Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.
Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.
Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16-Ceramah
“Aku pernah gendut, Tan. Dan enggak ada salahnya ‘kan suka sama yang gendut-gendut? Walaupun Om Arlan galak, tapi aku kagum soalnya Om bucin banget sama Tante Fanni. Nah, ini malah aku yang bucin sama si kakak gembul,”
Episode 16-Ceramah
Tawa Fanni dan Mita pecah seketika, setelah sebelumnya kedua wanita dewasa yang merupakan sahabat Jelita itu, mendengar curahan hati Jelita. Bagaimana tidak, jika gadis yang berprofesi sebagai designer begitu polos bahkan tidak tahu malu melontarkan lamaran pada pria bernama Reza. Seorang pengacara dan putra dari Reyna—pelanggan setia salon Fanni juga Mita.
Beberapa saat yang lalu, Jelita mengakui semua usaha yang ia berikan pada Reza, tanpa terkecuali seringnya datang menjemput pria itu untuk makan siang. Namun, sampai sejauh ini, sang pria justru enggan memberikan kepastian. Bahkan, terbilang tidak mau menanggapi semua usahanya dengan serius.
“Makanya jadi cewek itu yang elegan, mahal dan berkelas. Jangan posisinya doang yang nona muda, tapi juga sikapnya!” ucap Mita. Wanita berkarakter kuat itu menggelengkan kepala tidak habis pikir, satu detik setelah melontarkan kata-kata.
Jelita berangsur menunduk. Bibirnya mengerucut, dengan hati yang saat ini diselimuti kekecewaan. “Aku ‘kan cuma usaha, Kak Mita. Bukannya mau jual murah diri sendiri,” ucapnya lirih.
Fanni menyudahi tawanya. Kemudian, berkata, “usaha sih usaha, Lit. Tapi kalau udah melamar itu namanya bukan usaha lagi. Namanya, serakah! Terburu-buru, bahkan bisa dibilang kamu enggak waras.”
Jelita mendesis pasrah. Kendati sudah diberitahu oleh kedua wanita dewasa itu, hatinya tetap saja menampik. Ia masih menganggap semua yang ia lakukan pada Reza adalah sebuah kewajaran. Meski, rasa kecewa sebab belum adanya tanggapan dari sang pria sudah menyelimuti perasaannya.
“Mm ... emangnya kamu mau jadi mantunya Nyonya Reyna?” tanya Mita mencoba mengulik.
“Maulah, orang aku juga suka sama anaknya,” jawab Jelita tanpa kata ragu.
Mita berangsur mendekati gadis itu. Ia mengamati wajah Jelita dengan tatapan heran bahkan tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang nona muda bersikap segegabah itu? Pikir Mita detik itu juga. Selanjutnya, ia menggelengkan kepala lantaran rasa heran yang semakin pekat muncul di hatinya.
“Apa sih, Kak?” tanya Jelita kemudian ia menepis tatapan Mita.
Mita mengambil posisi duduk di samping Jelita. “Boleh jatuh cinta, tapi ya jangan bodoh, Lit. Bukan hanya cowok yang harus loe lihat, tapi emaknya juga. Setahu gue, Nyonya Reyna itu cerewet, bawel, dan tentunya begitulah. Namanya emak-emak kaya dan glamor.”
“Tapi, menurut gue beliau baik kok, Mit. Samalah kayak nyokap gue. Tipikal emak-emak cerewet bawel. Bedanya, beliau lebih kaya,” sahut Fanni tanpa mengubah sikap duduknya yang tengah mengerjakan laporan keuangan.
“Ya, Fann. Maksud gue ‘kan takutnya si Lita enggak betah aja sama emak-emak macam begitu. Gue aja paling menghindari ketemu mertua. Emaknya Richard buuuh! Bawel banget.”
“Mau emaknya bawel ke', enggak ke', aku ‘kan sukanya sama anaknya. Enggak mau pusingin calon mertua, anaknya aja belum bisa aku dapetin!” tegas Jelita kesal lantaran topik pembahasan justru berganti pada mertua bukan calon suami yang ia idam-idamkan.
Fanni dan Mita kembali tertawa. Kedua wanita dewasa itu merasa gemas terhadap gadis manis nan cantik di hadapan mereka. Setelah beberapa tahun mengenal Jelita, baru kali ini gadis itu menunjukkan ketertarikan pada seorang pria. Yang lebih mengesankan hati Fanni dan Mita adalah sosok pria yang Jelita puja merupakan seorang pria gendut, bukan tipikal oppa-oppa Korea.
“Tante enggak nyangka sih, ternyata bukan suami Tante aja yang suka sama yang gembul-gembul,” celetuk Fanni mengingat suaminya sendiri. Seorang Arlan yang justru menyukai dirinya meskipun memiliki badan yang gempal.
“Aku pernah gendut, Tan. Dan enggak ada salahnya ‘kan suka sama yang gendut-gendut? Walaupun Om Arlan galak, tapi aku kagum soalnya Om bucin banget sama Tante Fanni. Nah, ini malah aku yang bucin sama si kakak gembul,” jawab Jelita.
Fanni berangsur menatap gadis designer itu. Ia tersenyum simpul seiring helaan napas yang ia ambil dalam. “Kamu beneran suka sama dia?” tanyanya kemudian.
Jelita mengangguk.
“Lita.” Fanni berdiri dari duduknya. Sama halnya dengan Mita, ia melangkah menghampiri Jelita. Kemudian, ia duduk dan berkata, “menurut kamu sendiri, aneh enggak sih kalau tiba-tiba dilamar sama orang yang baru kamu temui setelah beberapa tahun?”
Jelita bergeming, tidak menyahuti pertanyaan dari Fanni.
“Reza pun pasti merasa aneh. Terlebih, visual dia yang sama kayak Tante, gendut! Terus tiba-tiba ada gadis cantik minta dia jadi suaminya. Rasanya enggak bisa dipercaya, Dek.”
Jelita menelan saliva. “Enggak bisa dipercaya gimana maksud Tante? Aku ‘kan cuma Jelita bukan artis Hollywood.”
“Hmm ... kamu ‘kan nona muda, Lita. Cantik, perancang busana yang namanya viral. Anak pertama sekaligus pewaris dari tahta Nur Imran. Cowok itu emang kaya, tapi enggak sekaya keluarga kamu.” Fanni menghela napas panjang.
“Tante pernah ada di posisi paling minder. Saat tahu ternyata suami Tante itu salah satu keluarga konglomerat. Jadi serba salah, Tante ‘kan gendut. Suami Tante, walaupun duda tetep bisa cari yang lebih cantik, ‘kan? Lita, butuh waktu buat siapa tadi? Reza ya? Buat percaya sama perasaan kamu,” tambah wanita ibu dari tiga anak itu.
Jelita termangu. Ucapan Fanni ia benarkan melalui sisi hati yang lain. Mungkin Reza butuh waktu sampai ia bisa meyakinkan hati pria itu. Terlebih, kedekatannya baru terhitung singkat. Masih ada banyak kesempatan baginya untuk membuktikan perasaan tulusnya.
Semangat yang sempat mengendur, kini kembali Jelita bangkitkan. Ia menegakkan badan setelah sebelumnya begitu malas dan memilih merebah pada badan sofa milik salon itu. Senyum Jelita berangsur merekah seiring harapan yang kembali ia tegaskan di hatinya.
“Oke, Tante! Aku enggak bakal nyerah, aku akan bikin kakak gembul yakin sama aku!” ucap gadis designer itu dengan lantang.
Mita tersenyum. “Dahlah, pergi sana! Kerja yang bener dulu. Katanya mau ikut kompetisi?” ucapnya.
“Mm ... aku mau balik ke butik dulu, Kak!”
“Hati-hati, jangan ngegas nyetirnya. Nanti siang deh, baru tunjukin pesona loe sama si kakak gembul.”
Jelita hanya tersenyum menanggapi ucapan Mita. Kemudian, ia berangsur berdiri. Disambarnya tas jinjing beserta kunci mobil dari meja di depan sofa.
Tanpa kata pamit, Jelita melangkah pergi. Dengan kaki yang berpijak tegas silih berganti, dengan semangat yang membumbung tinggi, ia keluar dari salon itu. Sementara, benaknya masih tersemat wajah Reza. Sudah tidak sabar ia melancarkan aksi berikut usaha untuk meyakinkan pria idamannya itu.
“Pokoknya, Kak Reza harus jadi milikku!” ucap Jelita dengan sangat yakin.
Kemudian, sesampainya di area parkir, Jelita membuka pintu mobil. Ia masuk ke ruang kemudi dan mulai melaju mobilnya. Senandung kecil mengiringi kesibukannya saat ini, juga alunan lagu kasmaran yang ia putar.
Keadaan jalan raya yang lengang, membuat Jelita tidak kesulitan akan kemacetan. Suasana yang hangat pun turut mendukung setiap harapan yang ia sematkan dalam dirinya sendiri.
****
Jangan lupa jempulnya, ya!
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.
bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.