Zulkarnain yang dipaksa untuk menjadi pewaris harus menjalani kehidupan yang tidak diinginkan.Ia harus jauh dari istri tercintanya yang tengah hamil muda.Namun berkat kegigihan AIDA, istri Zulkarnain.Mereka yang terpisah akhirnya bisa bersama.
Akan tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya, Niken ayu yang terlanjur cinta kepada Zulkarnain memilih jalan pintas sehingga Zulkarnain mengkhianati istrinya.Diluar dugaan, Anak kembar yang dilahirkan oleh AIDA ternyata memiliki kekuatan yang diturunkan oleh kakeknya.kekuatan itulah yang menyelamatkan Zulkarnain dari pengaruh Niken ayu.
Kejahatan Niken ayu tidak berhenti sampai disitu,Ia merencanakan pembunuhan kepada AIDA dan kedua anaknya.Yang mengakibatkan meninggalnya AIDA dan hilangnya si kembar.
Akankah Zulkarnain bisa menemukan Si kembar yang telah dinobatkan sebagai Ahli waris nya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang pewaris Bab 16 Rencana pulang
POV AIDA
Aku dan Mas Zul menunggu dengan gelisah diluar ruangan tempat Niken Ayu diterapi. Di dalam ada dokter dan Niken yang ditemani kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian, Pak Kuncoro keluar dengan istrinya.Tapi tidak dengan Niken.
"Bagaimana hasil terapinya Om" suamiku langsung menyambut dengan rasa ingin tahu.
"Niken benar-benar stress Zul" Bu Risma yang menjawabI,a sesenggukan.Aku yang berada tepat disamping nya berusaha menenangkan dengan mengelus pundak nya.
"Andika sudah sangat keterlaluan, dia bertindak sangat kejam kepada putri ku" Pak Kuncoro mengepalkan jari jemarinya penuh dengan amarah.
"Aku akan laporkan dia kepada pihak yang berwajib"
"Terus kata Dokter gimana Om? " suamiku terus bertanya.
"Niken harus dirawat dulu, takut dia melakukan hal yang tidak tidak. tapi.... " Bu Risma yang menjelaskan
"Tapi kenapa tante? "
"Dia bisa kehilangan bayinya karena obat depresi terlalu keras"
"Terus??? "
"Niken setuju karena dia mau sehat kembali"
"Lebih tepatnya Niken tidak mau anak itu lahir" timpal Pak Kuncoro.
Aku diam menyimak.
"Aku tidak perduli apapun lagi, aku hanya mau Andika dipenjara" sambung Pak Kuncoro lagi.
"Zul... apa Ayahmu sudah tahu akan hal ini? " tanya Bu Risma
"Belum tante, aku hanya menghubungi Om dan Tante saja"
"Terimakasih Zul.... " Pak Kuncoro menepuk pundak suamiku. "Aku akan menemui Ayahmu segera, baru akan lapor polisi"
Mas Zul mengiyakan.
"Ohya... aku baru tahu ternyata kamu sudah beristri"
"Iya Om, aku menikah sebelum dipanggil Ayah dan ditunjuk sebagai pewaris"
"Kejadian masa lalu terulang kembali"
"Tapi aku tidak mau istriku bernasib seperti Ibuku om"
Pak Kuncoro manggut-manggut.
"Udah hamil berapa bulan" Bu Risma bertanya padaku sambil mengelus perutku.
"5bulan tante" jawabku sambil mengulas senyum.
"Semoga bayi dan Ibunya sehat sampai lahiran"
"Amiiin"
"Ya sudah Zul... Om akan temui Ayah mu dulu"
"Baik Om... "
Pak Kuncoro dan istrinya pun pamit pulang.
"Ayo sayang kita juga pulang" ajak Mas Zul,
aku mengangguk setuju.
Aku menghela nafas,pikiran ku terus teringat Niken Ayu.Begitu tragis sekali hidupnya, dan semua itu terjadi karena perebutan warisan.
"Kenapa? " tanya Mas Zul yang menyadari kegelisahan ku.
"Mas kita tinggal dikampung aja yuk... seperti dulu"
"Kenapa tiba-tiba begitu? " Mas Zul terus bertanya sambil mengemudi.
"Ternyata banyak harta tidak bisa menjamin kita bahagia dan hidup lebih baik,malah bisa lebih tragis"
Mas Zul diam, dia berpikir sejenak.
"Mau ya Mas" bujukku
"Terus Ayah gimana?? "
"Ajak saja"
"Terus perusahaan gimana? "
"Kasih aja ke Pak Kuncoro, biar dia yang tangani"
jawabku sekenanya. Mas Zul tersenyum lalu membelai rambutku dengan satu tangan tetap menyetir.
"Gimana Mas? "
"Tidak semudah itu sayang"
"Kenapa?? kamu berat ninggalin semuanya"
"Bukan begitu sayang, rasanya kurang profesional jika aku tiba-tiba pergi dan ninggalin semua tanggung jawab ku disini tanpa adanya pengganti"
"Kan tadi aku sudah bilang, kasih aja sama Pak Kuncoro"
"Om Kuncoro belum siap sayang, apalagi sekarang banyak masalah begini"
"Terus gimana? "
"Kita akan pulang kampung setelah kamu lahiran aja, gimana? "
"Janji??? "
Mas Zul mengangguk meyakinkan.
Ok akan aku tunggu sampai debay ku lahir.Lalu pulang, sekalian Ibu dan Mpok Ijah juga akan aku suruh pulang. Hmmmm membayangkan nya saja sudah membuat ku semangat.
"Pasti pikiran nya sudah travelling ke kampung halaman nih" terka Mas Zul yang melihat ku senyum-senyum sendiri.
"Aku rindu Ibu Mas" jawabku lirih.
"Aku juga rindu sekali dengan Bibik"
ia meremas jemariku lembut.
"Kita akan pulang sayang, sabar ya" ucap Mas Zul makin meyakinkan,aku mengangguk.