Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuburan Bunga Kaca
Sayap Selatan Kastil Blackiron adalah kerangka yang terlupakan.
Berbeda dengan Sayap Timur yang kini mulai dialiri darah kehidupan berupa uap panas di bawah lantainya, atau Sayap Utara yang menyimpan galeri wajah-wajah leluhur yang angkuh, Sayap Selatan adalah tempat di mana kastil itu sendiri tampak menyerah pada alam.
Elara berdiri di depan sebuah pintu besi ganda yang tinggi. Cat hitamnya telah mengelupas bertahun-tahun yang lalu, digantikan oleh lapisan karat berwarna oranye kemerahan yang menyerupai luka koreng pada kulit besi. Angin bersiul pelan melalui celah-celah di bawah pintu, membawa aroma tanah basah, lumut, dan sesuatu yang manis namun busuk—aroma pembusukan vegetasi.
Ini adalah pintu masuk ke Rumah Kaca Besar.
Elara menoleh ke belakang, memastikan koridor di belakangnya kosong. Tidak ada pelayan yang berani mendekati area ini. Silas pernah berkata bahwa Sayap Selatan "tidak stabil", sebuah eufemisme halus untuk mengatakan bahwa tempat ini dikutuk oleh kenangan.
Dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit tebal—persiapan yang ia ambil dari ruang berkebun yang ditinggalkan—Elara mencengkeram gagang pintu besi yang dingin itu. Ia menariknya.
Tidak bergerak.
Elara mengertakkan gigi, memosisikan kakinya untuk tumpuan yang lebih kuat, dan menarik lagi dengan seluruh berat tubuhnya.
Kriiiiieeet.
Suara engsel yang berkarat menjerit nyaring, sebuah protes panjang yang memecah kesunyian koridor batu. Pintu itu terbuka hanya selebar jengkal, cukup untuk tubuh ramping Elara menyelinap masuk.
Saat ia melangkah melewati ambang pintu, dunia berubah.
Elara menahan napas. Pemandangan di hadapannya adalah definisi dari keindahan yang tragis.
Rumah kaca itu sangat luas, berbentuk kubah raksasa dengan kerangka besi yang rumit. Di masa jayanya, tempat ini pasti merupakan istana kristal yang memukau, membiaskan cahaya matahari utara menjadi pelangi bagi tanaman-tanaman eksotis di dalamnya. Namun sekarang, tempat ini adalah sebuah reruntuhan.
Sebagian besar kaca di langit-langit kubah telah pecah. Pecahan-pecahan kaca itu berserakan di lantai tanah seperti berlian yang jatuh, berkilauan di antara tumpukan salju yang masuk melalui atap yang menganga. Salju menumpuk di atas meja-meja pot, menimbun sisa-sisa pot tanah liat yang sudah retak.
Namun, yang paling menyedihkan adalah tanaman-tanamannya.
Tanaman merambat yang dulunya mungkin mawar atau melati kini telah menjadi jalinan kayu mati yang kering dan berduri, merayap di dinding batu seperti jari-jari kerangka yang mencoba mencakar keluar. Semak-semak yang mati berdiri kaku, ranting-rantingnya hitam dan rapuh. Tidak ada warna hijau. Tidak ada warna merah. Hanya ada warna cokelat, abu-abu, dan putih.
Ini bukan taman. Ini adalah kuburan massal bagi bunga-bunga.
Elara berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang ditutupi lumut beku. Langkah kakinya terdengar renyah saat menginjak ranting kering dan pecahan kaca .
Udara di sini jauh lebih dingin daripada di luar, seolah dinding kaca ini memerangkap suhu beku dan menahannya agar tidak pergi. Elara merapatkan jubah wolnya. Ia merasa seperti sedang berjalan di dalam tulang rusuk raksasa yang sudah mati.
Ia berhenti di depan sebuah area di tengah kubah. Di sana, terdapat sebuah air mancur batu berbentuk seorang gadis yang sedang menuangkan air dari kendi. Air mancur itu kering, tentu saja. Patung gadis itu tertutup lumut, dan kendinya retak. Tapi di sekeliling air mancur itu, ada tanda-tanda perawatan yang aneh.
Tanah di sekitar air mancur itu tidak setebal area lain. Saljunya tampak pernah disingkirkan, meski sudah lama sekali. Dan di sana, tergeletak sebuah sekop kecil yang sudah berkarat separuh, ditinggalkan begitu saja di atas bangku batu.
Elara mendekati bangku itu. Ia menyentuh sekop itu. Dingin. Benda ini mungkin sudah berada di sini selama bertahun-tahun, menunggu tangan yang tak kunjung kembali.
"Mawar Musim Dingin," gumam Elara, membaca plakat logam kecil yang tertancap miring di tanah beku di dekat kaki patung. Tulisan itu diukir dengan tangan, bukan cetakan pabrik. Tulisan tangan yang indah dan feminin.
Milik Lyra.
Elara berjongkok. Ia menatap semak mawar di depannya. Batangnya hitam legam, penuh duri tajam yang panjang. Tanaman ini tampak mati total. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun.
"Kau mati bersama dia, ya?" bisik Elara.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh salah satu ranting mawar itu.
Aww.
Duri tajam menembus sarung tangan kulitnya, menusuk ujung telunjuknya. Elara menarik tangannya cepat. Setetes darah merah segar muncul di ujung sarung tangannya, jatuh menetes ke atas salju putih di bawahnya.
Warna merah itu tampak begitu mengejutkan di tengah dunia monokrom ini.
"Nyonya!"
Teriakan itu membuat Elara melonjak kaget. Ia berputar, jantungnya berpacu.
Di pintu masuk yang terbuka sedikit, berdiri Silas. Wajah tua kepala pelayan itu pucat pasi, matanya terbelalak lebar seolah ia baru saja melihat hantu bangkit dari kubur. Ia mengenakan mantel tebal, dan napasnya memburu, tanda bahwa ia berlari mencari Elara.
"Silas," Elara berdiri, menyembunyikan tangannya yang berdarah di balik jubah. "Aku hanya..."
"Keluar," potong Silas. Suaranya tidak sopan. Itu adalah perintah panik. "Keluar dari sini, Nyonya! Sekarang! Sebelum Tuan Duke pulang!"
Silas bergegas masuk, langkahnya terseok-seok di atas lantai yang tidak rata. Ia meraih lengan Elara—sebuah pelanggaran etika yang berat bagi seorang pelayan—dan menariknya menjauh dari air mancur itu.
"Apa yang Nyonya pikirkan?" desis Silas, matanya liar memeriksa sekeliling, seolah takut dinding kaca itu memiliki mata. "Tempat ini terlarang. Terlarang! Tidak ada yang boleh masuk ke sini sejak kebakaran Blackwood!"
Elara menahan diri, tidak membiarkan Silas menyeretnya keluar begitu saja. "Kenapa terlarang, Silas? Karena ini tempat Lyra? Karena ini tempat kenangan mereka?"
"Karena ini tempat Tuan Kaelen mencoba bunuh diri!" seru Silas.
Kata-kata itu menggantung di udara dingin, membekukan darah Elara lebih cepat daripada angin utara.
Elara terdiam, menatap mata tua Silas yang berkaca-kaca. "Apa?"
Silas melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, bahunya merosot. Ia tampak menyesal telah mengatakannya, tapi rahasia itu sudah keluar.
"Lima tahun lalu," bisik Silas, suaranya gemetar. "Seminggu setelah kabar kematian Lady Lyra. Tuan Kaelen ditemukan di sini. Di bangku itu." Silas menunjuk bangku batu di dekat mawar mati itu. "Beliau... beliau mencoba memotong nadinya sendiri dengan pecahan kaca rumah kaca ini. Beliau ingin mati di tempat favorit mereka."
Elara menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan ngeri. Bayangan Kaelen muda, hancur oleh duka, berdarah di atas salju di antara bunga-bunga mati... itu terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.
"Saya yang menemukannya," lanjut Silas, air mata menetes di pipi keriputnya. "Saya menjahit lukanya sendiri karena beliau menolak tabib. Beliau selamat, tapi jiwanya... jiwanya tertinggal di sini. Sejak hari itu, beliau memerintahkan tempat ini dikunci. Beliau bilang: 'Biarkan tempat ini membusuk seperti hatiku.'"
Silas menatap Elara dengan pandangan memohon. "Jadi Nyonya mengerti sekarang? Ini bukan sekadar taman rusak. Ini adalah mausoleum. Jika Tuan Kaelen melihat Nyonya di sini... menyentuh mawar-mawar ini... itu akan memicu trauma yang tidak bisa Nyonya bayangkan. Beliau bisa mengusir Nyonya. Atau lebih buruk."
Elara menelan ludah. Rasa sakit di jarinya yang tertusuk duri kini terasa tumpul dibandingkan rasa sakit di dadanya mendengar cerita itu. Kaelen tidak hanya berduka; dia adalah orang yang selamat dari upaya penghancuran diri sendiri. Dan rasa bersalah karena bertahan hidup itulah yang membuatnya menjadi monster dingin seperti sekarang.
"Aku mengerti, Silas," ucap Elara pelan. "Maafkan aku."
"Mari, Nyonya," ajak Silas lembut, mengulurkan tangan. "Mari kita kembali ke kastil yang hangat. Lupakan tempat ini. Biarkan yang mati tetap mati."
Elara menatap semak mawar hitam itu sekali lagi. Biarkan yang mati tetap mati. Itu adalah nasihat yang bijak. Itu adalah nasihat yang aman.
Namun, saat matanya menyapu pangkal batang mawar itu, ia melihat sesuatu.
Sangat kecil. Hampir tak terlihat tertutup salju.
Di bagian paling bawah batang yang tampak mati itu, ada sedikit warna hijau. Sebuah tunas. Sangat kecil, rapuh, sebesar kuku jari kelingking. Tapi itu hidup. Di tengah dinginnya rumah kaca yang pecah ini, di tengah pengabaian selama lima tahun, akar mawar itu menolak untuk mati sepenuhnya.
Elara merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sebuah tekad.
"Silas," kata Elara, tidak beranjak. "Kau bilang Kaelen ingin tempat ini membusuk seperti hatinya?"
"Benar, Nyonya."
"Kalau begitu," Elara berbalik menatap Silas, matanya berkilat dengan api baru yang tidak bisa dipadamkan oleh salju mana pun. "Jika aku bisa membuat tempat ini hidup kembali... mungkin, hanya mungkin... hatinya juga bisa hidup kembali."
Mata Silas membelalak ngeri. "Tidak, Nyonya. Itu gila. Itu berbahaya."
"Cinta itu memang berbahaya, Silas," jawab Elara. Ia berjalan melewati Silas, menuju pintu keluar. Tapi langkahnya bukan langkah mundur karena takut. Itu adalah langkah strategis.
"Kunci pintunya, Silas," perintah Elara saat sampai di ambang pintu. "Jangan biarkan siapa pun tahu kita ke sini. Dan carikan aku buku panduan botani tentang tanaman mawar gunung. Yang paling lengkap di perpustakaan."
"Nyonya..."
"Ini perintah, Silas," Elara menoleh, memberikan senyum tipis yang penuh misteri. "Aku tidak akan merestorasi tempat ini secara terbuka. Aku akan melakukannya diam-diam. Sedikit demi sedikit. Seperti hantu yang baik hati."
Elara melangkah keluar dari Sayap Selatan. Udara koridor yang dingin menyambutnya, tapi pikirannya sudah dipenuhi rencana.
Kaelen telah membayar hutang ayahnya untuk membebaskan Elara. Sekarang, giliran Elara untuk membayar hutang Kaelen pada masa lalunya. Dia akan menyelamatkan mawar itu. Dia akan menyelamatkan satu hal kecil yang dicintai suaminya, dan membuktikan bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir di Blackiron.
Saat pintu besi berkarat itu tertutup kembali dengan suara kriiet yang menyedihkan, Elara melihat noda darah kecil di sarung tangannya.
Darah untuk mawar.
Pertukaran yang adil, pikirnya.
Sore itu, saat Kaelen pulang dari barak dengan wajah lelah dan baju zirah yang berat, Elara menyambutnya di pintu depan. Bukan dengan kue, bukan dengan dokumen anggaran. Ia menyambutnya hanya dengan berdiri di sana, memegang sebuah buku tebal di dadanya.
Kaelen berhenti saat melihatnya. Matanya menyapu penampilan Elara, mencari tanda-tanda masalah atau permintaan uang.
"Apa lagi sekarang?" tanya Kaelen datar.
"Tidak ada," jawab Elara. "Hanya ingin memastikan kau pulang dengan utuh."
Kaelen mengerutkan kening, bingung dengan sambutan yang tidak biasa itu. Ia mendengus, lalu berjalan melewati Elara menuju tangga. Namun, saat ia melewatinya, langkahnya melambat sedikit. Ia berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Sup daging rusa malam ini," gumam Kaelen, suaranya pelan. "Jangan terlambat."
Lalu ia melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Itu adalah undangan makan malam. Undangan verbal pertama yang pernah keluar dari mulutnya.
Elara memeluk bukunya lebih erat. Di dalam buku itu, terselip sekop kecil berkarat yang ia curi dari rumah kaca. Senjata barunya.
"Aku tidak akan terlambat," bisik Elara pada punggung suaminya yang menjauh. "Dan suatu hari nanti, Kaelen, kau akan melihat bunga mekar di atas lukamu."