Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 16
Kita tinggalkan pasangan belia, lanjut ke orang tuanya, tuan dan nyonya Weasley.
Begitu tahu posisi sang anak kedua, Damian langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menjemput anak dan menantunya. Namun, pagi ini mereka kembali menghadap bos besar itu tanpa membawa anak dan menantu kesayangannya.
Damian mengamuk pada dua orang suruhannya yang kehilangan jejak sang anak. Tidak hanya mulutnya saja yang mencaci maki, tangannya pun ikut memukul dua orang itu.
"Sudah tahu ponsel itu dijual oleh pencopet, bukannya mencari tahu dimana anakku berada kalian berani menghadap dengan tangan kosong. Dasar tidak berguna!"
Bugh! Bugh!
Damian menghadiahi kedua orang bayarannya dengan bogem mentah. Semua itu sebagai wujud kekecewaannya pada mereka. Sejak awal ditugaskan untuk mengikuti sang anak, ternyata mereka kehilangan jejak dan bukannya mencari malah kembali dengan tangan kosong.
Yang membuat laki-laki keturunan Inggris lahir di Singapura itu murka adalah anak dan menantunya belum ketemu, orang-orang bayaran itu berani datang padanya. Seharusnya mereka melanjutkan pencarian dan melapor melalui telepon atau pesan. Jika belum menemukan anak dan sang menantu, jangan menghadap karena itu sama saja mengantarkan nyawa.
"Sekarang kalian cari sampai dapat! Bila perlu tambah lagi personil, semakin banyak yang mencari semakin cepat bisa menemukan mereka," titah Damian dengan aura dingin
Kedua orang itu bergegas keluar setelah diusir oleh sang majikan. Sesampainya di dalam mobil, mereka langsung menghubungi orang-orang pilihan yang dikenalnya untuk membantu mencari keberadaan anak dan sang majikan.
Di tempat lain, tak jauh berbeda dengan sang suami. Rosita memaki para preman bayaran yang belum juga menemukan keberadaan Marcelo dan istrinya. Ingin rasanya dia memukul orang-orang bayarannya itu, tetapi mengingat dia seorang perempuan yang tidak memiliki bekal bela diri niatnya diurungkan
Istri Damian Weasley itu harus segera memisahkan anak dan menantunya sebelum keluarga Sapto Hudoyo sadar jika anak lelakinya menolak anak gadis mereka. Para preman tersebut diperintahkan untuk membawa pulang sang anak dan membuang menantunya yang miskin. Memisahkan mereka dengan paksa adalah jalan terbaik menurut wanita berusia empat puluh dua tahun itu.
Marcelo tidak berani keluar kamar karena tadi pagi telah membuat keributan di kos-kosan sehingga banyak yang terbangun mendadak. Mereka berbondong-bondong menyerangnya dengan caci maki. Walaupun begitu tetap saja membuat nyali menjadi ciut.
"Makanya kita pulang saja Kak, ke rumah bapak. Beliau pasti seneng kalau kita tinggal bersama mereka. Apalagi ibu, pasti seneng banget karena mereka tinggal hanya berdua saja." Lagi-lagi Mitha mengajak pulang ke rumah orang tuanya.
Istri Marcelo itu terus merengek minta pulang ke rumah orang tuanya setiap kali ada kesempatan. Sang suami dibuat heran dengan tingkah yang tidak biasa itu. Jika tidak merengek minta pulang, Mitha akan memeluk suaminya erat seakan takut kehilangan.
"Kamu ini kenapa, hmm? Kakak seperti nggak mengenal istri Kakak. Sebenarnya ada apa, ceritalah agar bisa mengobati rasa sesak di dada. Walau tidak bisa menolong sepenuhnya, paling tidak sudah mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan hatinya.
Rasanya juga berbeda, kalau kita berbagi cerita. Aku ini suami kamu, tempat kamu berkeluh kesah, tempat menuangkan segala rasa baik itu sedih atau bahagia." Marcelo yang sudah tidak sabar dengan rengekan sang istri pun bertanya sekaligus menasehati.
Mereka berdua sama-sama masih belia, sama-sama masih labil karena seusia mereka pasti ingin bebas bermain. Oleh karena itu, salah satu dari mereka harus mengalah dan bersikap dewasa agar rumah tangga adem. Sang suami yang lebih tua dari sang istri harus benar-benar bisa ngemong istrinya itu.
"Mitha ingin pulang, tinggal sama bapak ibu. Mitha masih kangen mereka tapi Mitha juga tidak mau berpisah dengan Kakak," jujur istri Marcelo itu pada sang suami.
Kejujuran wanita itu membuat sang suami tersenyum penuh cinta. Ternyata semenggemaskan itu istrinya. Sikap manjanya selama ini tertutupi oleh pengabdiannya pada mertua dan suami di rumah mewah bak neraka.
Istrinya itu memang sangat tertutup, semua serba ditanya. Kalau Marcelo tidak bertanya dan mendesak sang istri untuk menjawab, Mitha tidak mau bercerita, bahkan menjawabnya saja enggan kalau tidak dipaksa.
Mitha sejak kecil sudah terbiasa tidak memiliki teman untuk berbagi beban masalah. Setiap ada masalah dia selesaikan sendiri tanpa meminta bantuan orang tua atau teman. Begitu juga dengan keinginan, dia akan menahan keinginannya jika sekiranya dia tidak mampu mewujudkan dalam waktu dekat.
"Kamu masih kangen banget ya sama mereka? Kenapa tidak bilang saat kita masih di sana, hmm? Aku nggak gigit loh, kenapa takut?" Marcelo mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada sang istri.
Pertanyaan Marcelo yang begitu panjangnya hanya mendapat satu anggukan dari sang istri tanpa kata-kata sebagai jawaban. Tiba-tiba saja perempuan itu menghambur ke pelukan Marcelo dengan kepala terbenam di dada sang suami.
"Kenapa lagi, hmm?"
Mitha sendiri juga bingung dengan keadaannya saat ini. Di satu sisi dia ingin berada di dekat orang tuanya, di satu sisi dia juga tidak ingin jauh dari sang suami. Namun, sepertinya keinginan itu tidak bisa diwujudkan oleh sang suami yang ingin meninggalkan kota kelahiran mereka.
Wanita itu masih betah menyembunyikan wajahnya dalam dekapan sang suami. Bulir bening menetes di pipi sampai membuat baju yang dikenakan suaminya basah. Laki-laki itu terkejut merasakan basah di bajunya.
Marcelo mendorong pelan tubuh kekasih halalnya, diangkat perlahan wajah ayu yang sembab itu. Pemuda itu tersenyum manis, merasa gemas dengan tingkah sang istri.
"Jangan menangis! Kamu ingin apa? Katakan saja karena aku tidak tahu apa keinginan kamu kalau tidak kamu katakan. Aku bukan cenayang, Sayang." Laki-laki itu berkata dengan suara lemah lembut agar sang istri tidak merasa tersinggung atau pun tersakiti.
Mitha menatap sang suami dengan tatapan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata.
"Katakanlah, jangan dipendam dalam hati!" ucap Marcelo mengangguk, sebagai tanda sip mendengar keluh kesah sang istri.
Anak kedua Weasley itu diam menunggu sang istri berbicara. Dia sengaja diam agar istrinya itu mau berbicara. Mata Marcelo menatap Mitha untuk ikut mencari jawaban yang tersimpan rapi dalam diri istrinya.
Beberapa menit berlalu, belum juga ada tanda-tanda jika Mitha mau berbicara. Tangan istri Marcelo itu malah saling terjalin, membuktikan adanya kegugupan dalam hati wanita cantik itu.
Alis Marcelo terangkat sebelah melihat sang istri yang memainkan jari jemarinya yang saling terjalin. Kadang juga tangan itu memilin ujung baju yang dikenakan. Istri Marcelo itu memainkan tangannya dengan kepala tertunduk sehingga tidak tahu jika sang memperhatikan.
"Mitha ingin bersama bapak dan ibu, tapi tidak ingin jauh dari Kakak," sahut Mitha dengan kepala tertunduk.
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.