The Strongest Mr. Max Kendrick!
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.
Bersumpah akan membalaskan dendam kepada mereka yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Rasa sakit, kesedihan, kehancuran akan Max berikan 100x lipat untuk mereka. Dengan kemampuan dan kelebihan yang dia miliki, Max siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi nya menjadi debu!
Dengan membentuk Geng bernama The Strongest Warriors, Max akan membuat dunia bertekuk lutut dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FixCrazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rembrandt & Vermin
Di sebuah Gedung, tepatnya di atap gedung terlihat dua orang pria yang sedang tertawa.
"Kau benar-benar membuatku takjub Vermin!" Ucap pria dengan menggunakan masker tertawa dengan sangat bahagia.
"Hentikan tawamu itu Rembrandt! Atau kita akan ketahuan." Ucap pria yang di panggil Vermin.
Vermin sendiri saat ini sedang menggunakan pakaian cleaning service. Sedangkan Rembrandt menyamar jadi tukang service AC.
Mereka sedang melakukan aksi yang menurut mereka sangat menyenangkan. Tapi, tidak untuk Vermin yang terlihat terpaksa melakukan itu semua.
Vermin menatap Rembrandt dengan kesal, saat dia memintanya untuk berhenti tertawa, justru Rembrandt semakin menjadi.
Karena merasa kesal, Vermin berjalan menuju pintu untuk keluar.
Namun, langkahnya di hentikan dengan cepat oleh Rembrandt.
"Oke oke... maafkan aku. Aku hanya tidak menyangka orang seperti mu memiliki ide yang sangat keren ini."
"Ya, dan gara-gara kau juga kita hampir ketahuan." Vermin berdecak dengan kesal.
"Sebaiknya kita segera memulainya." Ucap Rembrandt dengan serius, lalu menurunkan tas yang cukup besar dari gendongannya.
Vermin melakukan hal yang sama, dia juga menurunkan tas besar itu.
"Sangat menyebalkan, membawa barang-barang sebanyak ini!" Vermin terlihat begitu tidak menyukai hal ini, hanya karena paksaan seorang Rembrandt dia mau melakukan nya.
"Hentikan rengekan mu itu Vermin, kau sangat menggangu konsentrasi ku!" Ucap Rembrandt dengan kesal.
Vermin berdecak kesal menatap Rembrandt. "Bahkan kau belum melakukan apapun, tapi mengatakan aku mengganggu konsentrasi? Sepertinya otakmu itu bermasalah."
Rembrandt yang sedang mempersiapkan diri untuk melukis terdiam, lalu menatap ke arah Vermin.
"Setiap gerakan saat aku mempersiapkan segalanya, di saat itu lah imajinasi ku mulai berkerja. Jadi hentikan omong kosongmu terlebih dulu."
Vermin menatap Rembrandt dengan serius, dia dapat melihat pancaran mata Rembrandt yang begitu berbeda dari sebelumnya. Dia yakin jika kali ini Rembrandt memang benar-benar sedang serius.
"Maafkan aku." Vermin dengan menyentuh pundak Rembrandt. Rembrandt sendiri membalas dengan anggukan kepala serta senyum tipis.
Rembrandt mulai menata peralatan yang akan dia gunakan untuk melukis.
Setelah semua persiapan selesai, Rembrandt menutup kedua matanya dengan memegang kuas di tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri bergerak seakan-akan membuat pola di udara.
Vermin sendiri berdiri di belakang Rembrandt.
Rembrandt menyentuh permukaan Kanvas. Kanvas sendiri merupakan bahan utama yang harus ada dalam melukis, digunakan sebagai media yang dipakai untuk menyapukan tinta atau cat dalam berkarya seni lukis.
Dengan menggunakan Teknik goresan ekspresif, Rembrandt melakukan itu semua dengan mata terpejam.
Teknik goresan ekspresif sendiri, merupakan teknik dalam melukis yang terkesan bebas karena pembuatannya bisa menggunakan alat berupa jari, tangan, kuas, ataupun objek lain yang dianggap menarik oleh senimannya.
Vermin menatap Rembrandt yang terlihat sangat lihai itu dengan takjub.
Setiap gerakan tangan, akan menghasilkan goresan yang terlihat sangat luar biasa.
Ekspresi wajah Rembrandt sendiri berubah-ubah, terkadang tersenyum, sedih, dan kemudian terlihat raut wajah yang begitu kehilangan, penyesalan bersamaan air mata yang turun membasahi pipinya.
Vermin yang berdiri di belakangnya seperti merasakan apa yang di rasakan oleh Rembrandt.
Lukisan Rembrandt perlahan memperlihatkan wujudnya. Seorang pria dan wanita yang sudah berumur. Tiga anak kecil, satu wanita dan dua pria.
Rembrandt seakan masuk ke dalam imajinasi nya sendiri. Secara perlahan dia mulai mengungkapkan arti dari lukisan yang di buat.
"Kau tau Vermin. Ini adalah keluargaku. Pria dan wanita dewasa ini kedua orang tuaku. Rumah tangga kedua orang tuaku terlihat baik-baik saja, hingga akhirnya kami bertiga mengetahui bahwa mereka berpisah. Itu semua menjadi pukulan untuk kami,"
"Dan ini adalah adik laki-laki dan adik perempuanku. Setelah mereka berpisah, Ibu ku mulai sakit-sakitan. Kedua adikku, aku sendiri yang merawatnya. Aku pernah bertanya pada mereka tentang harapan atau cita-cita mereka. Adik laki-laki ku mengatakan ingin memiliki sebuah bangunan yang menjulang tinggi ke atas langit. Sedangkan adik perempuanku sangat gemar menggambar, hingga dia mengatakan ingin menjadi seorang pelukis. Semua terlihat menggelap saat kabar kematian Ayahku. Ibuku yang dalam keadaan sakit itu sangat terpukul, meski mereka telah berpisah, namun ibu ku masih sangat mencintainya. Satu minggu kemudian, giliran Ibuku yang pergi meninggalkan kami. Aku benar-benar hancur, aku berusaha bangkit demi kedua adikku. Kau tau Vermin? Di saat aku sedang berkerja di usia yang ke 12 tahun, kedua adikku memiliki keinginan untuk membantuku. Mereka berjualan koran bersama. Aku tidak mengetahui hal itu, hingga akhirnya mereka tewas tertabrak mobil. Tuhan benar-benar mempermainkan diriku. Kau tau Vermin? Mengapa aku masih berdiri untuk melanjutkan hidup ini? Itu semua karena harapan dan cita-cita mereka berdua. Aku ingin memberikan kado terindah untuk mereka. Di hari ini, tepat di mana mereka pergi untuk selama-lamanya. Aku berdiri di gedung yang tinggi ini, melukis dan meluapkan semua perasaan ini. Aku berharap mereka dapat melihat apa yang aku lakukan saat ini." Rembrandt dengan menangis, begitu juga dengan Vermin yang meneteskan air mata mendengar kisah Rembrandt.
Tidak jauh dari tempat mereka berdua, terlihat seorang pria duduk dengan mata terpejam menikmati terpaan angin yang mengenai wajahnya.
Pria itu membuka mata setelah tidak mendengar suara Rembrandt. Kemudian menatap ke arah Rembrandt dan Vermin yang masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Pria itu bangkit, lalu berjalan ke arah mereka berdua. "Aku dapat membantumu mewujudkan keinginan kedua adikmu. Memberikan sebuah gedung yang menjulang tinggi, membuatkan sebuah museum agar kau dapat menyimpan semua lukisan mu di sana. Aku akan membantu mu menjalani kehidupan yang indah. Aku dapat mengetahui isi kepala kau saat ini. Jadi hentikan pikiran bodohmu yang dapat membuat mereka bersedih. Tunjukan pada kedua adikmu jika kakak laki-lakinya bukan pria bodoh dan lemah!" Ucap Pria itu dengan pandangan menatap ke arah langit.
Rembrandt dan Vermin segera memutar tubuhnya untuk menatap ke asal suara.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Vermin dengan serius.
"Kau memang cerdas, namun tetap terlihat ceroboh. Kau tau, temanmu yang lemah itu sudah mempersiapkan segalanya. Apa kau dengar jika dia mengatakan ingin memberikan hadiah untuk kedua adiknya?"
Vermin mengatakan iya, dia kemudian menatap ke arah Rembrandt yang terdiam.
"Apa kau bisa menjelaskan kepadaku?"
"Cih! Jangan mendengarkan omong kosongnya. Bahkan kita baru saja bertemu dengan nya." Ucap Rembrandt menatap pria itu.
Pria itu tersenyum. "Dari semua yang kau lakukan. Dari semua perasaan dan beban yang kau lepaskan saat ini, sudah menunjukkan segala nya. Kau terlihat lebih tenang, dan beban yang ada di pundak mu seakan terangkat. Kemudian memilih untuk pergi menyusul kedua adikmu bukan?" Ucap Pria itu dengan tersenyum tipis.
Rembrandt berdecak dengan kesal, sedangkan Vermin menatap Rembrandt dengan kecewa.
"Katakan padaku Rembrandt! Apa maksud dari semua ini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cerita benar-benar imajinasi dari Othor, jadi maaf jika ada kata-kata yang kurang pas tentang penjelasan yang ada.