NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pertempuran Langit dan Bumi

Langit yang tadinya hanya gelap perlahan berubah menjadi lautan merah menyala. Ribuan pesawat tempur Kerajaan Langit bergerak menutupi seluruh cakrawala, membentuk formasi raksasa yang seolah menelan matahari. Suara dengungan mesin mereka yang serempak menciptakan getaran yang terasa hingga ke tulang belulang, membuat tanah bergetar dan udara terasa menyesakkan.

Di dalam Kubah Pertahanan Alam Semesta, suasana menjadi sangat hening. Ribuan pasukan Garuda dan Elang Bebas telah bersiaga penuh: artileri berat diarahkan ke atas, peluncur roket siap ditembakkan, pesawat tempur manusia berbaris di landasan darurat, dan penembak jitu mengambil posisi terbaik mereka. Di enam titik strategis, para Penjaga Elemen berdiri bersila atau memegang tongkat mereka, aliran energi alam berputar di sekeliling mereka, menguatkan perisai yang melindungi seluruh wilayah.

Di tengah lingkaran energi, Raka masih duduk bersila. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur dan dalam. Di sampingnya, Kakek Aran berdiri tegak, matanya tetap mengawasi musuh di atas sana sambil sesekali mengalirkan energi tambahan ke dalam tubuh Raka.

"Raka, rasakanlah," bisik Kakek Aran. "Jangan paksakan. Biarkan energi itu mengalir secara alami, seolah ia adalah bagian dari dirimu sendiri. Sumber Unggul bukanlah api yang harus dibakar, melainkan sungai yang harus diikuti arusnya."

Raka mengangguk perlahan. Di dalam kesadarannya, ia bisa merasakan sesuatu yang baru. Cahaya biru di dadanya tidak lagi berdenyut seperti jantung, melainkan menyebar halus ke seluruh tubuhnya, menyatu dengan tulang, otot, bahkan napasnya sendiri. Ia bisa merasakan udara di sekelilingnya, tanah di bawahnya, air di dalam bebatuan, dan angin yang berhembus—semuanya terhubung menjadi satu kesatuan.

Tiba-tiba, suara gemuruh keras memecah keheningan. Dari kapal induk raksasa, sebuah suara yang menggema ke seluruh penjuru terdengar jelas:

"PENDUDUK BUMI! INI ADALAH PERINTAH TERAKHIR DARI KERAJAAN LANGIT! TURUNKAN SENJATA, SERAHKAN PEWARIS SUMBER UNGGUL DAN PENJAGA PURBA, MAKA KAMI AKAN MEMPERLAHANKAN HUKUMAN KALIAN! TOLAK... DAN KAMI AKAN HANCURKAN SEGALANYA HINGGA TAK ADA SATU YANG TERSISA!"

Suara itu bergema berulang kali, dingin dan penuh ancaman tanpa ampun. Namun, di bawah sana, tidak ada yang bergerak mundur. Jenderal Agus mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi isyarat ke seluruh pasukan.

"SIAPKAN! JANGAN TEMBAK SEBELUM ADA PERINTAH! TUNGGU MEREKA MENDEKAT!"

Tidak butuh waktu lama. Seolah menjadi tanda dimulainya pembantaian, ratusan titik cahaya merah menyala serentak di perut pesawat-pesawat musuh. Dalam sekejap, ribuan proyektil energi melesat turun bagaikan hujan meteor, membelah langit dengan jejak cahaya yang mematikan.

"MEREKA MENYERANG! SIAP TANGKIS!" teriak Jenderal Agus.

DERRRR!!! DUG!!!

Serangan pertama menghantam Kubah Pertahanan. Cahaya merah yang dahsyat bertabrakan dengan lapisan energi tembus pandang yang berwarna-warni. Suara benturan itu begitu keras hingga membuat telinga berdenging, dan gelombang kejut menyebar ke segala arah. Kubah itu berdenyut hebat, permukaannya bergelombang seperti air yang terkena batu, namun tetap utuh dan kokoh.

Para Penjaga di enam titik itu mendesah pelan, energi mereka mengalir makin deras, memperbaiki celah yang hampir terbentuk akibat tekanan serangan tadi.

"PERTANAHAN MASIH BERDIRI! BALAS SERANG!"

Perintah itu baru saja keluar, ketika ribuan roket dan peluru artileri manusia melesat ke atas dengan suara gemuruh. Namun, sebagian besar dari mereka meledak di udara sebelum mencapai sasaran, dihancurkan oleh tembakan balasan dari pesawat musuh yang lebih cepat dan akurat.

Di saat yang sama, para Penjaga Elemen mulai bergerak.

"Elemen Tanah: Tembok Raksasa!"

Dari tanah di sekeliling kubah, tiba-tiba muncul tembok-tembok batu raksasa yang menjulang tinggi, menahan serangan-serangan yang lolos dan mengubah lintasan proyektil musuh.

"Elemen Angin: Badai Pemotong!"

Angin berputar kencang membentuk pusaran raksasa di langit, memotong pesawat musuh yang terlalu dekat menjadi kepingan-kepingan kecil seolah terbuat dari kertas tipis.

"Elemen Air: Kabut Penyerap Energi!"

Kabut tebal menyebar luas di udara, menyerap energi serangan dan membuat sistem penargetan musuh menjadi kacau dan tidak akurat.

"Elemen Api: Gelombang Pembakar!"

Dari celah di tanah, lidah-lidah api raksasa melesat ke atas, membakar pesawat-pesawat yang berani mendekat terlalu jauh.

Pertempuran berlangsung sengit dan seimbang. Di satu sisi, teknologi Kerajaan Langit yang canggih dan jumlahnya yang tak terhitung. Di sisi lain, kekuatan alam yang tak terbatas dan pertahanan yang kokoh. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan keunggulan jumlah mulai terasa. Kubah itu perlahan-lahan mulai meredup cahayanya, energi para Penjaga perlahan terkuras karena harus terus menahan serangan demi serangan.

Di tengah medan, Kakek Aran mulai merasa gelisah. Ia melihat ke atas, melihat kapal induk yang belum mengeluarkan kekuatan utamanya. "Ini baru permulaan... Mereka hanya menguji kekuatan kita."

Saat itu, tiga pesawat yang jauh lebih besar dan lebih megah terpisah dari barisan utama. Mereka berwarna hitam keperakan, memancarkan aura yang jauh lebih kuat dari pesawat biasa, dan terbang perlahan menuju pusat kubah. Di dalamnya, ada tiga sosok yang kekuatannya bahkan melebihi Elara.

"Panglima Wilayah..." gumam Kakek Aran dengan wajah serius. "Mereka akhirnya turun juga."

Ketiga sosok itu melompat keluar dari pesawat mereka, melayang di udara tepat di depan kubah. Salah satu dari mereka, sosok bertubuh besar dengan kulit keperakan dan mata menyala kuning, tertawa keras dan mengangkat tangannya.

"Sudah cukup permainan ini! Lihatlah kekuatan sesungguhnya dari Kerajaan Langit!"

Ia mengumpulkan energi raksasa di telapak tangannya, membentuk bola cahaya kuning yang semakin membesar hingga sebesar gunung kecil.

"Teknik Penghancuran: Bola Matahari Palsu!"

Bola energi itu dilemparkan ke bawah dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Saat menghantam kubah, suara ledakan yang mengguncang dunia terdengar. Kubah itu berguncang hebat, retakan-retakan halus mulai muncul di permukaannya, dan para Penjaga di enam titik itu muntah darah seketika karena tekanan balik yang luar biasa.

"Kita tidak bisa menahan serangan seperti itu terus-menerus!" teriak salah satu Penjaga.

Saat kubah itu perlahan mulai runtuh dan energi di dalamnya semakin menipis, tiba-tiba cahaya biru yang terang benderang meledak dari tengah lingkaran. Raka perlahan berdiri tegak, matanya terbuka lebar—namun kali ini matanya bukan lagi mata biasa, melainkan bersinar biru terang, sama seperti cahaya di dadanya.

Seluruh energi yang tersisa di kubah itu, energi alam di tanah, dan energi dari para Penjaga yang mulai lelah, semuanya tertarik perlahan dan mengalir menuju tubuh Raka. Tubuhnya perlahan melayang naik beberapa meter dari tanah, rambutnya berkibar hebat tertiup angin energi yang berputar di sekelilingnya.

"Raka..." bisik Kakek Aran dengan mata berbinar. "Kau berhasil... kau benar-benar bisa menyatukannya!"

Raka mengangkat kedua tangannya ke atas. Cahaya biru yang kini jauh lebih besar dan stabil meluas keluar, menutupi celah-celah di kubah yang retak, memperkuatnya kembali berkali-kali lipat. Ia menatap lurus ke tiga Panglima Langit yang terkejut melihat perubahan ini.

"Kalian bilang kami lemah? Kalian bilang kami hanyalah serangga yang bisa diinjak?" Suara Raka kini bergema, bukan hanya dari mulutnya, melainkan dari seluruh udara di sekelilingnya. "Cobalah rasakan kekuatan bumi yang sesungguhnya!"

Ia menunjuk telapak tangannya ke arah tiga Panglima itu. Seketika itu juga, energi biru berkumpul membentuk ratusan anak panah energi yang tajam dan berkilau dingin, melayang siap ditembakkan.

"Kita bukan lagi bertahan," kata Raka dengan tegas. "Sekarang giliran kita yang menyerang!"

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!