Arsyila Qiana Azzahra. Perempuan berusia 32 Tahun. Belum Menikah. Cerdas, Mandiri, Berprestasi dan Berbakti kepada kedua orang tua.
Satu yang belum Arsyila miliki diusianya yang sudah kepala tiga, SUAMI!
Kedua Orang tua Arsyila menginginkan putri satu-satunya menikah seperti anak perempuan keluarga lain seusianya bahkan telah memiliki anak.
Beberapa pria datang melamar Arsyila namun Arsyila menolak hingga disatu titik ucapan Bapaknya seolah mengetuk sanubari Arsyila.
Akankah Arsyila tetap Menanti Cintanya? atau Takdir yang akan mempertemukan Arsyila dengan jodohnya?
Semoga cerita ini bisa menjadi insprirasi dan dapat diambil pelajaran baik dan buruknya jangan diikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Skripsi
..._________🍃🌺🍃_________...
...Assalamualaikum Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Selamat Membaca!...
..._________🍃🌺🍃_________...
..."Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh keridhoan Allah SWT, (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat nanti,"...
...(HR Abu Daud)....
..."Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu,"...
...(HR Ahmad)....
Syila duduk di dalam ruang sidang bersama para penguji dan pembimbing lain.
Wajah-wajah tegang mahasiswa yang akan menjalani sidang skripsi hari ini terasa mencekam terlihat beberapa diantara mereka gelisah dalam gerak gerik yang nampak.
"Selamat pagi semua. Hari ini sidang skripsi dengan jumlah peserta sebanyak 8 orang akan kita mulai. Saya berharap kalian dapat menyajikan hasil penelitian kalian dengan baik didasari dari teori-teori pendukung yang tentu menjadi landasan dalam penulisan skripsi kalian."
Kiranya begitulah yang disampaikan Bu Bekti selaku Sekprodi saat membuka sidang skripsi kali ini.
Setelah 1 mahasiswa pertama selesai diuji tibalah Kamila Larasati yang menjadi peserta sidang skripsi kali ini.
Syila melihat mahasiswa yang begitu diperlakukan spesial oleh pihak kampus hingga seorang Rektor sampai turun tangan memastikan kelulusan mahasiswi cantik satu ini.
Kamila memaparkan hasil penelitian skripsinya dengan lancar dan tanpa kendala.
Segala teori pendukung dan isu yang diangkat olehnya juga terbilang menarik.
Kamila memilih metode penelitian secara kualitatif dengan objek penelitian sebuah perusahaan garmen yang sudah ditelitinya kurang lebih selama 6 bulan.
Dengan begitu lancar Kamila memaparkan hasil temuannya selama penelitian dilakukan.
Tibalah saat Syila sebagai salah satu penguji memberikan pertanyaan kepada Kamila.
"Saudari Kamila, dalam penelitian yang Anda lakukan apakah ada pihak atau campur tangan orang lain? Mengingat Anda begitu mengetahui seluk beluk perusahaan tersebut, terlebih data-data yang bersifat keuangan perusahaan sepertinya sulit diberikan meskipun Anda terjun langsung disana?"
Tentu saja Syila tidak asal menerka, Syila memastikan bahwa penelitian Kamila murni dilakukan bukan ada unsur orang dalam terlibat yang membuat hasil penelitiannya menjadi bias dan tidak valid.
"Terima kasih atas pertanyaan dosen penguji, perlu Saya tekankan bahwa penelitian yang Saya lakukan murni atas data yang Saya peroleh di lapangan adalah benar adanya. Adapun data keuangan tersebut jelas benar adanya dan itu Saya peroleh karena selama Saya melakukan penelitian disana sekaligus sebagai pegawai di divisi keuangan perusahaan garment tersebut. Ini beberapa dokumentasi dan fakta yang bisa membuktikan bahwa Saya sebagai bagian dari perusahaan khususnya sebagai pegawai di divisi keuangan perusahaan ini."
Kamila menunjukkan ID Card yang mencantumkan nama dan nomor pegawai serta bukti rekap absensi selama menjadi pegawai sekaligus foto selama ia menjadi pegawai di perusahaan tersebut.
"Baik, Bukti yang Anda berikan valid dan bisa diterima." Syila menatap mahasiswinya yang tak kalah sengit dibalas tatapan menantang oleh Kamila pada sang dosen penguji.
Kesan Syila pada Kamila adalah mahasiswi cerdas, berkarakter meski arogan namun memang Syila akui gadis ini punya semangat luar biasa.
Namun mengapa gadis cerdas seperti Kamila dikhawatirkan oleh rektor seolah Kamila tidak mampu lulus pada sidang skripsi.
Tentu saja Syila bertanya-tanya dalam hati.
Hari yang cukup melelahkan bagi Syila setelah seharian full menguji mahasiswa membuat tubuhnya lelah meski masih ada pekerjaan yang belum selesai.
"Bu Syila! Tunggu!" suara seseorang menghentikan langkah Syila.
Syila menatap gadis cantik, salah satu mahasiswi yang diujinya tentu saja Kamila Larasati kini berdiri dihadapannya.
"Ada apa Kamila?" Syila menatap Kamila yang menatapnya penuh tanya seolah Syila seorang terdakwa.
"Bisa kita bicara berdua Bu Syila?"
"Soal apa?"
"Soal hasil sidang tadi."
"Ada apa? Kamu lulus dengan sedikit perbaikan. Segera revisi skripsi kamu dan kembali ke pembimbing untuk di ACC dan kamu bisa ikut wisuda." Syila menjelaskan.
"Sebaiknya ibu ikut Saya, ada hal yang ingin Saya bicarakan berdua dengan ibu!" tatapan Kamila begitu tajam seolah ada kesal yang membuat Kamila tak paham maksud dari sikap mahasiswi yang baru dikenalnya hari ini.
Syila dan Kamila kini duduk di sebuah kafe yang tentu saja Kamila sendiri yang memilih tempat tersebut.
"Maaf jika Saya mengganggu waktu Bu Syila. Tapi Saya akan bertanya dan Saya harap Bu Syila menjawab dengan jujur pertanyaan Saya!"
"Silahkan. Apa yang ingin kamu tanyakan." Syila dengan tenang menyandarkan punggungnya sambil menautkan kedua jemari tangannya.
"Ibu Syila ada hubungan apa dengan Bapak Rektor yang terhormat!"
Duar!
"Jaga ucapan kamu Kamila. Saya rasa sikap kamu yang tidak sopan ini bisa membuat kamu tidak lulus." Syila sedikit tersulut emosi dengan fitnah mahasiswinya.
"Bu Syila jangan besar kepala hanya karena Ibu punya hubungan spesial dengan Pak Rektor yang terhormat! Karena sebelum ibu sudah banyak korbannya!" seringai senyum Kamila meledek Syila.
"Perlu kamu ketahui ucapan kamu pada Saya sudah termasuk fitnah Kamila. Lagi pula tidak ada apapun antara Saya dengan Pak Rektor. Saya tidak pernah tahu sikap kamu saat ini sebagai bentuk kecemburuan atau kemarahan karena menganggap Saya mengambil milik kamu. Tapi perlu Saya tegaskan disini, Saya tidak seperti yang kamu tuduhkan!"
"Oke. Bukankah ibu juga diminta untuk meluluskan Saya oleh Pak Rektor seperti dosen lain?"
"Oh soal itu? Maaf Saya tidak pernah mengubah prinsip Saya dalam memberikan penilaian ataupun memperlakukan istimewa mahasiswa. Sekalipun Rektor yang meminta. Karena sebagai seorang dosen Saya memegang kode etik akan hal itu."
"Benarkah? Jadi maksud ibu Saya memang pangas lulus saat sidang skripsi tadi?"
"Sepertinya Saya harus memikirkan ulang soal penilaian hasil sidang kamu mengingat apa yang kamu lakukan kepada Saya sekarang!"
"Dan ingat Kamila, Saya tidak pernah ingin tahu dan ikut campur dengan urusan pribadi mahasiswa dan rekan kerja Saya sekalipun itu Rektor. Tugas Saya sebagai dosen menjalankan tupoksi sesuai dengan semestinya."
Kamila tersenyum menyeruput ice chocolate dengan menatap Syila.
Tatapan Kamila kini tak lagi tajam.
Ia justru menatap kagum dengan wanita berpakaian syar'i yang menjadi dosen pengujinya.
"Sepertinya sudah tidak ada yang ingin kamu bicarakan. Saya permisi." Bagaimanapun Syila manusia biasa, lelah tubuhnya selepas bekerja ditambah harus menghadapi ucapan Kamila yang menyudutkan dan fitnah tak mendasar menyulut emosi Arsyila sebagai seorang perempuan.
"Tunggu Bu!" tangan Kamila menahan Syila agar tidak pergi.
"Belum cukup tuduhan kamu pada Saya Kamila?"
Kamila menuntun Syila kembali ke kursi dihadapannya.
Syila mengucap istigfar dalam-dalam.
Mengontrol emosinya agar tidak terpancing.
"Maaf jika ucapan Saya mengakiti hati Ibu. Saya hanya berfikir Bu Syila sama seperti dosen-dosen lain yang berpikir Saya dan Pak Rektor mempunyai hubungan Spesial hingga penilaian terhadap Saya tidak murni karena kemampuan Saya. Dan Saya tidak suka diperlakukan seperti itu." seakan Kamila mencurahkan isi hatinya di hadapan Syila.
"Saya tidak pernah menilai seseorang hanya berdasarkan ucapan orang lain. Bagi Saya saat menilai mahasiswa ya berdasarkan kemampuannya sendiri. Saya tidak perduli siapa berhubungan dengan siapa atau apapun itu."
"Jadi menurut ibu skripsi Saya tadi bagus?"
"Saya akui hasil penelitian kamu terutama dengan pendekatan kualitatif menarik, memiliki masalah yang sangat unik dan cara menggali informasi dan fakta-fakta dilapangan sangat baik sesuai prosedur metedologi penelitian yang semestinya."
"Alhamdulillah. Terima kasih Bu Syila. Saya sangat berterima kasih karena Ibu sudah jujur dengan penilaian ibu sendiri untuk hasil kerja keras Saya yang selama ini tidak Saya dapatkan dari dosen lain."
"Tidak perlu berterima kasih kepada Saya, tapi tidak juga kamu bersikap seenaknya menghakimi seperti itu. Karena tidak semua orang terutama dosen bisa menerima diperlakukan seperti yang kamu lakukan kepada Saya."
"Satu lagi Kamila yang perlu kamu ingat, bagaimana pemikiran orang pada kamu jangan pernah membuat diri kamu kehilangan Value atas dirimu sendiri, tapi cukup buktikan dengan usaha dan kerja kerasmu karena Allah tidak melihat hasil dari apa yang di kerjakan hambanya tetapi proses menuju hasil tersebutlah yang paling utama. Jadi kamu tidak perlu takut dengan tuduhan orang lain akan kamu, yang perlu kamu lakukan adalah berusaha seoptimal mungkin berdoa dengan keyakinan Allah akan memberikan jalan dan selebihnya tawakal." pesan Syila pada Kamila.
"Sekali lagi maafkan Mila Bu Stila sudah menuduh ibu yang bukan-bukan. Bu Syila percaya kalau Saya bilang Saya tidak seperti yang digosipkan dikampus mengenai Saya dengan Pak Rektor?"
"Saya tidak pernah mau ikut campur urusan pribadi orang lain, apalagi berprasangka buruk hanya akan mengotori hati Saya. Setiap orang memiliki privasinya masing-masing. Bukankah gibah sama saja seperti kita memakan bangkai saudara sendiri? Saya tidak mau dosa Saya yang sudah banyak harus Saya tambah dengan dosa gibah."
Kamila menatap kagum pada wanita berhijab panjang dengan gamis warna pastel longgar membakut tubuh dosen penguji cantiknya itu.
"Boleh Saya meminta nomor Bu Syila, Saya hendak bertanya mengenai revisi skripsi yang tadi ada catatan dari ibu. Bolehkan?" Kamila menampilkan senyuman dan sorot mata bersahabat.
Arsyila membalas senyuman mahasiswinya yang cantik dan berkarakter tegas ini.
...“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”...
...(QS. Surat Al-Mujadalah ayat: 11)....
...Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal....
...(QS. Ali Imran ayat 7)....
..._________🍃🌺🍃_________...
...Waalaikumsalam Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Terima Kasih sudah membaca karya Author...
...Alhamdulillah...
..._________🍃🌺🍃_________...
sementara ibu nya Dimas sudah mau memberikan Restu dan mendatangi kedua orang tua syila
tapi koq gak jadi
ya seperti flasback gitu kak biar gak penasaran aja para readers nya
akhirnya syila menemukan jodoh nya
semoga samawa