NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Topeng di Balik Perjamuan

Istana Kerajaan Aethelgard malam itu tampak seperti permata yang terjatuh di tengah hutan belantara.

Cahaya lampu sihir berwarna pirus berpendar dari setiap celah arsitektur batu putih yang megah, memantulkan kemewahan yang terasa mencekik bagi Yudha.

Yudha berjalan memasuki aula utama dengan langkah tenang.

Jubah hitam sederhana dengan sulaman emas minimalis yang ia kenakan justru membuatnya tampak menonjol di antara lautan bangsawan yang mengenakan pakaian penuh perhiasan mencolok.

Di belakangnya, Lyra, Chikaryu, dan Carmelia mengikuti dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Mereka bukan sekadar pengiring; mereka adalah bayangan yang siap menerkam.

“Lihat itu,” bisik Chikaryu di balik kipas sutranya. “Mukanya ngeselin semua, anjir.”

Yudha hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat telunjuk dan menempelkannya di ujung bibir sebagai isyarat agar Chikaryu menjaga omongannya.

Matanya yang tajam, kini diperkuat oleh Gluttony Sight Level 56, menyapu seluruh isi aula.

Baginya, pesta ini bukan kumpulan manusia, melainkan kumpulan data.

Di atas kepala setiap tamu, ia melihat garis samar yang menandakan tingkat bahaya dan esensi kekuatan mereka.

Bangsawan itu Level 12, pengawal di sudut itu Level 45, dan pria tua yang duduk di kursi kehormatan... Level 40? Menarik.

Baru saja ia melangkah lebih dalam, sekelompok bangsawan muda yang mabuk kekuasaan dan anggur mencegat jalannya.

Salah satu dari mereka, seorang pemuda bersemat lencana ksatria tinggi, menatap Yudha dengan pandangan meremehkan.

“Jadi, ini orangnya? Tamu istimewa yang katanya sampai membuat Tuan Putri Sheraphina ingin menikahinya?”

Pemuda itu tertawa kecil, menarik perhatian tamu di sekitar.

“Tampak biasa saja. Aku dengar kabar kau selamat dari lantai terdalam, tapi melihatmu sekarang, kurasa itu cuma keberuntungan orang bodoh.”

Suasana aula mendadak hening.

Carmelia sudah menggenggam erat gagang belati mini di balik lengan bajunya, siap memutus leher pria itu dalam sekejap.

Namun, sentuhan halus dari tangan Yudha di pundaknya langsung menahannya.

Yudha menatap pemuda itu dengan tatapan sedingin es, seolah sedang melihat serangga yang tak layak diinjak.

“Keberuntungan, katamu?”

Yudha melangkah maju satu langkah, dan seketika ruangan terasa menekan.

Melalui Apocalypse Hunger System, ia langsung membaca kemampuan yang tersimpan dalam diri pemuda sombong itu.

[Kemampuan: Penguasaan Pedang (Level 34), Aura Api (Level 29)]

“Salin,” perintah Yudha dalam hati.

Sistem merespons seketika.

[Perintah diterima. Menyalin kemampuan: Penguasaan Pedang (Level 34).]

Yudha tersenyum tipis.

“Jika apa yang kulalui hanyalah keberuntungan, Tuan, izinkan aku berpendapat. Kenapa Tuan yang terhormat ini tak bisa menaklukkannya sendiri? Apa yang kalian lakukan selama lebih dari satu abad tanpa keberuntungan itu? Bukankah terlihat sangat bodoh? Begitu ada orang yang berhasil, kalian justru iri? Atau sekadar haus pengakuan, ingin menjatuhkanku dan kelompokku demi menaikkan derajat sendiri? Oh, tidak semudah itu, Tuan... Kami bukan orang yang akan tergoda oleh cercaan murahan dari sampah bangsawan sepertimu.”

Wajah pemuda itu memerah padam menahan amarah.

Ia setengah menghunus pedangnya, namun sebelum sempat bergerak, udara di seluruh aula mendadak terasa berat.

Seketika meledaklah aura dahsyat yang menekan dan menusuk hingga ke tulang, seolah tulang rusuk siap hancur hanya dengan kehadiran mereka.

Lampu-lampu sihir berkedip-kedip, terganggu oleh energi luar biasa yang menekan ruangan. Seolah pesta ini bisa rata dengan tanah hanya dengan satu kata keluar dari mulut Yudha.

Tak ada yang tahu nasib buruk apa yang menanti, sebab pengikut Yudha takkan membiarkan sedikit pun hinaan menodai kehormatan tuannya.

Ibaratnya, Yudha adalah penyangga, sedangkan mereka hanyalah jendela.

Jika Yudha melepaskan penyangganya, mereka takkan membunuh secara langsung.

Siksaan, penghinaan, ancaman, teror, hingga kehancuran total bagi keturunan mereka—itulah yang akan didapat. Inilah kekuatan mutlak bernama Abyssal Chord.

Tanpa penyangga, mereka akan menghancurkan diri sendiri seperti jendela yang terlepas dan terhempas angin kencang berulang kali.

Wajah pemuda itu seketika memucat pasi. Ia nyaris mengompol, lalu berlutut pasrah dilanda keputusasaan. Pedangnya terlepas dari genggamannya tanpa perlawanan.

Ia segera bersujud, membenturkan kepalanya ke lantai hingga berdarah, sambil berteriak histeris.

“AMPUNILAH AKU, TUANNN! LEPASKANLAH AKU! AKU MASIH PUNYA ISTRI DAN ANAK! AKU MEMOHONNN!!!”

Yudha tak menghiraukan permohonan itu.

Perhatiannya beralih ke bisikan samar yang tertangkap telinganya yang telah diperkuat.

Dua pria berpakaian gelap, tanpa tanda kebangsawanan, sedang berbicara di sudut ruangan.

“Segalanya akan dimulai saat musik mencapai puncaknya.”

Jebakan, batin Yudha.

Mereka tak hanya membenci dirinya, tapi memang sudah merencanakan kekacauan sejak awal.

Yudha memberi isyarat lewat pandangan mata pada Lyra dan Chikaryu.

Mereka langsung mengerti.

Lyra menyelinap ke arah balkon untuk mengawasi jalan masuk, sedangkan Chikaryu bergerak memblokir jalur pelarian.

Di tempat lain, Sheraphina menyaksikan semuanya dari balkon atas. Tubuhnya merinding seolah ditusuk jarum di setiap bagian kulit. Ia membeku ketakutan. Namun, ia segera menarik napas panjang dan menutup matanya.

“Aku harus berani. Ini jalan hidupku ke depan. Aku sudah memutuskan—aku harus berada di sisinya!” gumamnya meyakinkan diri sendiri.

Tak lama kemudian, ia turun menghampiri Yudha yang tengah menyaksikan pemuda tadi terus menjilat sepatunya demi pengampunan.

“Tuan Yudha, mohon maaf atas perilaku buruk mereka. Mereka benar-benar tak tahu sopan santun,” ujar Sheraphina seraya memberi hormat layaknya seorang putri kerajaan.

Yudha menarik kakinya dari hadapan pria itu dan mendengus pelan.

“Sudahlah, lupakan saja. Beruntung suasana hatiku sedang baik. Ada apa?”

“Ikutilah aku ke ruang pribadi. Ada hal penting yang harus kusampaikan.”

“Maaf, Tuan Putri. Aku lebih nyaman menikmati pesta di sini,” tolak Yudha dengan nada dingin.

Sheraphina tertegun, lalu menghela napas panjang. Ia tahu Yudha bukan orang yang bisa dikekang perintah.

Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.

“Ada penyusup. Kelompok yang kau cari ada di ruangan ini. Mereka berencana menyerang sebelum tengah malam.”

Yudha tersenyum tipis.

“Aku sudah tahu.”

Tiba-tiba, lampu sihir di langit-langit berkedip hebat.

Musik mencapai nada puncaknya.

“SEKARANG!” teriak seseorang dari kerumunan.

Ledakan energi meledak di sisi utara aula.

Para tamu berlarian berteriak ketakutan, kekacauan meledak seketika.

Orang-orang berpakaian hitam muncul dari balik tirai, langsung mengincar arah Sheraphina.

Namun, sebelum mereka mendekat hingga jarak lima meter, Yudha sudah bergerak.

Dengan kecepatan yang melampaui akal sehat, ia melesat maju.

Ia menggabungkan kemampuan Penguasaan Pedang yang baru disalin dengan kekuatan fisiknya yang mencapai angka 766.500.

Gerakannya sangat efisien, bagaikan tarian maut yang tenang di tengah hiruk-pikuk kepanikan.

Satu per satu penyusup roboh. Yudha tak membunuh secara kejam, hanya melumpuhkan dengan ketepatan yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding ngeri.

Chikaryu dan Carmelia pun segera bergerak membersihkan sisa musuh yang mencoba mendekati area para tamu penting.

Kurang dari dua menit, aula kembali sunyi senyap.

Semua penyerang tergeletak di lantai, pingsan atau tak berdaya bergerak.

Yudha berdiri tegak di tengah ruangan, napasnya tak terlihat memburu sedikit pun.

Ia menatap Sheraphina yang masih tertegun, lalu menoleh ke kerumunan bangsawan yang kini gemetar ketakutan.

Ia baru saja membuktikan kekuatannya secara nyata. Di sini, ia bukan sekadar tamu—ia adalah puncak rantai makanan yang menguasai segalanya.

Sheraphina perlahan melangkah mendekat.

Rasa takut sudah hilang, berganti sorot mata yang penuh kekaguman sekaligus tantangan. Ia sadar, pria di hadapannya adalah kunci masa depan kerajaannya, atau bisa jadi malah kehancurannya.

“Kau telah menyelamatkan kami, Yudha,” ucap Sheraphina pelan, suaranya sedikit bergetar karena adrenalin yang meluap. “Namun kekuatan yang kau miliki... takkan mudah diterima Dewan Kerajaan. Mereka akan melihatmu sebagai ancaman, bukan pahlawan.”

Yudha menatapnya dengan tatapan datar.

“Terus? Apa maumu?”

Sheraphina menatap lurus ke dalam mata Yudha, memancarkan keberanian yang jarang dimiliki seorang penguasa muda.

Ia mengambil sebilah pedang berbalut perak dari tangan pengawalnya, lalu melemparkannya tepat di depan kaki Yudha.

“Aku sudah memutuskan! Aku akan mengikutimu! Aku ingin menikahimu! Karena itulah...”

Sheraphina menegakkan punggungnya, jubah kerajaannya sedikit terangkat mengikuti gerakan tubuhnya.

“Aku menantangmu, Yudha. Duel satu lawan satu. Jangan menahan sedikit pun kekuatanmu.”

“Jika aku menang melawanmu... maka kau wajib menikahiku! Titik.”

“Namun jika aku kalah... aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan sebagai gantinya.”

Yudha menunduk sejenak memandangi pedang itu, lalu mengangkat wajahnya kembali menatap Sheraphina.

Seluruh ruangan kembali sunyi, semua mata tertuju pada mereka berdua.

Yudha tersenyum miring—senyum yang menyimpan rasa haus akan tantangan dan kepuasan.

“Tantangan yang menarik, Tuan Putri,” jawabnya pelan namun bergema ke seluruh penjuru aula. “Bersiaplah, karena aku tak mengenal kata kalah.”

Pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!