Ratting 18+.
Harap bijak dalam membaca.
Menceritakan tentang Aisyah, gadis cantik yatim piatu berusia 22 tahun yang dijual oleh pamannya pada seorang mucikari disebuah club malam.
Menjadi simpanan pria hidung belang terpaksa harus ia jalani, demi terlepas dari jeratan sang mucikari.
Dari situlah kehidupan Aisyah bermula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melisa d'angel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode. 15
Lima hari kemudian Alex kembali ke jakarta.
Sebelum pulang kerumah ibunya, Alex berniat ingin menemui Aisyah terlebih dahulu.
Bel berbunyi, Aisyah sudah yakin bahwa yang datang adalah Alex meskipun Alex belum memberitahu dia tentang kepulangannya hari ini .
Aisyah lalu bergegas membukakan pintu untuknya.
"Tuan sudah pulang.?" ujar Aisyah sambil tersenyum menyambut Alex yang sudah berdiri di depan pintu.
"Tumben kau cepat membukakan pintu untukku kali ini. ?" tanya Alex sambil menyerahkan tas kantor yang sedang dipegangnya ke tangan Aisyah.
Aisyah mengambil tas itu.
"Kebetulan tadi saya sedang berasa di ruang tamu tuan. "
balas Aisyah sambil mengikuti Alex yang sudah berjalan masuk menuju ruang tamu.
Alex lalu menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas sofa.
Tiba-tiba se ekor anak kucing datang mengeong sambil mendekat kearah Alex.
Alex yang merasa kaget langsung mengusirnya.
"huuussst.. huusst..
pergi sana, aku tidak suka kucing. " ujar Alex menghalau kucing yang baru saja naik keatas pahanya .
Dengan cepat Aisyah mengambil anak kucing itu.
"Maaf Tuan kucingnya mengganggu, saya akan membawanya kebelakang. "ujar Aisyah meminta maaf takut Alex akan marah.
"Kucing siapa itu.? "tanya Alex.
"ini kucing yang waktu saya ceritakan Tuan. " jawab Aisyah.
"owh.. ya sudah, bawa dia ke gudang atau kemana saja pokoknya jangan sampai mendekat lagi padaku . "
"Baik Tuan.
Comel kita kebelakang ya..!" balas Aisyah sambil bicara sendiri pada kucingnya.
"Hei.. barusan kau sebut nama kucing itu siapa. ?" tanya Alex begitu Aisyah membalik badan hendak pergi.
"Saya kasih nama Comel Tuan. "
"Comel, nama apaan itu.?
Tidak ada nama yang lain yang lebih bagus kah dari Comel.?
kasih nama poly kek, pusy kek, moly kek atau apalah pokoknya yang lebih enak untuk ku dengar."
"Kucing saya dikampung namanya juga Comel Tuan.
saya sengaja memberi nama kucing ini Comel buat menggantikan kucing saya yang sudah mati ,supaya saya bisa merasakan salah satu anggota keluarga saya masih ada . "
Seketika Alex tertawa mendengar penjelasannya.
"Aneh-aneh saja kau ini, masak kucing kau sebut anggota keluarga. ?
Kenapa tidak semua hewan yang ada di kebun binatang sana kau adopsi terus nanti kau masukkan dalam daftar kartu keluargamu, biar kau lebih berasa punya keluarga besar..hahaa " ujar Alex sambil terus menertawai Aisyah.
Sementara Aisyah lebih memilih diam dari pada menjawab.
"Saya antar kucingnya kebelakang dulu Tuan. "Pamitnya.
"Ya sudah sekarang masukkan dulu kucing mu ke gudang, besok akan aku belikan kandang untuknya.
Setelah kau selesai mengurus kucing itu buatkan aku kopi, aku haus . "
"Baik Tuan. "
Kemudian Aisyah bergegas mengurus kucingnya, Setelah itu ia langsung membuatkan kopi untuk Alex.
Begitu kopinya siap Aisyah segera membawa keruang Tamu.
Sampai disana dilihatnya tenyata Alex sudah tertidur diatas sofa.
Ia lalu menaruh cangkir berisi kopi itu di atas meja.
"Tuan ini kopinya.. Tuan.. "
Aisyah mencoba membangunkan.
Namun Alex tidak menjawab, ataupun membuka matanya.
"huufftt...sudah tertidur rupanya. kenapa cepat sekali.? " ujar Aisyah menghela nafas.
kemudian dilepasnya sepatu yang masih melekat di kaki Alex, lalu melonggarkan dasi yang sedang dipakainya agar tidurnya lebih nyaman.
Setelah itu Aisyah duduk bersimpuh di lantai di depan Alex sambil memandangi wajah lelaki tampan itu, kemudian ia merebahkan kepalanya di pundak Alex yang tengah berbaring di atas sofa.
"Tuan terima kasih banyak atas semua kebaikan Tuan terhadap saya selama ini. " ujar Aisyah sambil mengelus-elus dada Alex yang sedang tertidur.
"Kebaikan yang ku berikan padamu tidaklah secara cuma-cuma. kau tetap berhutang budi pada ku, paham..?" sahut Alex sembari membuka matanya perlahan.
Aisyah terperanjat kaget saat mengetahui ternyata dari tadi Alex tidak benar-benar tertidur.
Dengan cepat Aisyah segera mengangkat kepalanya dari pundak Alex.
"Tu..tuan kau sudah bangun. .?" ujar Aisyah gelagapan.
Alex tidak menjawab, ia malah menarik kembali tengkuk Aisyah agar rebahan kembali di pundaknya.
"Siapa yang menyuruhmu bangkit.?
Kau bisa tiduran dipundakku sesukamu tanpa aku minta, tapi jangan harap kau boleh bangkit sebelum aku suruh, paham."
Aisyah hanya bisa mengangguk pasrah saat itu, karena memang dari awal dia sendiri yang memulainya.
Alex kemudian membelai rambut Aisyah yang masih rebahan di pundaknya dengan lembut, lalu ia berbicara lirih di telinganya.
"Bayarannya kau harus menyerahkan seluruh hidupmu pada ku.
dimulai semenjak aku menikahimu hari itu, kau adalah milikku, sepenuhnya kau milikku.
Jangan pernah berfikir bahwa suatu saat nanti kau bisa pergi begitu saja dariku.
kau hanya akan bisa pergi disaat aku sudah tidak menginginkanmu lagii.
itulah takdir yang harus kau jalani selama menjadi wanita simpananku, kau mengerti.? " jelas Alex.
Kesepakatan yang dibuat sendiri oleh Alex memang tidak menguntungkan sama sekali bagi Aisyah, namun mau tidak mau ia terpaksa harus menerimanya.
Lagi-lagi Aisyah hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang menggenang ,tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima dan menjalaninya.
"Tuan saya sudah membuatkan kopi untukmu, minumlah nanti airnya keburu dingin. "ujar Aisyah dengan suara sedikit serak menahan tangis.
"ya sudah..kau boleh bangun sekarang. "
Mendengar Alex sudah menyuruhnya bangkit, Aisyah langsung mengangkat kepalanya dari pundak Alex. Kemudian ia membelakangi Alex sambil menghapus Air matanya yang hampir menetes.
"Kenapa kau menangis.? apa kau tidak terima dengan bayaran yang kuminta tadi.? " tanya Alex sembari menaruh gelas berisi kopi hangat yang baru saja diminumnya itu.
Aisyah menggeleng.
"tidak Tuan." jawabnya.
"Lalu kenapa kau menangis.? "
"Saya tidak menangis, hanya saja mata saya kelilipan. "
Alex tahu bahwa Aisyah sedang berbohong, ia pun sebenarnya paham hal apa yang membuatnya sedih. Tapi ia memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Hmmm.. ya sudah kalau begitu.
sekarang sudah sore, aku mau pulang kerumah orang tuaku dulu. mungkin besok malam aku akan tidur disini.
Silahkan ambil kucingmu kembali setelah aku pergi. " ujar Alex pamit.
Barulah Aisyah tersenyum begitu mendengar Alex memberi izin untuk melepaskan kembali kucingnya yang sedang dikurung digudang.
"Baik Tuan. " balas Aisyah sambil tersenyum menatap Alex.
"Begitu mendengar nama kucing kau baru tersenyum, dari tadi senyummu itu kau sembunyikan dimana.? " sindir Alex.
Aisyah tidak tahu harus menjawab apa ,karena memang satu-satunya hal yang bisa membuatnya bahagia selama berada dalam penjara Alex adalah saat ia bisa bermain dengan kucing barunya itu.
"Ya sudah aku pergi sekarang, Antar aku kedepan.!" perintah Alex.
Kemudian ia langsung pergi, Aisyah mengikutinya dari belakang.
"Hati-hati dijalan Tuan. " ujar Aisyah.
Alex mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir digarasi.
Dari pagar depan Villa ada seorang pria tengah memperhatikan mereka.
Pria itu adalah Riki, teman Alex sesama pengunjung di club malam.
Riki tak kalah bejatnya dari Alex, mereka sama-sama punya kebisaan suka menyewa wanita malam sebagai pemuas nafsu.
Riki yang saat itu baru saja pulang dari lari sore, sekilas melihat pemuda yang tidak asing baginya keluar dari sebuah Villa mewah dikawasan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Merasa penasaran Riki nekat berdiri di samping pagar Villa mewah untuk memastikan.
Begitu melihat mobil Alex keluar dari pekarangan Villa dan melaju melewatinya, barulah ia yakin bahwa pemuda itu benar-benar Alex .
karena wajah Alex terlihat jelas dari kaca mobilnya yang sedikit terbuka.
Sayangnya Alex sendiri tidak melihat Riki yang berdiri disamping pagar saat itu,karena kebutulan ia sedang menoleh kearah lain.
"Alex, ternyata dia benaran Alex..
Tapi ngapain dia disini.? " ujar Riki bicara sendiri.
Dan yang lebih membuatnya merasa penasaran lagi begitu melihat seorang gadis mengantar Alex sampai keteras, kemudian gadis itu kembali masuk ke Villa setelah Alex pergi.
"Siapa gadis itu, aku seperti pernah melihatnya tapi dimana ya. ?"
Riki mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu Aisyah, namun ingatannya ternyata tidak begitu bagus hingga tidak teringat sama sekali olehnya dimana pernah melihat gadis itu.
Akhirnya ia pun memilih melupakan dan kembali pulang kerumahnya.
******