SEASON 6!
*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^
SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.
Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?
Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================
GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action
COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!
JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)
[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]
IG: @pipit_otosaka8
Terima kasih telah mampir ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15– Pertemuan
*
*
*
[ Hikari ressha ga mamonaku Tokyou Eki ni touchaku shimasunode, go chuui kudasai ... ]
"Asik ... udah sampai, udah sampai. Ulululu ... udah lama gak ketemu Dennis, nih!" Akihiro kegirangan sendiri. Tapi ia tidak akan berisik dan berlebihan karena kereta di Jepang itu sunyi. Ia selalu melihat keluar jendela dan menunggu kereta berhenti lalu membuka pintunya.
"Yosh! Mereka bilang sudah sampai di stasiun Tokyo. Habis naik taxi sepertinya." Mizuki juga ikut senang. Ia menutup ponsel, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Kemudian semua orang yang ada di dalam kereta itu pun berdiri untuk bersiap-siap.
Setelah kereta berhenti dan pintu pun dibuka, semua orang perlahan keluar dari dalam gerbong kereta. Termasuk Akihiro dan Mizuki. Setelah keluar dari kereta, Akihiro celingak-celinguk dan sesekali mundar mandir mencari keberadaan temannya yang akan datang malam ini.
Sementara itu Mizuki yang ternyata sedang chattingan dengan Dennis hanya terdiam saja di tempat. Tapi karena menghalangi pintu masuk kereta untuk penumpang lain, jadi ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.
"Eh, Zuki. Yang datang cuma Dennis dan keluarganya lalu sama Rei aja, kan?" tanya Akihiro yang berdiri di hadapan Mizuki.
Mizuki menutup ponsel sejenak, lalu mendongak menatap Akihiro. "Hm? Kata Dennis sih ... orang tuanya gak bisa ikut. Jadi hanya dia sama Cahya lalu anaknya dan Rei. Lalu ya pastinya Adel sama Yuni juga ada. Tapi dia bawa satu orang lagi, yaitu Zainal."
"Eh? Zain yang bogel itu ikut, kah?" tanya Akihiro lagi. Tapi sebelum Mizuki menjawab, ada seseorang yang menyelanya terlebih dahulu. Tak lain, orang itu adalah Zainal sendiri.
"Mulai dah ... ngatain aku bogel lagi." Ujar Zainal kesal. Tapi kenyataannya memang begitu. Tinggi Zain yang saat ini hanya 167m. Nyaris setara dengan Cahya, tapi masih tinggian Dennis. Dari dulu, ia memang menjadi lelaki terpendek di sekolah.
Namun teman dekatnya, Ethan, punya tinggi yang tidak biasa, yaitu 187m saat ini. Jika dibandingkan, ukuran Zainal itu se–dadanya Ethan. Ethan lelaki tertinggi dan Zainal paling pendek.
Akihiro menoleh ke arah datangnya suara itu dan ia sedikit terkejut, tapi begitu senang juga karena kelompok sahabatnya datang dan mereka kembali bertemu setelah lama berpisah selama 5 tahun.
"Dennis! Aku merindukanmu." Akihiro menghampiri Dennis lalu memeluknya. Dennis yang merasa terguncang pun tak sengaja menjatuhkan koper yang ia pegang, lalu Cahya yang akan memegang koper itu.
"Eh, Kak Dian. Apa kabar?" tanya Dennis setelah Akihiro melepaskan pelukan rindunya. Sambil berjabat tangan, Akihiro menjawab, "Wih, baik-baik saja, dong! Tapi ya ... kadang di rumah suka ada sedikit masalah."
"Oh, hehe ... syukurlah kalau kau baik-baik saja."
Akihiro tersenyum. Lalu lirikan matanya berpindah ke seseorang yang berdiri di samping Dennis, yaitu Rei. Ia mengeluarkan senyum nakalnya dan mulai menggoda Rei seperti dulu.
"Rei, apa kabarmu? Udah punya anak belum? Loh kok ga ada?" tanya Akihiro sambil sesekali tertawa-tawa kecil, lalu mengulurkan tangannya.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Rei menjabat tangan Akihiro dan menjawab, "Bentar lagi mau buat, kok! Hei, Akihiro. Udah pernah ngerasain kek gini belum?" Seketika Rei menggenggam tangan Akihiro yang dijabatnya.
"Ah, iya-iya ampun!" Lagi-lagi Akihiro mengalah karena ia tidak kuat menahan genggaman tangan Rei yang kuat. Sangat sakit sebenarnya. Jika di diamkan saja, mungkin telapak tangannya bisa hancur. Ya begitu yang ia pikirkan.
"Lalu ..." Akihiro melepas tangan Rei, lalu melirik ke seorang lagi yang masih asing di matanya. Yaitu seorang anak kecil yang sedari tadi bersembunyi di belakang Rei. "Wih, ada si kecil manis. Ini anaknya siapa? Apa anak nyasar di stasiun ini?"
"Sembarangan aja kau kalau ngomong." Brian membalas dengan dingin, lalu berbalik badan membelakangi Akihiro sambil melipat tangannya ke depan. Ia paling tidak suka kalau dibilang anak kecil.
"E–eh, Brian. Tolong yang sopan sama kak Dian, ya?" ucap Dennis lirih.
"Oh, jadi teman ayah juga, ya? Kasih tau tuh, aku bukan anak kecil lagi!"
"Ah, iya iya, Brian. Tapi kan kamu memang–"
"Brian, tolong jangan melawan ayahmu." Ujar Rei, lalu berjalan menghampiri Mizuki untuk menyapanya. Brian mengangguk pelan dan menurut pada Rei. Tapi tetap saja sikapnya tidak berubah.
Ia membuang muka dari Dennis, lalu berjalan mengejar Rei dari belakang. Tak lama, Dennis menghela napas panjang. Akihiro yang mendengar keluhan Dennis itu pun bertanya, "Hei, pasti susah mengurus anak, ya?"
"Iya ... begitulah. Brian semakin dewasa, semakin mandiri. Dia agak susah diatur dan selalu mau mengurus masalahnya sendiri." Jelas Dennis.
"Oalah, harusnya kau senang anakmu bisa ngurus dirinya sendiri. Jadi tidak terlihat seperti beban keluarga. Haha ... canda, canda." Akihiro menepuk-nepuk pundak Dennis, lalu mengajaknya duduk di depan peron sekalian nunggu kereta berikutnya datang. "Aku akan menceritakan betapa sulitnya merawat anak versiku sendiri."
"Kau sudah pernah cerita padaku lewat telepon, kak Dian."
"Ah, tapi aku mau ceritain lagi, hehe ...."
Tak jauh dari sana, Zainal sedang menyandarkan tubuhnya di tembok sambil berteleponan dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ethan. Sesekali ia melirik dengan mata kirinya ke arah Dennis agar dirinya tidak ditinggalkan.
[ Eh, maaf. Gak kedengeran. Di sini agak berisik. Tadi kau bilang apa? Oh ya ngomong-ngomong kau ada di mana sekarang? ] tanya Ethan lewat telepon itu.
"Aku baru turun dari pesawat dan taxi." Jawab Zainal.
[ Eh? Kau ke rumah Dennis saja naik pesawat? Apa tukang posnya itu sultan? ]
"Hah ... bukan begitu, Tan. Aku sampai di rumah Dennis mah sudah dari kemarin. Yah ... intinya saat aku datang, ternyata keluarga mereka ingin berlibur ke Jepang. Jadi ya ... aku diajak dan terpaksa harus ikut, deh." Jelas Zainal.
[ Wah, Jepang?! Enak juga yah bisa berlibur. Aku juga agak sibuk di sini. Ini juga lagi istirahat, makanya aku menelponmu untuk memeriksa keadaanmu. Kau jangan sampai lupa makan! Nanti sakit lagi. Jangan sampai nyusahin mereka. ]
"Iya Ethan. Aku gak akan lupa makan lagi. Paling ya kalau lapar, aku juga akan makan, kok! Seharusnya kau pedulikan keadaanmu saja. Jangan terlalu giat bekerja dan pentingin juga kesehatanmu."
[ Aku bisa mengurus diriku sendiri, Zain. Iya aku akan mendengarkanmu. Tapi kau juga jangan sampai lewatkan jadwal makannya. Tar sakitmu kambuh lagi. Jangan sampai banyak beraktivitas juga. Itu sebabnya aku tidak ingin kau ikut kerja sepertiku lagi. ]
Wajahnya yang selalu polos tanpa ekspresi itu pun akhirnya tersenyum. Zainal senang memiliki teman yang perhatian dan lembut seperti Ethan. "Terima kasih sudah bekerja untukku dan mengkhawatirkan aku. Tapi kau jangan cemas. Fokus saja pada pekerjaanmu."
[ Oke, oke! Oh ya ... waktuku tinggal 5 menit lagi. Sudah dulu, ya? Nanti malam lagi. ]
"Eh di sana siang hari, kah? Di sini sudah malam."
[ Iya masih siang, Zain. Oke dah, aku tutup. ]
"O–oke. Dah."
TUT!
Telepon diakhiri. Zainal kembali memasukkan ponselnya ke tas, lalu tak lama tiba-tiba terdengar suara klakson kereta yang kencang membuat Zainal terkejut. Lalu tak lama, kereta cepat pun datang melewati peron itu, lalu tak lama berhenti.
Hembusan angin malam, ditambah angin dari kereta yang lewat itu membuat tubuh Zainal jadi dingin. Tapi untungnya ia memakai jaket dan masih merasa sedikit hangat.
"Oy, Zain! Ayo! Kita naik kereta yang ini." Akihiro memanggilnya. Tanpa berlama-lama, Zainal pun menghampiri teman-temannya dan masuk ke dalam kereta yang sudah datang itu. Pemberhentian berikutnya adalah desa tempat Mizuki tinggal.
...***********************...
Singkat cerita, Mereka akhirnya sampai. Dari stasiun di sana, mereka hanya harus jalan beberapa meter untuk sampai di rumah Mizuki. Tapi pemandangan langit malam terlihat indah saat mereka melewati jalan lurus yang dikelilingi oleh sawah milik penduduk. Lalu dari sawah itu pula, terlihat ada beberapa kunang-kunang yang berterbangan.
"Oh, ya, untuk besok, kalian ingin bermain biasa aja di sekitar rumah atau ..." Mizuki berbalik badan, lalu menunjuk ke arah satu jalan kecil di sampingnya. "Atau kita akan jalan-jalan di hutan. Setahuku ada air terjun yang indah di sana. Aku selalu ingin pergi ke sana, tapi tidak ada teman."
"Apa kau tahu jalannya?" tanya Rei.
"Emh ... eto ..." Mizuki menggaruk pipinya, lalu tertawa kecil. "Hehe ... tidak, sih. Tapi kita bisa mencarinya bersama-sama. Kan apa salahnya jika kita pergi menelusuri hutan itu."
"Emm ... apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Dennis yang sedikit agak cemas. Lalu ia menoleh dan menatap jalan di samping itu. "Sepertinya ... hutan itu agak menyeramkan."
"Tapi pemandangan gunung saljunya sangat indah. Aku mau coba ikut ke sana. Berpetualang lagi kita!" Adel selalu terlihat bersemangat sepanjang waktu. Ia bahkan mengajak Yuni untuk bergembira bersama. Tapi Yuni tetap biasa saja.
"Di siang hari bahkan pemandangannya lebih bagus, tau!"
"Emm ... hutan itu, ya?" Akihiro bergumam. Ia jadi teringat sesuatu. "Aku pernah melihat bang Natsu pergi ke hutan itu sendirian. Entah apa yang ia lakukan di sana."
"Eh, Onii-chan?"
"Iya. Tapi aku hanya melihatnya sekali, sih. Pas itu aku lagi di sini nangkap kepiting di sawah. Eh gak sengaja liat dia pergi ke jalan itu." Jelas Akihiro. Lalu tak lama ia bertanya, "Apa bang Natsu suka nyari bahan atau berburu di hutan, kah?"
"Emm tidak, kok!" Mizuki menggeleng. Lalu tak lama ia tersentak karena mengingat sesuatu tentang kakaknya. "Eh tapi ... akhir-akhir ini Oniichan bergabung dengan bapak-bapak di desa untuk berburu."
"Berburu apa mereka?" tanya Rei.
"Youkai." Jawab Mizuki. Ia kembali berjalan dan akan menjelaskannya sambil jalan saja. Kalau berdiam diri di tempat, mitos di daerah itu adalah kemunculan hantu yang suka menculik manusia yang sedang bengong. Ya berdiam diri di tempat, sama saja seperti sedang mengosongkan pikiran.
"Apa itu Youkai?" tanya Adel penasaran.
"Emm ... ya kayak siluman gitu kalau di Indonesia. Tapi youkai yang sekarang sedang meneror warga desaku adalah Nekomata."
"Neko? Eh? Kucing maksudnya?" tanya Dennis.
"Iya. Tapi yang membedakan adalah ... kucing itu memiliki dua ekor."
"Apa seperti itu?"
Semuanya menoleh ke arah Yuni dan terlihat Yuni sedang menunjuk sesuatu. Saat dilihat, ternyata ada bayangan sosok seekor kucing yang tak jauh dari sana seperti sedang bermain di sawah. Tapi yang membuat semuanya terkejut adalah kucing itu ternyata memiliki dua ekor.
*
*
*
To be continued– ヽ(^・ω・^)丿
di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭
Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭
biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭