[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Casting++
"Fix, pasti belum!" Tebakan Kevin berhasil menyentakku dari lamunan. "Nggak perlu jawaban, ekspresi wajah kamu itu udah menggambarkan semuanya, Lea," tambahnya.
Aku hanya bisa terdiam.
"Ck, sia-sia, dong kemarin kasih Om Lian jamu pegel linu kalau dia nggak ada niatan mempraktekan."
"Kevin ...." Aku menatapnya datar dengan nada peringatan, karena merasa pembahasaan ini mulai keluar dari batas wajar.
"Sorry."
Kevin tampak menyesal, dia mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa sembari mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar.
Terkadang aku tak mengerti dengan sikap lelaki ini. Dia bisa begitu santai membahas berbagai hal seolah tak ada beban. Untuk ukuran mantan kekasih yang baru ditinggal menikah, bagaimana bisa dia bersikap biasa saja dan tetap ada di saat aku membutuhkannya.
"Lea ...." Tatapan Kevin masih belum beralih dari langit-langit kamar saat dia memanggil namaku.
"Ya?"
"Ternyata sakit juga, ya pura-pura bodoh padahal tahu segalanya. Bilang nggak apa-apa, padahal aslinya kenapa-kenapa."
Aku hanya bisa menelan ludah saat Kevin mulai mengutarakan perasaan yang sebenarnya.
"Mungkin kamu nggak bisa ngebayangin gimana hancurnya aku saat tahu ternyata kamu salah satu mainan Papa. Sakit, Lea. Sakit banget. Tapi, aku sadar ini jalan yang udah kamu pilih. Aku nggak bisa apa-apa selain pasrah, meskipun sadar kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku merasakan apa itu cinta. Jujur, cuma sama kamu aku bersikap apa adanya dan berani terbuka tentang banyak hal. Bahkan tentang keluargaku yang terlihat utuh di luar tapi begitu hancur di dalam."
Kuremas ujung dress yang dikenakan saat rasa sesak mulai memenuhi rongga dada.
"Aku nggak main-main waktu bilang sama kamu pengen ganti KK, karena emang begitu keadaanya. Papa yang seharusnya jadi panutan justru malah mengajarkanku main perempuan dan gonta-ganti pasangan. Mama yang seharusnya memberikan perhatian justru sibuk mengurus hidupnya sendiri dan menghambur-hamburkan uang. Sementara kakek yang kupikir bisa diandalkan, justru membatasiku untuk mengekspresikan diri dan perasaan. Aku bahkan tak boleh bergaul dengan sembarang orang. Harus sekalangan. Tak jarang dia memaksaku untuk masuk ke dunia hiburan dan mengekspos kehidupan seorang cucu dari pemilik stasiun TV dan PH terkemuka. Katanya sayang kalau berlian hanya dipendam, lebih baik dipamerkan."
Aku menyeka cairan hangat yang meluncur mulus dari sudut mata. Sontak aku beringsut maju dan merapatkan tubuh dengan Kevin, setelah itu merengkuhnya.
"Dari semuanya yang paling mengerti aku di keluarga ini cuma Om Lian. Walaupun kadang kita bertengkar saat bertemu, tapi dia selalu menyisihkan waktu untuk mengajakku ngobrol atau jalan-jalan. Tak seperti Papa yang berangkat pagi pulang malam, dia tak pernah ada waktu untukku. Makanya aku heran kenapa Mama masih aja mau bertahan."
Kubedamkam jemari di sela-sela rambut pirang Kevin. Mengusapnya perlahan. Bisa dirasakan tubuh lelaki itu menegang. Dia membalas pelukanku sama eratnya.
"Inilah alasan kenapa aku menyetujui pernikahan kalian. Om Lian orang baik, Lea. Meskipun sosoknya terkesan tertutup dan misterius, tapi aku yakin dia mampu bertanggung jawab atas dirimu sepenuhnya. Dia hanya perlu diarahkan. Pelan-pelan tanya tentang apa yang dia inginkan, sentuh hatinya. Terkadang sikap dingin seseorang itu timbul karena dia belum menemukan pasangan yang tepat."
Aku mengangguk pelan. Entah kenapa ucapan Kevin ada benarnya. Meskipun sebelumnya aku berniat menyerah, tapi apa salahnya mencoba? Mungkin saja kelak aku akan tahu alasan dari sikap random Om Lian.
Kevin tiba-tiba menarik diri. Dia menyeka air mata yang berhasil lolos. Ajaibnya hanya dalam sepersekian detik wajahnya kembali ceria.
"Btw, aku boleh minta nomber Tante Sarah nggak?"
Aku mengernyitkan dahi.
"Buat apa?"
"Pasang togel. Ya, buat chattingan, Sayang."
Kubenahi posisi duduk, lalu melipat tangan di bawah dada.
"Minta aja sendiri. Orang bertahun-tahun Tante Sarah kerja di perusahaan Papamu, kok."
"Demi apa?" Kevin membelalak dan langsung terlonjak dari sofa. "Nyesel aku selama ini nggak pernah maen-maen ke Gedung FaTV. Sip, besok pulang kuliah aku mampir, dah. I am coming Tante Sarah!"
"Ya udah barengan aja. Besok aku juga mau casting buat produk iklan salah satu produk brand terkenal," sahutku.
Kevin yang semula terlonjak kegirangan, langsung terdiam dengan pandangan heran.
"Sejak kapan kamu berminat dengan dunia entertaining?"
"Sejak masuk dalam keluarga ini. Bukannya dulu kamu yang selalu menyarankan agar aku mencoba dunia modeling? Katanya sayang muka jutek dan badan bagusku kalau nggak dimanfaatkan buat ladang uang."
"Bener juga. Fix, kamu cocok buat jadi bintang iklan korset atau produk pelangsing."
"Den, di luar ada pesenan Gopud."
Suara seseorang yang memanggil dari luar menginterupsi kami.
"Ashiap ... itu punya saya." Kevin beralih kepadaku sebelum berlalu. "Kita lanjutin nanti, ya, Lea."
***
Hari senin memang identik dengan kepadatan jalanan karena awal dimulainya kegiatan. Setelah hampir dua pekan cuti, hari ini aku juga memulai aktivitas sebagai mahasiswi semester tiga jurusan Sastra Indonesia. Berhubung aku suka sekali membaca karya-karya sastra hingga penasaran ingin mempelajarinya.
Di depan parkiran aku menunggu Kevin menjemput untuk melanjutkan perjalanan menuju studio FaTV. Kebetulan hari ini kami memiliki jadwal kuliah yang sama, yaitu di pagi hari dan selesai tengah hari.
Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Om Lian agar kami ketemuan di sana.
Beberapa saat kemudian Kevin datang dengan mogenya. Hari dia menggunakan motor BMW HP4 Race berwarna putih-hitam yang harganya setara mobil mewah keluaran terkenal.
"Pegangan yang kenceng!" pintanya setelah aku naik dan memasang helm.
"Iya. Tapi jangan ngebut kalau masih sayang nyawa."
"Siap, Bos. Berangkat!"
***
Kami tiba di depan lobi Gedung FaTV yang dibawahnya tertulis Fahlevi's Entertainment.
Perusahaan ini adalah PH produksi yang kegiatan sehari-harinya adalah memproduksi suatu program baik untuk acara televisi, film layar lebar, profil perusahaan, video klip, maupun iklan media elektronik. Yang kegiatannya dimulai dari perencanaan, shooting, editing sampai dengan pemasaran produk. Kegiatan PH produksi yang lain yakni menyewakan alat-alat untuk memproduksi progam acara (seperti kamera, mesin genset, lighting bahkan beberapa pekerja) dan menyediakan/ menyewakan tempat untuk penyelesaian produksi atas suatu program acara (seperti ruangan editing dan studio).
Berhubung Fahlevi's Entertainment memiliki stasiun TV sendiri, mereka tak membutuhkan kontrak dengan stasiun TV lain untuk kebutuhan promosi.
FaTV mungkin belum termasuk sebagai stasiun televisi besar. Tapi produksi sinetron, reality show, film, serta iklan-iklan yang dikeluarkannya patut diperhitungkan.
Apalagi minggu-minggu lalu mereka baru saja memproduksi film yang berhasil masuk box office setelah famornya sempat merosot akibat skandal salah satu aktornya. Yaitu Ramadika Adijaya, siapa yang tidak tahu model sekaligus aktor yang terkenal dengan ketampanannya itu.
Sekitar dua tahun lalu beritanya tersebar di mana-mana. Dia tak banyak bicara di media, orangnya juga cenderung pendiam. Ternyata di balik semua itu ada sosok psikopat yang begitu mengerikan.
"Lea, ayo masuk!"
Aku mengangguk pelan saat Kevin menarik tanganku masuk ke dalam. Seorang satpam terlihat memarkirkan motornya menuju basemant.
Kami berpencar karena memiliki tujuan berbeda. Kevin masuk lift menuju lantai di mana Tante Sarah bekerja. Sementara aku menunggu Om Lian di kursi tunggu beberapa meter dari meja resepsionis.
Kuedarkan pandangan memerhatikan sekeliling bangunan megah dan modern ini. Terlihat beberapa crew dan artis ibu kota lalu lalang di hadapan.
"Kakak mau casting juga?" Aku menoleh saat gadis yang semula duduk gelisah di sebelah tiba-tiba bertanya.
"Iya. Omong-omong kamu umur berapa, Dek? Keliatannya kayak masih SMA." Dengan senyum aku balik bertanya.
"A-aku enam belas, Kak," jawabnya terbata.
"Orang tua kamu tahu?"
Dia menggeleng pelan.
"Terus siapa yang kasih kamu tawaran casting ini? Udah tahu pekerjaannya apa?"
Lagi-lagi dia menggeleng.
"Aku tahu ini dari temen. Katanya kita cuma casting dan syuting sekali, tapi bisa dapet iPh*ne."
Astaga. Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran anak-anak zaman sekarang.
Hanya dengan smartphone mereka rela melakukan bekerja yang tak jelas seperti apa.
"Um, maaf kalau kakak lancang. Apa kamu masih perawan?"
Dia terdiam, kedua tangan gadis cantik itu mulai gemetar, lalu mengangguk pelan.
Oke, sepertinya gadis ini sudah tahu pekerjaan apa yang akan dia lakukan.
"Mending kamu pulang aja sekarang! IPh*ne-nya biar nanti kakak yang belikan. Besok kita ketemu lagi di tempat makan seberang studio," putusku final, sembari menarik tangannya untuk bangkit.
"Ta-tapi, Ka ...."
"Atas nama Delima Putri? Sudah ditunggu Pak Wira di ruang casting lantai sepuluh. Mari!" Seorang staf laki-laki berpakaian rapi, tiba-tiba menginterupsi kami.
Sudah kuduga. Dalangnya pasti si tua bangka.
"Anak ini nggak enak badan. Biar saya yang pergi!"
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕