♡LOVE IN VALMOR♡
2 Hati
2 Kutukan
2 Jiwa
2 Galaxi
Semuanya sangatlah berbeda dibandingkan dengan Cinta dan Benci...
sehingga aku merasa bahwa Cinta itu adalah Benci dan Benci itu adalah Cinta...
Karena keduanya mengalir dalam darahku...berhembus dalam nafasku...dan berdetak dalam jantungku...
Namun...seluas jagat raya dan dengan jarak 300 juta tahun cahayalah aku mencintaimu...hingga pada akhirnya salah satu galaxi kita menyerah akan Cinta kita...
Menyatukan kita dengan kebencian, air mata dan bahkan kutukan yang berubah menjadi sebuah Cinta abadi...karena Valmor dan Bumi...adalah bukti Cinta kita...
"Bumi atau Valmor?...dimanakah tempatku yang sebenarnya?...begitu banyak Benci yang kuterima namun hanya ada 1 Cinta yang kuterima...Cinta yang berubah menjadi Benci akan selalu menjadi momok yang menyakitkan dan memunculkan sebuah kutukan atas hancurnya hati seorang Cinta...begitulah aku terlahir...Alena Vins seorang gadis terkutuk yang membenci kutukannya" (Alena Vins)
"Kita berbeda dan tak akan mungkin bersama...2 dunia dan 2 kutukan yang sulit disatukan...yang hanya akan berakhir air mata...jangan berlari...jangan menghilang dan jangan pergi...biar aku yang berlari...menghilang dan pergi...seperti angin yang berhembus tanpa meninggalkan jejak...agar penyesalan tak lagi meliputiku dengan gelapnya kutukan" (Avan Valmor)
⚠️Jangan lupa Bintang 5, Like, Komen & Vote nya ya🤗💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NAHDA_SHANIA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGE 8 : Ucapanku adalah perintah
♡LOVE IN VALMOR♡
Istana yang indah dan juga mewah dengan berkilapnya cahaya lampu yang klasik berwarna kekuningan, dan interior yang khas berwarna merah dan gold, membuat istana Valmor tersebut tampak seperti kerajaan Romawi jika disamakan dengan kerajaan yang ada dibumi.
Terdengar suara musik yang mirip dengan dentingan piano dan biola mengiringi suasana didalam istana.
Satu persatu tamu undangan yaitu para putri jendral dan putri kepala suku yang ada disekitar kerajaan Valmor pun hadir, untuk mendapatkan hati sang pangeran besar mereka yaitu Avan Valmor.
Terlihat diujung koridor para keluarga kerajaan termasuk Raja Velix, Ratu Valerin, Putri Veraham, Pangeran Varo dan Pangeran Vibero duduk pada singgasana mereka masing-masing, menyaksikan para putri-putri cantik yang hadir diacara tersebut.
"Aku yakin...pasti kak Avan akan memilih putri jendral Lenro yaitu putri Zenari" (Bisik pangeran Varo dengan tengil kepada Putri Veraham)
*(Foto ini hanya ilustrasi gambaran tokoh pada cerita...latar, pakaian dan ekspresi pada gambar bukanlah yang terlihat pada situasi cerita)
"Jika kau mengucapkan satu kata lagi denganku...aku akan pastikan bibirmu tak akan selamat setelah acara ini!!" (Bisik putri Veraham dengan tegas)
*(Foto ini hanya ilustrasi gambaran tokoh pada cerita...latar, pakaian, asesoris dan ekspresi pada gambar bukanlah yang terlihat pada situasi cerita)
"Galaknya!...pantesan muka Kak Vera kaya nenek-nenek di Alkansa...hahaha!" (Bisik Varo dengan tawa kecilnya)
*(Alkansa : Kota penuh penderitaan dan juga wabah)
Seketika Veraham pun berdiri dari duduknya dan menatapi Varo dengan kesal.
"Kau!!!" (Teriak Veraham dengan kesal menatap Varo)
Semua mata pun seketika tertuju pada suara teriakan Veraham dan saling berbisik.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara khas langkah kaki sepatu berat dari seseorang yang mereka tunggu-tunggu sejak sedari tadi, tatapan mereka pun seketika berubah kearah orang tersebut yang tidak lain adalah pangeran Avan.
Semua para wanita pun berseteru bahagia, senyum mereka terpancarkan hingga pipi mereka menjadi merah merona.
Rambut sedikit acak dan basah terusap-usap oleh Avan yang jalan dengan gagahnya, kulitnya putih dengan mata dan rambut yang berwarna hitam pekat memberikan kesan Tampan padanya.
*(Foto ini hanya ilustrasi gambaran tokoh pada cerita...latar pada gambar bukanlah yang terlihat pada cerita)
"Ya Syaro...dia sangat tampan!"
"Aku harus menjadi permaisurinya!!"
"Dia terlalu sempurna!"
Ucap para gadis yang menatapi Avan dari kaki hingga rambutnya.
Langkah kaki Avan pun terhenti tepat dihadapan raja Velix dan ratu Valerin.
"Hormatku untuk Ayahanda dan Ibunda!" (Berlutut gagah Avan dihadapan raja dan Ratu)
"Bangunlah putraku!" (Ucap raja Velix)
Avan pun berdiri dari berlututnya begitupun juga dengan raja Velix yang berdiri dari duduknya...
"Hari ini!...adalah hari yang sangat membahagiakan untuk pangeran Avan dan juga pastinya para putri yang hadir dimalam ini...saat ini putraku Avan Valmor...adalah pangeran mahkota dengan segala kesetiaannya pada Valmor akan menjalani salah satu tradisi yang harus ia jalani...yaitu...memilih permaisuri yang akan ia nikahi untuk hidup bersamanya hingga akhir hayatnya...salah satu diantara kalian akan menjadi ibu dan ratu untuk negeri Valmor...karna itu...Pangeran Avan lah yang akan menentukan sendiri...siapakah diantara kalian yang akan menjadi permaisurinya...acara ini...akan dimulai saat pangeran Avan berdansa dengan gadis pilihannya!!" (Ucap raja Velix dengan senyuman)
Suara musik opera klasik khas negeri Valmor pun dimainkan, dengan perlahan Pangeran Avan melangkah maju untuk memilih siapakah yang akan dia ajak untuk berdansa pertama kalinya.
Menatapi satu persatu para gadis yang ada dihadapannya, namun tak terlihat gadis yang Avan harapkan, yaitu Alena.
Tentu saja, karena saat ini Alena sedang mengalami sedikit masalah pada perjalannya ke Istana.
Kereta kuda yang dinaiki Alena tiba-tiba terhenti dan terlihat kuda yang menarik kereta tersebut mengamuk dan lepas dari kendali para prajurit Istana.
"A..apa yang terjadi kenapa bisa seperti ini?" (Tanya Alena dengan panik melihat kuda-kuda tersebut terlepas)
"Maafkan kami putri!...kuda-kuda itu sepertinya takut melihat kembang api yang diluncurkan dari istana saat ini"
"Lalu...bagaimana aku bisa kesana?...Acara pesta dansanya pasti sudah dimulai!!" (Gumam Alena dengan cemas)
Tanpa berfikir Alena pun memutuskan untuk berlari menuju Istana Valmor
Langkah kakinya terhambat oleh sepatu yang tampak tak nyaman dikaki Alena, Alena pun melepaskan alas kaki tersebut dan menentengnya sambil berlari dengan sekuat tenaganya.
Di Istana...
Sudah berganti 2 gadis yang berdansa dengan pangeran Avan, namun tampak pangeran Avan tak fokus dengan dansanya karena mencari keberadaan Alena yang belum juga dia temukan diacara tersebut.
3...4...5...hingga ke-6 gadis yang berdansa dengannya pun belum juga Avan menemukan keberadaan Alena, terlihat tabib Nars yang gelisah mencari-cari keberadaan Alena disekitar istana,namun tiba-tiba terdengar suara keributan dari pintu besar koridor acara tersebut.
Beberapa saat kemudian pintu koridor tersebut terbuka dengan paksa yang menyebabkan Alena terjatuh dihadapan begitu banyak orang.
Gaunnya yang kotor dan robek dengan riasan diwajahnya yang sedikit terhapus membuat Alena menunduk malu dan ketakutan untuk menatapi semua orang yang pastinya menatapi dirinya dengan hina.
Musik diheningkan, suara tawa para putri yang hadir di acara tersebut pun menggema dikoridor tersebut dengan sesekali kata-kata yang menyakitkan untuk Alena pun terdengar.
"Hahaha...lihatlah wanita tak waras itu...dia seperti rakyat jelata"
"Dia benar-benar wanita aneh...hahaha"
"Sungguh tak pantas gadis jelata bisa masuk kedalam acara ini!"
Ucap para putri yang kini menatapi Alena dengan hina, senyum tipis pun terlihat dari bibir Avan menatap Alena yang telah hadir diantara penantiannya.
Tanpa mereka duga, kini terlihat Avan melangkah menghampiri Alena dan mengulurkan tangannya dihadapan Alena yang masih saja menundukan kepalanya.
"A..apa yang terjadi?.."
"Kenapa pangeran mau membantu gadis itu?"
Ucap para putri yang ada diacara tersebut.
"Alena...aku menunggumu...mau kah kau...berdansa denganku?" (Ucap Avan sambil belutut dihadapan Alena)
Alena terkejut dengan ucapan pangeran Avan kepadanya, perlahan dia pun mengangkat kepalanya dan menatap pangeran Avan dengan ragu.
"Aku...a..aku tidak pantas yang mulia...aku mohon jangan hiraukan aku!...mereka akan membenciku!" (Bisik Alena dengan takut)
Dari kejauhan...
"Dia sangat bodoh!!" (Ucap putri Veraham dengan sinis menatapi Avan)
"Setidaknya gadis itu tidak galak seperti kak Vera!" (Gumam Pangeran Varo dibelakang putri Veraham)
Veraham pun seketika membalikkan badannya dan menatapi Varo dengan kesal.
Avan dan Alena...
Seketika Avan pun menggenggam tangan Alena dan membantu Alena untuk berdiri.
"Aku adalah pangeran Avan...pangeran mahkota negeri Valmor...ucapanku adalah perintah...dan dengan beraninya kau menolak untuk melakukan apa yang ku perintahkan?" (Ucap Avan sambil mencoba merapikan rambut dan gaun Alena)
"Pangeran!...aku mohon jangan lakukan ini" (Bisik Alena dengan takut)
Seketika Avan pun memeluk Alena, dan terdengar suara keluhan para putri yang kecewa dan kesal melihat Alena dipeluk oleh pangeran mereka.
"Ada apa ini?...kenapa bisa seperti ini?"
"Apa-apaan ini??"
Desis kesal para putri yang melihat Alena dipeluk oleh Pangeran Avan.
Avan pun menaruhkan tangan kanan Alena dipundaknya dan menggenggam tangan kiri Alena dengan lembut.
"Ikuti irama musiknya...dan jangan dengarkan ucapan mereka" (Bisik pangeran Avan ditelinga Alena)
Musik Opera klasik pun kembali dimainkan dengan lembut, kini terlihat raja Velix dan ratu Valerin saling menatap dan tersenyum.
Disisi Lain...BUMI...
Dirumah Dylon, dengan suasana sepi dan cukup gelap Dylon pun masuk kedalam ruang kerja ayahnya yaitu Jerry.
"Jangan mengucapkan kata yang membuatku kesal!!" (Tegas Jerry mengucapkannya sambil memainkan pulpen yang kini ada digenggaman dirinya)
"Itu pasti yang akan kulakukan!!" (Ucap Dylon dengan kesal sambil melemparkan beberapa lembar dokumen)
Jerry pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Dylon.
"Katakan...dan aku berharap kau tidak akan menyesalinya!!" (Ucap Jerry dengan tegas)
"Kenapa kau tega melakukan semua itu kepada Alena???...kau!...kaulah yang membayar semua wartawan untuk bersaksi bahwa Alena lah yang telah meracuni Malvin!!!...kau tahu...aku sangat mencintai Gadis itu!!!...tapi kenapa kau menghancurkannya???...kenapa kau menjatuhkannya???...Ayah?...hah!!!...aku tidak pernah menganggapmu ayahku...kau hanyalah CEO Wezert yang haus akan kekuasaan...dan aku?...aku hanyalah benda yang kau gunakan lalu kau buang saat ku tak diperlukan...sejak dulu...kaulah yang memisahkanku dari Ibuku!!...dan bahkan kau membunuhnya!!!...sama seperti kau membuangku dan juga Alena!!...aku sadar akan satu hal kini...aku...benar-benar menyesal terlahir sebagai anak dari seorang psikopat sepertimu!!!" (Teriak Dylon dengan amarahnya)
"Lalu...apa yang ingin kau lakukan pada psikopat ini hah?!!...kau ingin menuntutku?...kau ingin memenjaraiku?...hahahahaha!!!...bocah kecil sepertimu tidak ada artinya sama sekali buatku!...jika kau menganggapku bukanlah ayahmu...yasudah...itu adalah pilihanmu...pergilah!!!...dan jangan pernah merengek dihadapanku!!!!" (Ucap Jerry dengan kesal)
"Aku bersumpah!!...aku akan menjerumuskanmu kedalam neraka!!!...dan akan kupastikan...kau...kau akan menyesalinya!!!...karena saat ini bukan Alena maupun aku yang masuk kedalam perangkapmu...melainkan kau!!...kaulah yang kini telah masuk kedalam perangkapku!!!...lihatlah!...apa yang akan kuberikan padamu!!...atas semua yang kau lakukan terhadap ibu dan Alena selama ini!!!!" (Ujar Dylon dengan nada tinggi dan amarahnya menatap Jerry)
"Lakukanlah!!!...kalian bukanlah tandinganku!!!" (Teriak Jerry dengan ekspresi wajahnya yang geram menatap Dylon)
Dylon pun pergi dari rumah tersebut dan mengendarai mobilnya dengan mengebut.
》》》》》》》
jangan 2 2 nya di embat dong.
serakah banget
berasa anak dan orang tua muka muda semua
apa lagi anak nya
oh..akuu irii