Thania, seorang mahasiswi semester akhir harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya yang hampir selesai karena keluarga tengah dilanda Krisis ekonomi.
Thania terpaksa bekerja di sebuah tempat hiburan demi mendapat uang banyak untuk biaya kuliah nya sendiri.
Akankah perjalanan Thania mulus tanpa hambatan? atau malah akan membuat Thania menyesal seumur hidup?
Ikuti kelanjutan nya yahh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uni Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khilaf
Setelah menyelesaikan urusan Thania di kampus, Bara membawa Thania ke kantornya. Bara tidak banyak bicara selama menunggu Thania berkonsultasi skripsi bersama dosennya. Beberapa diantara dosen yang mengenal Bara hanya menyapanya, karena mereka tau, jika Bara sosok tidak banyak bicara dan terlihat serius.
"Kita mau kemana mas?" tanya Thania saat mereka berada didalam mobil
"Kekantor" jawab bara singkat
"Aku ingin pulang mas, kita belum membereskan pakaian kita untuk mudik"" ucap Thania
"Nanti saja, aku hanya sebentar ke kantor" jawab Bara dan setelah itu Thania tidak bicara lagi.
Bara terus menjalankan mobilnya menuju ke kantornya, sementara Thania hanya diam dan menatap ke samping kaca mobil Bara. Tapi sesekali Bara melirik kearah Thania, menatapnya dengan diam dan sibuk dengan fikiran nya sendiri.
Beberapa menit kemudian,,,
Bara dan Thania sudah sampai di kantor, keduanya berjalan masuk kedalam dan menuju ke lift VIP. Thania melihat semua karyawan yang melihat kedatangan Bara tertunduk patuh memberi hormat, tidak ada yang berani mengangkat kepala sebelum Bara melintas.
Keduanya masuk kedalam lift dan Thania lebih memilih untuk sedikit menjauh dibelakang Bara. Thania terlihat sangat takut, selain Bara hanya diam, wajahnya memerah seperti sedang memendam kemarahan.
Ting!
Pintu lift terbuka, Bara dan Thania keluar dari lift disambut oleh seorang wanita cantik dan terlihat seksi, sempat Thania syok, namun sedetik kemudian dia biasa saja. Dia sering melihat wanita-wanita seperti itu di tempat dia kerja waktu itu.
"Selamat pagi tuan" Sapa wanita itu dengan suara mendayu, bahkan Thania merasa geli mendengar suaranya seperti menggoda pria saja
Bara tidak menjawab dan langsung masuk kedalam ruangannya.
"Oh Ya Allah,,, suamiku benar-benar seperti gunung es! bahkan semua orang menyapanya,dia hanya dia,,," batin Thania belum selesai bicara, Bara sudah membuatnya jantungan dadakan
Bara berbalik Badan dan kini mengunci Thania di balik pintu ruangannya yang tertutup, Tatapannya sangat tajam menusuk bahkan Thania tidak sanggup menatap mata elang itu memporak porandakan semua pikirannya
"Mas,,, ada apa?" Tanya Thania semakin gugup
"Aku gak suka kamu diam dan lemah ketika orang-orang menginjak injak harga dirimu!" ucap Bara
"Aku,,, aku tidak ingin membuat masalah di kampus mas,, biarlah orang beranggapan buruk terhadapku" jawab Thania
"Tapi mereka sudah keterlaluan menghinamu Nia!" Ucap Bara
"Sebentar lagi aku lulus mas,,, aku,,,," Belum selesai Thania bicara Bara sudah menyalurkan kehangatan tiada Tara keseluruhan jiwa dan raga istrinya. Thania melemah, bahkan dia sudah tidak kuat lagi menopang dirinya sendiri hingga Bara merengkuhnya dengan sangat erat.
Bruuuukkkkkkkkkkkkkkk
Keduanya terjatuh di sofa tanpa saling melepas, Keduanya saling berbagi rasa manis, bahkan rasanya hati keduanya menghangat, menggelitik hingga terasa bunga-bunga bermekaran keluar dari hati masing-masing.
"Tidak!! ini tidak boleh berlanjut!! dia,, dia akan tau kebenarannya!" Batin Thania berontak
"Tapi ini sangat manis,,, aku ingin lagi,,,, lebih lagi,,,," batin Thania saat terhanyut
"Aku harus menghentikan semuanya sebelum mas Bara tau yang sebenarnya!" Batin Thania menyadarkan dirinya
"M,,,as,,, cukup,,, please!!" ucap Thania dengan nafas tersengal saat merasakan sentuhan Bara membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya.
Bara seakan tuli, dan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Thania. Thania sangat takut jika Bara kebablasan dan mengetahui semua kebenarannya. Buru-buru Thania mendorong Bara yang tengah meneguk manisnya lembah pegunungan yang segar
"Kenapa!" tanya Bara dengan wajah tidak suka
"Ini di kantor mas!" ucap Thania mencari alasan
"Tidak akan ada yang berani masuk sebelum aku menyuruh mereka masuk!" Sarkas Bara
Thania segera mencari alasan lain agar Bara mau melepaskannya.
"Katanya gak mau sentuh aku! tapi apa ini?!" Tanya Thania sengaja membuat Bara kesal
Bara menunduk dan melihat betapa berantakannya Thania saat itu, Bara baru tersadar dengan apa yang sudah dilakukan pada Thania. Rasa khilaf langsung menyerang Bara meski hanya sekali saja menyentuh Thania. Buru-buru Bara duduk dan membiarkan Thania bangun dari posisi sebelumnya. Bara memalingkan wajah sementara Thania sibuk membenarkan pakaiannya
"Kau membuatku Khilaf!" Sarkas Bara tanpa menoleh kearah Thania
"Aku tidak menggoda mu mas!" sungut Thania
Bara memaki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan gejolak prianya yang begitu mudah merasukinya saat berdekatan dengan Thania. Rasanya seperti tertarik magnet, bara menjadi kecanduan untuk menghabiskan madu yang terasa begitu manis milik Thania.
"Khilaf kok keterusan! itu bukan khilaf tapi niat!" Sindir Thania
"Sudah jangan banyak bicara! pokoknya mas gak suka kamu lemah didepan orang lain!!" ucap Bara yang kemudian beranjak dari sofa menuju meja kerjanya. Tidak lupa Bara membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah Thania.
"Selamat,,, selamat,,,,,!! untung aku masih bisa kabur!! kalau tidak tamat riwayatku jika mas Bara tau aku masih perawan!! melihat dia marah dengan Verra dan teman-teman nya saja aku sudah takut, apalagi sampai dia tau kenyataan sebenarnya, bisa-bisa aku bakal di cincang dan jadi santapan ikan di laut!! iihh ngeriii!" ucap Thania bergidik.
Sesekali Bara melirik kearah Thania dan melihat dia seperti bicara sendiri,
"Dia selalu bicara sendiri! dasar aneh!" ucap Bara
Thania tidak ingin diam saja dan jenuh menunggu Bara, kemudian dia mengambil ponsel dan menyalakannya. Thania membuka salah satu aplikasi pesan yang sering digunakannya, sempat Thania melihat kontak Aryo, beberapa waktu lalu Thania ingat foto profil nya masih terpasang foto tangan mereka berdua, kini yang terlihat kontak itu sudah tidak ada lagi foto apapun, kosong dan sepertinya Kontak Thania di blokir oleh Aryo.
"Aku masih tidak menyangka jika nasib kita akan seperti ini. Aku putus denganmu, tapi sekarang aku malah jadi kakak iparmu! Sungguh sepertinya takdir mempermainkan hidupku! Semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari diriku Aryo!" batin Thania sesaat kemudian Thania membersihkan pesan Aryo, lalu menghapus nomer telfonnya. Thania membuka galeri ponselnya kemudian dia menghapus semua foto kenangannya bersama Aryo dulu.
"Aku sudah bersuami, maka sekarang tugasku hanya berbakti pada suamiku! Meski jujur aku belum mencintai nya, dan mungkin dia juga tidak mencintaiku, tapi aku berjanji akan meluluhkan gunung es itu!" ucap Thania sekilas menatap kearah Bara yang tengah sibuk mengurus laporan yang ada di meja kerjanya
Setelah cukup lama berfikir sendiri, tanpa terasa Thania tertidur di sofa dengan masih memegang ponselnya.
"Dia sudah tidur?" ucap Bara saat menghampiri Thania, niat awal ingin mengajaknya pulang, namun melihat Thania tertidur membuat Bara tidak tega membangunkannya. Lalu Bara mengambil ponselnya dan menggendong Thania keruang pribadinya.
Perlahan Bara menurunkan Thania di tempat tidur, lalu dia menarik selimut hingga sebatas pinggang Thania. Sejenak Bara menatap wajah damai Thania, Perlahan Bara menyentuh wajahnya, mengusapnya lembut hingga ke kelopak mawar merah yang begitu ingin di lahapnya.
Menyentuh saja tidaklah cukup, hingga membuat Bara memberanikan diri sedikit menyesap manisnya, mumpung yang punya tengah tertidur pulas. Seulas senyum terbit setelah Bara melepaskan istrinya
"Kenapa aku jadi kecanduan ?!" ucap bara saat menatap kelopak mawar yang baru saja di rasakan nya
Tidak ingin Thania tau, Bara segera beranjak dan pergi meninggalkan Thania yang masih tidur di dalam sana. Kemudian Bara mengambil ponsel dan menghubungi kedua mertuanya.
.
.
.
.
Bersambung,,,
gila nggak sih 😂