NovelToon NovelToon
CAMELIA

CAMELIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:665.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kimmy reana

Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Confused 16

Kara Kaisara

Jika ada penghargaan pasangan penuh kebohongan, maka Ibu dan Ayah pasti menjadi juara utama. Di rumah mereka seperti orang asing, tapi begitu di keramaian mereka akan berubah menjadi pasangan romantis penuh kasih sayang. Siapapun pasti iri melihat kemesraan Ayah dan Ibu. Tapi, mereka akan kembali seperti musuh begitu kembali kerumah. Seolah tidak lagi saling menghargai dan saling membutuhkan, mereka akan menjadikan hal sekecil apapun sebagai alasan untuk bertengkar.

Dua kejadian mengguncang hatiku secara bersamaan.

Satu kejadian aku dihadapkan dengan keadaan keluargaku yang semakin berantakan. Pertengkaran Ibu dan Ayah semakin sering terjadi akhir-akhir ini. Meski aku coba melerai,mereka masih tetap bertengkar. Bahkan Ibu sampai mendorongku hingga tanpa sengaja aku menginjak pecahan guci yang dilempar Ayah, untuk meluapkan emosinya.

Satu kejadian lagi aku dihadapkan dengan sikap Faro yang tiba-tiba menciumku.

Aku terkejut menerima ciumannya, tapi aku tidak bisa menolak. Bagaimanapun juga aku sangat menginginkan keberadaannya di dekatku. Jika aku tidak mampu lagi menjadi alasan Ayah dan Ibu bersama, maka aku ingin Faro menjadi alasan untukku bertahan saat ini. Biarlah aku menjadi egois untuk kali ini saja.

Setelah pertengkaran hebat siang itu, baik Ayah maupun Ibu sama-sama tidak pulang malam harinya. Aku hanya ditemani Bi Iyah, dan Mbak Susan yang sengaja aku ajak tidur bersama di kamarku.

"Bi.?"

"Iya,Neng. Butuh sesuatu?" Tanya Bi Iyah. Kita sudah berbaring di kasur masing-masing. Aku di ranjangku sedangkan Bi Iyah dan Mbak Susan membawa kasur lipat, dan tidur di bawah ranjangku persis.

"Neng Kara mau makan? Dari tadi belum makan. Kalau mau Bi Iyah buatin." Bi Iyah beranjak dari tempat tidurnya, menghampiriku yang masih berbaring di tempat tidur.

"Nggak,Bi. Kara gak laper."

"Kaki nya masih sakit." Bi Iyah kini duduk di tepian tempat tidurku. Mengelus lembut kakiku.

"Masih sakit, sedikit."

"Mau dikompres es batu." Tawar Bi Iyah.

"Nggak usah."

Hening tidak ada yang bicara. Mbak Susan malah sudah terlelap sedari tadi.

"Bi, Ayah gak pulang?"

"Belum,Non."

"Tadi siang Kara dengar Ayah ngomong soal istri. Istri siapa Bi? Apa Ayah punya dua istri?"

"Bibi gak tau soal itu,Non."

"Gak mungkin Bi Iyah gak tau, bukannya kerja di rumah Ibu dari aku kecil?"

"Bener,Non. Bi Iyah gak tau soal itu." Aku menghela, mungkin saja Bi Iyah memang tidak mau menceritakan apapun padaku. Tapi ucapan Ayah siang itu amat mengganggu fikiranku.

"Sudah malam. Non Kara harus tidur. Besok sekolah kan?"

"Iya,Bi. Makasih ya?" Bi iyah mengangguk,menaikan selimutku hingga sebatas dada dan kembali ke tempat tidurnya, di sebelah Mbak Susan.

Meski tidak mendapat jawaban yang aku mau dari Bi Iyah, aku harus mencari tahunya sendiri. Tidak mungkin Ayah berkata seperti itu tanpa alasan yang jelas.

Paginya, meski telapak kakiku masih terasa sakit akibat pecahan kaca yang tidak sengaja aku injak, aku tetap berangkat sekolah.

"Neng Kara mau pak Parman antar sampai ke kelas?" Pak Parman menawarkan bantuan, karena aku masih kesulitan berjalan.

"Nggak usah pak. Tolong bukain pintu aja." Dengan sigap pak Parman langsung membuka pintu mobil.

Perlahan aku berjalan, meski masih terasa sakit begitu aku melangkah, tapi tidak separah kemarin. Baru beberapa langkah aku melihat Jupiter berjalan menghampiriku. Jika saja aku tidak terluka, mungkin aku sudah berlari menghindarinya.

"Lo kenapa?" Tanya Jupiter, matanya menyelidik,memperhatikan tiap langkahku yang tertatih.

"Keseleo." Jawabku.

"Gue anter sampe kelas." Jupiter meraih tanganku, namun buru-buru aku tepis.

"Gak usah, aku bisa jalan ko."

"Kenapa sih, gue cuman mau bantu."

"Iya, aku tau. Tapi aku bisa jalan sendiri."

"Karaaaa,!" Seru Nadira, kebetulan dia baru datang dan langsung menghampiriku.

"Kenapa jalannya pincang?" Tanya Nadira, menundukan kepalanya memperhatikan kakiku.

"Keseleo." Jawabku.

"Ko bisa?" Aku hanya mengangkat bahuku,

"Bisa jalan?" Kini Nadira mengapit sebelah lenganku,

"Aku bantu sampai kelas ya." Aku mengangguk mengikuti langkah Nadira.

"Mana hp lo?" Jupiter menghadang langkahku dan tangannya menengadah persis di depanku dan Nadira.

"Hp apa?"

"Lo masih ngeblok nomor gue kan?"

"Oh itu_" aku menggantung kalimatku, menatap sekilas wajah Jupiter.

"Nanti aku buka blokirannya."

Jupiter menaikan sebelah alisnya,menatap datar seperti menganggap ucapanku hanya lelucon garing.

"Serius! Nanti aku buka blokirannya. Sekarang kamu mending masuk kelas."

"Kalau sampai jam makan siang, nomor gue masih di blok. Jangan salahin gue, kalau gue bakalan datengin kelas lo."

Aku menghela kasar, Jupiter memang selalu menggunakan ancaman untuk memenuhi keinginannya dan tidak ada pilihan lain untukku selain mengangguk, mengiyakan keinginannya.

"Ko bisa terkilir sih,Kar." Nadira kembali bertanya, setelah memapahku sampai duduk di bangku kelas.

"Buru-buru turun dari tangga, akhirnya terkilir deh." Aku berbohong.

Tidak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya pada Nadira, meski kita sangat dekat dan berteman baik, tapi untuk hal pribadi seperti itu aku tidak ingin semua orang tau.

"Udah di obatin?"

"Udah." Nadira terlihat khawatir, sesekali matanya mengawasi setiap gerak gerikku.

Untungnya jam pelajaran banyak kosong, beberapa guru berhalangan datang. Aku bisa leluasa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang tidak sempat aku kerjakan kemarin. Ponsel yang aku taruh di kantong rok sekolah bergetar, ada pesan masuk.

Faro: gimana lukanya? Udah mendingan?

Aku tersenyum membaca pesan darinya,

Me: Udah baik, aku lagi di sekolah.

Faro: Syukurlah, kalau gitu sampai ketemu nanti siang.

Me: iya.

Aku tersenyum setiap kali membaca ataupun membalas pesan dari Faro.

Bel istirahat berbunyi nyaring, beberapa siswa langsung berhamburan keluar menuju kantin. Sedangkan aku masih sibuk menatap layar ponsel, mengulang membaca pesan dari Faro.

Di depan pintu kelas terdengar gaduh, beberapa siswa perempuan bahkan sampai berteriak.

"Ada apa?" Tanyaku pada Nadira.

"Gak tau. Mungkin ada anak sultan pindah sekolah kesini." 

Aku tidak begitu memperdulikan apa yang terjadi hingga membuat kegaduhan. Aku kembali fokus ke layar ponselku,

"Kara, itu… datang." Nadira tidak menyelesaikan ucapannya, dia hanya mengguncang-guncang lenganku.

"Apa sih Nad?" Mataku terbelalak, melihat Jupiter datang menuju meja yang aku tempati.

"Gue heran. Kenapa lo seneng banget di paksa." Jupiter berdiri persis di sebelah meja, kedua tangannya dilipat di dada,menatapku sinis.

"Ah,, ini baru mau aku buka." Aku mengangkat layar ponsel, berharap Jupiter percaya.

"Chat sama orang lain maksud lo, sampe lupa buka blokiran gue." Aku segera melihat layar ponsel. Ya ampun aku belum menekan close dan masih menampilkan isi pesan dari Faro.

"Ini mau dibuka." Segera aku membuka aplikasi whatsapp, mencari nama Jupiter dan membuka blokiran.

"Tuh udah kan?" Kembali ku tunjukan layar ponsel,

"Masalah gini aja di ributin." Gerutuku.

Kelas tidak seramai tadi, begitu aku melihat ke sekeliling ternyata hanya tinggal aku dan Jupiter. Bahkan Nadira pun ikut lenyap tanpa aku sadari.

"Nadira udah keluar dari tadi."

"Kamu yang suruh?"

"Nggak!"

"Gak mungkin." Decakku,

"Udah sana balik ke kelas kamu, ngapain masih di sini."

"Lo galak banget sih. Nih buat lo, gak usah keluar kelas." Jupiter mengeluarkan bungkusan dari kantong celananya. 

"Makanya kalau jalan hati-hati." Jupiter mengacak-acak rambutku, setelah menaruh plastik berisi makanan diatas meja dia beranjak keluar tanpa berdebat terlebih dulu denganku.

Aku masih menatap kantong plastik berisi roti isi nutella dan satu kotak susu stroberi. Hingga getaran ponsel menghentikan lamunanku.

Satu pesan masuk,

"Dimakan jangan bengong! Gada racunnya! Kalau sakit perut,gue tanggung jawab."

Mataku menelisik mencari ke semua tempat. Ternyata Jupiter masih berada di balik kaca jendela, tersenyum. Satu tangannya melambai kemudian berlalu, hingga tubuhnya hilang di balik dinding tembok.

Jupiter tidak seburuk perkiraanku. Bahkan malam itu, ketika kita sama- sama berada di pesta ulang tahun salah satu teman Ayah dia terlihat begitu manis. Jupiter memang tampan, bahkan ketampanannya di atas rata-rata, hanya saja sikap dominan yang dimilikinya terkadang membuatku kesal. Dan lagi dia pacar dari siswa paling cantik di sekolahku,Ayudia.

Jika dipikir ulang, akhir-akhir ini aku berurusan dengan lelaki yang sudah memiliki pasangan. Aku tidak menganggap Jupiter menyukaiku,hanya saja begitu aku mendengar cerita David malam itu, salahkah jika aku beranggapan Jupiter memang menyukaiku?.

Begitu pun dengan Faro. Aku tau dia memiliki kekasih, bahkan kekasihnya adalah kakak kandung Jupiter. Tapi aku tetap membiarkan dia masuk lebih jauh ke dalam kehidupanku. Kehadiran Jupiter merubah sedikit demi sedikit kebiasaanku, awalnya aku sangat menyukai selai kacang, karena idenya kini aku justru menyukai nutella. Sikap konyolnya yangi sangat menyebalkan, perlahan-lahan aku mulai terbiasa. Meski Jupiter sangat berisik dan aneh, tapi kehadirannya justru memberi warna di hidupku yang hanya memiliki dua warna, putih dan hitam.

Begitu pula dengan Faro, kehadirannya sangat berarti untukku. Berbeda dengan Jupiter, kehadiran Faro ibarat angin segar di tengah pengapnya kehidupanku.

Kehadiran mereka berdua memiliki peran dan tempat tersendiri di hatiku dan aku berharap aku tidak tersesat karena kehadiran dua lelaki itu. Karena begitu aku tersesat, aku tidak tau siapa lagi yang akan menyelamatkanku, selain kedua lelaki itu. Apa aku serakah jika menginginkan keduanya? Tentu saja tidak. Karena hanya satu lelaki yang aku cintai, yaitu Jupiter. Si lelaki aneh dengan segala tindakan konyolnya.

1
Wida
sukaaa
lika16
titip sendal
X'tine
bingung baca cerita ini, di ulang ulang
Doubley
KERENN! Aku udah baca, komen, dan like. Semangat, Kak. Feedback ke novel saya dong, judulnya The Vengeance. Terima kasih.❤
Anisa Shofy
ceritanya bagus kak. aku baca di lapak sbelah, krna ga selesai jadi donlot noveltoon buat baca karyamu. semangat yaa..smoga ga typo lagi dan ga ketuker2 namanya hihi
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Just Rara
akhirnya happy ending juga
Just Rara
😄😄😄lucu ayahnya si jupiter
Just Rara
knp tiba2 aksa bisa benci gt sm camelia ya?
Just Rara
wah si kara hamil,semoga bu mala bisa luluh hatinya setelah dpt cucu baru dr kara dan jupiterr☺️☺️
Just Rara
knp si febian gak dijodohin sm si nadira aja
Just Rara
akhirnya mereka nikah juga☺️
Just Rara
lah itu febiannya blm meninggal🤔🤔
Just Rara
yak knp si febiannya dibikin meninggal thor😭😭
Just Rara
mantap febian,ungkap semua penjahat nya👍
Just Rara
pasti tu si jupiter sm nadia deh yg ada diruangan itu
Just Rara
say good bye to jupiter ya kara😁
Just Rara
dasar si jupiter,dia gak tulus cinta sm kara😒😒😒
Just Rara
sama aja jahatnya jupiter dgn para lelaki hidung belang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!