Daren Vincent seorang pengusaha muda yang sangat tampan, dingin bahkan semua kaum hawa akan menyukainya..
Dia di pertemukan dengan gadis cantik, body seksi bahkan sangat manja.. namanya Sheela lee.
mereka dijodohkan dari kecil oleh kedua kakek..
Langsung saja.... cekidot.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tuty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sore hari pukul 4, Daren keluar dari Perusahaannya, dan mengendarai mobil Lamborghini-nya, menuju ke Apartement Sheela.
Kurang lebih setengah jam, Daren sudah tiba di Apartemen Sheela, Ia berjalan masuk kedalam lift, sambil mencari nomor rumah Sheela yang di berikan Sek.Haris padanya.
Ya... Sek.Haris memang sangat handal dalam pencarian alamat seseorang, dia sangat cekatan dengan semua tugas yang di berikan Daren kepadanya.
Di depan Pintu,
Daren mencari bell pintu dan kamera, tapi tidak ada.
"Apakah Apartement ini bisa aman dari orang jahat.?!?"
pikirnya dalam hati
Tok.tok.tok...
Dari arah dalam rumah, Bi Ina mendekati pintu.
"Maaf, dengan siapa ya..?"
kata Bi Ina.....
"Saya Daren.."
sahutnya.
"Daren...!"
pikirnya.
"Oh Daren tunangannya Non Sheela ya..!"
seru Bi Ina.
"Hmm..."
Bi Ina kemudian membuka pintu, dan menyapa Daren dengan sopan.
"Selamat sore Tuan Daren,
silahkan duduk.!"
"Apa Sheelanya ada Bi..."
tanya Darren.
"Iya ada Tuan.
Silahkan duduk dulu tuan..!
permisi, Bibi akan memanggil Nona Sheela."
"Hmmm..."
angguk Darren.
Belum sempat Bi Ina melangkahkan kakinya, Sheela sudah keluar dari pintu kamarnya.
Kali ini dia hanya menggunakan Handuk biasa, yang terlilit di bagian dada dan panjang handuknya di atas lutut.
"Bi Ina..."
panggilnya.
Tidak menyadari kehadiran Daren, yang sudah melototin tubuhnya yang seksi dan putih bersih. Entah sudah berapa kali Daren menelan paksa saliva-nya..
"Iya Non.!"
sahut Bi Ina sedikit panik.
"Tolong beliin pembalut donk.."
perintahnya.
"Mmmmmm,
Anu Non.."
"Iya Bi.!
Ada apa..?"
"Ada Tuan Daren di depan ruang tamu sedang menunggu Nona.."
ucapnya.
"Hah.!
Mata Sheela terbelalak dan mulutnya sedikit mangap.
Melihat sosok Daren yang mungkin sudah memperhatikan dirinya sejak dari tadi.
Tapi Daren pura2 tidak menoleh kearah Sheela, dengan sigap Darren mengalihkan pandangannya kelayar ponselnya.
Padahal kini jiwa kelakiannya sudah membara, melihat tubuh seksi Sheela.
"Bi.!
Kenapa ngga bilang dari tadi sech, kalau ada tamu..!
Gerutunya sambil berlari memasuki kamar tidurnya.
"Maaf Non.!
Bibi baru mau bilang tapi Non sudah keluar dari kamar."
ucapnya sambi berjalan.
Bi Ina merasa tidak enak sama Sheela saat ini, kemudian dia
Mengikuti Sheela ke dalam kamar.
"Non,
Maaf ya..!"
ucapnya sekali lagi.
"Hmmmmm..
Gak papa bi,
Aku juga yang salah.."
"Bi Ina, tolong beliin Softex dong.
aku lupa membelinya tadi.
lagi banjir nech.!"
"i.iya Non......"
sahut Bi Ina lalu keluar dari kamar setelah Sheela memberinya uang belanja.
Dengan cepat Bi Ina keluar dari kamar, dan segera berlalu dari hadapan Daren.
Menuju Supermarket terdekat dari Apartement Sheela.
Setelah beberapa menit,
Daren yang sudah gelisah menunggu, dia berjalan ke arah kamar Sheela..
Tok.tok.tok...
"Apa kau sedang tidur, kenapa lama sekali.."
Daren sudah berada di luar depan pintu kamarnya.
"Lagi berenang..."
jawab Sheela ketus.
Seringai di bibirnya.
"Cepat ganti handukmu yang seksi itu dengan baju yang cantik, hari ini mama mengundangmu untuk makan malam..
Apa mama tidak memberitahumu....?"
ucapnya.
"Hah. Handuk yang seksi.!
Jadi benar dong, dia sudah memperhatikan aku dari tadi....
Ah..... malunya...."
Gumannya.
Sheela menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang sudah memerah.
"Hey, apa kau tuli......!"
"Cih, dasar pria dingin....!"
umpatnya pelan.
"Iya.. Tuan,.. aku sudah dengar.."
sedikit menekan kata Tuan.
"Silahkan anda menunggu di depan..."
tambahnya.
"Baiklah...
Aku menunggumu 10 menit dari sekarang..!"
pekiknya.
Dalam sekejab Daren sudah berlalu dari hadapan pintu kamar Sheela menuju ruang tamu.
"Hah, 10 menit.!
Gila apa...!"
Sedangkan Bi Ina saat ini, belum nampak batang hidungnya sekalipun.
"Kenapa Mama Shita nggak ngasih kabar sech dari tadi, biar gak keburu kaya gini, apalagi menghadapi Beruang Kutub itu.!
Gerutunya kesal.
Sambil mengunci pintu.
Sheela takut kalau saja Daren, tiba2 masuk ke dalam kamarnya.
Tak butuh waktu yang lama Bi Ina sudah kembali ke Apartement, Dia sangat memahami keadaan Nona-nya saat ini.
Makanya dia agak terburu-buru.
Dengan cepat Bi Ina masuk pintu depan Apartement dan melewati Daren begitu saja, yang sedang asik memainkan ponselnya kini.
Daren hanya menoleh sepintas ke arah Bi Ina, yang melewati dirinya sambil menenteng kresek merk supermarket di tangannya..
Di depan pintu kamar Sheela...
Tok.tok.tok...
"Apa lagi sech..."
"Ini aku Non, Bi Ina..."
Sheela membuka pintu, dan merasa sedikit lega.
"Syukurlah karena Bibi cepat balik ke sini.
Makasih ya Bi.."
"Iya Non.
Saya permisi dulu Non.."
"Iya Bi...
Sekalian buatin minum buat si Beruang kutub itu.."
Ucapnya pelan.
Bi Ini terlihat bengong karena mendengar ucapan Sheela mengenai Beruang kutub.
Jelas2 dia tidak tau dengan istilah2 anak muda jaman sekarang.
Kemudian Sheela menutup pintu kamarnya, Dia berlari pelan kearah kamar mandi untuk memakai pembalutnya.
Kini dirinya berada depan Lemari Baju,
sambil memilah pakaian yang cocok untuk dia pakai malam ini.
"Pakai ini aja, cocok nggak ya.?!?"
gumannya sambil berkaca di depan pintu Lemarinya.
"Ah pusing, nggak sempat mau pilih yang mana.!"
Gerutuhnya dengan sangat kesal.
"Mana waktunya tinggal 5 menit lagi.
Huh, dasar Beruang kutub.!
Hah... pakai ini aja dech..."
Akhirnya Sheela menemukan baju yang cocok buat dirinya malam ini.
Padahal sudah 3 kali dia pegang dan di lepas lagi ber ulang kali.
sangking gugupnya karena di kejar waktu.
Malam ini Sheela mengenakan Baju Terusan Casual berwarna hitam, panjang lengan di sikut dan panjang bajunya selutut.
Bajunya simpel tapi terlihat sangat elegan dan menawan.
Make up nya, sangat natural.
Sangat tipis, Tanpa riasan pun wajahnya sudah terlihat cantik dan menarik secara alami.
Bajunya kini di padukan dengan Sepatu Kets berwarna putih.
Kemudian Sheela mengambil tas selempang dan Ponselnya.
"Tinggal satu menit."
gumannya dan segera keluar dari kamar.
Di ruang tamu, Daren melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya,
"Waktunya tinggal 1 menit."
gumamnya.
Kemudian menghabiskan kopi yang di hidangkan oleh Bi Ina.
Saat Daren menoleh ke arah kamar Sheela, terlihat Sheela keluar dari pintu kamarnya.
"Dia sangat cantik hari ini."
pikirnya dalam hati.
Sheela melototin matanya kearah Daren, untuk menutup kegugupannya.
Dirinya terlihat gugup dan sal-ting
Saat Daren menatap dirinya begitu lekat.
"Apa ada yang salah pada diriku.?!?"
Ucap Sheela.
"Kamu terlambat 1 menit.!
Tidak tepat waktu.!"
Daren mengatakan itu saat menghampiri Sheela dan berbisik di telinga kanannya.
"Hah.!
Baru juga 1 menit."
ucapnya.
"Itu pun aku sangat terburu-buru karena ulah-mu."
ucapnya dalam hati.
Sheela semakin gugup dan merinding karena saat ini Daren menyentuh rambutnya.
Tiba2 Sheela menghindar karena mengingat kejadian kemarin malam, saat di kafe. Ia melihat Daren berduaan dengan kekasihnya.
Dia berjalan duluan meninggalkan Daren yang masih terpaku di tempatnya.
"Beraninya dia menghindar dariku."
ucapnya dalam hati.
"Apakah dia benar2 tidak menyukai aku.?"
Pikirnya lagi dalam hati.
"Apa kita nggak jadi pergi.......?"
tanya Sheela.
Daren berjalan mendahului Sheela yang sudah berada di depan pintu keluar Apartement dengan wajah dinginnya.
"Benar2 beruang kutub."
umpatnya dalam hati.
"Bi. Aku pergi dulu ya."
pamit Sheela.
"Iya Non.
Hati-hati di jalan...!"