"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Kriwil
~Terkadang orang yang sukses saat ini adalah orang yang telah melewati extrim-nya ujian.~
☃️☃️☃️☃️☃️☃️
☃️☃️☃️☃️
☃️☃️
Waktu bergulir tanpa bisa dihentikan. Arloji di tangan Riki menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ia berdiri dari tempat duduk, meraih sebuah dokumen, kemudian keluar. Tujuannya adalah ruangan Riko.
Lelaki yang akan segera melangkah ke jenjang pernikahan itu naik ke lantai atas menggunakan lift. Sesaat keluar dari lift, ia melihat sekertaris Adnan tengah sibuk mengetik di laptopnya. Ia tersenyum sekejap, dan langsung ke arah yang diinginkan.
Layaknya seorang anak kembar, Riki masuk tanpa mengetuk pintu. Ia mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu, kemudian menginjakkan kakinya di ruangan Riko. Betapa terkejut ia ketika melihat pemandangan yang berada di depan mata.
"Si Kriwil!" teriaknya, hingga membuat Riko yang sedang bermain boneka dengan seorang anak pun kaget.
"Astagfirullah, Lo kalau masuk ucap salam dulu!" tegur Riko.
"Assalamualaikum, Abang Riko." Riki mengatakan itu sembari menahan tawa, melangkahkan kakinya mendekati Riko dan anak tersebut.
"Wa'alaikum salam," jawab Riko cepat. Pandangannya kembali pokus.
"Ko, ni anak kok ada di sini?" tanya Riki penasaran.
"Anak ini punya nama, Bambang!" kesal Riko.
"Iya, maksudnya si Kriwil. Eh, si Qila."
"Adnan sibuk." Riko tak menjelaskan apa pun.
"Lah, kalau si Adnan sibuk. Ngapain bawah bocahnya ke kantor? Emang tuh anak otaknya suka agak ngebleng dikit."
Riko menepuk punggung Riki kencang. Posisi mereka duduk bersampingan di kursi yang sama. "Lo, kalau ngomong dijaga dikit, Bambang!"
"Sakit, Maemunah!"
Anak perempuan yang berusia sekitar 2 tahun tersebut tertawa melihat tingkah Riko dan Riki. Ia sesekali memainkan bonekanya mendekat ke pipi Riko. "Tium(cium)."
Riko dengan senang hati menerima kecupan mesra tersebut.
"Ko, lo lagi enggak ada kerjaan, ya?" Riki bertanya lagi.
Telunjuk kanan tangan Riko mengarah ke meja, di mana terdapat setumpuk dokumen yang harus ia periksa. "Itu apaan namanya, Bambang?"
"Dokumen."
"Nah, Lo tau, masih nanya gue ada kerjaan apa enggak?"
Riki tertawa. "Ya, habisnya lo malah main boneka-bonekan sama si Kriwil."
"Gue terpaksa. Si Adnan udah kayak bawa anak ilang aja ke sini, main taruh sambil bilang, 'Ko, nitip anak gue sebentar. Mau meeting' . Gue mana bisa nolak!"
Suara tawa Riki kali ini semakin kencang. Aqila adalah anak dari Adnan dan Alina. Anak perempuan yang lucu dan memiliki rambut kriting yang jelas tak seperti Adnan dan Alina.
"Gue sampai sekarang heran dan masih bertanya-tanya, apa dulu Alina ngidam makan mie terus, ya? Sampai rambut anaknya kriwil kayak gini. Perasaan Emak bapaknya lurus-lurus aja kayak jalan tol," celoteh Riki.
Riko sibuk bermain boneka kembali. Dibandingkan Riki, Riko sendiri sangat menyukai anak kecil. Ia tidak pernah marah ataupun keberatan saat dititipi Aqila oleh Adnan.
"Nih, dokumen yang lo minta, Ko. Gue simpen di meja, ya." Riki beranjak dari tempat duduk, berjalan tiga langkah ke depan, menyimpan dokumen di meja. "Gue ngantuk. Kopi kayaknya enak siang-siang gini."
Riko tak menanggapi, sampai Riki pun keluar. Lima belas menit sudah dari waktu yang tadi, Aqila pun dijemput Adnan untuk pulang. Hari ini anak perempuan itu menangis meminta Adnan mengajaknya ke kantor. Sebagai Bapak yang sayang anak, Adnan menuruti.
Riko bebas. Ia meregangkan otot-ototnya begitu Aqila keluar. Namun, perkataan Riki tentang kopi teringat kembali. Rasanya memang segar menyeruput minuman itu saat tengah hari.
Riko keluar ruangan. Baru saja berjalan dua langkah ke depan dari pintu ruangan, ia mendapati Lily keluar dari ruangan Adnan. Kakinya berhenti, menunggu Lily yang akan melewati ruangannya sebelum menuju lift. Ketika perempuan itu berjarak satu meter darinya, senyum manis ia dapatkan. Lily mengangguk hormat, lalu berjalan selangkah melewati Riko.
"Tunggu!" cegah Riko. Lily berhenti. Riko sendiri bingung. Kenapa mulutnya mengucapkan kata itu? Kedua bola matanya bergerak tanpa sasaran.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Lily heran melihat tingkah aneh Riko.
Riko menggaruk kepala yang tak gatal. Alasan apa lagi yang harus ia lontarkan untuk menutupi diri dari rasa malu. "Tolong, belikan saya satu cup kopi."
Lily mengerutkan kening. "Kopi?"
"Iya, kopi. Apa kamu tidak bisa mendengarnya dengan baik."
"Bukan begitu, Pak …." Lily tak jadi meneruskan ucapannya. "Baiklah, kalau begitu saya ke lantai bawah dulu."
"Langsung ke ruangan saya."
"Hah!" Lily kaget.
"Maksudnya, nanti kamu langsung berikan ke ruangan saya."
"Iya, Pak."
"Sudah, segera pergi."
Lily menurut, sedangkan Riko mengacak-acak rambutnya. Gue beneran gila! Kopi memang cocok buat otak yang ngebleng siang-siang gini.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈*
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗