[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Tak Tenggelam
Perjalanan menuju pulau kecil milik Alvarez memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Kapal kayu itu melaju perlahan, membelah ombak yang tenang. Sinar matahari sore memantul di permukaan laut, menciptakan kilau keemasan yang menari-nari di antara riak. Di buritan kapal, Max dan Toni duduk bersila, membiarkan semilir angin laut membelai wajah mereka, membawa aroma garam dan kebebasan.
Max menoleh pada Toni, hendak melanjutkan obrolan ringan mereka, tapi tiba-tiba matanya membesar, seolah baru teringat sesuatu yang sangat penting.
“Bos!” serunya, menatap Alvarez yang tengah fokus mengemudikan kapal. “Kami udah sepakat. Malam ini kami nginap di pulaumu!”
Alvarez menoleh cepat. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan. “Kalian mau bermalam di pulau?” tanyanya heran.
Toni menjawab dengan antusias, “Iya, bos! Besok kami libur, jadi sekalian aja menginap.”
Alvarez tampak ragu. “Tapi tempat tinggalku kecil… gak ada kamar tamu.”
“Gak masalah,” kata Toni cepat. “Kita bisa tidur di luar, di bawah langit, ditemani suara ombak. Pasti seru banget!”
“Iya, bos! Izinin, ya,” Max menambahkan, nadanya seperti anak kecil yang memohon izin main malam.
Alvarez menyipitkan mata, memperhatikan mereka bergantian. “Orang tua kalian tahu kalian akan menginap?”
Max mengangguk santai. “Tenang, bos. Begitu sampai pulau, kita langsung telepon.”
Alvarez menghela napas berat. Ia bisa melihat semangat tulus dari dua anak muda di hadapannya. “Baiklah,” ujarnya akhirnya.
Sorakan kecil langsung pecah dari keduanya. Tak lama kemudian, bayangan pulau mulai tampak di kejauhan, siluetnya membelah cakrawala sore yang membara.
“Kita hampir sampai,” seru Alvarez. “Bersiap. Kita turunkan ikan dan kotak pendingin dulu.”
“Siap, bos!” jawab mereka kompak.
Setibanya di pulau, mereka bekerja cepat. Kotak berisi ikan diturunkan, dan tanpa banyak bicara, Alvarez kembali mengemudikan kapal menuju dermaga desa Mosuh untuk mengembalikan kapal pinjaman kepada Paman Sam. Sebagai bentuk terima kasih, ia menyisipkan dua ekor ikan segar ke dalam kotak tua di dekat rumah pamannya.
Di dermaga, Max dan Toni memindahkan peralatan ke mobil. Di bagasi, mereka menemukan sebuah tenda lama milik ayah Toni—tersimpan rapi dan nyaris terlupakan. Setelah semuanya siap, mereka kembali menyeberang. Langit sore mulai berubah warna, dari jingga keemasan menuju lembayung yang teduh.
Begitu perahu merapat di pulau, Alvarez memarkirkannya perlahan. Ia menatap keduanya dengan nada lebih serius. “Telepon orang tua kalian sekarang,” perintahnya singkat.
“Siap, bos!” jawab mereka serentak.
Toni lebih dulu menghubungi ayahnya.
“Halo, Yah!”
“Hei, Toni! Ada apa?”
“Ayah, aku nemu tenda di mobil. Punya Ayah, ya?”
“Iya, disimpan buat jaga-jaga. Kenapa?”
“Aku mau pakai malam ini, nginap di pulau kecil bareng Max. Besok kami pulang.”
“Wah, seru tuh. Ya sudah, pakai saja. Biar Ayah yang bilang ke Ibumu.”
Setelah menutup telepon, Toni tersenyum lega. “Dapat izin, bos!”
Namun di sisi lain, Max masih berdiri sambil bicara di telepon dengan nada tinggi. Wajahnya tegang. Alvarez memperhatikannya sejenak, lalu menghampiri.
“Max, gimana?” tanyanya pelan.
Max menunduk. “Ibu gak izinin. Tapi… aku tetap mau nginap.”
Alvarez diam sesaat, lalu menunjuk ke sebatang kayu besar yang terdampar di tepi pantai. “Ayo duduk dulu.”
Mereka duduk berdampingan. Angin sore mengibaskan rambut mereka. Ombak pelan memecah di bibir pantai.
“Max, coba hubungi ibumu lagi. Tapi kali ini… minta maaf.”
“Tapi kalau aku telepon lagi, pasti disuruh pulang,” gumam Max, gelisah.
“Kamu gak bisa begitu. Apalagi sama ibu.” Suara Alvarez tenang, nyaris seperti bisikan.
Toni mendekat dan ikut duduk tak jauh dari mereka. Alvarez melanjutkan, tatapannya menerawang jauh.
“Waktu aku kecil… aku juga sering marah sama ibuku. Kupikir dia cuma suka ngatur. Tapi semua berubah waktu dia pergi…”
Max menoleh, bingung. “Pergi ke mana?”
Alvarez menatap laut yang berkilau oranye. “ibu aku Meninggal. Aku baru sembilan tahun. Ayah sibuk kerja di luar kota. Gak ada yang nanyain ‘udah makan belum’, gak ada yang marah kalau aku pulang dari bermain kelaut. Rumah jadi sepi.”
Max terdiam. Kata-kata itu perlahan menyusup ke hatinya.
“Aku gak mau kamu nyesel, Max,” lanjut Alvarez. “Kadang, rasa sayang itu datang dalam bentuk larangan. Mereka khawatir… karena mereka takut kehilangan.”
Max menatap ponselnya, menggenggamnya erat. “Tadi aku bentak Mama…”
Alvarez menepuk bahunya lembut. “Kalau kamu masih bisa bilang ‘maaf’… kamu lebih beruntung dari aku .”
Tak berkata-kata, Max berdiri dan menekan nomor ibunya. Suaranya pelan dan bergetar saat berbicara.
“Mama… maaf ya tadi Max marah. Mama bener. Max janji gak gitu lagi…”
Beberapa detik hening, lalu terdengar suara ibunya yang lembut di seberang. Setelah beberapa kalimat, akhirnya ia mengalah. “Baiklah. Tapi besok pagi kamu langsung telepon. Dan malam ini jangan matikan ponsel.”
Max menutup telepon dan tersenyum lega. “Diizinin, bos!”
Toni langsung bersorak. Mereka berdua berpelukan seperti anak-anak yang baru saja memenangkan sesuatu. Alvarez hanya tersenyum, lalu bangkit mengambil kayu bakar dari belakang gubuknya.
Senja jatuh perlahan di ufuk barat. Max dan Toni kini berlari ke arah pantai, membuka baju sambil tertawa dan berteriak riang, kaki mereka menendang buih ombak.
Namun malam yang tiba membawa lebih dari sekadar dingin dan suara serangga. Saat api unggun menyala dan ikan mulai terbakar, satu rahasia lama akhirnya terbongkar.
Panas api membuat Max melepas bajunya. Toni ikut-ikutan. Tapi ketika Alvarez berdiri dan melepas kaus lusuhnya, mereka terdiam.
Tubuh Alvarez berotot dan sixpack penuh dengan bekas luka—garis panjang seperti cambukan, bercak gosong, dan goresan dalam di punggung serta pinggang. Mereka membisu, tak percaya pria tenang itu menyimpan sejarah kelam di balik kulitnya.
Toni menelan ludah, matanya membelalak. “Bos… dari mana semua luka itu?” tanyanya pelan, tak sanggup menyembunyikan keterkejutannya.
Alvarez sempat membeku. Pandangannya terpaku pada ikan yang mulai menghitam di atas bara. Lalu ia duduk kembali, membelakangi api, dan menatap laut yang kini gelap. Hanya bintang-bintang dan kerlip cahaya kapal di kejauhan yang menemani.
“Aku gak pernah cerita ke siapa pun soal ini…” gumamnya lirih. Suaranya berat, tak ada amarah di dalamnya, hanya kelelahan, dan luka yang belum sembuh, tapi Alvarez sepertinya menyimpan dendam.
Max dan Toni ikut duduk lebih dekat, diam menunggu. Angin laut mendadak terasa lebih dingin.
“Waktu aku umur sembilan tahun, ibuku meninggal karena sakit. Gak lama, ayahku menikah lagi. Dia pikir, dengan adanya ibu baru, aku bakal ada yang jaga saat dia kerja di luar kota. Tapi kenyataannya…” Alvarez menghela napas panjang. “Dia gak tahu kalau dia ninggalin aku ke dalam rumah yang jadi neraka.”
Ia menggenggam lututnya, matanya menerawang kosong.
“ketika ayahku pergi bekerja ke luar kota, Ibu tiriku dan anaknya yang seumuran sama aku mereka mulai menyiksaku pelan-pelan. Awalnya cuma gak dikasih makan, lalu mulai mukul kalau aku bikin salah. Tapi makin lama… mereka kayak kehilangan kendali. Aku pernah disiram air panas, pernah dikunci di luar rumah semalaman.”
Toni mengepalkan tangan. Max tak bisa bicara.
Alvarez melanjutkan dengan suara bergetar. “Sampai akhirnya suatu sore… mereka ngajak aku jalan ke tebing di pinggir laut. Katanya karena hari itu aku ulang tahun. Aku yang polos ikut aja. Tapi waktu aku berdiri di tepi tebing sambil membuka kain yang sebelumnya menutup mataku seolah olah akan memberikan hadiah di hari ulang tahun ku, tiba tiba ibu tiriku mendorong aku… jatuh dari tebing.”
Max menutup mulutnya sendiri, syok.
“Aku gak tahu gimana aku selamat. Yang kuingat cuma gelap, dingin, dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Pas sadar… aku udah terdampar di pulau kecil ini. Sendiri. Lapar. Takut. Tapi anehnya, di pulau ini… aku merasa hidup.”
Sunyi sejenak. Hanya suara ombak yang bergulung tenang.
“Dari situlah semuanya dimulai. Aku mulai bangun gubuk, cari makan sendiri, hidup dari laut dan mengenal orang orang di desa ini. Nggak ada yang nyariin aku, bahkan ayahku. Aku gak pernah kembali.”
Toni mengusap air matanya diam-diam. Max menunduk, wajahnya murung.
“Maaf, bos…” bisik Toni. “Aku nggak tahu…”
Alvarez tersenyum tipis, tapi tatapannya tetap kosong. “Gak perlu minta maaf. Aku masih hidup. Itu udah cukup.”
Malam itu, api terus menyala. Tapi kehangatan yang sebenarnya datang bukan dari bara, melainkan dari rasa hormat yang perlahan tumbuh dalam hati Max dan Toni. Mereka tak hanya melihat Alvarez sebagai bos tapi sebagai seseorang yang bertahan dari luka yang tak terlihat.
Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"