Salsabila Nugroho adalah putri dari Malik Nugroho dan Kirana. Saat ini Salsabila menduduki bangku kelas tiga SMA, Salsa yang sudah tumbuh dewasa terkenal dengan kenakalanNya bersama dengan sahabatnya Naura.
Saat Salsa melakukan kesalahan, sang wali kelas Salsa selalu memanggil orang tuanya. Tetapi Salsa tidak pernah mendatangkan orang tuannya melainkan ia akan menyewa seseorang teman dekatnya.
Hingga sesuatu hari kenakalan Salsa sampai ke telinga Malik. Apakah yang akan Malik lakukan menghadapai putri bungsunya itu?.
Yok kepoin cerita dari Cinta Salsabila...😊
dan jangan lupa like commet dan beritahu kepada teman-teman sekalian supaya novel ini banyak yang tau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Jam istirahat, Salsa dan Naura telah berada di dalam kelas. Salsa yang tidak ingin pergi kemana-mana lebih memilih berada di dalam ruangan meskipun Naura mengajaknya ke dalam kantin.
"Kamu benar-benar enggak lapar Sal? kalau enggak aku akan membelikan suatu untuk mu, ayo katakan aku akan membelinya" Ucap Naura.
"Tidak Na, sekarang aku tidak ingin makan sesuatu, kalau kamu lapar pergilah... Aahh iya, aku melupakan bekal Liam yang tadi pagi aku makan, ayo Na" Ajaknya menarik pergelangan tangan Naura pergi dari sana.
"Hhhmmsss.. Tadi enggak".
Di dalam kantin mereka berdua malah melihat para siswa yang sedang antri memesan, "Yah, pakai ramai lagi" Dengus Salsa melihat mereka satu persatu hingga kedua matanya berhenti kearah pria yang tadi pagi ribut denganNya. "Na, Naura" Panggil Salsa.
"Mmmm.. Ada apa Salsa?".
"Itu, itu dia orangnya Na" Tunjuk Salsa kearah si pria tersebut yang sedang tertawa bersama dengan para sahabatnya.
Naura pun langsung tersenyum sinis sambil mengepal kedua tanganNya, lalu Naura datang menghampiri mereka.
BBBYYUURRR..
"Dasar banci" Seringai Naura begitu ia menyiram wajahnya dengan air putih yang berada di atas meja mereka. "Oohh, jadi ini banci yang sudah membuat wajah sahabat ku lebam-lebam. Enggak tau malu banget yah?".
"OMG" Kaget mereka yang berada di dalam kantin begitu juga dengan teman-teman si pria tersebut. Sedangkan Salsa hanya bisa tersenyum senang dari kejauhan, lalu ia datang menghampiri Naura.
"Aku juga mau ikutan Na" Salsa langsung menyiram wajahnya lagi di depan teman-temanNya. "Uuppss.. Sorry hahahah.. Yaahh, kasihan sekali dia Na, pakaian dia jadi basah kuyub seperti ini kan. Apa yang harus kita lakukan Na? apa kita harus menyiramnya lagi pakai kuah bakso?".
"Aku rasa itu ide yang bagus Salsa. Kak, kuah baksonya 1 ember yah" Teriak Naura meminta kepada si ibu penjual. Si pria itu langsung menatap mereka dengan mata tajam seperti sedang kerasukan, "Wah, sepertinya dia ingin membunuh kita Salsa".
"Mmmmm.. Sepertinya" Gumam Salsa tidak merasa takut sama sekali kepadanya. "Oohh iya, bagaimana bisa kamu tertawa senang di sini sedangkan apa yang telah kamu lakukan tidak kamu pertanggung jawabkan. Harus aku melaporkan kamu ke kantor polisi?".
Para siswa yang berada di sana langsung berbisik-bisik sana kemari, "Ada apa dengan kedua wanita itu? mereka pasti tidak tau siapa dia dan mereka juga tidak tau siapa ayahnya".
"Kedua orang itu mungkin tidak tau siapa ayahnya makannya mereka berani melabrak dia. Apa? lapor polisi? mereka pasti ingin bunuh diri" Sinis mereka yang melihat Salsa dan Naura menantang anak si pemilik sekolah.
Tidak lama kemudian para guru datang menghampiri mereka kedalam kantin begitu salah satu siswa melaporkan kejadian yang menimpa si anak pemilik sekolah dan si anak pemilik sekolah sengaja tidak melakukan perlawanan agar ia mendapatkan pembelaan dari para siswa dan dari para guru yang melihat Salsa Naura. "Hentikan" Teriak Reni sebagai guru BK.
Mendengar suara itu, Salsa dan Naura langsung berhenti. Kemudian Reni datang mendekati mereka dengan wajah sangat marah, sangking marahnya, Reni menampar mereka berdua cukup kuat tampa perduli dengan wajah Salsa yang terluka.
Liam pun yang juga mengetahui kejadian di dalam kantin, ia segera menyusul dan menghentikan tangan Reni yang ingin menampar Salsa kembali, "Cukup, seorang guru tidak pantas menunjukkan hal seperti ini di depan para siswa, ibu tidak lihat ini dimana? kalau ibu mau menghukum mereka kenapa ibu tidak membawa mereka saja kedalam ruangan ibu sendiri?" Ucap Liam dengan wajah bermerah.
Reni mengerutkan keningnya melihat Liam yang sangat marah, "Apa-apaan bapak? bapak tidak lihat apa yang telah merasa berdua lakukan kepada dia? bapak masih ingin membela mereka? Balas Reni tidak terima melihat anak si pemilik sekolah mereka di perlakukan seperti itu.
"Ibu membela dia apa karna di anak pemilik dari sekolah ini? tidakkah ibu melihat wajah dia ini? menurut ibu, apa alasan mereka mengajak ribut kepada dia hhhmm? atau gini saja, jika seandainya posisi ibu ada apa dia, apa ibu akan diam saja? saya rasa ibu tidak akan diam saja. Bahkan lebih parah dari apa yang telah mereka lakukan pasti akan ibu lakukan"
Lalu Liam melihat kearah anak sipemilik sekolah, "Saya mau bertanya, apakah kamu sudah meminta maaf kepada dia? saya lihat kamu baik-baik saja. Apa pihak sekolah tidak menyuruh minta maaf kepadanya?".
"Pak Liam hentikan" Ujar para guru yang mendengarkan perkataan Liam.
Liam menunjukkan wajah datarnya, "Sekolah adalah tempat untuk mendidik anak begitu orang tua mereka menitipkan anak-anaknya kepada kita. Jadi, saya harap kepada ibu bapak sekali, jangan pernah membandingkan-bandingkan dia anak pemilik sekolah atau dia anak orang kaya, kalau sudah di dalam sekolah mereka semua sama saja tampa memandang status orang tuanNya".
Mendengar perkataan Liam, Salsa pun langsung tersenyum senang, "Oohh Tuhan, terima kasih banyak, ternyata aku tidak salah memilih pria seperti Liam" Batin Salsa. Setelah itu ia melihat kearah si anak pemilik sekolah yang sedang menatap Liam dengan tatapan tajam seperti ingin membunuhnya. "Wah, sepertinya dia sedang mengutuk Liam. Lihat saja dari wajahnya, Dasar anak cengeng".
Kemudian salah satu guru menghentikan mereka dan juga Liam, "Sudah, kita sebagai guru harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Dan kamu, siapa nama mu?".
"Markus pak" Jawabnya.
"Mmmm.. Markus, sekarang kamu minta maaf sama dia, mau bagaimana pun kamu harus mengalah dengan wanita. Cepat dan jangan gunakan bahasa formal".
"Baik pak" Angguk Markus melihat Salsa yang sedang tersenyum mengejeknya. "Kamu, aku minta maaf dengan apa yang baru saja aku lakukan" Ucapnya dengan wajah yang tidak bisa Salsa artikan.
"Dasar, dari wajah mu saja kamu terlihat tidak ikhlas untuk minta maaf" Gumam Salsa. "Aku juga minta maaf dengan apa yang baru kami lakukan".
"Iya, kami berdua minta maaf. Kak, kuah baksonya enggak jadi, dia sudah minta maaf" Ucap Naura sampai membuat para siswa yang berada disana menahan tawa begitu Naura berkata demikian.
"Sekarang kalian semua bubar" Ucap Reni membawa Markus pergi dari sana.
Liam melihat wajah Salsa yang bermerah akibat bekas tamparan Reni, "Hey.. Aku tidak apa-apa, jangan khawatir nanti juga akan baik-baik saja" Senyum Salsa menutupi wajahnya.
"Itu tidak bisa di biarkan. Ayo ikut aku" Ajak Liam menarik pergelangan tangan Salsa dari sana tampa ia sadari para siswa yang tengah melihat mereka berdua.
Naura tersenyum sambil geleng kepala, "Emang cuman Salsa doang yang butuh di obati? aku juga merasakan hal yang sama saat buk Reni menampar kami berdua" Gumam Naura berjalan menuju ruang uks.