Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Derita dan Air Mata
Malam itu, rumah Bu Hamidah tampak sepi. Karena sanak saudaranya baru saja pulang. Namun sejak kejadian adu mulut antara Bu Hamidah dan Wina tadi siang, sejak itu pula Wina mengurung dirinya di dalam kamarnya.
"Sebenarnya Wina kenapa Bu? Apa benar Wina kecapean?" Tanya Pak Santoso.
"Bukan Pak! Sebenarnya tadi siang, sewaktu Adam datang kesini, Ibu sama Wina adu mulut! Wina pun marah dan masuk ke dalam kamarnya!"
"Adu mulut masalah apa Bu? Bukankah tadi proses lamarannya berjalan lancar?" Pak Santoso tampak bingung.
"Tadi Ibu menyuruh Wina untuk menikah dengan Adam! Bapak lihat sendiri kan Adam orangnya gimana! Dia itu orang kaya raya! Mobilnya aja harganya miliaran! Apalagi rumahnya, pasti seperti istana!"
"Ibu ini mikir nggak sih? Wina itu baru aja dilamar oleh Guntur! Lelaki yang Ibu sarankan sendiri untuk menjadi suaminya Wina! Tapi sekarang Ibu menyuruh Wina untuk menikah dengan laki-laki lain! Wina itu bukan robot yang bisa menuruti semua keinginan Ibu! Pantas aja Wina sangat marah! Karena kalau Bapak lihat, Wina benar-benar sudah jatuh cinta sama Guntur!"
"Ibu melakukan semua ini kan untuk kebaikan Wina juga! Mumpung semuanya belum terlambat!"
"Kebaikan apanya? Adam itu memang kaya dan tampan! Tapi usia mereka terpaut jauh! Mereka sangat nggak cocok! Kasihan kalau Wina harus menikah dengannya!"
"Justru sebaliknya, Pak! Wina akan hidup bahagia dengan bergelimang harta! Cinta kan nomor sekian! Cinta bisa datang karena terbiasa bersama! Apa Bapak dan Ibu dulu saling cinta? Tapi nyatanya Kita bisa menjalani rumah tangga sampai detik ini!"
"Tapi jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu! Kita nggak bisa memaksakan kehendak Kita! Yang ada dipikiran Ibu cuma harta dan harta! Bukankah Guntur juga cukup kaya?"
"Tapi Adam jauh lebih kaya dari pada Guntur!"
"Terserah Ibu mau bilang apa! Bapak mau menemui Wina! Kasihan Dia dari siang belum makan! Apa Ibu mau, Wina berbuat nekad seperti yang kemarin hendak dilakukannya?" Pak Santoso berjalan menuju kamar tidur Wina yang berada di lantai dua, tanpa memperdulikan Bu Hamidah yang hendak kembali berbicara.
Tokkk...Tokkk...Tokkk...
"Wina, Kamu belum tidur kan?" Tanya Pak Santoso ketika berdiri di depan pintu kamar anak sulungnya.
"Kenapa emangnya? Apa Bapak juga mau menyuruh Wina untuk menikah dengan duda itu?" Teriak Wina dari dalam kamar.
"Nggak Win! Bapak nggak akan menyuruh Wina untuk menikah dengan Adam! Bapak tetap setuju kalau Kamu menikah dengan Guntur!" Jawabnya.
"Yang benar Pak?" Wina seolah masih tidak percaya.
"Benar Win! Masa Bapak bohong! Sekarang Kamu buka pintunya ya! Kamu dari tadi siang kan belum makan!" Pintanya.
"Iya Pak." Jawabnya. Tidak berapa lama, pintu kamar Wina terbuka. Dari balik pintu terlihat Wina dengan muka sembab dan basah oleh air matanya. Melihat anaknya dalam keadaan sedih, Pak Santoso langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan semua ucapan tadi siang ya Win! Ibu pasti merestui Kamu untuk menikah dengan Guntur! Bukankah kemarin Ibu yang menyuruh Kamu untuk menikah dengan Guntur?" Pak Santoso membelai rambut anaknya.
"Tapi Ibu berubah pikiran Pak! Sejak Ibu bertemu dengan Mas Adam tadi siang! Wina nggak mau menikah dengannya Pak! Wina sama sekali nggak cinta dengan Dia! Wina cintanya pada Guntur, Pak!"
"Bapak juga setujunya Kamu menikah dengan Guntur! Bukan Adam! Laki-laki yang Kamu bilang duda itu! Karena kulihat Adam itu orangnya suka tebar pesona! Dengan modal tampang dan kekayaannya, pasti Dia gampang berselingkuh! Beda sekali dengan Guntur." Katanya.
"Iya Pak! Makasih ya Pak! Bapak sudah mengerti perasaan Wina!"
"Ayo Kita makan bareng, Wina! Bapak juga belum makan malam!" Ajak Pak Santoso tampak tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Wina hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun berjalan menuju ruang makan.
Disaat Wina dan bapaknya sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba Bu Hamidah datang menghampiri mereka. Wina yang tadinya sudah sedikit lebih tenang, kembali merasakan amarahnya berkobar-kobar.
"Wina, makan yang banyak ya! Soalnya Kamu tadi siang belum makan!" Pinta Bu Hamidah. Tidak terdengar suara jawaban dari mulut Wina. Ia hanya bersikap acuh tak acuh terhadap ibunya. Bahkan Wina enggan untuk menoleh ke arahnya.
"Wina, Ibu minta maaf atas kejadian tadi siang ya! Ibu sama sekali nggak bermaksud untuk memarahi dan menamparmu!" Katanya. Mendengar ucapan istrinya, Pak Santoso sangat kaget dibuatnya.
"Apa? Ibu sampai menampar Wina gara-gara keegoisan Ibu?" Tanyanya dengan keras.
"Siapa yang egois, Pak! Ibu melakukan semua ini kan untuk kebaikan dan kebahagiaan Wina!" Bu Hamidah membela diri.
"Tapi Ibu jangan selalu memaksakan kehendak Ibu! Kasihan Dia kalau harus menikah dengan cara terpaksa! Bukan bahagia yang didapat tapi malah derita!" Nasihatnya.
"Tapi Adam kan laki-laki yang sempurna untuk menjadi suaminya Wina!"
"Sempurna? Ibu bilang sempurna? Ibu hanya melihat Adam dari luarnya aja! Kita belum tahu kelakuan aslinya! Yang Ibu lihat cuma hartanya aja!!! Lihat tuh artis di TV! Ganteng, cantik, kaya, terkenal, tapi banyak yang bercerai! Jadi harta sama sekali tidak menjamin hidup seseorang bahagia!" Pak Santoso pun naik darah.
"Tapi Ibu yakin, Adam itu orangnya baik! Lihat aja tadi siang sewaktu Dia berbicara dengan Kita! Dia sama sekali tidak mencerminkan orang yang sombong, dan suka memainkan perasaan perempuan!" Katanya. Mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, Wina sejak tadi berusaha menahan untuk berbicara, akhirnya bersuara dengan keras.
"Cukup!!! Sekarang semua terserah Ibu! Kalau memang Ibu masih ingin melihat Wina hidup, Ibu harus merestui pernikahanku dengan Guntur! Tapi jika Ibu masih tetap ingin Wina menikah dengan Mas Adam, itu berarti besok pagi Ibu tidak lagi bisa mendengar suara Wina!" Teriak Wina bangkit berdiri dengan penuh amarah.
"Maksudmu gimana Win?" Bu Hamidah tampak bingung dan cemas. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Wina berjalan menuju dapur. Tidak berapa lama ia muncul kembali di ruang makan dengan memegang sebilah pisau tajam, yang digenggamnya dengan erat di tangan kanannya. Melihat itu semua, Bu Hamidah sangat terkejut. Ia pun mengira bahwa Wina akan membunuh ibu kandungnya sendiri. Pak Santoso pun tidak kalah kaget dibuatnya. Ia tidak mengira anak sulungnya akan berbuat senekad itu.
"Wina, Kamu mau membunuh Ibu? Kamu mau menjadi anak durhaka?" Tanya Bu Hamidah dengan bergetar hebat. Air matanya seketika langsung menetes di pipinya. Mendengar pertanyaan istrinya, Pak Santoso pun semakin ketakutan.
"Jangan berbuat nekad seperti itu, Wina! Kita bisa bicara baik-baik! Ingat Wina, Dia ini Ibu kandungmu! Dia yang sudah mengandung, melahirkan, dan merawatmu!" Nasihat Pak Santoso.
"Siapa juga yang mau membunuh Ibu!!! Wina akan mengakhiri hidup Wina! Biar Bapak dan Ibu nggak bertengkar lagi! Buat apa Wina hidup kalau cuma menjadi penyebab masalah dikeluarga ini!" Teriaknya dengan histeris. Air matanya langsung membanjiri wajahnya.
"Jangan lakukan itu, Wina! Bunuh diri bukan menyelesaikan masalah tapi menambah masalah! Bapak dan Ibu sayang sama Kamu! Kami nggak mau kehilangan dirimu!" Kata Pak Santoso.
"Benar yang dikatakan Bapakmu! Kami sangat sayang dan cinta sama Kamu, Wina! Ibu berjanji nggak akan memaksamu untuk menikah dengan Adam! Ibu merestui pernikahan Kamu dan Guntur!" Bujuk Bu Hamidah sambil terus menangis.
"Betul yang dikatakan Bapak dan Ibumu, Mba Wina! Kasihan mereka kalau kehilangan Kamu! Apalagi orang yang bunuh diri itu dosanya tidak diampuni oleh Allah, Mba Wina! Jadi Bibi mohon jangan dengarkan bisikan setan, Mba!" Pembantu di rumah Pak Santoso tiba-tiba muncul di ruang makan sambil berpelukan dengan Lala.
"Iya Mba Wina! Jangan tinggalkan Lala! Nanti Lala kesepian kalau nggak ada Mba Wina!" Lala yang menangis sesenggukan. Mendengar ucapan pembantu yang sudah lama tinggal di rumahnya, dan juga mendengar ucapan adik kandungnya, Wina sedikit lemas. Pisau yang berada dalam genggamannya, langsung jatuh ke lantai. Melihat itu semua, Pak Santoso dan Bu Hamidah langsung mendekati tubuh Wina dan memeluknya dengan erat. Lala pun ikut berlari dan memeluknya.