gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 16
“Kalau sudah tidak ada lagi yang penting, saya permisi tuan.” ucap Nafisa.
Julian menganggukkan kepalanya
Nafisa melangkahkan kakinya meninggalkan orang yang berstatus suaminya itu. Air matanya tak terasa menetes. Kakinya terasa begitu berat. Sejak pagi ia belum sarapan setelah 1 jam lebih berada di dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Bahkan tenggorokannya terasa sangat sakti dan pedih. Saat itu ia menelan air ludahnya melihat hidangan yang begitu banyak tersusun di atas meja, ia sangat ingin memakannya. Bahkan air ludahnya terasa menetes. Namun ia menahan rasa lapar tersebut dari pada memakan apa yang dibeli oleh laki-laki yang berstatus suaminya itu. Pria itu terlalu menganggap uang di atas harga diri.
Dilihatnya jam di tangannya sudah jam 12. Jadwal kuliahnya jam 1.30 Nafisa memutuskan untuk ke kampus dan makan di sana. Harga makanan di kampus sudah pasti lebih miring dari pada di kota.
Gadis itu naik ke atas busway. Berdiri sambil memegang besi di atas kepalanya, di tambah kondisi bus yang ramai dengan berbagai macam aroma penumpang, mulai dari bau parfum yang menyengat, hingga bau badan penumpang yang membuat kepalanya semakin pusing dan mual. Dengan sudah payah ia menahan agar tidak jatuh dan muntah di dalam bus. Begitu sampai di kampusnya busway tersebut berhenti. Nafisa berjalan dengan sangat hati-hati.
Ia duduk di halte sambil memegang kepalanya. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Keringat yang bercucuran di keningnya. Isi perut yang sudah terobok-obok membuat Nafisa harus menjauh dari halte tersebut dan mengeluarkan isi perutnya untuk mendapatkan kenyamanan.
Hanya air yang keluar dari dalam tenggorokannya dan kemudian air tersebut berwarna merah yang bercampur dengan darah. Nafisa sangat takut saat melihat yang dimuntahkannya. Tenggorokannya semakin pedih. Ia berjalan dengan sangat pelan untuk bisa sampai ke kantin kampus.
Gadis itu duduk di salah satu kantin yang menyajikan bubur ayam. Ia memesan bubur ayam dan air putih hangat untuk memberikan rasa nyaman tenggorokannya. Nafisa mulai memasukkan bubur ayam yang telah di antar kan ibu kantin. Ia menelan bubur ayam tersebut dengan sangat susah payah. Tenggorokan yang terasa begitu sakit dan perih. Namun perutnya yang kosong, sudah minta di isi. Perutnya terasa sangat perih. Ia menelan bubur ayam tersebut dengan susah payah dan minum air putih. Ia merasa begitu sangat sakit dan pedih. Setelah habis setengah mangkok Nafisa menyelesaikan makannya. Ia meninggalkan kantin setelah membayar kepada pemilik kantin tersebut.
“Kamu sakit Sa,” ucap Aldi yang melihat Nafisa begitu pucat, ia merasa khawatir melihat gadis tersebut.
“Gak Al aku sehat.” ucapnya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu pucat?” tanya Aldi.
“Aku sehat kok. Mungkin efek pemutih wajah kali.” Balasnya.
Aldi mengerutkan keningnya. “Nanti kerja?”
tanyanya.
“Ia aku kerja.” ucap Nafisa.
“Kalau sakit istirahat aja.”ucap Aldi.
Gadis itu hanya tersenyum. Setelah selesai perkuliahan, mereka pulang.
“Sa, maaf ya aku gak bisa antar kamu. Aku sudah ada janji sama papi.” ucap Aldi.
“Iya gak apa Al.” jawabnya.
Aldi yang mengendarai mobilnya, merasa aneh melihat Nafisa beberapa hari ini. Gadis tersebut tampak begitu pucat, dan semakin kurus. Ia tidak seperti biasanya yang selalu tampak cerah, bahkan tampak Nafisa sering melamun dan menyendiri.
“Kamu kenapa Sa, kenapa gak mau cerita sama aku.” Aldi berbicara sendiri di dalam mobilnya.
*******
Nafisa sudah menganti baju kerjanya. Dengan tubuh yang terasa melayang dan kepala yang pusing. Ia tetap berusaha bekerja dengan baik dan rajin. Setelah jam kerjanya selesai ia pulang ke rumah sewanya yang tidak jauh dari tempat kerjanya yang sekitar jam 11 malam. Gang masuk kerumahnya cukup sepi. Namun hal tersebut bukanlah suatu masalah bagi gadis itu. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Ia singgah di warung barang harian untuk membeli indomie dan telor. Ia harus bisa menghemat uangnya yang hanya tinggal 3 lembaga uang 50 rb tersebut. Gajian masih 1 minggu lagi. Nafas harus memperhitungkan ongkos transportasi, untuk prin tugas dan foto copy makalah, dan uang makan. Kondisinya yang sangat lemah dan tenggorokan yang terasa sangat sakti membuat Nafisa sangat ingin ke dokter. Namun kondisi uangnya yang sudah sangat minim mengharuskan agar ia bersabar sampai gajian.
Nafisa memasak Indomie dan telor yang sangat bermanfaat untuk mengenyangkan perutnya. Lagi-lagi Nafisa harus menahan sakit ketika menelan mie tersebut agar bisa lolos ke lambungnya. Setelah menyelesaikan makan mienya, gadis itu berwudhu dan shalat. Besok ia tidak ada jadwal kuliah dan di tempat kerja dia juga off.
Setelah sholat subuh Nafisa kembali masuk ke kamar mandi, dan mengeluarkan apa yang di makanya semalam. Muntah yang tidak ada berhenti-hentinya hingga air yang keluar dari tenggorokannya. Kali ini darah lebih banyak keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa duduk lemas di lantai kamar mandi. Semakin hari tenggorokannya semakin sakit saja. Muka yang tampak sangat pucat dan badan yang semakin mengurus.
Saat ia berjalan menuju kamarnya kepalanya teras sudah sangat pusing. Nafisa tetap berusaha untuk bisa sampai ke kamarnya agar bisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun ia sudah ambruk ke lantai. Sudah cukup lama gadis itu pingsan di depan pintu kamarnya. Saat ia bangun langit tampak sudah gelap.
Nafisa tidak tau berapa lama ia pingsan. Namun sekarang ia begitu sangat lapar, dia tidak punya stok apa-apa. Nafisa tersenyum. Seperti inilah takdirnya seandainya ia mati di dalam sini. Apa ada yang akan mencarinya. Air matanya kembali menetes.
***
jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
terimakasih atas dukungan nya.
😊😊🙏🙏