Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Navian dan Marwan tiba di ruang kelas di mana Tiara masih menggendong Ansel di tangannya sembari bercanda dengan bayi kecil itu, dia menimang-nimang Ansel dengan penuh kasih sayang, wajahnya yang lembut terekam jelas di netra sang bayi milik Navian tersebut.
Genggaman bayi itu pada telunjuk Tiara semakin mengerat, sirat matanya seolah mengirimkan signal keinginan yang kuat untuk tidak berpisah dengan Tiara, bibir kecil Ansel tak berhenti bersenyum, bahkan tangan bayi itu yang lain mencengkeram kuat baju yang digunakan Tiara.
"Apa sayang, kangen sama Ateu ya, anak ganteng harus baik ya, kasian oppa sama papa kamu, jangan nangis lagi ya, nanti Ateu datang lagi, ndong Acel agi, Acel harus baik-baik ya sayang," tutur Tiara mengajak bayi yang hanya bisa tersenyum dan melontarkan kata-kata yang hanya dia yang mengerti itu sembari sesekali mencolek hidung Ansel dengan lembut.
Ansel memang belum bisa bicara karena umurnya masih empat bulan menuju ke lima bulan, tetapi bayi itu sudah bisa membalas perkataan orang yang mengajaknya bicara, dengan senyuman dan lontaran tak berarti dari mulut kecilnya.
"Acel anak baik, Acel anak ganteng, Acel anak pinter ...," tutur Tiara menggesekkan hidungnya yang lancip menyentuh hidung Ansel yang juga lancip.
Marwan dan Navian yang melihat bagaimana Tiara menjaga Ansel begitu terpukau, bahkan Navian menyeringai, pria itu terenyuh dengan apa yang dilakukan mantan adik iparnya itu.
Tiara bukan ibu kandung dari putranya, tetapi gadis itu begitu menyayangi Ansel, bahkan di belakang Navian dan Marwan pun Tiara memperlakukan Ansel dengan sangat baik, sang bayi pun terus tertawa bersama Tiara, sesekali Ansel melontarkan perkataannya yang seolah tengah membalas apa yang dikatakan oleh Tiara.
"Nak ...," sapa Marwan mendekati Tiara.
Degh!
Tubuh Tiara mengerjap, lehernya membeku, yang kemudia secara perlahan dia menoleh pada Marwan yang ada di belakangnya, tubuhnya berputar dan lagi-lagi Tiara dikejutkan yang kedua kalinya dengan keberadaan Navian di sana.
Seketika kakinya yang kokoh terasa lemas, dia bergetar melihat sorot mata Navian yang tertuju padanya, dalam tubuh yang membeku, Tiara mengatupkan bibirnya mengarah pada Marwan.
"Ma-mana Om, sepertinya Ansel ngantuk," pinta Tiara dengan tatapan terkatung.
"Ini Nak," balas Marwan menyodorkan botol susu milik Ansel pada Tiara.
Cepat-cepat Tiara menyambar botol susu itu, dan secara perlahan memasukkan dot botol itu ke mulut Ansel dengan tubuh yang bergetar, rasanya dia ingin menghilang dengan segera dari hadapan Navian saat ini juga.
"Ansel mum cucu dulu ya sayang, udah itu tidur, oke anak ganteng ...."
Ansel kembali tersenyum dengan gerakan tangan dan kaki yang menggebu-gebu, mata bayi itu tersenyum dan berbinar-binar, mata bulatnya membuat Tiara ingin rasanya memeluk atau bahkan membawa bayi di pangkuannya itu bersamanya.
Bayi laki-laki itu terus meneguk susu hangat di dalam botol itu hingga habis tak tersisa, secara perlahan Ansel tertidur dalam ayunan lembut di tangan Tiara, seraya mengusap kepala bayi itu dengan lembut Tiara tertadah menatap Marwan di dekatnya tanpa menoleh pada Navian.
"Hati-hati ya Om, jangan ditidurkan ke stroller bayinya dulu, karena kemungkinan Ansel akan kembali terbangun, nanti sulit lagi menghentikan tangisannya," pesan Tiara menyerahkan Ansel ke tangan Marwan.
"Iya Nak, terima kasih ya Nak sudah membantu Om untuk menenangkan Ansel, Ansel ini sulit dibujuk, kalau udah nangis dia tidak mau berhenti, tapi sama kamu cepet ya Nak, kenapa kamu begitu hebat Nak menenangkan bayi," ungkap Marwan merasa berhutang budi pada gadis itu.
"Tiara kan sebelumnya guru TK Om, jadi Tiara sedikit tahu cara membujuk anak-anak termasuk bayi juga, Om hanya perlu memahami apa yang diinginkan Ansel," jawab Tiara dengan tubuh yang masih bergetar.
Terlebih saat Navian mulai bergerak, secara impulsif jantung gadis itu berdebaran dengan kecepatan yang lebih deras dari sebelumnya, dalam tubuh yang kaku, Tiara menoleh pada Navian, mempertemukan matanya dengan mata kecil pria berparas tampan itu, tetapi gegas dia jatuhkan tatapannya itu.
Karena jika tidak demikian, jantungnya bisa saja copot, atau bahkan yang lebih memalukannya adalah ketika dia sudah melakukan hal gila karena salah tingkah, perlahan dia menjilati bibirnya, lalu menggigit bibir atasnya kemudian dia sembunyikan kedua tangannya ke belakang.
"Kalau begitu Tiara pergi Om, K-kak," pamit Tiara tertunduk seraya dia memejamkan matanya dengan kuat, gegas dia berlari tanpa menoleh pada kedua pria di depannya.
Tiara berlari secepat yang dia mampu sampai dia tidak menyadari jika buku mata pelajaran pengantar ekonomi miliknya tertinggal di meja Marwan, gadis itu terus mengayuh langkahnya menjauhi Navian dan Marwan.
Sampai dia tiba di lapangan luas kampus tersebut, napasnya tercekat karena kayuhannya yang begitu terburu-buru, tubuhnya condong ke depan sembari bertolak pinggang di hadapan hamparan lapangan byang terbalut bahan bangunan dengan sempurna.
Angin menerbangkan ribuan helai rambut panjangnya yang berwarna hitam legam, dadanya naik turun, bukan hanya karena dia berlari dalam kecepatan tinggi, melainkan juga karena pertemuannya dengan Navian.
"Ah kenapa sih Kak Navian pake datang ke sini segala, ketemu dia itu harus kuat mental," gerutu Tiara sembari dia meraba-raba jantungnya yang masih berdebaran, dia simpan salah satu tangannya di atas dadanya, merasakan debaran dadanya yang membuncah.
Dari sisi lain Zicara melihat sosok Tiara tengah terengah-engah, terlihat jelas dari punggung sahabatnya yang naik turun tidak beraturan. Gadis bermata almond itu berayun ke dekat Tiara, kemudian menepuk pundak sang sahabat.
"Aaargh ...." Tiara terlompat terkejut dengan tepukan Zicara di atas pundaknya, dengan cepat Tiara memutar tubuhnya dengan mata yang membulat.
Wajahnya yang menegang secara lambat meleleh, lega rasanya ternyata yang menepuk pundaknya bukan orang yang dia hindari, lalu dia menegak dan memukul lengan Zicara. "Ih Zicara ...," pekik Tiara geram, lalu dia menyugar wajahnya dari ratusan helai surainya yang menerpa paras cantiknya.
"Apa sih, dikejar setan kamu, sampai ngos-ngosan begitu, aneh kamu Ra," tepis Zicara, gadis itu merasa heran dengan tingkah konyol sahabatnya ini.
Sekali lagi Tiara menyugar rambutnya ke belakang, tetapi karena angin yang kuat membuat surai indah milik Tiara kembali berhamburan ke depan menghalangi penglihatan gadis cantik itu.
"Iya, dikejar setan cinta tahu gak," ketus Tiara mengelus dadanya, dengan harap jantungnya bisa kembali tenang.
Zicara mengernyit, wajahnya terhenyak ke belakang. "Navian?" serunya menerka apa yang disebut dengan setan cinta oleh Tiara.
"Iya ... Zicara, dia ada di sini, aku kaget, terus aku lari aja, makanya ngos-ngosan," jelas Tiara sembari dia menenggelamkan tangannya ke bawah rambutnya lalu dia dorong seluruh rambutnya ke belakang.
Gadis bermata almond itu mencebik seraya dia memicing dan menggelengkan kepalanya, perlahan kedua tangannya menggantung di pinggang rampingnya. "Kamu ini kenapa sih suka banget sama Navian, dia aja gak tahu kamu ada saat itu, kalau bukan karena kakak iblismu itu, mungkin Navian tidak akan lihat kamu," kesal Zicara.
"Ya mana aku tahu, kan bukan kemauanku, itu kemauan hatiku aja, aku maunya melupakan dia, makanya aku selalu menghindari dia," kilah Tiara sembari dia menyisir situasi sekitar.
"Ra," panggil Zicara lembut.
"Euum," gumam Tiara kembali mengarah pada sang sahabat, menaikkan kedua alisnya sejenak.
"Kamu itu cantik, bahkan kulit kamu lebih bagus dari si Vianna itu, banyak yang suka sama kamu tapi kamu yang menolak untuk mengenal semua orang, coba kamu kenalan sama orang lain, kali aja bisa melupakan Navian." Zicara tiba-tiba saja menawarkan Tiara untuk berkenalan dengan pria lain.
Sontak saja Tiara mendelik kasar, dia kedikkan pundaknya dengan kuat, wajahnya mengernyit geli, gadis itu memang sering kali menolak pria yang ingin mendekatinya, wajah ketakutannya tiba-tiba saja terurai jelas di mata Zicara.
"Enggak! Jangan aneh-aneh ya kamu Zica," tolak Tiara dengan kuat, dia menunjuk Zicara tajam seraya dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh laki-laki ih, ngaco, udah ah aku mau pulang," lanjut Tiara melangkahkan kakinya menjauh dari Zicara.
Berbeda dengan Zicara, gadis itu tidak bergeming dari posisinya, dia masih memerhatikan yang hilang dari sahabatnya, seingatnya Tiara tadi membawa beberapa buku dan laptop di tangannya sedangkan saat ini sahabatnya itu hanya membawa tas kecil yang dia sampirkan di tubuhnya.
"Ra, buku dan laptop kamu ke mana?" tanya Zicara membuat Tiara tersadar.
Kentara jelas gadis berambut panjang lurus itu memeriksan tangannya yang memang tidak menggenggam apapun, yang dia bawa hanya tas kecilnya, sementara buku-buku dan laptop pentingnya dia tinggalkan entah di mana.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe