Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Bersandar
Sefia berjalan tanpa arah dan tujuan, Ia rapuh saat ini. tangisnya semakin pecah, tanpa memperdulikan orang orang sekitar memandangnya penuh kasihan dan juga mencibirnya.
Kini semua musnah, Kini semuanya Runtuh.
keyakinan yang Ia pegang teguh untuk bertahan, keyakinan yang Ia harap. musnah sudah.
"Semenjak ku sandarkan kepalaku dibahumu, aku menitipkan harapan besar padamu. pada hatimu yang ku percaya pandai menjaga. Yang aku tahu kamu selalu menjagaku lebih dari diriku. tapi hari demi hari kamu berubah, aku mengira itu hanya kesalah pahamanku yang tak mengerti dirimu, dirimu yang selalu sibuk dengan pekerjaanmu. yang kamu Gilai itu."
Ia memukul mukul dadanya sesak, penuh dengan penyesalan.
Ia kemudian memandangi langit yang begitu cerah nan indah malam ini, menghapus air matanya tak ada hentinya keluar.
Ia membisikkan pada hatinya sendiri, pada sebuah angan dan kehancuran.
"aku sibuk menyusun sebuah harapan sampai benar benar menyentuh awan, semua tentang kamu, tentang kita yang ku langitkan, tapi ternyata waktu dapat menarik ulur harapan. Kini aku benar benar terjatuh, tanpa peduli semuaku terpatahkan. Keyakinanku dan Juga harapanku kini sudah runtuh, rata dengan tanah"
"aku meyakini kamu masih mencintaiku, tapi sekarang kamu dengan entengnya mengatakan bahwa cintamu padaku telah pudar"
"kamu sudah tak lagi mencintaiku, orangtuamu tak lagi mengharapkanku. lalu untuk apa kamu masih mempertahankanku?"
"semua yang sudah ku lakukan, semua yang sudah ku korbanku. sia sia sudah harapan"
"aku ingin kamu mengerti, perjuanganku selama ini, bagaimana caraku?"
Sefia makin terisak, berjalan tanpa arah hingga tanpa sadar Ia berjalan sampai didepan gudeng Apartemen milik mantan kekasihnya, Dedi.
"baik mas kalau begitu, aku juga akan menghapusmu dan memudarkan cintaku"
****
Disisi lain Dedi menghadiri undangan orangtuannya agar bertemu untuk makan malah disalah satu restoran mewah.
"selamat malam" sapa Dedi pada tamu yang sudah duduk didepan meja.
yang tak lain adalah kedua orang tuannya sendiri dan juga kedua orangtua dari Sherly juga Sherly itu sendiri.
"malam, akhirnya kamu datang" sahut Imel, mama Dedi
"maaf semuanya, Dedi terlambat karena tadi masih banyak kerjaan?"
"iya, tidak apa apa kok, Nak! saya mengerti karena Nak Dedi kan pekerja keras" sahut Baskoro ayah dari Sherly sembari menepuk nepuk bahu Dedi penuh bangga.
"makasih om" Dedi membungkuk sedikit, memberi hormat kemudian duduk.
Dedi semula memenuhi undangan orangtuanya karena Ia kira akan bisa bersantai sejenak, tapi saat kedua orangtua dan Sherly juga ikut hadir. Ia tahu akan lanjut kemana alur pembicaraan mereka nantinya.
"apa kita langsung saja memulai percakapan?" tanya Bowo ayah dari Dedi
"baik, silahkan!" sahut orangtua dari Sherly.
Dedi hanya bisa memilih terdiam dan mengabaikan semuanya, termasuk Sherly yang senyum malu sambil menatap dirinya.
"begini, anak saya Dedi kan umurnya sudah matang. diumur yang seperti itu seharusnya sudah menikah dan kami berniat untuk menjodohkan Sherly dengan Dedi, bagaimana?" usul Bowo
"kalau kita tergantung anak saya, semua keputusan saya serahkan pada orang yang akan menjalaninya"
"saya mau om", sahut Sherly tiba tiba membuat para orangtua tertawa, kecuali Dedi yang memilih mengabaikan.
"kalau Nak Dedi sendiri bagaimana?" tanya Baskoro
"terserah" sahutnya ketus.
kemudian tiba tiba Ia mendapati ponselnya berdering menunjukkan ada panggilan masuk, semula Ia memilih mengabaikan panggilan tersebut tapi setelah Ia membaca di layar ponselnya, Ia langsung mengangkatnya.
"Hallo, Fi?" jawab Dedi
"aku di apartemenmu." ucap Sefia serak.
"Oke, tunggu aku disitu. aku akan segera pulang!"
Dedi kemudian langsung beranjak dari duduk dengan tergesa gesa.
"Maaf, saya pamit undur diri karena ada hal yang mendadak" ucap Dedi berpamitan lalu membungkuk memberi hormat.
Tanpa menunggu jawaban dari para orangtua, Dedi mempercepat langkahnya begitu saja.
Sherly kemudian berlari menyusulnya dan menghentikan langkah Dedi.
"Ded, kamu mau kemana? inikan juga acara penting?"
"Ini jauh lebih penting." sahut Dedi ingin melangkah lagi tapi lagi lagi Sherly menahannya.
"Tunggu, kenapa kamu tiba tiba bersikap dingin begini? Apa ini karena perjodohan kita? Kalau kamu memang tidak suka, aku bisa membatalkannya."
"baguslah, batalkan saja" sahut Dedi membalikkan badan lalu pergi begitu saja.
"ih kesal, kenapa beneran sih. kan cuma pura pura aja! ah pokoknya kamu harus jadi milikku"
Dedi langsung tancap gas buru buru kembali ke apartemennya.
****
"Fia"
Dedi sudah menemukan Sefia duduk menenggelamkan wajahnya diatas lekukan lutut kakinya.
"Dedi" Sefia pun beranjak berdiri, melihat Dedi datang dengan terengah engah.
Terlihat jelas bahwa Sefia tengah habis menangis dan Dedi langsung menarik lengan Sefia agar masuk ke dalam apartemennya.
"Duduklah!" Dedi menuntun Sefia agar duduk dan Dedi duduk disebelahnya. "Fia, apa kamu ada masalah?" tanya Dedi pada Sefia yang sedang menunduk Sedih.
Sefia pun mulai terisak kembali. "Harapan yang ku bangun dan ku yakinkan, musnah sudah." tuturnya membuatnya seakan ikut sesak, merasakan apa yang ia rasakan.
Dedi menarik Sefia bersandar pada Dada bidang miliknya, ia memeluknya untuk berbagi kesedihan. "Apa dia menyakiti mu?" tanyanya.
Sefia hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
Sudah basah rasanya kemeja yang Dedi gunakan akibat air mata Sefia terus mengalir tak mau berhenti.
Dedi menepuk-nepuk punggung Sefia untuk memberi ketenangan. "Menangislah jika itu perlu, tapi kamu harus tahu. Menangis hanya untuk menyesali sesuatu itu tak akan berguna jika kamu tidak merubahnya."
Sefia mendongak, menatap Dedi. "Maaf." hanya ucapan itu yang terlontar kemudian Sefia terisak kembali.
Dedi tak mampu menebak apa yang telah terjadi, tapi ia sangat bersyukur bahwa Sefia memilihnya untuk menjadikannya tempat bersandar.
Telah lama dan telah cukup Sefia menangis, kini ia pun mulai tenang dan sekarang tersisa rasa canggung ketika ia sadar bahwa ia tak seharusnya mengadu pada Dedi, orang yang telah disakitinya.
"Kamu tunggu disini, aku akan buatkan minuman hangat untukmu." tawar Dedi.
"Ah, tidak perlu repot-repot kok, lagian aku tak akan lama disini. Aku harus segera pulang." ucap Sefia beranjak ingin pergi tapi Dedi menahan langkahnya.
"Biar aku antar, Fi!"
"Tidak perlu, Ded! Aku bisa naik bus kok."
Dedi berdecak, ia langsung menggapai jemari Sefia lalu menuntunnya keluar dan Memasuki mobilnya untuk mengantarnya pulang.
Sepanjang jalan, Sefia mengamati lamat-lamat wajah Dedi. Sungguh, ia sangat berdosa padanya, dan ia tak seharusnya masih mengharapkan pria yang sudah terlarang untuknya ini.
"Maaf, aku telah menyusahkanmu. Kamu tadi pasti datang ke acara resmi dan sedang sibuk." ucap Sefia mengamati pakaian yang Dedi kenakan.
"Ah tidak." Dedi salah tingkah. "Aku tadi memang sudah dalam perjalanan pulang kok."
"Oh, begitu. Syukurlah."
Kini merekapun telah sampai didepan rumah Sefia.
"Terimakasih." ucap Sefia tersenyum pasi, ingin beranjak turun dari mobil.
"Fia, kamu benar sudah tidak apa-apa?" tanya Dedi khawatir.
Sefia tersenyum pasi dan mengangguk. "Aku baik-baik saja." ia membungkuk memberi hormat. "Terimakasih bantuannya dan maaf merepotkanmu."
Dedi lega, membalas senyum. "Iya." ia pun melajukan kembali mobilnya, tapi saat ia menjauh. Terlihat jelas dari spion mobil kalau Sefia berbalik arah, tidak pulang kerumahnya.
"Dia mau kemana?"
****
jangan lupa Vote untuk dukung Author terus berkarya.
sementara bisa langsung Download NOVELTOON, pergi ke pusat misi. lalu Vote POIN gratis di sebelah nama Author.
makasih yang udah dukung aku ya, kalian luar bisa :*
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..