Ini squel dari novel : only you, my possessive husband dan the dark side of love. Anak anak mereka.
Hidup Adelion Zildzyan Febriano, dan kembarannya Anindhita cheisya Febriano berubah drastis ketika mengenal sosok Alula Carletta. Gadis cantik dengan segudang misteri.
Pertemuannya yang tidak sengaja dengan Alula membuat Adelion jatuh cinta. Namun, justru menyeret saudara kembar itu dalam kubangan teka-teki yang amat rumit dan membawa keluarga mereka dalam bahaya.
Siapakah Alula?
Mampukah Delion dan Dhita menyatukan kepingan puzzle itu, dan mengungkap jati diri Alula?
Ikuti kisahnya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbayang
Awan gelap diiringi guyuran hujan mewarnai kota Jakarta malam itu, untungnya Adelion dan Anindita sudah pulang dari kedai kopi milik Alula sejak sore tadi. Kalau tidak, mungkin mereka sudah basah kuyup kehujanan. Karena mereka naik motor, bukan mobil.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Anindita masih terbayang sama percakapan antara abangnya dengan Alula. Ia penasaran banget, tapi abangnya gak mau ngasih tau. Kan ngeselin.
Dari yang ia lihat, abangnya seperti ada sesuatu dengan Alula. Seperti ada perasaan gitu. Cara abangnya menatap Alula, dan cara bicaranya yang sopan membuat Anindita yakin kalo abangnya punya rasa sama Alula. Yakin banget. Soalnya abangnya jarang bersosialisasi sama manusia di sekitarnya, terlebih sama makhluk berjenis perempuan. Paling anti! Kecuali dirinya, bunda Kanaya, Oma Nita dan aunty Davina. Selebihnya di anggap gak ada.
Tapi Alula. Dia perempuan asing pertama, yang perlakukan selayaknya manusia sama Adelion. Bahkan abangnya gak malu buat minta maaf di depan umum. Padahal mah sebelumnya gak pernah begitu.
Aneh bukan?
Untung tadi Anindita sempat dengar obrolan Alula sama kak Juna, soal Nina. Sepertinya Alula lagi ada masalah dan butuh bantuan. Mending ia coba pancing abangnya buat cerita, dengan barter informasi soal Alula. Siapa tau abangnya nyerah.
Setelah lama menimang-nimang sambil menatap langit langit kamarnya. Anindita pun bangkit dari tempat ternyamannya. Dan keluar dari kamar.
Kira kira berita apa yang perlu ia tambahkan, supaya abangnya terpancing?
Anindita ketawa sendiri dengan pikirannya, sambil berjalan ke kamar Adelion.
Memang sifat manusia sudah dari sananya begitu, berita yang dia dengar apa sampe ke orang lain berbeda. Ibarat kata nih, kita denger ubi, sampe ke orang lain jadi kolak.
Kebangetan.
Baru aja Anindita berniat mengetuk pintu kamar Adelion, tapi seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Anindita terkejut dan reflek menoleh.
"Bang Acen! ngangetin banget ihh" Anindita menggerutu. Soalnya ini sudah malem, takutnya hantu.
Si pelaku senyum tanpa dosa sambil berkata, "kaya manusia aja kamu, bisa kaget."
Anindita melipat kedua tangannya sambil mendengus, "Emangnya aku buka manusia?!"
"Bukan" Arsen ikut melipat kedua tangannya, sambil mencondongkan wajah ke Anindita. "Kamu itu bidadari, bidadari pencabut nyawa. Hahaha"
"Bang acen!!" Anindita mengejar Arsen sampai masuk ke dalam kamar Adelion. Berlari mengitari cowo berambut gondrong yang tengah duduk di kursi meja belajar itu.
"Ehh ehh, apa apaan ini." Adelion bingung bercampur kaget, tubuhnya ikut berputar di kursi, dengan dua manusia rusuh yang mengitarinya.
"Bang Acen jahat, masa aku di bilang bidadari pencabut nyawa. Kan nyebelin. Emangnya muka aku horor apa?" Adunya pada sang Abang. Adelion pun menoleh pada cowo berambut keriting di samping kanannya tanpa suara.
"Cuma becanda yaelah." tutur Arsen menjelaskan, dia takut sama tatapan Adelion yang mulai bangkit dari kursinya.
Meski di dalam keluarga dia lah yang lebih tua, tapi usianya tetaplah di bawah Adelion. Cowo dingin dengan aura horor percis seperti uncle Ray.
Adelion menarik sedikit kerah baju Arsen, lalu menepuknya beberapa kali. Bikin Arsen ketar ketir.
"Dia buka bidadari pencabut nyawa, tapi Nenek gayung. Hahaha" Adelion tertawa sambil merangkul bahu Arsen. Cowo itu pun ikut ketawa.
Anindita makin kesal.
"Ayaaahhhh, bang Acen sama bang lion minta di sunat lagi." Teriak Anindita memanggil ayah Ray, hanya dia satu satunya pria yang paling ditakutin. Dan Anindita adalah putri kesayangan keluarga Febriano.
***
Nina meringkuk di atas ranjang empuk serba putih bersama cewe cewe lainnya di ruangan yang sama. Sebagian sudah tertidur pulas, sementara dirinya dan dua cewe yang ikut pemeriksaan tadi masih setia terjaga.
Bayangan di ruang pemeriksaan rahasia itu masih melekat di ingatan Nina, membuatnya tidak bisa memejamkan mata, meski tubuh dan matanya terasa lelah. Rasa perih, malu, takut dan trauma menyatu menjadi satu, bak bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Nina merasa di lecehkan, itu yang ada di kepalanya.
Dia di paksa membuka seluruh pakaiannya di depan tiga pria menyeramkan yang ada di ruangan itu. Kemudian di paksa berbaring di atas tempat tidur dengan satu pria yang memakai sarung tangan medis di depannya. Dua pria memegangi tangan dan kakinya agar tidak melarikan diri, sementara satu pria berpakaian serba putih ala dokter mulai menggerayanginya dengan alat medis.
Nina tidak bisa berbuat apa apa selain menangis dan teriak, tapi justru membuatnya semakin di paksa dengan kasar. Dan mereka membekap mulutnya.
Semua bagian tubuhnya di periksa, mulai dari kepala hingga kaki secara mendetail. Di mulai bagian organ vitalnya seperti jantung, hati, paru paru juga ginjalnya. Lalu juga kulit serta kuku dan rambut. Setelah dinyatakan baik dan sehat. Selanjutnya dokter itu mulai beralih pemeriksaan, tangan pria itu menyentuh dadanya dengan sedikit menekan, kemudian berlanjut menggerayangi di bagian lipatan ketiak, juga lipatan s*langkang*n. Sampai di nyatakan tidak ada benjolan kelenjar, atau gejala kanker juga tumor.
Sungguh menjijikkan.
Dan yang paling menyakitkan hati Nina sampai rasanya ingin mati saja. Ketika dokter itu melebarkan pahanya dengan mata yang mengarah ke satu titik, lalu memasukkan alat ke bagian intimnya. Kemudian pria berpakaian dokter menggerakkan benda itu perlahan sampai masuk ke bagian dalam, sambil menatap ke arah layar monitor.
"Enggak mau!!! Nina mau mati aja" cewe itu histeris sambil menutup telinganya. Membangun kan cewe cewe lain yang sedang tertidur pulas. Mereka semua langsung berlari mendekat ke arah Nina yang meringkuk ketakutan sambil meraung.
"Hei, tenang." Satu cewe berkacamata menepuk bahu Nina, tapi Nina malah mendorongnya sampe jatuh.
"Pergi!!" Nina makin histeris sambil menangis sejadi jadinya.
Mereka semua bingung, juga kasihan, tapi tidak bisa membantu apa apa. Mereka juga pernah berada di posisi Nina saat itu.
Brak! Suara pintu yang di buka dengan keras.
"Balik ke tempat kalian masing-masing!!" Bentak seorang pria dengan senjata api di tangannya.
Seketika mereka langsung bubar dan kembali ke tempat masing masing. Tapi masih mengintip dari balik selimut putih.
Tanpa banyak bicara, pria itu membalik tubuh Nina dan menindihnya.
"Pergi!! Bajingan, iblis, biadab!!" Maki Nina begitu melihat siapa yang menindih tubuhnya. "Bunuh aja, bunuh sekalian!! Aku mau mati!"
Pria itu menjauhkan pistol dari wajah Nina, memasukan ke dalam saku sambil berucap. "Lo boleh mati, tapi nanti"
Cuihhh. Nina meludah tepat megenai wajah pria itu. Dan langsung di balas tamparan keras di wajah Nina. Kemudian tubuh Nina mulai melemas tak lagi bergerak, dia pingsan.
Kesempatan itu langsung di manfaatkan oleh si pria untuk menyuntikan obat penenang, agar Nina tidak histeris lagi seperti tadi.
Setelah selesai, pria itu turun dari atas tubuh Nina. Membenarkan posisi tidur cewe itu, lalu menyelimuti nya.
"Jangan ada yang berisik atau bertingkah, kalo kalian gak mau di kasarin atau jadi makanan singa." Ucap pria itu sambil berjalan ke luar.
Tak ada yang berani membantah, semua diam menurut. Sampai mereka menemukan cara untuk melarikan diri dari tempat terkutuk itu.
***
Pagi menjelang, namun langit masih gelap setelah di guyur hujan deras semalaman. Udara terasa lebih dingin sampai menusuk tulang, membuat gadis berparas cantik yang masih tertidur di atas ranjang king size-nya makin bersembunyi di balik selimut.
"Lula, bangun sayang" suara mama Laras terdengar diiringi ketukan di pintu kamar Alula.
"Bangun sayang, ayo sarapan." Sekali lagi mama Laras memanggil, dan Lula pun menyahut.
"Iya mah, aku udah bangun."
Lula menggerayangi tempat tidurnya mencari remote, mematikan AC. Kemudian merentangkan kedua tangannya ke atas, sambil menguap.
"Hoammm"
Alula turun dari tempat tidur, berjalan malas menuju kamar mandi sambil mengikat rambut panjangnya asal.
Sepuluh menit sudah Alula berkutat di dalam kamar mandi, dan gadis itu keluar dengan handuk kimono berwarna putih di tubuhnya. Dia berjalan menuju meja rias, dan mulai mengaplikasikan pelembab di wajahnya.
Baru saja Alula mau memakai baju, tiba tiba ponsel miliknya di atas nakas berdering. Alula pun melangkahkan kakinya ke arah nakas sembari memakai dressnya.
Nama papi Bagaskara tertera disana, Alula langsung menggeser tanda hijau pada layar, mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Pi" sapa Alula setelah mengangkat panggilan.
"Papi mau bicara sama kamu, bisa kita ketemu?" Kata Bagaskara singkat.
"Bisa pi, Lula siap siap dulu." Lula langsung meletakkan ponselnya kembali ke nakas setelah Bagaskara mematikan panggilan itu. Alula segera bersiap-siap, memasukkan ponsel dan benda penting lainnya kedalam tas, lalu merapikan dressnya di depan cermin sambil memoles lip tint di bibirnya.
Alula turun menemui ibunya yang sudah menunggu di meja makan.
"Pagi ma" Alula mengecup pipi kanan mama Laras, lalu menarik kursi di samping wanita itu.
"Pagi sayang" mama Laras senyum, "kamu mau berangkat sekarang?"
Alula mengangguk dengan sepotong roti coklat di mulutnya. "Papi Bagas ngajak ketemu, nanti Lula langsung ke kampus."
Mama Laras mengangguk sembari menyesap jus di tangannya, lalu berucap. "salam buat mas Bagas ya"
"Siap ma, nanti Lula sampein." Kata Lula, bersamaan suapan roti coklat terakhir yang masuk ke mulutnya.
"Lula berangkat dulu ma" Alula bangkit dari kursi, setelah menghabiskan susu di gelasnya.
"Hati hati sayang."
"Huum" Alula menyahut sambil mengecup punggung tangan mama Laras. Dan berlalu pergi dari ruangan itu.
***
To be continued...
next chapter ada adegan ++ ya😂😂, siapin air minum sama cemilan, biar gak lemes ..
takut rindu🤭🤣🤣🤣
jan kelamaan bang oby iklannya