"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Tragedi Bolos Sekolah
"Awas lo ngintip!" Chilla mengingatkan, seusai melepas sepatu.
"Ssstt..." desis Arnas yang tengah berjongkok. Matanya waspada memandang ke kiri dan kanan. "Jangan teriak-teriak, pinter."
Susah ternyata mengajak seorang noob bolos. Membuatnya deg-degan. Belum lagi ia harus membiarkan pundaknya jadi pijakan Chilla yang beratnya tak main-main. Banyak dosa memang gadis satu itu.
"Lagian sudi amat gue ngintipin lo," Arnas membela diri. "Gak nafsu. Badan kayak kue gak ngembang gini."
"Aw!" keluh Arnas tertahan. Ia menggosok keningnya yang terantuk dinding. Tak salah lagi Chilla pasti secara sengaja menendang kepalanya. "Kepala gue...." desisnya, menahan emosi.
"Sorry-sorry. Gue kira tahu bulat jatoh. Kopong banget kayaknya," ujar Chilla tanpa terdengar bersalah sama sekali.
Secara mendadak dan serampangan Arnas berdiri. Membuat Chilla oleng untuk sejenak. Namun tampaknya gadis itu berhasil menyeimbangkan diri.
"Gila ya lo, gak mikir banget," protes Chilla dalam bisikan. "Bisa gegar otak gue kalo jatoh."
"Sorry-sorry. Tengkorak gue kopong, gak ada isinya, kayak tahu bulat," ucap Arnas enteng.
Chilla diam. Arnas bersyukur untuk itu. Keheningan Chilla membuat acara bolos ini jadi lebih mudah. Tahu-tahu mereka sudah berada di luar tembok sekolah, menikmati udara kebebasan.
"Lo mau ke mana?" tanya Arnas pada Chilla yang tengah mengenakan sepatunya.
Chilla menengadah, memasang ekspresi heran. "Gue kira kita bakal pergi bareng."
"Kita?" tanya Arnas dengan nada mengejek.
Chilla berdiri. Mengangguk menghadapi Arnas.
"Gue gak suka kata 'kita' itu," Arnas berucap. Mengeratkan tali ranselnya. "Jadi lo-gue pergi sendiri-sendiri."
Arnas berbalik, mengambil arah yang berlawanan dengan Chilla. Sudah untung ia mau membantu gadis itu bolos. Itu saja ia sudah berberat hati sekali. Ini lagi mau pergi bersama, yang benar saja.
"Ar... Ar..." rengek Chilla. Ditangkapnya satu satu lengan Arnas, kemudian ditarik-tariknya.
Arnas berhenti melangkah. "Apa lagi?" tanyanya malas.
"Tanggung jawab dong lo!"
"Tanggung jawab apaan?" Ia mengernyit. Menoleh ke sana kemari. Memastikan tidak ada orang dalam jarak dengar. Ia khawatir akan ada yang salah paham. Kan kacau bila ada yang berpikir bukan-bukan.
"Kan lo yang punya ide buat gue bolos, jadi lo harus tanggung jawab ngajak gue pergi ke mana pun lo pergi."
Arnas menatap wajah cemas Chilla. Beginilah bila seseorang tak pernah 'diliarkan', menempel terus pada ekor kakaknya. Dibiarkan sendiri di tengah peradaban sudah seperti ditinggal sendiri di tengah hutan. Ia jadi kasihan melihatnya.
"Lo gak bakal suka ikut gue."
Chilla berhenti menarik tangan Arnas. Wajah menyedihkannya pun hilang.
"Ke mana?"
"Main futsal. Lo pasti bosen. Cewek biasanya—"
"Gue ikut," putus Chilla.
Alis Arnas terangkat sangsi. Para gadis biasanya tak suka menonton futsal. Membosankan menurut mereka.
"Tapi abis itu ke tempat lain lagi. Tempat yang gue suka." Mata Chilla berbinar penuh pengharapan.
Melihat ekspresi Chilla, Arnas merasa bukalah hal yang bagus tempat pilihan Chilla itu. Maka ia bertanya, "Di mana tempat yang lo suka?"
ΔΔΔ
"Di sini tempat favorit gue." Chilla tersenyum cerah. Akhirnya kebosanannya menunggu Arnas bermain futsal selama dua jam terbayar tuntas. Ia sama sekali tak paham kenapa para laki-laki hobi sekali berolah raga, padahal gibah, rebah, dan memamah jauh lebih menyenangkan.
Ia menoleh pada Arnas, mendapatinya sedikit melongo.
"Ini..." Arnas mengernyit, nampak menimbang pilihan kata yang tepat, "agak unpredictable."
"Kenapa memangnya?" tanya Chilla. Ia mulai melangkah mendekati gerobak bakso mercon yang sejak awal menguarkan aroma menggoda iman.
"Gue kira lo tadi mau ngajak ke mal, sekurang-kurangnya," balas Arnas, di sisinya.
Memang benar Chilla suka mal seperti yang diutarakan Arnas. Tapi ia lebih suka jalanan yang penuh pedagang kaki lima dan asongan seperti ini. Rasanya menyenangkan sekali pindah dari satu gerobak ke gerobak lain yang jaraknya berdekatan sambil mengunyah sesuatu kemudian mencari tempat untuk lesehan. Ia jatuh cinta pada tempat ini sejak Kak Largha pertama kali mengajaknya ke sini dulu sekali. Dan sudah lama mereka tak pergi ke sini karena Kak Largha yang sangat sibuk semenjak berada di tingkat akhir SMA-nya.
"Tempat kayak gini agak gak cocok sama citra lo," tambah Arnas.
"Citra gue?" Chilla mengernyit.
Chilla pun kembali berujar, bukan pada Arnas melainkan abang penjual bakso mercon yang tengah sibuk melayani pelanggannya yang membeludak. "Sepuluh ribu ya, Bang."
"Siap, neng," ujar si Abang otomatis, tanpa atensi.
"Cewek cantik, manja, setengah bule yang punya rumah paling bagus sekomplek perumahan," jawab Arnas.
Terkekeh Chilla. "Cantik, nih?" tanyanya menggoda.
"Apa?" Arnas bingung.
"Lo tadi bilang, cewek cantik, manja, setengah bule yang punya rumah paling bagus sekomplek perumahan."
"Mana ada! Gue tadi bilang, cewek can..."
Alis Chilla terangkat, senyumnya terbentang kian lebar.
"Lidah gue keserimpet," ujar Arnas, sok cuek. Padahal Chilla bisa melihat rona kemerahan mewarnai telinga laki-laki itu.
"Keserimpet..." Ia mengangguk-angguk.
Arnas mendorong pipi Chilla. "Muka lo ngeselin." Kemudian ia memandang ke arah lain.
Chilla merapat ke sisi Arnas ketika serombongan orang mendekat ke arah gerobak bakso. Ia pun berjinjit ke arah telinga laki-laki itu.
"Lo gemes banget sih kalo lagi malu gitu, sampe merah telinganya," bisiknya. Ternyata menyenangkan menggoda Arnas begini
"Apaan sih lo!"
Arnas hendak menjauh, tapi Chilla menahan lengannya dengan sigap.
"Jangan kabur ya, Ar!"
Arnas menarik tangannya. "Gak usah pegang-pegang bisa? Bukan muhrim."
"Dih." Geli sekali Chilla mendengar Arnas.
"Lagian lo kok sering banget pegang-pegang gue, sih? Merasa gak suci gue..."
Mengabaikan Arnas yang melantur, Chilla mengambil pesanannya dan membayarkan sejumlah uang. Arnas mengoceh begitu hanya untuk menutupi rasa malunya. Yang Chilla sendiri tak mengerti adalah kenapa harus malu jika yang diucapkan adalah sebuah fakta. Arnas memang aneh.
Chilla mengait salah satu tali ransel Arnas dan menyimpannya di lipatan lengan, membuat laki-laki itu tersentak sejenak sebelum mulai protes.
"Apa-apaan sih lo, Chill?!"
"Katanya gak boleh megang lo," Chilla beralasan. Ia menarik Arnas melangkah mengikutinya.
"Tapi gak gini juga Chilla?! Malu-ma—"
Plup!
Chilla menjejalkan tiga buah bakso sekaligus ke mulut Arnas yang lengah. Kemudian ia merapatkan mulut laki-laki itu sebelum menarik keluar tusukan baksonya. Dan cara itu benar-benar ampuh membuat Arnas bungkam.
"Enak, kan?" tanya Chilla santai. Ia pun mulai nenikmati makanan yang sesuai dugaannya, sama sekali tak mengecewakan.
Butuh beberapa waktu sebelum Arnas kembali berkuak. Membuat Chilla gatal ingin membungkam bacot manusia satu itu.
"Bisa gak sih lo lebih sopan sama gue? Gue ini orang yang bantuin lo, yang rela diekori dan mengekori lo hari ini. Yang herannya gue mau-mau aja. Jadi tolonglah hargai usaha gue bersikap baik hari ini, oke?"
"Gue mau itu!" Chilla menunjuk penjual permen kapas warna-warni, membuat Arnas mendesah lelah dan membiarkan dirinya dihela pergi.
Chilla tertawa dalam hati melihat tampang masam dan pasrah Arnas. Ia tak tahu mengapa laki-laki itu jadi kurang agresif sekarang. Apa mungkin karena tenaganya habis setelah dua jam menendang bola ke sana kemari seperti pecundang menyedihkan? Mungkin saja.
Lagipula ia tak paham kenapa Arnas bermain futsal saat tak ada seorang teman pun yang bisa diajak bermain. Seharusnya kan laki-laki itu memboyong seabrek teman-temannya yang mengalahkan jumlah anggota boygroup NCT itu jika mau main futsal.
"Tolong pegangin dong," ujar Chilla, menjejalkan cup baksonya ke tangan Arnas, seusai membeli sebungkus permen kapas.
Arnas yang masih mengekori Chilla memegangnya ogah-ogahan.
"Nemenin lo serasa nemenin anak umur empat tahun," cibir Arnas.
"Kiyot dong gue?"
"Amit-amit."
Chilla tak memperdulikan penghinaan Arnas itu. Entahlah, rasanya hari ini mood-nya sungguh bagus. Bahkan ucapan menyebalkan Arnas sama sekali tak mengganggu. Wajah laki-laki itu yang sering membuatnya PMS dadakan saja tampak cukup manis hari ini. Perasaan riang dan ringan ini sangat mungkin ada hubungannya dengan sensasi kebebasan karena berada jauh dari jangkauan tembok-tembok pembatas kakaknya.
Chilla menggigit jajanan cantiknya yang berwarna pink. Seketika permen itu lumer saat menyentuh lidahnya, membanjiri mulutnya dengan rasa manis, kemudian menyisakan perasaan menyenangkan yang membuatnya kecanduan.
"Mau gak, Ar? Manis banget, kayak gue."
Arnas hanya mencebik.
Sekali lagi Chilla menggigit permennya. "Cobain dulu. Siapa tahu bisa ngurang-ngurangin keaseman tampang lo itu."
"Ar..." goda Chilla. "Aaaaa..." Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mendekati kapas pink yang edible itu.
Arnas lekat-lekat memperhatikan Chilla yang menggodanya. Lalu secara tak terduga menyambar permen kapas itu dalam gigitan besar. Tentu saja, pergerakan mendadak itu membuat rahang Chilla kaku, langkah santainya pun terpaku. Ia terkejut buka main. Butuh beberapa detik sebelum ia bisa mengatupkan mulutnya kembali.
"Ar!" bentak Chilla. Sebelah tangannya di depan dada. "**** ya lo! Kaget gue. Main nyosor aja."
"Kan lo yang nawarin," ujar Arnas cuek.
"Ya enggak gitu juga! Kalo sampe kena gimana coba?!"
Chilla masih mengusap-usap di bagian mana jantungnya berada. Mengingat ketika bibir Arnas nyaris tak berjarak dengan bibirnya. Sungguh, hal itu membuat lututnya lemas. Ia kira ia butuh duduk.
"Kena apa?" Untuk pertama kalinya Arnas tersenyum. Senyum yang kadar menyebalkannya melampaui rekor-rekor sebelumnya.
Chilla mendelik. Kembali ia berjalan, namun kali ini bukan langkah santai melainkan langkah tergesa.
"Gue gak bakal nyium cewek sembarangan kali," ujar Arnas, mengejar Chilla. Suaranya terdengar geli. "Gue bukan cowok mesum."
Langkah Chilla kian cepat. Menelusup di keramaian. Mencoba membentangkan jarak sejauh mungkin antara dirinya dengan Arnas.
Hap!
Lengan Chilla ditangkap. Membuat langkahnya terhenti.
"Ngapain sih lo kabur? Tadi nahan gue buat gak kabur, sekarang malah lo yang kabur."
"Lo mesum sih!"
Chilla ingin kembali mengulur jarak, namun tangan Arnas yang masih menahan lengannya membuatnya tak mampu berkutik.
"Kalo gue mesum, menurut lo gue bakal nganggurin lo di lapangan futsal yang sepi tadi. Atau waktu lo naik ke punggung gue? Enggak, kan? Udahlah jangan mikir yang enggak-enggak."
Keinginan Chilla untuk kabur luntur. Ucapan Arnas masuk akal. Saat pikirannya mulai jernih, ia jadi sadar bahwa ia tak terlalu yakin karena alasan apa ia lari. Mengira Arnas mesum atau malu karena pikirannya yang liar?
"Jadi sekarang lo mau mak—"
Chilla menoleh ketika ucapan Arnas tak selesai. Ia mendapati laki-laki itu menatap ke sebuah titik cukup jauh dimana ada segerombolan anak SMA yang punya vibe berandalan. Orang-orang asing itu juga balik menatap pada Arnas, ada ekspresi beringas yang mengerikan di wajah mereka.
"*****..."
Belum sempat Chilla bertanya ada apa, Arnas sudah lebih dulu menariknya berlari, menyelinap di sela-sela sempit yang tercipta oleh padatnya pengunjung jalanan itu. Dipenuhi tanda tanya, Chilla hanya bisa mengikuti Arnas dalam diam. Ia merasa bahwa keadaan ini terlalu urgent hanya sekedar untuk bertanya.
Ketika menoleh ke belakang betapa ngerinya Chilla menemukan bahwa orang-orang yang mengejar mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang. Ternyata tak cuma teman yang banyak, musuh Arnas pun tak kalah saing banyaknya.
"Woy berhenti lo!" Teriak salah seorang dari pengejar mereka.
"Jangan sampe dia lolos lagi!"
Teriakan dan kehebohan para berandalan itu menarik perhatian khalayak ramai, membuat mereka menonton, tampak asik tanpa ada tanda-tanda mau membantu dua orang yang tunggang-langgang dikejar.
"Mencar-mencar!" Yang paling besar di antara mereka memberi perintah.
Ketika gerombolan itu melerai diri, Arnas menarik Chilla ke tepi, bersembunyi di balik gerobak penjual es kelapa jeruk yang ramai hingga antriannya mengekor panjang.
"Kelapa jeruk, Bang," Arnas terengah-engah, tapi tak separah Chilla yang paru-parunya terasa terbakar hebat.
Si abang penjual menatap mereka kebingungan. Mungkin berpikir sedang apa dua siswa SMA berjongkok di balik gerobak dagangannya.
"Satu... Minum di sini." Arnas mengabaikan pandangan si penjual.
"Duduk dulu Mas, Neng."
"Chilla... denger..." engah Arnas. Melepaskan tangan dalam genggamannya.
Chilla mengangkat satu tangan sementara tangan yang lainnya menepuk-nepuk dadanya yang sesak.
"Tarik napas, keluarin," Arnas memberi instruksi. "Napas pelan-pelan."
"Oke?"
Chilla mengangguk. Api di dadanya sudah mulai padam.
"Dengerin gue, pesen gojek, gue bakal ngalihin perhatian mereka dan bikin mereka menjauh, supaya lo bisa pulang. Kabarin gue kalo lo udah sampa rumah, jangan sampe lupa," ujar Arnas terburu. "Gue khawatir lo sesat di jalan."
Chilla ngeri membayangkan rencana Arnas itu. Mereka lebih dari sepukuh orang dan tampak sangar, sedang Arnas seorang diri. Bahkan bila Arnas jago berkelahi, itu bukanlah perbandingan yang masuk akal.
"Kalo lo kenapa-napa gimana?" Chilla panik. Tak menyadari bahwa Arnas baru saja meremehkan kemampuan navigasinya—yang memang buruk.
"Gue bakal baik-baik aja selama lo juga baik."
"Ar..." Chilla menyangsikan keteguhan di wajah laki-laki dihadapannya.
"Gue gak jago berantem, tapi gue jago melarikan diri. Tenang aja. Gue udah pernah ngalamin ini. Gue bakal baik-baik aja, gak usah khawatir."
"Tapi mereka siapa?" Chilla menanyakan pertanyaan yang sudah ia ingin tanyakan sejak awal.
"Nanti gue ceritain. Sekarang pesen gojek, gue berangkat." Arnas beranjak.
Tangan Chilla terangkat, meraih lengan Arnas. "Arnas!" bisiknya mendesak.
Arnas terkekeh. Sama sekali tak tampak khawatir. "Tenang aja. Gue bakal baik-baik aja. Jadi pastiin lo sampe rumah dengan selamat. Karena kalo enggak, gue pasti diburu sama kakak lo yang barbar itu." Ia nyengir.
Sepeninggal Arnas, Chilla memesan gojek dengan tangan gemetar. Ia betul-betul takut Arnas terluka. Apa yang ia harus katakan pada orang tua Arnas juga pada Jonas bila yang terburuk terjadi?
Bagaimana bisa acara membolos yang tadi sangat menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi teror semacam ini?
Chilla hampir menangis bila tidak disela suara abang penjual es kelapa jeruk yang melengking kocak yang tadi tak diperhatikannya ketika melayani pesanan Arnas.
"Esnya, Neng. Mau duduk dimana?" tanyanya dengan senyum ompong.
"Bungkus aja, Bang."
Chilla melihat pergolakan batin di wajah penjual itu sebelum dia kembali memamerkan senyum ompongnya yang palsu.
"Dari tadi dong, Neng. Ini antrian masih panjang."
"Maaf, maaf."
ΔΔΔ
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh