Warning! Dilarang Boom like⚠️⚠️⚠️⚠️
Pada kenyataannya. Anisa bukanlah wanita satu-satunya surga di hati Dirga. Suami yang sangat dicintainya sekaligus lelaki yang mampu membuatnya luluh,
tega mengkhianatinya dan diam-diam telah memberikan madu untuknya. Akankah Anisa memilih bertahan atau pergi? Dan mencari kebahagiaan di luar sana?
Tak semanis madu yang terucap dibibir Dirga, nyatanya racun yang diterima oleh Anisa dan membuatnya mati rasa kepada lelaki yang bergelar suaminya, karena rasa kecewa yang teramat dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Persengkokolan antara anak dan Ibu
"Maksud kamu Dirga punya istri baru?" bu Marina bertanya dengan alis terangkat sebelah.
"Iya." Jawab Anisa.
Bu Marina tersenyum, tidak ada rasa terkejut sama sekali. Lalu mengatakan hal yang mengejutkan, yang selama ini tidak pernah disangka-sangka oleh Anisa. "Ya bagus dong kalau Dirga sudah menikah."
Saat itu juga Anisa tidak menyangka jika mertuanya ikut bersekongkol dengan suaminya. "Jadi, Ibu sudah tahu kalau Mas Dirga menikah?"
"Tentu tahu, dan sebentar lagi saya akan memiliki cucu." Bu Marina berujar dengan wajah bahagia, tanpa mempunyai salah sedikitpun pada Anisa, dan berpihak pada anak yang salah.
Memang benar kata pepatah, jika seorang anak salah sekalipun. Seorang Ibu akan terus berpihak pada sang anak.
"Jadi, selama ini Ibu tahu semuanya, dan Ibu membiarkan hal itu terjadi, dan kalian ...." Anisa tidak mampu lagi berkata-kata, air matanya tumpah.
"Kalian kenapa setega itu padaku, apa salahku selama ini? Sampai kalian tega menghancurkan kepercayaanku?"
Anisa tidak mampu lagi untuk menahan deraian air mata, tapi sayangnya. Dirga dan bu Marina seolah buta saat bagaimana Anisa menangis menuangkan segala kekecewaannya.
"Dasar wanita cengeng, ditinggal nikah seperti ditinggal mati saja." Bu Marina justru malah berbicara yang membuat hati Anisa semakin dirundung kepiluan.
"Segampang itu Ibu berucap, bagaimana jika suatu saat Ibu yang menempati posisiku?"
Plakkk!
"Lancang kamu! Ingat jangan samakan saya dengan benalu macam kamu ...,"
"Bu, sudah!" pekik Dirga yang mencoba menyela ucapan dari ibunya sendiri, agar tidak semakin menjadi.
"Ingat Bu, suatu saat Ibu akan merasakannya dan disitulah aku menjadi sosok wanita bahagia." Anisa berujar dengan sesekali menyeka air matanya. Rasa perih yang terdapat di pipinya, seakan tak bisa ia rasakan.
"Kamu menyumpahi saya?" kata bu Marina dengan tatapan tajam.
Sedangkan Dirga tidak bisa mencegah ibunya yang terus menghakimi istrinya. Pada kenyataannya Dirga tahu kelakuan seperti apa yang sudah diperbuat sang ayah.
"An, pergilah. Biar ibu tidak terus berkata kasar padamu?" titah Dirga, dan sekarang lelaki itu layaknya seorang yang bodoh. Mencegah istri dan orang tuanya bertengkar pun. Dirinya tidak mampu, kini dalam hati Dirga mulai gundah saat keputusan untuk menikah telah bulat.
......................
Sesampainya Anisa di panti. Di sambut oleh Bu Ning, selaku pengurus yayasan yang sudah berdiri sejak kehadiran Anisa kala itu.
Ibu Ning yang melihat wajah putrinya langsung menghampirinya. Terlihat wajah pucat dan mata bengkaknya, wanita paruh baya itu yakin kalau sedang ada masalah dalam rumah tangga Anisa.
"An, Ibu tahu kalau kamu sedang ada masalah?" bu Ning dengan setia menemani Anisa, mengelus bahunya. Menyandarkan kepalanya sebagai kekuatan agar Anisa mendapatkan tempat bersandar.
"Bu, apa semua lelaki akan melakukan hal yang sama. Ketika istrinya tidak bisa memberikan keturunan?"
Untuk sesaat Bu Ning menghela nafas, ia yakin jika inilah alasan Anisa menangis.
"An, apa ini alasan kamu datang ke sini? Harusnya tidak seperti itu. Selesaikan dengan hati yang dingin," ujar bu Ning menasehati.
Key semakin terisak, bukan itu yang ingin ia katakan pada ibunya. "Mas Dirga Bu ... Mas Dirga sudah menghancurkan pernikahan kita," ucap Anisa dengan sesenggukan.
"Apa maksud kamu, Nak? Ibu tidak mengerti." Bu Ning meminta penjelasan pada Key, karena beliau tidak mengerti jika masalah yang tengah dihadapi oleh putrinya, akan membuat luka yang begitu besar.
"Mas Dirga ...." Untuk sesaat Anisa berhenti bicara, rasanya tak mampu walau sekedar berucap. Bibir terasa keluh, dan hati Anisa pun seakan menolak untuk mengatakannya.
"Jika kamu belum siap, maka tenang saja hatimu. Sekarang istirahatlah biar nanti ada kekuatan saat kamu menjelaskan pada Ibu," ucap perempuan itu. Dengan tangan yang terus mengelus lembut rambut Anisa, bu Ning berbicara.
Anisa mengangguk tanpa menolak, karena apa yang dikatakan oleh ibunya adalah benar.
Setelah kepergian Anisa, Bu Ning ikut masuk karena hari mulai sore, dan beliau pun harus menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak nanti.
Di dalam dapur Bu Ning tidak henti-hentinya berdoa, agar semua masalah segera terselesaikan dengan baik. "Ya Allah, berikan kemudahan untuk anakku menghadapi ujianmu Ya Rabb. Aku tahu karena engkau adalah zat yang Maha mengetahui dari segala hak," ucap bu Ning yang tengah berdoa, mendoakan Anisa yang kini sedang dihadapkan oleh sebuah masala yang belum ia ketahui.
Saat Bu Ning tengah memasak. Tiba-tiba salah satu anak asuhnya tengah menemuinya dan mengatakan jika ada orang yang sedang mencarinya.
"Bu, ada om Dirga!" teriak anak perempuan kecil itu. Dengan nafas ngos-ngosan bocah perempuan tersebut langsung menarik baju dari Bu Ning.
Bu Ning pun langsung menoleh, dan berpikir keras. Kenapa bisa Dirga datang setelah Anisa, karena hal itu tidak pernah terjadi. "Apa kamu yakin, jika itu om Dirga?" bu Ning memilih bertanya lagi untuk memastikan.
"Ibu lihat saja di depan, karena om Dirga sedari mondar-mandir." Ucapan bocah kecil itu, langsung membuat Bu Ning meninggalkan dapur dan segera bergegas ke depan untuk menemui Dirga.
"Dirga!" tegur bu Ning.
"Bu, Assalamualaikum." Dirga langsung memberi salam dan tak lupa. Mencium tangan wanita yang sudah termakan usia tersebut.
"Waalaikumsalam." Bu Ning langsung menimpali dengan membalas salam dari Dirga.
"Bu, apa Anisa ada di dalam?" tanya langsung Dirga, tanpa basa-basi.
"Sebelumnya ada hal yang ingin Ibu tanyakan, dan Ibu harap kamu akan berkata jujur." Suara tegas dari bu Ning, membuat Dirga sedikit gelisah. Ia yakin jika Anisa telah mengatakan semua keburukannya pada ibu panti.
"So-al apa Bu?" sedikit gugup dan keringat dingin sudah membasahi wajah Dirga.
"Ada masalah apa kamu sama Anisa, karena Ibu lihat dia sedang bersedih?" ujar bu Ning, dengan tatapan mengemindasi.
"Bukannya masalah rumah tangga itu sudah hal biasa Bu, setelah ini saya akan menyelesaikannya." Jawab dengan hati dan perasaan lega, nyatanya Anisa tidak mengadu pada Ibu panti, tentang dirinya yang menikah lagi.
"Bagus kalau begitu, tapi jika kamu menikahinya hanya untuk disakiti. Orang yang pertama akan menampar kamu adalah Ibu, ingat itu Dirga." Suara tegas tercetak jelas. Meski diantara Anisa dan Bu Nining tidak ada ikatan darah, tapi wanita berusia 45 tahun itu paham dengan kondisi Anisa, dan mungkin itu juga yang membuat keduanya bertengkar.
"Tidak Bu, saya berusaha untuk tidak menyakiti istri saya." Jawab Dirga dengan wajah nampak bingung karena sudah mulai tidak nyaman, dengan tiap kata yang dilontarkan oleh Bu Ning.
"Lantas apa bisa saya ketemu dengan Anisa Bu, karena ada hal yang ingin saya bahas." Ucapan Dirga membuat Bu Ning seketika menghela nafas.
"Dia kan ada di kamarnya, kenapa kamu tidak masuk saja dan malah bertanya pada Ibu!" tukas bu Ning tak habis pikir.
balas setahun si nisa mengabaikan mu
ko bisa tidak menerima Samuel ,??