Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 PERINTAH YANG MENGHINA
Perintah yang Menghina
Ali melangkah keluar dari ruangan pra-ospek dengan perasaan yang campur aduk. Pikirannya masih dipenuhi perintah dari Rio—mantan pacar Alana—untuk memakai kostum badut di hari ospek nanti.
“Sial… Kenapa harus aku?” gumamnya sambil menghela napas.
Ia menatap langit yang sedikit mendung. Segalanya terasa begitu tidak menyenangkan hari ini. Seolah-olah dunia sedang mengujinya dengan segala cara.
“Yasudahlah, yang penting sekarang aku harus beli motor dulu, baru cari baju badut,” pikirnya, mencoba mengalihkan fokusnya.
Ali mengambil ponselnya dan membuka browser, mengetik kata kunci "showroom Vespa matic Jakarta." Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan showroom yang cocok di Jalan Prof. Dr. Soepomo.
“Ini dia, Showroom Vespa Jakarta Official. Aku harus segera pesan ojek online.”
Setelah memesan ojek, Ali berdiri menunggu di depan kampus. Namun, baru beberapa menit berlalu, suara yang sudah ia kenal baik terdengar di belakangnya.
“Woi, bro! Gimana rasanya di-ospek sama gue?”
Ali menoleh. Rio dan temannya, Rendy, berjalan mendekatinya dengan senyum penuh ejekan.
“Pokoknya, Senin nanti lo harus pakai baju badut, paham? Benar, kan, Ren?” Rio menepuk bahu Rendy dengan nada penuh keyakinan.
Rendy menggaruk kepalanya, ragu. “Bro, kayaknya jangan pakai baju badut deh. Nanti kalau ketahuan dosen, bisa bahaya. Tapi kalau cuma pakai wig sama topeng badut sih nggak masalah.”
Rio berpikir sejenak, lalu menatap Ali dengan tatapan meremehkan.
“Baiklah, gue kasih keringanan buat lo. Nggak usah pakai baju badut, tapi lo wajib pakai wig sama topeng badut selama ospek di lapangan. Jangan coba-coba lo pakai di luar lapangan, ngerti?!” bentaknya sambil menunjuk wajah Ali dengan kasar.
Ali tetap diam, ekspresinya datar. Ia tak ingin membuang energi untuk orang-orang seperti Rio.
Rio tertawa lepas. “Hahaha! Oke, bro, kita cabut dulu. Sampai jumpa di hari Senin!”
Mereka berdua pergi, meninggalkan Ali yang masih berdiri di tempatnya.
Tak lama kemudian, ojek online yang dipesannya tiba. Ali segera naik dan berangkat menuju showroom Vespa Jakarta Official.
Sebuah Motor Baru
Beberapa saat kemudian, Ali tiba di showroom Vespa yang cukup besar dan mewah. Ia turun dari motor, menyerahkan uang pembayaran kepada driver ojol, lalu berjalan masuk ke dalam showroom.
Seorang sales wanita menyambutnya dengan senyuman ramah.
“Selamat siang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.
Ali mengangguk. “Saya mau beli motor Vespa keluaran terbaru. Ada stoknya?”
Sales itu tersenyum. “Tentu, Kak. Silakan ikut saya.”
Ali mengikuti wanita itu menuju deretan motor Vespa berbagai warna dan tipe. Matanya langsung tertuju pada satu motor dengan warna hijau toska yang berkilau di bawah lampu showroom.
“Kalau yang ini, berapa harganya?” tanyanya sambil mengelus bodi motor itu.
“Ini tipe Primavera, Kak. Harganya Rp50.700.000. Ini best seller kami.”
Ali mengangguk, lalu melirik motor dengan warna lain. “Kalau yang merah, ada nggak?”
Sales itu tersenyum lagi. “Ada, Kak. Kalau Kakak mau yang merah, saya siapkan surat-suratnya dulu.”
Ali berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Baik, saya ambil yang merah.”
Setelah menyelesaikan administrasi dan pembayaran di bagian customer service, Ali akhirnya mendapatkan kunci motor barunya.
“Terima kasih atas kunjungannya, Kak.” Sales itu membungkuk sedikit dengan senyum ramah.
“Iya, sama-sama,” balas Ali, lalu melangkah keluar showroom.
Ia menyalakan mesin motornya yang mengeluarkan suara lembut. “Baik, sekarang waktunya cari wig dan topeng badut.”
Mencari Perlengkapan Badut
Ali mulai berkeliling di daerah Jakarta Selatan, mencari toko yang menjual perlengkapan badut. Namun, setelah hampir setengah jam berkendara, ia belum menemukan satu pun toko yang menjual wig dan topeng badut.
“Sial, di mana toko yang jual barang-barang ini?” gumamnya sambil menghentikan motornya di pinggir jalan.
Ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di dekat trotoar. Tanpa ragu, Ali turun dari motornya dan mendekati wanita itu.
“Permisi, Mbak.”
Wanita itu menoleh. “Iya, Mas? Ada apa?”
“Mbak tahu nggak, di mana tempat yang menjual wig dan topeng badut?” tanyanya sopan.
Wanita itu berpikir sejenak sebelum menjawab, “Oh, kalau nggak salah ada di perempatan Mampang. Nama tokonya ‘Perlengkapan Halloween’.”
Ali mengangguk dengan lega. “Oh iya, terima kasih banyak, Mbak!”
“Sama-sama, Mas. Hati-hati di jalan.”
Ali segera kembali ke motornya, menyalakan mesin, dan melaju menuju perempatan Mampang.
BELEUNG BELENG....