Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkunci Dari Luar
Hari gajian adalah hari yang paling dinantikan setiap karyawan perusahaan dimanapun mereka bekerja. Tidak semua perusahaan memberikan uang gaji karyawannya dalam bentuk tunai, sebagian besar langsung mengirim ke rekening pribadi karyawannya.
Bella tersenyum sumringah saat menerima notifikasi pesan di ponselnya kalau uang gajinya sudah masuk ke dalam rekening pribadinya. Bella semakin senang saat pihak HRD memberinya uang tip tambahan dalam amplop coklat yang kemudian diketahuinya adalah titipan dari seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Alhamdulillah." Bella mendekap amplop di dada. "Sebenarnya tadi mau nanya ini uang dari siapa, tapi ya sudahlah. Rezeki, mana boleh ditolak," gumam Bella. Ia kembali tersenyum saat melihat amplop yang ia pegang, kemudian memasukannya ke dalam saku celana.
Bella lalu berjalan menuju pantry, melanjutkan pekerjaannya kembali. Seperti biasa ia mengambil sapu dan lap pel. Bella melangkah menuju kamar mandi karyawan yang berada di lantai satu. Setelah selesai membersihkan ia berjalan keluar dari gedung perusahaan lalu duduk bersandar di tembok pinggir perkantoran.
Bella kemudian mengeluarkan amplop dari saku celana panjangnya, membuka dan mulai menghitung uang tip yang diterimanya.
"Wah, wah, wah, wah. Ini sih lumayan banyak." Bella melototkan matanya, mulutnya terbuka lebar saat tahu jumlah uang yang ia terima.
"Kalau buat tambahan biaya tes DNA, sepertinya bakalan lebih dari cukup." Bella tersenyum mengembang dan memutuskan untuk secepatnya membawa Dimas ke Rumah sakit.
"Bella!" panggil seseorang mengejutkan Bella. Puput datang dengan wajah memerah, menatap horor padanya. Sontak Bella berdiri dan dengan tergesa memasukkan kembali amplop ke dalam saku celananya.
"Kamu dicari-cari dari tadi malah enak-enakan duduk di sini," kata Puput ngos-ngosan, kelelahan karena sudah mencari Bella kemana-mana. "Ayo kita ke lantai empat, katanya di sana ada yang membutuhkan bantuan kita," katanya lagi sambil menarik tangan Bella untuk mengikutinya.
Mereka pun tiba di lantai empat, dan langsung menuju ruangan yang ditunjukkan salah satu karyawan di sana. Saat memasuki ruangan itu, Bella dan Puput syok melihat ruangan yang berantakan seperti kapal pecah.
"Ini gara-gara ada gempa atau sudah ada pergulatan sumo," celetuk Puput menggelengkan kepala melihat vas bunga pecah berserakan di lantai, kursi yang sudah patah, gelas bekas kopi yang sudah kosong dan beberapa barang lainnya berserakan di lantai.
"Sepertinya sudah ada perang dunia ke lima. Ha, ha, ha, ha." Sahut Bella dengan tawa seperti bajak laut.
"Iiihhh." Puput merinding mendengar tawa Bella. "Cus ah, biar cepet beres."
"Hahahaha." Bella tertawa lepas melihat ekspresi Puput.
Satu jam cukup bagi Bella dan Puput untuk membereskan ruangan tersebut. Mereka pun duduk sejenak untuk beristirahat. Tidak lama kemudian jam pulang pun tiba. Puput bergegas pamit pada Bella karena sudah ada yang menunggunya di depan gerbang sana. Sementara Bella dia belum sempat mengambil kursi baru untuk mengganti kursi yang rusak tadi.
Bella berjalan cepat menuju gudang kantor, membuka pintu lalu masuk ke dalam gudang untuk mengambil kursi baru. Saat hendak membuka pintu tiba-tiba saja pintu gudang tidak bisa ia buka.
"Lah, kok enggak bisa di buka?"
Bella mencoba menarik gagang pintu supaya terbuka namun hasilnya nihil, pintu itu sepertinya terkunci dari luar.
"Hallo, apa ada orang di luar sana, tolong saya, saya enggak bisa keluar!!" teriak Bella sambil menggedor pintu, namun tidak terdengar sahutan dari luar sana.
Bella mencoba membuka pintu sambil terus berteriak, berharap seseorang bisa mendengarnya dari luar.
Hampir setengah jam Bella mencoba, ia mulai kelelahan dan terduduk bersandar di pintu, tas dan Handphone miliknya masih berada di ruangan tadi.
Bagaimana ini, Bibi pasti khawatir dan Dimas? semoga aja dia tidak rewel. Dan semoga aja ada seseorang yang datang ke sini membukakan pintu," gumamnya, Bella menghela napas panjang mencoba untuk menenangkan pikirannya.
Tiba-tiba lampu dalam ruangan mati, Bella gelagapan mencoba berdiri. Tangannya bergerak meraba sekelilingnya.
"Ya Tuhan, lindungi hamba-Mu ini."
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja