Mutia Syakila
Seorang gadis desa yang berparas cantik dan di juluki kembang desa, ia berumur 20 tahun, mempunyai adik perempuan satu , namun orang tuanya bercerai saat ia masih SMA. sesuatu yang sangat mengharuskan jika anak perempuan pertama pasti menjadi tulang punggung keluarga, apalagi ayahnya memiliki sakit jantung.
Ia bekerja siang malam untuk menhidupi keluarga dan pengobatan ayahnya. Dan cobaannya tidak sampai disitu, karena ia bertemu dengan sorang lelaki Yaitu Rangga aditiya yang membawa cinta sekaligus luka bagi mutia
Bagaimanakah kelanjutannya, ???
#Tinggalkan jejak setelah membaca yaa para readers tercintah🤗❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terpesona
“Cepat habiskan es nya” ucap rangga sambil menari tangan mutia ke dalam butik
Mutia bingung sekaligus senang karena ia di suruh untuk mencoba beberapa baju yang menurutnya sangat bagus dan pasti sangat mahal,
Namun beberapa kali mutia mengganti rangga tetap menggelengkan kepalanya dengan dengan berbagai alasan
“bagaimana kalau yang ini?” mutia keluar dengan dress berwarna peach dengan Panjang di atas lutut dengan dada yang terbuka dan menampilkan kulit putihnya,
Rangga sempat berkali-kali mengerjapkan matanya karena melihat tubuh mutia yang seksi,
“jangan yang itu, itu terlalu terbuka”
Mutia yang mendengar itu bertambah kesal karena ia sudah Lelah mungkin sudah 10 kali ia bolak balik berganti pakaian
“astaga rangga!!!! Aku Lelah, sudahlah aku lebih baik pulang saja dan tidak mau menemanimu makan malam” ucap mutia menatap tajam rangga lalu berlalu untuk mengganti pakaian miliknya.
Rangga yang melihat mutia keluar dengan ruang ganti langsung menghampiri mutia,
“aku mau pulang!!” ketus mutia
“siapa yang mengizinkanmu pulang hah, pokonya hari ini kamu harus perawatan sampai malam nanti ” mutia yang mendengar itu membelalakan matanya,
“tidak… aku tidak mau” karena mutia membayangkan akan sangat risish menjalani perawatan dan berhias seperti ondel-ondel
“tidak ada penolakan, “ ucap rangga penuh penekanan, rangga langsung memanggil pemilik butik dan membayar semua dres yang sudah mutia coba tadi.
“ayo ikut aku” ucap rangga sambil menarik tangan mutia, mutia mengkerucutkan bibirnya, ia kesal pada rangga karena ia selalu bertindak sesuka hatinya tanpa memperdulikan mutia.
Stelah 15 menit perjalanan, mobil rangga tiba di sebuah salon milik temannya. Mutia tadinya enggan turun namun rangga memaksa gadisnya itu,
“hay ngga” sapa amel pemilik salon tersebut
“hay, ap kabar?” tanya rangga
“ah.. aku baik, bagaimana denganmu?” sambil tersenyum dan melirik mutia
“aku baik, oh ya kenalin, dia mutia tolong berikan ia perawatan terbaik untuk acara dinner”
“wahhhhhh… hay gadis manis.. perkenalkan aku amel teman rangga” ucap amel sambil mengulurkan tangannya dan tak lupa di sertai senyuman ramahnya,
“aku mutia” menyambut tangan amel sambil tersenyum manis.
“kamu harus nurut, gak boleh macem-macem” ucap rangga pada mutia
“iyah ishhh” jawab mutia sambil mencabikan bibirnya, ia masih kesal pada rangga
“oh ya mel.. aku titip dia, karna aku masih ada usrusan, nanti malam aku jemput dia kesini”
“oke… beres pokonya” ucap amel sambil jari tangannya membuat huruf O
...***************** ...
Malam pun tiba, rangga sudah memakai jas setelan , rambutnya di sisir sedemikian rupa, tak lupa ia menyemprotkan parfum khasnya, tak lupa juga ia memakai jam tangan, rangga terlihat berbeda malam ini. Ia sangat terlihat lebih tampan, setelah selesai rangga berangkat untuk menjemput mutia.
Sesampainya di salon,
Rangga langsung menghubungi amel bahwa ia sudah menunggu di depan, mutia berjalan dengan diiring oleh amel karena ia jarang menggunakan heels dan itu sungguuh membuat mutia kewalaan, karena ia berkali-kali keseleo.
Rangga yang menatap mutia dari bawah hingga atas hanya bisa mengerjampkan kedua matanya untuk meyakinkan bahwa yang sedang berjalan kearahnya adalah mutia. Rangga begitu terpesona melihat kecantikan mutia dan sampai ia tak sadar bahwa mutia sudah ada di dekatnya.
Sama halnya dengan mutia, waktu pertama kali melihat rangga, ia hanya bisa berguam sambil terus berjalan dengan hati-hati,
“astaga dia tampan sekali, lalu kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini huhhhh”