Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 pingsan.
"Bi, Ayo kita berangkat!" Ratih menggandeng tangan asisten rumah tangganya menuju ruang tamu.
"Tunggu sebentar, Neng." Bi Sumi menatap Ratih dari atas hingga kebawah.
"Kenapa Bi Sumi menatapku seperti itu? Ada yang salah dengan penampilanku?" Ratih kembali menelisik penampilannya.
"Tidak ada yang salah, Neng. Neng sangat mempesona dan memukau malam ini. Seperti biasa simpel namun sangat elegan." Bi Sumi memutar badan majikan perempuannya.
"Terimakasih pujiannya, Bi. Semoga keputusanku kali ini benar!" Ratih menghembuskan nafasnya, seakan mengisyaratkan beban yang dihadapi akan sangat berat.
"Ini sudah keputusan Neng yang paling tepat." Bi Sumi menggenggam tangan Ratih menyalurkan kekuatan dengan senyumannya yang teduh.
"Terimakasih, Bi. Sudah mendukungku di setiap keputusan dalam hidupku." Ratih memeluk hangat Bi Sumi yang sudah dianggap sebagai ibunya.
"Ekhemmm…wow apakah ini Nona Ratih Andriani?" tanya lelaki itu dengan nada menggoda.
"Kenapa? Apa aku tidak secantik pacarmu yang matre itu?" tanya Ratih dengan menaikkan satu alisnya.
"Ya ampun. Sarkas sekali Anda berbicara Nona, Meli tidak bukanlah wanita matre. Hanya saja ia realistis dengan keadaan." Lelaki itu membela pacarnya di depan Ratih, sang Bos.
"Kalau sudah bucin. Kenyataan di depan mata tidak di hiraukan lagi!" Ratih tersenyum mengejek.
"Sudah lah, Bos. Jangan membahas pacarku lagi, ayo kita berangkat. 1 jam lagi acara akan dimulai," ucap lelaki yang bersama Ratih.
"Ayo, aku sudah siap. Aku tidak sabar ingin melihat wajah terkejut mereka semua." Ratih tersenyum penuh arti.
30 menit perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat yang mereka tuju.
"Ayo Bos kita lewat sini," Lelaki itu mengajak Ratoh melewati sebuah jalan rahasia.
"Tidak! Aku tidak ingin melewati jalan ini, aku ingin melewati pintu masuk itu." Ratih menunjuk pintu masuk gedung yang didatanginya.
"Tapi…,"
Tanpa mendengar ucapan lelaki itu, Ratih berjalan ke arah pintu masuk, di dampingi oleh Bi Sumi.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk kedalam, karena Anda tidak punya undangan," ucap lelaki yang memakai pakaian serba hitam.
"Saya tetap ingin masuk. Kamu tidak bisa menghalangi saya," Ratih hendak menerobos masuk kedalam.
"Maaf sekali lagi Nona, Anda tidak bisa masuk. Harap jangan membuat keributan disini." Lelaki itu menyeret Ratih menjauh dari pintu masuk.
"Izinkan saya masuk, saya akan membayar kalian berdua. Bagaimana?" tanya Ratih yang memang sengaja ingin mengetes kejujuran penjaga pintu masuk itu.
"Maafkan saya dan teman saya Nona. Kami hanya menjalankan perintah sesuai arahan pak Arham. Selaku Direktur di Perusahaan ini," ucap lelaki itu, " Dan Kami tidak berani menerima suap apapun bentuknya." Tegas lelaki itu.
Ratih tersenyum penuh arti, " Kerja yang bagus, saya menyukai pekerjaan Anda. Tunggu berita baiknya." Ratih berjalan menjauh dari lelaki itu, yang masih menatapnya dengan bingung.
"Bagaimana? Apa mereka lulus ujian?" tanya lelaki yang tak lain adalah Arham sang Direktur yang disegani.
"Pekerja yang jujur, aku suka dengan pekerjaan mereka. Yang mengutamakan tanggung jawab dan peraturan." Ratih melangkah menuju pintu jalan rahasia tersebut.
Sementara di rumah Bagas. Bu Mira tampak heboh dengan dandannya, ia tampil semaksimal mungkin, dengan memakai pakaian terbaiknya. Yang di dibeli 3 hari yang lalu dari butik langganannya.
"Bagaimana tampilan Ibu, Gas?" tanya Bu Mira seraya memutar badannya di depan Bagas yang tampak masam.
"Bagus, Bu. Ayo kita berangkat." Bagas melangkah menuju mobilnya.
"Kenapa kamu meninggalkan Ibu, Gas? Apa kamu mau ke pesta itu seorang diri?" Bu Mira bersungut marah.
"Diam, Bu. Berdoa saja semoga acaranya belum dimulai." Bagas fokus mengendarai mobilnya.
"Oh iya. Nia kemana, Bu? Tumben dia tidak ikut kita ke pesta besar seperti ini, biasanya dia yang paling semangat."
"Dia tadi sore sudah pamit sama Ibu, kalau malam ini dia ada acara juga. Jadi, Dia lebih memilih menghadiri acara temannya itu," jelas Bu Mira.
***
"Wow! tempat acaranya ternyata diadakan di gedung ini. Sangat mewah, dan glamor." Bu Mira begitu kagum dengan gedung tempat pesta itu berlangsung.
"Diam, Bu. Jangan seperti orang udik saja," Bagas menegur Ibunya.
"Bersyukurlah, Bu. Karena acara belum dimulai, ayo kita duduk di bangku sana. Itu ada Agus di sana." Bagas menunjuk Bagas sahabatnya.
"Ayo! " Bagas berjalan di depan Ibunya.
"Tunggu, Bagas. Apa Ibu tidak salah lihat. Itu Ratih, kan. Kenapa dia bisa berada di tempat ini, bersama seorang lelaki yang memakai jas rapi itu. Apa kamu mengenal lelaki di samping Ratih, itu siapa?" Bu Mira begitu penasaran.
"Mana, Bu. Bagas nggak lihat."
"Itu disana meja paling depan. Apa kamu sudah melihatnya?" tanya Bu Mira.
"Aku hanya melihat, Bosku. Tapi tidak ada Ratih disana." Bagas menajamkan penglihatannya.
"Bu, ternyata Ibu benar. Dia memang Ratih mantan istriku, kenapa dia bisa berada disini dan bersama direkturku?" tanya Bagas.
"Ibu juga tidak tau, Gas. Kalau kamu penasaran ayo kita kesana, samperin mereka dan tanya secara halus hubungan Ratih dan Direkturnya." Bu Mira melangkah ke arah Ratih yang tengah berbincang dengan Arham.
"Ratih. Kamu di sini juga?" Bu Mira menelisik penampilan Ratih, yang begitu memukau. dan perhatian Bu Mira juga berhasil, teralihkan pada kalung yang menjuntai indah di leher mulus Ratih.
"Iya. Saya di sini karena di undang oleh Mas Arham menghadiri acaranya." Ratih tersenyum penuh makna.
"Ternyata kamu sudah kenal lama dengan Direktur Perusahaan RA Grub. Ibu tidak menyangka, loh." Bu Mira tersenyum palsu seraya melirik kalung berlian yang menjuntai indah di leher Ratih.
"Iya, saya sudah lama mengenal Pak Arham ini, bahkan CEO perusahaan ini saya mengenalnya cukup baik," ucap Ratih.
"Maaf,Bu. Silahkan kembali duduk di meja Anda, karena acara akan segera dimulai." Arham merasa risih dengan Bu Mira.
"Ah… baiklah, aku akan balik ke meja itu." Bu Mira segera berjalan menuju meja Bagas.
"Baiklah, para hadirin sekalian, saya mengucapkan Assalamualaikum warahmatullahi, wabarakatuh. Sebentar lagi kita akan tau siapa CEO sekaligus pemilik perusahaan ini. Tak perlu menunggu lama, langsung saja kita panggilkan seorang yang sangat berpengaruh pada perusahaan ini, meski beliau tidak menampakkan dirinya di khalayak ramai. Percayalah beliau memantau semua keadaan Perusahaan secara diam-diam. Baiklah Yang kita tunggu-tunggu sejak tadi.
Perkenalkan CEO kita, RATIH ANDRIANI. Anak kedua dari 2 bersaudara dan putri satu-satunya dari keluarga Atmajaya . Yang berhasil mewarisi semua kekayaan keluarga besar Atmajaya. Silahkan beri tepuk tangannya. Dialah pemilik perusahaan ini, dan yang menggaji semua pekerjanya. Demikian acara perkenalan CEO kita. Silahkan menikmati jamuan yang sudah disiapkan." Pak Arham segera turun dari panggung menuju ke tempat Ratih.
"Bagaimana mungkin aku sudah mempersiapkan pesta yang mewah ini, sedangkan kamu ogah memberi sambutan kepada mereka. Mereka ingin mengenalmu, Bos.setidaknya beri sambutan atau beberapa kata kepada para tamu undangan." Pinta Arham.
"Aku tidak ingin, Pak Arham. Jadi, jangan memaksaku," ucap Ratih Tegas.
"Tolong ibu saya, tolong…,"
Teriakan Bagas, saat melihat Bu Mira tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
Ini tidak mungkin… tidak! Ini tidak mungkin terjadi…
good Author