Pertemuan kembali dengan tidak sengaja antara Ririn dengan Raka, membuat mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Karena kesalahannya di masa lalu membuat Ririn terpaksa menerima pernikahan ini.
Ternyata ada seseorang yang selama ini sengaja memanfaatkan Ririn untuk menghancurkan Raka.
Apakah Ririn akan melindungi suami yang telah memaksanya menikah dengan sebuah ancaman atau Ririn lebih memilih bekerja sama untuk menghancurkan Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Raka
Di dalam kamar Ririn menjatuhkan dirinya di atas sebuah sofa panjang untuk menenangkan perasaannya. Perasaan marah, malu dan kesal menjadi satu. Dia meletakkan tangan di atas dadanya merasakan detak jantung yang lebih cepat.
Aku bisa mati muda jika begini setiap hari. Berada di dekatnya mendatangkan efek buruk bagi kesehatan jantung ku.
Wajah Ririn kembali memanas ketika mengingat Raka yang semena-mena telah memeluk dan menciumnya. Dia menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangan untuk menghilangkan panas yang ia rasakan.
Ririn kemudian masuk ke kamar mandi, membasuh mukanya berharap dapat menghilangkan rasa panas. Dia memandang pantulan wajahnya di depan cermin, wajah yang bersemu kemerahan.
Kilasan potongan potongan adegan yang terjadi di ruang kerja tadi berputar putar di ingatannya seperti cuplikan trailer sebuah film.
Aku belum membalas mu karena telah melihat tubuh ku
Ulangi dan lakukan hal yang sama
Kalimat kalimat yang diucapkan oleh Raka terngiang-ngiang di telinganya membuat bulu kuduk Ririn berdiri.
Tak bisa dia bayangkan jika Raka benar benar akan membalasnya.
Ririn kembali membasuh mukanya dengan lebih banyak air. Berharap dapat menghilangkan pikiran buruknya.
Suasana yang semakin malam serta beberapa kejadian yang dialaminya membuat Ririn lelah dan mengantuk.
Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang di duduknya tadi. Menatap nanar ke arah tempat tidur yang biasa ditidurinya. Dia tidak akan berani untuk tidur di situ malam ini.
Jika saja dia tidak takut kepada Raka, mungkin dia sudah pindah ke kamar lain.
*
*
*
Sementara itu di lantai bawah, di dalam ruang kerja.
Raka, David dan Arya sedang serius membahas perihal pekerjaan. David sebagai tangan kanan Raka di perusahaan mendiskusikan beberapa hal penting yang tertunda karena keberangkatan tiba tiba Raka ke Australia beberapa hari yang lalu.
Mereka yang memang merupakan penggila kerja tidak menyadari bahwa hari sudah mulai memasuki tengah malam.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan tidak pernah membuat mereka bosan. Baik David mau pun Arya, tapi berbeda dengan Raka yang sedari tadi menghembuskan nafas berat. Ia sudah ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
"Apa kalian sudah selesai ?" pertanyaan Raka sukses menghentikan pembicaraan kedua lelaki yang ada di sana. David dan Arya yang sedang membahas mengenai pekerjaan beralih menatap ke arah Raka.
Arya yang melihat tuannya memasang wajah kesal segera mengemasi pekerjaannya dan tidak berani berkata apapun.
Berbeda dengan temannya, David malah tertawa melihat wajah kesal itu.
"Ada apa dengan mu ? apa kau sedang sakit perut ?" tanya David dengan nada mengejek
Raka melengos melihat David, tidak berniat menjawab pertanyaan itu.
"Jangan marah begitu. Tadi kami sudah memberikan waktu satu jam untuk bersama istri mu. Benarkan, Arya." kata David melihat kearah Arya untuk mencari pembenaran.
"Apa ?" tanya Raka dengan suara datar
Bukannya menjawab pertanyaan Raka, David malah balik bertanya
"Apa yang tadi terjadi di sini ? Apa kau melakukan sesuatu bersama istri mu ?" Tanya David menggoda Raka yang membuat Raka semakin kesal.
"Jangan bicara omong kosong lagi. Keluarlah dari sini sekarang." ucap Raka datar karena menahan kesal.
Sudah mendorong David ke pintu. Arya berjalan di belakang Raka hanya mendengarkan ketua orang itu adu mulut.
"Hey. Kau pikir kami tidak melihat apa yang kau lakukan tadi ?" ucapan David membuat Raka menghentikan langkahnya.
"Memangnya apa yang kau lihat ?" tanya Raka memandang penuh selidik. Raka memang tidak menyadari kehadiran dua orang laki-laki itu tadi karena pandangannya terhalang tubuh istrinya.
David tersenyum, akhirnya dia bisa memancing emosi Raka.
"Tenanglah, aku tahu apa yang boleh di lihat dan tidak boleh di lihat." Kalimat absurt David membuat Raka semakin kesal
David tergelak karena berhasil membalas kekesalannya tadi yang telah menunggu lama.
"Pergilah sekarang sebelum aku menendang mu keluar." ancaman Raka terdengar menakutkan tapi tidak bagi David yang sudah sangat mengenal temannya itu.
David tau kalau Raka hanya bercanda sama seperti dirinya. Mungkin jika orang lain melihat mereka benar-benar berpikir mereka sedang berkelahi. Tapi David tidak pernah melewati batasannya.
"Baik baik aku akan pergi. Ayo, Arya kita pulang. Tuan rumah sudah mengusir kita." David masih tergelak sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Selamat malam tuan." Arya memberi hormat sebelum berlalu menyusul David.
Kini tinggal Raka sendirian. Suasana rumah sudah sangat sunyi sepi. Raka menyusuri anak tangga dengan tergesa-gesa. Entah apa yang sedang dia pikirkan sehingga senyum samar terlihat di wajahnya.
Perlahan lahan Raka membuka pintu kamar. Dengan cahaya yang terang benderang matanya melihat kearah tempat tidur yang kosong. Kemudian pandangannya menyapu seluruh ruangan, terlihat Ririn yang sedang tidur di sofa panjang.
Raka berjalan mendekat. Hatinya menghangat ketika menatap wajah tenang yang sedang terlelap.
Dari dulu kehadiran mu selalu bisa menghibur ku. Terima kasih karena telah datang kembali dalam hidup ku.
Raka mengecup lembut kening Ririn dan mengangkat tubuhnya ke tempat tidur.
*
*
*
"Aku yakin aku pernah mengenal wanita itu, sebelum dia menjadi istri Raka." David masih mengingat ingat sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Arya yang bersiap siap masuk ke dalam mobilnya hanya tersenyum menanggapi pernyataan David.
"Apa dia salah satu teman kencan ku ?!" lanjutnya yang juga mulai masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan kendaraan mereka masing-masing meninggalkan kediaman Raka.
"Kau pasti akan terkejut jika kau sudah mengingatnya."
Arya berbicara sendiri sambil tersenyum smirk melihat mobil David yang sudah berada beberapa meter di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
dosaaa lhoo
gak berbelit
cap cus gas poool