Sanaya Angelina Franca harus terpaksa menikah dengan David Jonathan menggantikan kakanya yang mati karena sebuah kecelakaan.
Padahal Sanaya sudah memiliki seorang kekasih yang sangat Sanaya cintai tapi demi nama baik keluarganya ia terpaksa menerima pernikahan ini.
Derita dan perkelahian datang melanda sili berganti dalam rumah tangga David dan Sanaya karena David belum menerima Sanaya sebagai istrinya pasalnya David masih mencintai Anaya saudara kembar Sanaya.
" Apa kamu pikir hanya kamu yang tersiksa di sini Tuan David, lihat lah saya, hati saya masa depan saya banyak yang saya korbankan demi keluarga saya dan kamu pikir hanya kamu yang tersiksa, " ucap Sanaya lantang dengan tatapan marah pada David.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 " Diary Anaya"
Sanaya yang sudah puas menumpahkan tangisannya pun merasa sedikit lega karena William siap untuk mendengarkan curhatan hatinya.
" Terimakasih kak William ," seru Sanaya menatap William.
" sama-sama," balas William mengusap kepala Sanaya.
dering handphone milik William berbunyi membuat William segera mengangkat panggilan telfon yang ternyata dari David, William segera menjauh dari Sanaya.
Sanaya hanya menatap punggung William sambil memainkan kakinya menunggu William selesai menelfon yang entah dari siapa Sanaya tidak tau.
hampir 5 menit Sanaya menunggu akhirnya William sudah selesai mengobrol dan mematikan sambungan telfonnya.
" sepertinya Kaka harus balik kantor lagi " ucap William mendekat ke arah Sanaya.
" tidak apa Sanaya pulang naik taxi aja," balas Sanaya menatap William dengan senyum simpulnya.
" apa kamu benar-benar baik-baik saja ,?" tanya William menatap Sanaya.
" aku baik-baik saja, Kaka bisa pergi dan terimakasih untuk hari ini ," balas Sanaya.
William mencari taxi untuk Sanaya dan akhirnya William mendapatkannya dan segera menyuruh Sanaya untuk segera masuk.
Sanaya pun masuk ke dalam taxi dan melihat William melambaikan tangannya membuat Sanaya membalas lambaian tangan William.
setelah taksi sudah pergi menjauh Sanaya menyandarkan kepalanya di dekat jendela sambil mengendus kan nafasnya di kaca dan menulis sesuatu di sana.
" apakah aku harus terus seperti ini ," batin Sanaya menutup matanya dengan pelan hingga membawanya ke alam tidur.
sesampainya di Sanaya di apartemen David Sanaya segera turun membayar taksinya dan segera menuju ke apartemen untuk merebahkan badannya benar-benar hari yang sangat melelahkan bagi Sanaya untuk di lewatinya.
Sanaya segera masuk di dalam melihat semua peralatan lukisnya sudah tertata rapi dan melihat David yang duduk di sofa menatap Sanaya dengan tajam.
" apakah ini milik mu ,?" Tanya David menatap Sanaya dengan mata yang mulai menyala.
" ini... ini milikku," balas Sanaya yang tak sanggup melihat mata David.
" sejak kapan Sanaya suka sekali dengan lukisan ,? " Tanya David menatap Sanaya dengan tajam.
" aku ... aku menyukainya belum lama ini dan aku mempelajarinya bersama kak Anaya semasa ia hidup." balas Sanaya dengan gugup.
" oh ya...! " jawab David menatap Sanaya dengan tatapan mengintimidasi membuat Sanaya menelan Saliva hingga keringat terjatuh dari sudut wajahnya.
" apa kamu benar Sanaya atau Anaya ," bisik David membuat Sanaya tertegun matanya menatap ke arah bawah tak berani menatap David.
" apa...apa yang kak David maksud ,?" tanya Sanaya dengan bernada pelan.
David mencengkram wajah Sanaya menatap mata Sanaya dengan dalam namun yang ia dapatkan hanya sebuah kesedihan di dalam mata Sanaya.
David segera menghempaskan wajah Sanaya dan keluar dari apartemennya, Sanaya memegang wajahnya yang terasa sakit karena cengkraman David dan menuju ke dala kamarnya.
Di sana Sanaya berbaring merebahkan dirinya sambil melirik langit-langit kamarnya mengendus nafas kasarnya dan segera menutup matanya dengan pelan hingga masuk ke alam mimpinya.
...****************...
Hampir satu bulan sejak kejadian David menanyakan hal yang aneh kepada Sanaya, ia tidak pernah pulang ke apartemen sama sekali membuat Sanaya agak sedikit sunyi karena tidak ada yang biasa ia ajak bicara.
sementara William sedang berada di luar kota beberapa Minggu yang lalu dan entah kapan ia akan pulang membuat Sanaya sedikit bosan di dalam apartemen.
Sanaya hanya menghibur dirinya dengan melukis berbagai macam lukisan dari wajahnya dan Sanaya, pemandangan laut hingga ia melukis wajah David, entah apa yang mendorong Sanaya melakukan hal itu.
Sanya menatap lukisan wajah David dengan lekat hingga sesuatu muncul dalam ingatannya yang membuat Sanaya meringis menahan sakit di kepalanya.
" tunggu aku "
" aku akan langsung mengenali mu "
" aku tidak menyukai itu "
" cinta untuk David "
ingatan itu muncul secara Boomerang bagi Sanaya ia hanya mengingat sekilas sosok anak kecil yang sangat tampan namun wajahnya begitu samar.
" sebenarnya apa yang terjadi pada ku ," batin Sanaya.
Sanaya pun menyimpan lukisan David dan mengambil tas miliknya untuk pergi ke suatu tempat agar bisa menjawab semua pertanyaannya yang selama sebulan ini ia alami, ingatan-ingatan yang seakan pernah hilang dari memory nya.
Sanaya segera menahan taksi dan menuju ke rumahnya untuk mencari tau sebenernya ada apa dengan dirinya dan Anaya dan apa kaitannya dengan sosok anak kecil dari ingatan Sanaya yang begitu tidak jelas.
sesampainya di rumah Sanaya segera turun dan masuk ke dalam, semua pelayan di sana menyambut kedatangan Sanaya.
Sanya segera berjalan ke kamar namun bukan kamarnya melainkan kamar Anaya.
Sanaya membuka kamar Anaya melihat semua koleksi barangnya tertata rapi dengan baik tanpa ada debu karena para pelayan setiap hari selalu membersihkan.
Sanaya berjalan mengelilingi kamar Anaya hingga matanya tertuju pada satu benda yang sangat tidak asing di matanya ia pernah melihatnya sekali di kamar David saat membersihkannya.
Sanaya mengambil gelang berwarna biru dan membaca sebuah tulisan yang ada pada gelang biru itu.
" Anaya" gumam Sanaya.
" gelang yang sangat cantik," ucap Sanaya entah mengapa ia sangat suka dengan gelang biru itu.
Sanaya meletakkan kembali gelang Anaya dan membuka laci-laci meja Anaya hingga mendapatkan sebuah kertas yang sangat banyak dan memiliki tulisan di dalam kertas itu.
" Kaka Anaya menulis diary," gumam Sanaya.
" Untuk Sanaya," lirih Sanaya membaca tulisan Anaya.
" apakah Kaka menuliskannya untuk diriku," batin Sanaya.
Sanaya pun mulai membaca lembaran demi lembaran tulisan Anaya membuat Sanya benar-benar kaget, tangan Sanaya semakin bergetar memegang kertas saat membaca tulisan Anaya.
tetesan air mata mulai membasahi kertas diary Anaya dengan tangisan Sanaya begitu menyakitkan hingga dada Sanaya serasa sangat sesak, ia menangis memukul dadanya benar-benar sangat menyakitkan.
" kenapa...kenapa Takdir benar-benar kejam kepada ku..hiks ..hiks... Kak Anaya Kenapa kamu begitu kejam padaku..hiks..hiks..hiks.!," merintih Sanaya memegang dadanya.
hingga suara handphone Sanaya berdering membuat Sanaya mengambilnya dalam tas dan mengecek panggilan telfonnya dari bunda Erina.
Sanaya segera mengangkat telfon bunda Erina sambil menahan tangisannya.
" Hallo bunda," ucap Sanaya.
" hallo sayang kamu dimana ,?" tanya bunda Erina dengan nada khawatir.
" ada apa bund,,?" tanya Sanaya.
" David...David...masuk rumah sakit sayang dan sekarang bunda berada di rumah sakit apa kamu bisa ke sini sekarang," ucap bunda Erina dengan tangisannya.
" baik bunda, Sa akan ke sana ," balas Sanaya mematikan sambungan telfonnya.
Sanaya segera menghapus air matanya dan menyimpan kertas diary Anaya di dalam tas miliknya lalu segera pergi menuju ke rumah sakit.
" semoga kak David baik-baik saja ," batin Sanaya.
bersambung...
jangan lupa :
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
lanjut kak🙏