicecar oleh pertanyaan.
"Baiklah," Aston akhirnya menurut saja.
"Aku sudah membuat keputusan dan ingin bekerja di perusahaanmu tapi kau harus berjanji untuk melindungi keluargaku," ucap Hana dengan syaratnya.
Aston menganggukkan kepalanya seraya bertepuk tangan.
"Bagus Hana, kau membuat keputusan yang tepat dan tenang saja kau bisa mengandalkan aku. Pertama-tama, kita pindahkan sekolah si kembar ke sekolah bertaraf internasional dan kau juga harus pindah rumah di kawasan yang aman dari perjagaan," Aston mulai mengatur begitu saja.
Sampai membuat Hana terheran-heran.
"Kita bisa lakukan semuanya pelan-pelan lagipula ayahku sekarang masih di rumah sakit," balas Hana.
"Untuk satu itu juga, ayahmu harus pindah rumah sakit yang lebih besar kalau bisa ke luar negeri sekalian," ucap Aston masih tampak santai.
"Apa memang bagimu semua ini semudah itu?" Hana tidak habis pikir.
"Mulai sekarang kau harus terbiasa melihat cara kerjanya uang, Hana," ucap Aston di sana.
agak lama yaa nunggu nya