Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Anggia memasuki kamarnya melewati Nattan begitu saja, tanpa berniat menyapanya sama sekali, rasa lelah seharian menyelesaikan tugas terakhirnya membuat Anggia tak memiliki tenaga lagi untuk memikirkan hal lain termasuk berdebat dengan suaminya.
Usai mandi dan makan malam bersama, pukul 21:04 Anggia memutuskan untuk tidur lebih awal, karena besok ia masih harus sekolah.
Berbeda dengan Nattan, diruang kerjanya pria itu justru tengah menatap sebuah foto yang berasal dari akun sosial media milik seseorang dengan nama lengkap Septia Salendra.
Setelah bertahun-tahun lamanya tak mendengar kabar tentang gadis yang dulu dijuluki ratu sekolah itu, entah mengapa malam ini ia begitu penasaran untuk melihatnya, terlebih sore tadi ketiga sahabatnya mendadak membahas tentang gadis tersebut.
Dirasa cukup, Nattan kembali menutup benda segi empat yang masih menyala dihadapannya.
Foto yang baru saja ia lihat beberapa detik yang lalu sama sekali tak meninggalkan kesan apa-apa bagi Nattan, justru kini kepalanya dipenuhi dengan bayangan wajah dingin Anggia yang tak pernah lagi menatapnya, atau hanya sekedar bertanya.
Nattan menghela napas gusar, ia melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya, memasuki kamar dengan sedikit canggung, terlebih saat mendapati Anggia yang tengah tertidur lelap dengan selimut melorot memperlihatkan paha putihnya.
Nattan melengos, memalingkan wajahnya kearah lain untuk menetralisir perasaannya yang tiba-tiba berdebar tak karuan.
Gegas ia melangkah cepat, menaikan selimut menutupi tubuh Anggia sembari meneguk ludahnya susah payah.
Ada sesuatu yang tiba-tiba bangkit, namun bukan semangat, ada yang menonjol tapi bukan bakat.
Dan di malam yang semakin larut itu Nattan mendadak betah berlama-lama didalam kamar mandi.
*
Hari ini Anggia pulang lebih awal karena semua guru-guru disekolahnya sedang mengadakan rapat, dan siang ini ia memilih menghabiskan waktunya mengobrol bersama Dita disebuah Cafe yang berjarak sepuluh menit yang ditempuh dari sekolahnya.
"Nih gue pesanin makanan kesukaan Lo Nggi, hitung-hitung sebagai teraktiran karena gue baru aja jadian sama mas Leo." ujar Dita menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
"Uhhh Dita sayang akhirnya di tembak juga sama mas Leo, selamat ya." Anggia ikut berbahagia.
"Iya Nggi makasih banyak ya, sumpah gue seneng banget Nggi, gue nggak nyangka kalau ternyata mas Leo juga udah suka sama gue dari lama." Dita menggenggam tangan Anggia gemas, sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya sendiri.
"Cie, Dita! gue doain semoga hubungan Lo sama mas Leo langgeng ya, sampai ke pelaminan dan menua bersama."
"Aamiin, thankyou Anggia, gue sayang banget sama elo."
"Oh iya Nggi, kemarin sore gue ngelihat si Rafka lagi di taman sendirian, wajahnya kacau banget, dia kelihatan kayak terpuruk gitu."
"Eh sorry Nggi." Dita meringis tak enak hati, saat menyadari raut wajah Anggia yang berubah, ia sudah berjanji pada Anggia bahwa ia tidak akan lagi membahas tentang Rafka.
"Nggak apa-apa Dit."
"Eh Nggi, lihat deh! itu cowok yang ganteng itu, gue kok ngerasa kayak nggak asing ya lihat dia, gue kayaknya udah pernah lihat dia sebelumnya tapi dimana ya?" lanjut Dita yang terlihat berpikir keras, sedangkan Anggia ikut melihat kearah pria yang Dita maksud.
Deg!
Seketika tubuh Anggia menegang, saat mengetahui siapa pria tersebut.
Anggia menghela napas kesal, saat lagi-lagi ia harus berada ditempat yang sama dengan suaminya.
Ya, pria tersebut adalah Nattan bersama ketiga temannya yang juga hendak makan siang.
"Gue ingat Nggi, kayaknya gue pernah lihat dia didepan sekolah kita deh."
Deg!
"Dia punya adik kali ya yang sekolah disana, tapi gue baru lihat kemarin-kemarin sih."
"Lo salah lihat kali Dit, atau mungkin dia memang lagi kebetulan lewat aja." sangkal Anggia.
"Gue nggak salah lihat Nggi, kalau cuma sekedar lewat nggak mungkin lah, sekolah kita kan agak lenggang dari jalan raya, masa iya dia nyasar, kan nggak mungkin!"
"Hai cewek." sapa seorang pemuda yang memakai seragam yang sama dengan keduanya, ia mengambil kursi kosong kemudian mendudukinya tanpa dipersilahkan.
"Glen? ngapain Lo kesini?" ucap Dita ketus, Glen dan Dita memang sering beradu mulut, dan keduanya sering kali bermusuhan.
"Mau ketemu Anggia, bukan ketemu elo, Minnie mouse."
"Sialan, ngatain gue Minnie mouse lagi."
"Lah emang iya kan."
"CK, Lo kok ngeselin sih."
"Sama, Lo juga."
"Lo_"
"Eh Lo diem ya! lagian gue heran banget deh sama elo, badan kecil tapi bawelnya minta ampun."
"Lo benar-benar ya?" Dita hendak mengangkat gelas miliknya yang berisi jus Alpukat.
"Eh, Lo mau ngapain? taro nggak, taro gue bilang!" Glen memekik ia sudah tahu betul sikap Dita yang tak akan segan-segan menumpahkan minuman tersebut kewajahnya.
Karena dia sudah mengalaminya beberapa kali didalam kantin sekolah mereka.
"Udah sih Dit, gue heran deh sama Lo berdua, udah kayak kucing sama tikus aja, tiap ketemu berantem terus, nggak cape apa?"
"CK, dia yang mulai Anggia!"
"Hati-hati lho nanti kalian berjodoh."
"Amit-amit." sahut keduanya bersamaan, mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya secara bergantian, membuat Anggia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol keduanya.
"Tuhkan gue jadi lupa sama tujuan gue kesini mau ngapain, elo sih?" Glen mendelik kearah Dita, yang dibalas pelototan menantang oleh gadis tersebut.
"Cewek bar-bar."
"Elo tuh cowok perusuh, ngeselin, sok ganteng."
"Lah emang gue ganteng kan, iya nggak Nggi." menoleh kearah Anggia seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Anggia tertawa geli.
"Eh ngomong-ngomong Anggia hari ini kamu cantik banget sih, eh ralat deh! kamu emang selalu cantik tiap hari, bersinar bagaikan matahari."
Hwweeekk..
"Lo kenapa lagi sih Minnie mouse,?" Glen melemparkan tatapan tajam kearah Dita.
"Mendadak masuk angin, denger gombalan Lo yang bikin mual."
"CK Lo benar-benar ya."
Di sisi lain, Nattan yang beberapa kali bergerak gelisah segera beranjak dari duduknya, menghampiri meja Anggia, tanpa mempedulikan tatapan bingung dari ketiga sahabatnya.
"Ikut saya pulang." Nattan menarik paksa tangan Anggia, yang langsung di cegah Glen.
"Hei bang, ini maksudnya apa ya, Lo siapanya Anggia main tarik-tarik dia begitu, Lo pikir dia tambang apa,?"
"Saya nggak ada urusan sama kamu."
"Jelas ada urusannya lah."
Nattan berdecak lirih, karena lagi-lagi ia harus berurusan dengan bocah seperti Glen.
"Saya tanya, kamu memangnya siapanya Anggia?"
"Eung, gue_ gue calon pacar."
"CK."
"Lo sendiri siapanya Anggia.?"
Nattan melirik Anggia sebentar, kemudian melihat kembali kearah Glen.
"Saya su_"
"Glen, Dita, gue pulang duluan ya." sela Anggia cepat, dan menarik tubuh Nattan agar menjauh dari mereka.
*
*