Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Farid POV...
HAPPY READING...⚘⚘⚘
#Farid POV#
Hari ini aku menelphon Mbak Wulan untuk bertemu disebuah caffe, ada hal yang mesti kami bicarakan mengenai desain proyek pembangunan rumahnya.
Sekarang aku cukup dekat dengan Mbak Wulan, Setelah kejadian kesalah fahaman waktu di restourant itu, aku terus merasa bersalah baik kepada Fauzi maupun kepada Wulan, bukan apa-apa, aku bahkan mengatai Wulan dengan kata-kata yang tidak pantas tentang hubungan dirinya dengan Fauzi dan berakhir dengan mendaratnya satu pukulan diwajah Fauzi dihadapannya. Karena rasa bersalahku yang terus saja tidak bisa hilang dari fikiranku, akhirnya aku berusaha menemuinya untuk meminta maaf, lewat petunjuk dari Fauzi tentunya. Berawal dari sana dia juga tau kalau aku yang lulusan Teknik Sipil ini sedang belajar mendesain sebuah bangunan, dan kali ini aku dipercaya untuk menggarap rumah barunya, karena rumah yang dia tempati saat ini akan fokus dijadikan butik saja.
Saat aku menelphonnya hari ini, dia bilang tidak bisa datang ke alamat yang aku sebut, dia malah menyuruhku untuk datang ke rumahnya karena ada acara ulang tahun putrinya, akupun datang kesana, namun saat aku baru saja menghentikan motorku didepan rumahnya, aku mendengar teriakan dan tangisan anak-anak dari lantai dua rumah itu, aku segera masuk ke pintu Butik yang memang sedang terbuka, dan berlari menuju lantai dua.
Jantungku berhenti sejenak, saat kudapati diruangan itu, Wulan dan anak-anak sedang berkerumun mengelilingi tubuh seorang wanita hamil yang tergeletak dipinggir kursi, wajah mereka nampak khawatir, sebagian dari mereka ada yang terisak dan ada juga yang gemetar ketakutan dan berteriak, kulihat Mbak Wulan sedang memangku kepala wanita itu sambil menepuk-nepuk wajahnya berusaha menyadarkannya.
Tubuhku gemetar, jantungku berdegup lebih kencang, saat mataku tertuju pada wajah wanita dipangkuan Mbak Wulan yang sedang terkulai lemah tak berdaya, wajahnya pucat, matanya terpejam, keringat bercucuran dari keningnya sampai membasahi hijabnya, fikiranku kembali ke masa lalu.
Wajah itu... wajah yang selalu teduh saat kupandang, wajah yang selalu tertunduk dengan senyuman, sungguh... meski aku tau aku sudah tidak pantas lagi mengharapkannya dan berusaha keras melupakannya, namun fikiranku masih saja terpaut padanya, bahkan sampai saat ini.
Aku sengaja tidak pernah muncul dihadapannya selama 7 bulan terakhir ini, aku sempat berpamitan padanya untuk kembali ke kota asalku Semarang, meski sebenarnya aku masih tetap di kota kembang ini tanpa sepengetahuannya untuk melanjutkan proyekku, bukan apa-apa aku hanya ingin menghindari pertemuan dengannya, yang hanya akan membuat hatiku lebih sakit lagi karena rasa sesalku yang dulu telah menyianyiakannya dan membuatnya lelah menungguku.
Aku berdiri terpaku saat Mbak Wulan tiba-tiba memanggilku dan memintaku untuk mengangkat tubuhnya dan membawanya ke Rumah Sakit dengan mobilnya, rasa risih muncul dalam diriku, namun teriakan Wulan yang memohon juga putrinya yang terus menangis, memaksaku langkahku untuk mendekat dan perlahan membungkuk lalu meraih tubuh mungilnya dengan perut yang mulai membesar karena kehamilannya, dengan mudah aku menggendongnya menuruni tangga dan membaringkan tubuh mungilnya di jok mobil belakang.
Wulan mengikutiku dan memberikan kunci mobilnya padaku agar aku membawanya sedangkan dia duduk dibelakang bersama Afifa, Aku menjalankan mobil Wulan sesuai dengan petunjuk jalan yang diarahkan Wulan, karena aku belum faham dengan daerah ini.
Ditengah perjalanan aku mendengar Afifa menjerit, aku kaget dan menginjak pedal rem dengan tiba-tiba membuatnya semakin menjerit kesakitan, aku panik begitupun dengan Wulan, aku sempat menoleh kebelakang, nampak wajahnya semakin pucat dan semakin berkeringat, air matanya mengalir dari kedua pipinya membuat hatiku semakin tak karuan melihatnya, Mbak Wulan bilang ketubannya pecah, aku juga tidak mengerti maksudnya apa, tapi Mbak Wulan memintaku untuk menyetir dengan cepat dan menuju rumah bersalin terdekat.
Sepuluh menit berlalu, aku menjalankan mobil diiringi rintihan kecilnya yang memilukan hatiku, mbak Wulan memintaku berbelok dan berhenti tepat didepan rumah bersalin, jantungku kembali berdegup kencang saat Mbak Wulan kembali memintaku untuk menggendongnya masuk ke dalam ruangan, lagi-lagi aku tak bisa menolaknya, akupun dengan segera mengangkat tubuhnya dibalik gamisnya yang basah, membawanya masuk ke ruangan bersalin dan membaringkannya perlahan diatas tempat tidur pasien. Aku sempat menatap wajahnya yang lemah dan penuh dengan air mata, meringis menahan rasa sakit bahkan tak sanggup lagi untuk berkata-kata, hanya anggukan kecil dan senyuman yang berusaha ia sunggingkan dari bibirnya yang memucat, hatiku kembali berdebar saat matanya bertemu dengan mataku, disertai senyuman yang ia arahkan padaku.
Ada satu perasaan yang timbul dari dalam lubuk hatiku dan fikiran liarku, ingin sekali aku memeluknya, mengusap setiap peluh yang bercucuran diwajahnya, atau mungkin sedikit meringankan rasa sakitnya, seandainya hari ini dia adalah istriku seperti dugaan perawat itu, maka aku akan sangat bahagia melakukannya, tapi akal sehatku kembali, aku sadar, kini aku bukanlah siapapun baginya, aku sama sekali tidak punya hak untuk melakukan semua itu, akupun melangkahkan kakiku dengan lemah keluar dari ruangan itu.
Mbak Wulan memintaku untuk menghubungi Fauzi karena dia tidak sempat membawa apapun dari rumah karena kepanikannya, tanpa fikir panjang aku segera menghubungi Fauzi, tak lama panggilanku tersambung dengannya, rupanya dia sedang berada diperjalanan dari Jakarta menuju Bandung, satu jam lagi akan tiba di tempat ini, meskipun sempat terjadi kesalahfahaman antara kami berdua.
Sebelum Fauzi tiba, perawat meminta kami untuk menyiapkan peralatan bayi, kami bingung karena tak sehelai kainpun kami bawa ke tempat ini, akhirnya Mbak Wulan terpaksa pulang terlebih dahulu untuk mengambil peralatan bayi bekas kelahiran putrinya yang masih ia simpan rapi dirumahnya.
Sepeninggal Mbak Wulan, aku hanya sendirian menunggu didepan pintu ruangan bersalin dengan segala kecemasan dan kebingunganku, sampai datang sebuah mobil yang berhenti dihalaman rumah bersalin, keluarlah dua orang suami istri paruh baya dan satu orang gadis berhijab mengikutinya, mereka berjalan tergesa-gesa menanyakan kondisi Afifa, sepertinya mereka orang tuanya dan sodaranya, saat mereka semakin mendekat dan seorang ibu paruh baya itu bertanya padaku, akupun bingung harus jawab apa, akhirnya aku menyebutkan nama Mbak Wulan yang ku fikir mereka pasti mengenalnya, ternyata dugaanku benar, mereka menghentikan interogasinya padaku.
Aku merasa lega, lalu pandanganku ku alihkan pada seorang gadis yang berdiri tertunduk disampingnya, entah mengapa wajahnya itu mengingatkanku pada seseorang, meski aku tidak yakin karena penampilannya saat ini yang sungguh jauh berbeda dengan gadis yang pernah aku kenal dulu, awalnya aku tidak menghiraukannya sampai telingaku mendengar ucapan terimakasihnya dengan menyebut nama panggilanku yang memang hanya dia dan sahabatnya yang memanggilku dengan sebutan "Mas Ari", ya...mungkin dia mengambil dari nama belakangku Ahmad Farid Al Ghifari. Aku kembali menajamkan penglihatanku untuk memastikan bahwa gadis berhijab ini adalah benar-benar gadis pecicilan dan arogan yang pernah ku kenal 2 tahun yang lalu semasa aku aktif di rohis kampusku.
Aku hendak bertanya, namun Mbak Wulan sudah memanggilku, dan anggukan kecilnya meyakinkanku, bahwa itu benar-benar dia.
#POV Farid End#
pukul 08:30 mobil picup hitam yang membawa Afifa dan Nadia tiba di rumah. Afifa menurunkan kakinya perlahan dari kursi mobil, rasa perih dan ngilu sisa proses melahirkan masih terasa didalam rahim dan dibagian intimnya, nampak wajahnya meringis saat kakinya tepat mendarat diatas tanah didepan rumahnya.
Nadia yang melihatnya segera memapahnya masuk kedalam rumah, sebuah kasur busa sengaja dia gelar diruang keluarga, agar Antinya mudah memanggilnya saat membutuhkan sesuatu sambil istirahat rebahan diatas kasur.
"Makasih ya Nad", Ucap Afifa sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur yang Nadia siapkan.
"Sama-sama An, sekarang Anti istirahat ya, jangan banyak yang difikirkan, nanti malah menghambat pemulihan Anti", Tangan Nadia cekatan membereskan bantal guling disisi tubuh Afifa agar nyaman untuknya, tak lupa selembar selimut tebal dia tutupkan ke badan Afifa.
"Nad..., boleh Anti minta tolong?" ucap Afifa.
"Tentu saja, Anti perlu apa? Nadia siap melayani tuan putri", Nadia mengangkat tangannya memberi hormat, bergaya seperti prajurit dihadapan atasannya, tingkahnya cukup membuat Afifa terhibur dan menyunggingkan senyumnya.
"Anti mau mandi Wiladah, bantu Anti isikan air hangat di bak mandi kamar Anti ya"
"Oke Anti, segera laksanakan", Nadia segera berdiri menuju kamar Afifa dan melakukan semua yang diminta Afifa.
Setelah selesai dengan aktivitas bersih-bersihnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan, Afifa kembali berbaring, Nadia mengajak Afifa makan dengan makanan yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang tadi, susah payah Nadia membujuknya, satu suapan berhasil masuk ke mulutnya, namun entah mengapa rasanya begitu hambar, bagaimana tidak, fikirannya sama sekali tidak tenang, mengingat bayinya saat ini yang masih di Rumah sakit belum ada perkembangan.
Pukul 09:30 malam, suara mobil terdengar berhenti didepan rumah Afifa, dia menatap Nadia memberi isyarat untuk segera melihatnya, Nadia menoleh ke arah pintu yang tertutup, saat dia hendak berdiri terdengar suara ketukan dipintu depan, Nadia segera mengintipnya dibalik tirai, dan ternyata Kak Hanita beserta suami dan anak-anaknya yang datang, dia segera membukanya dan mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah, namun saat hendak menutup pintu, terdengar lagi suara motor berhenti dan ternyata itu Abi bersama Nisa dan Rizqi.
Afifa merasa heran dengan kedatangan mereka malam-malam begini, bukannya tadi Abi baru saja menemaninya di rumah bersalin, mengapa dia memaksakan diri untuk datang kemari lagi? Entah mengapa, tiba-tiba Afifa merasa ada sesuatu yang ganjil disini, apalagi saat melihat beberapa tetangga juga ikut berdatangan kerumahnya, dia terus berfikir dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya?
Dia mulai berspekulasi buruk tentang bayinya yang sejak tadi tak pernah lepas dari fikirannya.
Semua orang berkerumun mendekati Afifa, mereka mengucapkan belasungkawa, Kak Nita memeluknya dengan erat, begitupun dengan Abi yang mengusap-usap punggungnya. Afifa memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang terjadi Bi? mengapa semua orang datang kemari malam-malam begini?" tanya Afifa dengan mata yang sudah berkaca-kaca, meski sebenarnya dia sudah curiga dengan kabar buruk yang akan diterimanya, namun ia ingin memastikannya saja.
"Sayang...kamu sabar ya, bayimu tidak dapat diselamatkan", Ucap Abi pelan, dan kembali memeluk putrinya.
Suara Abi begitu pelan, namun terasa begitu memekik telinganya, seakan sebuah dentuman keras berada tepat didepan gendang telinganya, seketika tubuhnya terasa melayang, ringan seperti kapas putih yang tertiup angin, tatapannya pudar, semakin pudar dan hilang bersama lenyapnya alam sadarnya.
********
Bersambung...😢😢😢
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers... Author masih berduka...😢😢😢
Kalau Readers mau menghibur Author dengan Like, Vote dan komentar positifnya, pasti aku terima...
makasih ya yang masih setia disini...
LOVE YOU ALL...❤❤❤
By :@Rahma Husnul#
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep