Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Sampai di ruang ganti Mentari di hadang oleh Sandra dan Ariana, terlihat dari wajahnya ingin membully Mentari.
"Lo orang bisa minggir nggak," ucap Mentari datar.
"Langkahin kita dulu dong." Sandra menantang Mentari.
"Bener-bener lo orang ya."
Mentari menerobos masuk kedalam dengan mendorong tubuh Sandra dan Ariana hingga terjatuh.
"Gila lo ya, dorong kita sampai jatuh," ucap Ariana Sambil berteriak-teriak agar semua karyawan mendengarkannya.
"Ada apa rame-rame." Semua karyawan berkumpul.
"Gue di dorong sama Mentari," ucap Ariana dengan dramatis.
"Astaga salah gue apa si Tar sama lo? sampai-sampai lo giniin kita," sahut Sandra sambil berakting.
Mentari merasa terjebak dengan situasi ini, ia hanya diam ingin membalas Sandra dan Ariana takut mereka tak percaya.
"Lebay banget si, gitu doang drama. Bubar-bubar!" titah Niki.
Akhirnya semua karyawan bubar dan pergi kembali bekerja.
"Apa si lo Nik, ganggu banget deh," gerutu Sandra.
"Iya terlalu ikut campur. Dapet apa si lo belain Mentari," sahut Ariana.
"Malu gue liat tingkah lo orang berdua kekanak-kanakan. Mau lo orang nyakitin Mentari, Tuan Nata tidak mungkin melihat kalian berdua. Halu kalian terlalu tinggi," sindir Niki.
Sandra dan Ariana akhirnya pergi meninggalkan Niki dan Mentari. Niki mendekati Mentari memegang bahunya.
"Lo nggak pa-pa Tar?" tanya Niki.
"Baik kak, makasih ya. Udah mau bantuin aku."
"Udah nggak usah dipikirin, buruan sana ganti baju terus kita kerja," titah Niki.
*****
Pukul 21.00 sudah menunjukkan jika Mentari boleh pulang bekerja. Di depan cafe Revalina berdiri sendiri sudah seperti orang hilang.
"Udah lama, nunggunya?" tanya Mentari pura-pura bodoh.
"Udah lah Kak, malu tau diliatin orang-orang. Mungkin pikir mereka anak SMP jam segini belum pulang, masih pakai seragam sekolah. Apa nggak dicariin orang tua apa? gitu tau." Revalina mengikuti gaya orang lewat yang membicarakan dirinya.
Mentari tertawa melihat tingkah adiknya sangat polos.
"Memang bener kan?" ejek Mentari.
"Au', ah," ketus Revalina.
Tiba-tiba ada suara lelaki terdengar di samping mereka, otomatis Mentari dan Revalina menengok.
"Kalian mau aku antar pulang?" tanya Alex.
"Aduh, nggak usah Lex. Kita bisa pulang sendiri aja," tolak Mentari.
"Rumah kalian jauh dari sini." Alex sedikit memaksa.
"Nggak usah khawatir, aku sekarang ngekos sekitar sini," terang Mentari.
"Serius?" Alex bertanya-tanya.
"Beneran kok Kak," sahut Revalina mencoba meyakinkan.
"Ya udah Tar. Oia Tar, ini ada undangan ulang tahun. Besok kamu sama Revalina bisa dateng, ke pesta ku." Alex memberikan undangan.
"Siap Bos," ucap Mentari sambil hormat.
Akhirnya mereka berdua pulang berjalan kaki, diperjalanan tiba-tiba ada mobil yang menghadang mereka. Mentari kaget penasaran siapa yang berani-beraninya melakukan itu. Mentari mendekati mobil ingin ia marah-marah. Saat mobil itu terbuka ternyata Nata yang keluar dari mobil.
"Bang ngapain?"
Mentari binggung kenapa Nata kerap kali membantunya. Dan sekarang ia muncul membawa sesuatu ditangannya yang membuat Mentari penasaran.
"Ini untuk kalian, dan ini besok kamu pakai di acara pestanya Nata."
Belum sempat Mentari menjawab ucapan Nata, ternyata Nata langsung pergi menghilang dengan mobilnya.
"Apa Kak isinya?" Revalina penasaran.
"Nanti kita buka di kosan aja," ucap Mentari lalu melanjutkan perjalanannya.
Sampai di depan rumah Ibu Fatimah, Revalina sedikit takut masuk kedalamnya.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa horor gini si Kak, buat aku merinding." Revalina memegang erat tangan Mentari.
"Lebay banget si kamu," ejek Mentari.
Saat Ibu Fatimah membuka pintu dengan dress putih dan rambut panjang di urai membuat Revalina berteriak.
"Aaa!"
"Kamu kenapa sih," ucap Mentari sedikit kesal.
"I-itu Kak, i-itu," jawab Revalina sambil menutup matanya.
"Buka, itu Ibu Fatimah, Revalina." suara Mentari sedikit meninggi.
Pelan-pelan Revalina membuka matanya lalu melihat Ibu Fatimah.
"Maaf Bu, kalo saya nggak sopan," ucap Revalina terdengar bergetar.
"Nggak pa-pa nak. Ayo kalian masuk ke dalam, maaf Ibu abis mandi."
Mereka berdua berjalan menuju kamar, Revalina berhenti memperhatikan sesuatu membuatnya penasaran.
"Apa ini Kak? bonekanya aneh," tanya Revalina.
"Mana gue tau Va," jawab Mentari.
"Oh, itu boneka Annabelle," sahut Ibu Fatimah.
"Ih, takut serem."
Revalina melempar ke arah Mentari, untungnya Mentari dengan sigap menangkapnya.
"Maaf Bu." Mentari memberikan bonekanya kepada Ibu Fatimah.
"Nggak pa-pa Tar, Ibu punya banyak koleksi boneka kaya gini. Kalo adik mu takut biar ibu simpan saja bonekanya."
Di dalam kamar Mentari memarahi Revalina tidak sopan kepada Ibu Fatimah.
"Nggak boleh gitu Va, kamu nih. Ini rumah orang."
"Iya-iya Kak, nggak aku ulangi lagi." Revalina pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Mentari mencoba membuka hadiah pemberian Nata menurutnya sangat mewah dan elegan. Satu dress berwarna hitam, sepasang hak tinggi dan tas mewah. Mentari langsung mengambil ponselnya untuk menelpon Nata.
Nata📞"Halo kenapa Tar?" tanya Nata di seberang sana.
Mentari 📞"Aduh Bang, kenapa harus begini si. Pemberian Abang tadi barang mahal semua. Pokoknya setelah pestanya selesai aku kembalikan." Mentari merasa tak enak hati.
Nata📞"Kalo kamu pulangin ke aku, terus kamu suruh pakai itu. Maksudnya gitu?"
Mentari📞"Iya juga ya Bang." Mentari tertawa.
Nata📞"Udah ah, kamu pakai saja. Siapa tau kamu bisa pakai lagi diacara lain," ucap Nata langsung mematikan teleponnya.
Mentari masih senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya. Revalina keluar dari kamar mandi binggung melihat kakaknya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Lagi jatuh cinta ya," goda Revalina sambil memegang handuk.
"Sok tau anak kecil ini," jawab Mentari.
"Huu, nggak ngaku lagi," balas Revalina sambil melempar handuk ke muka Mentari.
*****
Leo duduk di ruang tengah sambil memasang wajah frustasi.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Jesica dengan membawa paperbag.
"Kamu itu dari mana?" suara Leo yang meninggi.
"Aku pulang nyalon lah," ucap Jesica santai.
"Kamu itu tiap hari menghambur-hamburkan uang saja bisanya." Leo mencibir.
"Kamu seharusnya tau diri, semua usaha yang kamu jalankan itu semua punyaku," lugas Jesica sambil membanting paperbag.
"Kamu!" Leo hampir saja menampar Jesica.
"Apa? kamu berani menampar aku." Jesica menantang Leo.
Leo tidak menjadi menampar Jesica, lalu ia duduk kembali di sofa seperti semula.
"Ada masalah di bisnis kita," ucap Leo setenang mungkin sambil mengontrol emosinya.
"Apa kamu bilang!" teriak Jesica sedikit panik.
"Uang hasil penjualan rumah sudah kamu habiskan, untuk shopping. Lalu aku harus bagaimana?"
"Kamu aja nggak becus ngurus bisnis ku. Kita masih ada hutang dengan Mama Tiara, bagaimana kita melunasinya." Jesica memijit pelipisnya.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu