Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Namun, bagi Malika, keberuntungan bertubi-tubi justru datang setelah perceraiannya. Salah satunya adalah kehadiran pria blasteran Jepang tampan yang 'ngotot' ingin menjadi bagian dari hidup barunya.
🍰🍰🍰
Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.
Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
.
.
.
Jangan lupa pencet ❤️ nya yaa, biar dapet notif tiap update.
Baca juga karyaQ yang lainnya:
~ REPLACEMENT LOVER
(Novel Komedi Romantis)
~ SEJUTA CINTA
(Kumpulan Cerita Pendek)
.
.
.
HAPPY READIINGGG!!! 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mrs caffeine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEREMPUAN TANGGUH
'Sebaik-baik hidup adalah...
ketika tenang tanpa dendam,
tentram tanpa dengki,
lembut karena ketulusan,
indah karena kesabaran,
harum karena kejujuran,
bersih karena do'a,
dan damai karena memaafkan.'
(@almira_amalia)
—MOVE ON, by: Mrs. Caffeine
💗
💗
💗
Setelah ia sendirian di ruangannya. Taki membereskan dan menyimpan kembali kotak P3K ke tempatnya semula sambil memikirkan kembali perasaannya terhadap Malika.
Bukan Taki tak menyadari bahwa tadi ia memang cukup berlebihan dalam memberikan perhatiannya kepada Malika, si staff baru itu. Tapi entah kenapa ia tak bisa menahan diri. Namun ia sama sekali tak menyesali perbuatannya itu.
Kenapa gue begitu peduli sama Malika? Padahal gue baru kenal beberapa hari ini sama cewek itu. Apa seluruh perhatian gue ini timbul dari rasa iba gue setelah tahu nasibnya Malika? Ataukah semua perhatian dan perasaan khusus gue ke Malika emang muncul dari hati kecil gue?
Tapi bagaimana mungkin... pikir Taki. Padahal dia sudah berusaha mengunci hatinya dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan menerima kehadiran seorang wanita pun dalam hidupnya.
Taki membuka jendela yang ada di ruangannya lebar-lebar. Menarik nafas sedalam-dalamnya, mengisi penuh rongga paru-parunya dengan udara pagi yang menyejukkan. Lalu menghembuskan kembali seluruh udara itu untuk melegakan dadanya dari sesak yang tengah ia rasakan.
Namun sayangnya, sesak itu masih ada, dan kini malah bercampur dengan sedikit rasa nyeri yang entah datang dari mana.
***
Sesuai perintah dari Taki sebagai Pimpinan PANKEKI BAKERY, Zacky mengantar Malika berkeliling toko dan memperkenalkan hampir seluruh staff di toko pada Malika satu persatu.
Di akhir sesi perkenalan Malika dengan para staff PANKEKI BAKERY, Zacky mengantar wanita itu ke dalam dapur khusus divisi Cake yang tepat berhadapan dengan dapur khusus Roti.
Zacky tersenyum lega ketika melihat Chef Nanda dan dua asistennya sudah datang dan sedang bersiap-siap untuk bekerja. "Chef, saya bawain asisten barumu nih!" seru Zacky pada Chef Nanda ketika pertama memasuki dapur itu.
Chef Nanda yang sedang memeriksa kelengkapan bahan untuk produksi hari itu menoleh ke arah Zacky dan Malika yang baru memasuki dapur Cake.
"Oh haiii, Malika! Welcome to the kitchen!" sambut Chef Nanda sambil menghampiri Malika lalu mengulurkan tangan padanya untuk bersalaman.
Malika tersenyum kikuk sambil menerima uluran tangan Chef Nanda. "Terima kasih sudah menerima saya bergabung di tim-nya Chef Nanda!" balas Malika dengan tulus.
"Naahhh, karena saya udah nganterin Malika ke kandangnya, jadi saya permisi balik dulu ya!" pamit Zacky pada seluruh penghuni dapur Cake.
"Oke, thank you, My Bro! Tapi kok buru-buru amat sih?" Chef Nanda mengantar Zacky ke pintu dapur sambil merangkul pundak wakil Pimpinan itu dengan akrab.
"Soalnya Bos kita lagi baper. Gue mau buru-buru balik, pengen liat keadaannya." bisik Zacky pada Nanda.
"Baper kenapa dia, tumben?!" Nanda balas berbisik sambil mengernyitkan keningnya.
"Gara-gara asisten baru lo tuh!" Zacky menunjuk secara sembunyi-sembunyi ke arah Malika yang sedang ngobrol dengan kedua asisten lainnya.
"Emangnya si Taki diapain sama Malika bisa sampe baper gitu?" Nanda masih penasaran.
"Lo nggak liat tuh, jidatnya Malika plesteran?"
"Oia??? Gue nggak merhatiin tuh, emang habis kenapa Malika kok bisa gitu?" Nanda menoleh ke arah Malika diam-diam.
Sayangnya, karena wanita itu sedang menghadap ke arah yang berlawanan dengan dirinya, Nanda jadi tidak bisa memastikan dahi Malika yang memakai plester.
"Habis dijedotin si Modo di pintu depan tadi. Trus kayanya Taki ngeliat langsung, jadi baper deh gara-gara sang pujaan hatinya terluka gitu." Zacky mulai bergosip.
"Set daahhh, yang lagi termehek-mehek. Segitu doang udah baper, ckckckck. Jadi lo mau buru-buru balik buat ngecek si Modo masih hidup atawa dah wassalam gitu?" Nanda berdecak sambil menepuk dahinya.
Zacky mengangguk dengan mantap, "Yups..bener banget!" bisiknya sambil mengangkat jempol.
"Cheefff, jadi briefing enggak nih?" tanya salah satu asisten seniornya Chef Nanda.
"Ooh, oke-oke. Im coming!" balasnya. "Ya udah, Zack, buruan lo selametin si Modo, sebelum tuh anak dijadiin roti gulung sama si Taki!" ujar Nanda pada Zacky sambil terkikik geli.
***
Meski diawali dengan insiden yang cukup memalukan tapi sangat mendebarkan, namun hari pertama Malika di tempat kerja barunya terasa sangat menyenangkan baginya. Selain mendapat banyak sekali pengetahuan dan pengalaman baru, ia juga mendapat beberapa teman baru.
Yaitu Ratna dan Sofie yang sama-sama menjadi asisten Chef Nanda, juga beberapa staff dari divisi lain yang memperlakukannya dengan ramah. Dan jangan lupakan Modo si pemuda cleaning service.
Secara khusus pemuda itu menghampiri Malika saat istirahat siang demi meminta maaf dengan tulus atas kejadian pagi tadi.
"Enggak apa-apa, Mas! Saya juga salah karena jalan enggak lihat-lihat depan. Tolong, jangan merasa bersalah berlebihan, karena ini juga salah saya!" Malika mencoba membuat Modo agar tidak menyalahkan dirinya secara berlebihan.
Taki yang baru akan pergi ke toilet, tanpa sengaja memergoki kedua orang itu dari kejauhan. Modo memang mengajak Malika ke tempat yang agak sepi untuk meminta maaf demi merahasiakan perihal insiden tadi pagi.
Dari jauh, Taki memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam. Dan karena posisinya yang berada jauh di belakang Malika, jadi hanya Modo yang menyadari kehadiran Taki di kejauhan sana. Meski begitu, keberadaan dan tatapan dingin Taki sudah cukup untuk membuat Modo kembali gemetaran.
"Tapi tetep gara-gara saya, mbaknya jadi kejedot pintu terus memar gitu! Tolong terima permintaan maaf saya ya mbak Malika!" Modo nampak berkaca-kaca. Memikirkan nasibnya yang berada di tangan Bos Taki jika Malika sampai tidak memaafkannya.
Melihat Modo yang seperti hampir menangis, Malika jadi tidak tega. "Iya-iya sudah pasti saya maafkan, kan mas Modo enggak sengaja!" jawab Malika akhirnya.
Saking senangnya, Modo sampai meraih tangan Malika untuk berterima kasih. "Terima kasih, Mbak! Terima kasih!" ucapnya dengan lega.
Namun ketika tatapannya kembali bertemu dengan Taki yang berdiri sambil bersedekap di ujung sana, Modo seketika merinding. Secara spontan ia langsung melepaskan tangan Malika begitu saja karena takut. Sesaat tadi ia lupa, betapa bosnya itu menaruh perhatian lebih pada wanita yang sedang dihadapinya ini.
"Kalau begitu saya balik istirahat lagi ya, Mas! Mas Modo lain kali lebih hati-hati lagi kalau bertugas!" pamit Malika dengan ramah.
Seketika Modo yang jomblo langsung terpesona dengan senyum ramah Malika yang makin memancarkan kecantikan alaminya.
Pantesan Bos Taki sampe seperhatian itu sama Mbak Malika, udah cantik, baiknya tulus, enggak abal-abal...mana senyumnya manis pisan euy! Batinnya dengan wajah merona.
.
.
.
Lagi-lagi, waktu seolah berlalu begitu cepat bagi Malika. Suasana kerja yang menyenangkan dengan rekan se-Timnya, membuatnya tak dapat merasakan bergulirnya waktu hingga tiba waktunya pulang.
Malika yang teringat dengan niatnya untuk meminta izin berjualan online kepada para bosnya pun segera pamit pada rekan-rekannya saat mereka sedang ada di ruang ganti karyawan, "Guys, sorry...gue duluan ya!" pamit Malika di pintu keluar ruang ganti..
"Buru-buru aja, mau kemana lo?" tanya Ratna kepo sambil membereskan lokernya.
"Gue mau ngadep Pak Zacky sama Pak Taki dulu, ada yang masih mau gue omongin sama mereka." ungkap Malika.
"Oh, okey..kalo gitu lo hati-hati ya pulangnya." balas Sofie sambil melambaikan tangannya ke arah Malika yang diikuti oleh Ratna yang juga melakukan hal yang sama.
Malika membalas lambaian tangan mereka sejenak lalu bergegas menuju ke ruang pimpinan. Lebih cepat ia menemui para Bosnya itu, lebih cepat ia bisa pulang untuk menjemput anak-anaknya di rumah Rima.
Ia terpaksa masih menitipkan si kembar di sana karena belum ada kabar dari mboknya Satria di kampung halaman yang katanya akan membantu mencarikan asisten rumah tangga untuk Malika.
Malika baru akan mengetuk pintu ruang Pimpinan begitu ia sampai di sana ketika tiba-tiba pintu itu malah terbuka dari dalam. Wanita muda itu nampak kaget, namun lebih kaget lagi begitu tahu bahwa Chef Taki sendiri yang membuka pintunya.
"Malika!!! Ternyata benar kamu." ujar Taki nampak lega. "Kamu mau ketemu saya?" tebaknya kepedean.
"Iya, Pak! Kok bapak tahu kalau saya di depan sini?" balas Malika bingung. Ia mendadak gugup dengan keberadaan Taki yang tiba-tiba di hadapannya.
"Saya tahu karena dengar suara langkah kaki kamu dari dalam." jawab Taki polos.
Malika terdiam. Ia merasa bingung campur heran. Tapi kemudian segera ditepisnya pikiran aneh itu dari kepalanya, sebab ada yang lebih penting, "Ada yang mau saya omongkan dengan Pak Zacky dan Chef Taki juga." balas Malika.
"Masuklah dulu! Zacky masih diluar, biar saya suruh dia ke sini!" sahut Taki yang langsung mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai mengirim pesan ke Zacky.
📮TAKI SAHARA
Dicariin Malika di kantor, ada yang mau dia omongin katanya. Buruan balik!!!
📩ZACKY NUGROHO
Oki doki 👍
"Zacky segera ke sini, kamu duduk saja dulu!"
Taki mempersilahkan Malika duduk sementara dirinya memilih tetap berdiri sambil bersandar pada tepian meja kerjanya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sembari terus memandangi Malika dari tempatnya.
Malika yang merasakan Taki menatapnya tanpa berkedip merasa sangat nervous. Ia menunduk demi menghindari bertemu pandang dengan pria tampan blasteran yang tidak pernah gagal membuatnya deg-degan.
Haduuhh, Pak Zacky buruan dateng dong! Bisa jantungan nih gue lama-lama berduaan sama Pak Taki yang ganas begini. Jerit Malika dalam hati.
Untungnya kali ini harapannya segera terkabul, karena Zacky langsung muncul tak lama kemudian.
"Jadi, apa yang mau kamu omongin ke kami, Malika?" tanya Zacky setelah duduk di hadapan Malika. Sementara Taki tetap berdiri di tempatnya di belakang sofa yang diduduki Zacky dan tetap menatap lurus ke arah Malika.
Merasa tak ingin lagi membuang waktu, dan harus segera kabur dari tatapan Taki, Malika dengan gamblang meminta izin kepada kedua atasannya itu untuk diperbolehkan tetap berjualan online di luar jam kerjanya di PANKEKI BAKERY.
"Sebenarnya di surat perjanjian kontrak kerja kemarin memang tidak ada larangan untuk kamu terus berjualan online sih, jadi saya rasa tidak apa-apa. Bagaimana dengan Chef Taki?" Zacky meminta pendapat bosnya itu.
"Dengan syarat, kamu tidak boleh berjualan cake yang memakai resep milik PANKEKI karena semua resep di sini sudah di patenkan!" ujar Taki dengan nada serius.
Meskipun bernada serius, tapi Taki hanya bermaksud mengingatkan sebab sebenarnya ia sendiri sama sekali tidak keberatan jika Malika tetap berjualan online di luar jam kerjanya. Mengingat alasan yang dikemukakan oleh Malika membuat Taki dan Zacky tidak bisa tidak mengizinkan wanita itu untuk terus melayani permintaan pelanggannya sendiri.
"Saya mengerti, Pak! Saya tahu konsekuensinya mengkomersilakan secara diam-diam sesuatu yang telah dipatenkan. Lagipula, dari segi harga jual saya, saya hanya mampu memakai bahan-bahan dengan kualitas menengah, tentunya jauh berbeda bila dibandingkan dengan bahan-bahan premium yang dipakai di PANKEKI!" jelas Malika dengan tak kalah tegasnya.
Taki mengangguk setuju, ia sependapat dengan ucapan Malika barusan. Dan tampaknya Zacky pun memiliki pendapat yang sama dengannya. Alasan yang masuk akal itulah yang akhirnya membuat Taki mengizinkan Malika meneruskan jualannya.
Lagi pula dengan tersitanya sebagian besar waktu Malika untuk bekerja di PANKEKI BAKERY, maka bisa dipastikan wanita itu hanya bisa menerima orderan setidaknya seminggu sekali ketika hari liburnya saja.
Gue udah ngerasa kalau Malika tipe yang pekerja keras, tapi gue enggak nyangka kalau dia bisa segigih ini. Semoga dia enggak memaksakan diri dan mengorbankan kesehatannya aja. Batin Taki khawatir.
.
.
.
To Be Continue...