mahkotanya terenggut begitu saja dengan paksa.
jiwanya begitu terpukul dan terguncang hingga mampu membuat mentalnya terganggu.
susah payah ia berusaha bangkit dan berjuang.
namun jejak dari peristwa itu masih berlanjut.
ia hamil....laki laki itu tak mau bertanggung jawab.
penolakan itu kembali mengguncang jiwanya.
mampukah ia bangkit untuk kesekian kalinya, jika kembali jejak peristiwa itu mampu meluluh lantakkan masa depan yang coba ia bangun....?!
pernikahannya di batalkan karena jejak dari peristiwa itu.
bagaimana gadis itu akan mampu membangun masa depannya kembali, jika pria itu kembali hadir di hadapannya..??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 kehilangan ( revisi )
Sejak pertengkaran kecil yang terjadi antara dirinya dan Fakry, sudah satu minggu pemuda itu tak lagi pernah mendatangi rumah Rhain lagi.
Rhain sendiri pun kini nampak sibuk dengan dirinya sendiri.
gadis cantik berhijab itu nampak lebih sering menghabiskan waktunya hanya di dalam kamarnya saja.
Ia akan keluar di pagi hari intuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.
Setelah kedua ayah dan ibunya berangkat ke sekolah, ia pun akan segera kembali ke dalam kamarnya dan akan keluar lagi menjelang sang ayah atau ibunya pulang dari sekolah.
Seperti hari ini pun demikian.
Sejak pagi tadi setelah kepergian ayah dan ibunya gadis itu langsung mengurung dirinya di dalam kamar.
Pukul dua belas siang, seperti biasanya. Bik Jumi naik ke atas menuju kamar Rhain dengan membawa nampan berisi makan siang.
thok thok thok ...
Bik Jumi mengetuk pintu berulang kali.
Tak ada jawaban.
" mbak Rhain....." panggil bik Jumi sambil terus mengetuk pintu.
" mbak Rhain, buka pintunya mbak....ini bik Jum bawakan makan siang.
Dari tadi mbak Rhain belum makan apa apa kan selain sarapan ?! " kata bik Jumi agi.
ia ingat, tadi seperti biasa pikul sembilan atau pukul sepuluh ia akan naik dan mendatangi kamar Rhain dengan membawa makanan ringan dan buah buahan yang sudah ia kupas.
Tapi hari ini berbeda.
Jika biasanya Rhain akan segera membuka pintu kamarnya jika mendengar ppanggilan bik Jumi.
Hari ini tidak.
Pagi tadi pun bik Jumi terpaksa membawa kembali nampan berisi makanannya turun ke bawah karena Rhain yang tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Bik Jumi tiba tiba membelalakkan matanya.
sekali lagi wanita tua itu menggedor pintu kamar itu dan memanggil manggil Rhain lagi.
Tapi nihil, tetap tak ada jawaban.
Seketika bik Jumi memutar tubuhnya dan meletakkan begitu saja nampan yang ia pegang di atas meja yang ada di depan kamar gadis iru
Dengan panik ia membuka buka almari untuk mencari kunci cadangan.
Tapi ia pun tak menemukanya.
Wanita tua itu berlari panik menuruni tangga rumah kemudian berteriak memanggil sang suami.
" telephhon bapak sama ibu saja buk...takutnya ada apa apa sama mbak Rhain, nggak biasanya ginikan ? " Saran pak Sarto pada sang istri setelah mendengarkan cerita sang istri.
Karena ia sendiri tak berani mendobrak kamar putri majikannya itu.
Dan tanpa banyak kata lagi, bik Jumi segera menghubungi kedua majikannya.
Setelah hampir 45 menit bik Jumi dan pak Sarto mondar mandir di teras rumah nampk dua mobil sedan memasukin halaman rumah itu.
" ada apa bik Jumi ? " tanya bu Sarah yang datang lebih duku ketimbang sang suami.
" mbak Rhain gak keluar sama sekali sejak tadi pagi buk, saya panggil panggil juga nggak menyahut buk.
Saya coba cari kunci cadangan nggak ada buk " kata Bik Jumi khawatir.
" kebawa ini sama saya bik " jawab pak Ridho yang kemudian langsung melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar, dan kemudian diikuti oleh bu Sarah, bik Jumi dan juga pak Sarto di belakangnya.
Cklek....
Pintu kamar terbuka, pak Rudho dan bu Sarah segera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Tapi mereka tak menemukan anak gadis mereka itu.
" Rhain...." panggil pak Ridho, tak ada jawaban.
" mungkin di kamar mandi pak " kata bu Sarah yang mendengar suara gemericik air.
Dengan segera pak Ridho melangkah ke arah kamar mandi.
benar, ada suara gemericik air.
" Rhain...kamu di dalam nak ?! " panggil pak Ridho.
Tak ada jawaban, sejenak ia saling pandang dengan bu Sarah sang istri.
" buka aja pak, hati ibu gak enak ini " kata bu Sarah
Cklek...
Pintu terbuka, dan seketika mata kedua pasangan suami istri itu terbelalak lebar.
Tubuh putri mereka tergeletak di lantai.
Jantung bu Sarah semakin berdetak kencang ketika ia melihat air yang mengalir berwarna merah.
" Rhain...." menjerit wanita itu seketika, dan segera mendekat kepada tubuh sang putri yang telah nampak membiru.
" ya Tuhan Rhain...apa yang kamu lakukan nak...." jerit wanita itu histeris.
" buk minggir dulu buk, ibu tenang dulu...kita harus segera membawa Rhain ke rumah sakit.
Putri kita masih hidup.
tapi kita harus cepat " pak Ridho mengangkat tubuh membiru Rhaina keluar dari kamar mandi.
Tetesan air yang menetes dari pakaiannya berwarna pink setengah kemerahan.
Tubuh bu Sarah serasa semakin terkulai lemas melihat hal itu.
Berbagai pikiran buruk, berkecamuk dalam kepalanya.
Namun sekuat tenaga ia mencoba menepis pikiran buruk itu.
Berkali kali wanita itu terdengar mendesis.
Badai ternyata belum berlalu dalam hidup mereka.
Terutama dalam hidup Rhain putri semata wayangnya.
Bisiknya dalam hati.
Pak Sarto yang paham akan keadaan, segera berlari dan menuruni anak tangga.
Ia menyiapkan mobil untuk pak Ridho.
Sementara bu Sarah mengikuti langkah sang suami dengan di bimbing bik Jumi.
Cklek....
Pintu ruang pemeriksaan itu terbuka, seorang dokter wanita nampak keluar dari sana dan segera menghampiri kedua orang tua Rhaina.
" maaf pak, bu...anak ibu mengalami keguguran, kami tak bisa menyelamatkan janin dalam kandungan anak ibu dan bapak yang kemungkinan telah berusia sebelas sampai dua belas bulan " terang dokter wanita itu.
Pak Ridho terhenyak. Wajah pria itu nampak pias.
Bu Sarah menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
" mohon maaf, di mana suaminya...saya perlu bicara dengan suaminya " kata dokter itu lagi.
Tak ada jawaban, pak Ridho masih terdiam begitupun dengan bu Sarah.
" maaf dokter, suaminya sedang dinas di luar kota.
Dokter bisa menyampaikan kepada kami " jawab Bik Jumi memgambil inisiatif untuk menjawab.
Ia melihat, keadaan kedua majikannya tengah tak baik baik saja.
Kenyataan ini mungkin kembali bisa mengguncang kedua pasangan itu.
Meski terpaksa, namun nyatanya...kedua pasangan suami istri bisa menerima bayi yang kelak akan menjadi cucu mereka itu.
Keduanya bahkan telah merangkai nama untuk bayi itu.
" mohon beri pasien perhatian lebih, usianya masih sangat labil untuk hamil.
Jangan biarkan ia terlalu berat berpikir " pesan dokter itu dan di angguki oleh bik Jumi.
" pada intinya, putri bapak dan ibu mengalami stres berat karena kehamilannya ini, wajar...kehamilan di usia dini seperti ini memang rawan stres dan tentu terasa berat untuk wanita seumurannya ini. Dia butuh dukungan lebih " lanjut dokter kandungan itu lagi.
Setelah memberikan arahan dokter itu pun berlalu.
" kita akan membawa pergi Rhain dari sini setelah ia pulih " kata Pak Ridho pelan.
Bu Sarah menoleh kepada sang suami.
" putri kita membutuhkan tempat baru untuk kembali membuka lembaran baru hidupnya " lanjut pak Ridho lagi.
Bu Sarah menghela nafas, namun kemudian wanita itu pun mengangguk.
ceritanya Marisa...aq penasaran sama Marisa