NovelToon NovelToon
Akhir Kisah Cinta Tria

Akhir Kisah Cinta Tria

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:491.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: pecinta hijau

Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.

Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.

Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.

Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.

Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.

"Aku memilih dia." ucap Tria.

Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps15

Di depan teras villa Rio.

Nani, Mini, dan Tria sedang sibuk menyiapkan makan malam. Nani membagi tugas dengan teman-temannya agar pekerjaan mereka cepat selesai. Tria memotong daging, Mini memotong sayuran.

”Sudah selesai potong dagingnya, Tria?” tanya Nani

”Hampir selesai, dikit lagi!” jawab Tria

Nani beralih bertanya ke Mini, ”Kamu, Min, udah selesai belum?”

”Tinggal potong wortel aja lagi!” jawab Mini

”Tunggu! Ini sudah jam 8 malam, yah. Kemana Yuli? Kok, belum juga datang semenjak dia keluar tadi?” Mini tersadar jika ia belum melihat kehadiran Yuli di antara mereka.

”Iya, yah? Kemana dia?” Nani memandang Tria.

”Aku tidak tahu kemana perginya kak Yuli. Bukan kah kalian lihat sendiri tadi, dia pergi begitu saja tanpa berpamitan pada kita, kan?” jawab Tria.

”Eh, iya, benar! Sudahlah, bentar lagi dia pasti balik. Kita tungguin aja.” sahut Mini.

”Iya, fokus masak saja, biar masakan kita cepat selesai!” sambung Tria.

”Iya, benar!” sahut Nani.

”Ada yang bisa ku bantu?” tanya Bagas. Setelah dia puas melihat para gadis dari balkon kamarnya, dia bergegas turun ke teras, menghampiri para gadis-gadis itu.

Tria menoleh, melihat Bagas. ”Boleh, Mas, kebetulan sekali. Mas, tolong bakar daging yah, dagingnya sudah selesai ku potong dan sudah ku cuci bersih. Tinggal di bakar saja.” titahnya.

”Ok, sayang. Dengan senang hati.” sahut Bagas. Bagas melihat pembakaran daging dan menyalakan bara nya.

”Apaan sih, Mas! Manggil sayang mulu, gak enak tau kalau di dengar orang.” protes Tria. Untuk pertama kalinya dia menegur Bagas saat pria itu memanggilnya sayang. Tria ingin menjaga perasaan Rio.

Rio dan Risno berjalan mendekati ketiga teman wanitanya itu, mereka berdua mendengar pembicaraan Tria dan Bagas. Rio terlihat cemburu, Tria menyadarinya.

Nani dan Mini hanya mendengar percakapan antara Tria dan Bagas tanpa ikut campur.

”Memangnya kenapa? Apa ada yang marah jika aku memanggilmu ”sayang”? Hum?” tanya Bagas lagi, ia belum menyadari kehadiran Rio.

Bagas mencoba memancing Tria. Ia masih penasaran dengan apa yang di lihatnya sore tadi. Bagas ingin memastikan kalau itu hanya pelukan antara sahabat. Karena sebelumnya, ia melihat Rio dan Yuli yang berjalan mesra di pinggir pantai.

Tria terdiam. Rio dan Risno sudah berada di dekatnya.

”Ekhem,” Rio dan Risno berdekhem.

Bagas menoleh, melihat Rio dan Risno. Dia dapat melihat tatapan tidak senang yang terpancar dari wajah Rio dan Risno untuk nya.

Dia mengabaikan tatapan mereka. Dia tersenyum pada dua pria itu. ”Hai, bro!” sapa nya

”Hum,” sahut kedua pria tersebut.

”Tria, sayang. Ambilkan aku dagingnya. Baranya sudah siap nih.” ucap Bagas, sambil melihat Tria.

Rio menatap Bagas dengan tajam.

Tria melihat Rio, pria itu sedang marah. Nani, Mini, dan Risno mulai merasakan hawa dingin yang mencekam.

Nani memberi kode mata pada Mini dan Tria untuk menangani pacarnya masing-masing, agar tidak ada perdebatan yang terjadi antara Bagas, Risno, dan Rio.

Nani dan Tria mengerti.

”Ris, bantu aku kerjain yang sana. Ayo!” ajak Mini. Dia memegang dan menarik lengan Risno, kekasihnya untuk membantunya menata meja makan dan menyiapkan minuman.

Risno menurut, dia membantu Mini. Sesekali, dia melirik Rio dan Bagas.

Nani mengambil daging dan mendekati Bagas untuk membantunya membakar daging. ”Mas Bagas, ini dagingnya.” dia menyerahkan daging itu Bagas.

Bagas mengambilnya. ”Ok, terima kasih, Nan.” sahut Bagas. DIa terpaksa membakar daging di temani oleh Nani. Yang tadinya, dia mengira akan membakar dagingnya bersama Tria.

”Kebetulan kamu ada di sini, bantu aku siapin bumbu yah.” Tria menarik tangan Rio ke meja bumbu. Dia dan Rio sama-sama mengupas bumbu untuk menumis sayur capcay juga membuat saos kacang untuk daging. Rio membantu Tria dengan senang hati.

”Apa kamu sedang marah tadi kepada Bagas?” Tria bertanya pelan pada Rio.

”Iya, aku tidak senang mendengar dia memanggil mu ”Sayang”, hanya aku yang boleh memanggil kata itu untuk mu.” jawab Rio.

”Rio, apapun bentuk panggilan Bagas untuk ku, kamu abaikan saja yah. Dia sudah terbiasa memanggil kata itu untuk ku.”

Rio melihat Tria tidak senang.

”Please! Dia dan aku hanya adik kakak saja. Jadi, tolong, jangan permasalahkan itu, ok!” Tria bermohon.

Rio menghela nafas, ”Ok, jika selama itu tidak membuat kuping ku panas. Tapi, jika aku benar-benar merasa tidak senang, aku akan menegurnya.”

”Baiklah, terserah mu saja.” sahut Tria. Ia dan Rio kembali fokus membuat bumbu.

Mereka melakukan pekerjaannya dengan telaten, canda tawa kadang menghiasi aktivitas mereka, sesekali di warnai dengan perdebatan kecil antara Mini dan Risno.

Beberapa menit kemudian, daging sudah selesai di panggang, bumbu daging juga sudah masak, begitu juga dengan sayur, semuanya sudah selesai di masak. Mini dan Risno menata makanan tersebut di atas meja.

”Akhirnya selesai juga.” ucap para wanita kompak, setelah semua masakan tersaji rapi di atas meja makan.

”Kita makan sekarang atau nungguin Yuli pulang, baru makan?” tanya Tria, saat menyadari ternyata Yuli belum juga datang.

Semua terdiam, tidak ada yang menjawab. Mereka terdiam bukan karena tidak bisa menjawab, tapi mereka bingung untuk menjawabnya. Yuli adalah kakak angkat Tria, jika mereka duluan makan, bagaimana perasaan Tria? Mereka sangat tahu jika Tria sangat menyayangi keluarganya.

Rio melihat jam tangannya, Pukul 20 : 30,

Sudah jam setengah sembilan malam. Kemana dia? Bikin repot saja! benaknya.

Drrrrrt drrrrrt! Suara handphone Tria berbunyi, mengalihkan perhatian semua orang. Tria mengambil handphonenya, melihat ke layar ”Yuli memanggil...” ia terlihat bingung, perasaannya mulai merasakan cemas. Dia mengangkat telfonnya.

”Halo, kak Yuli, kamu dimana kak?” tanyanya.

”Tria, tolong Kakak! Kakak lagi di kejar-kejar sama berandalan!” suara Yuli seperti orang ketakutan.

Tria terlihat khawatir. ”Kakak, kakak sekarang ada dimana? Tria, Tria akan segera ke sana untuk membantu kakak.” Ia memang terlihat sangat khawatir, apalagi saat mendengar suara Yuli yang ketakutan.

Kening Rio, Risno, Bagas, Nani, dan Mini mengerut melihat Tria dengan serius.

”Kakak, kakak..lagi bersembunyi di pertigaan gang menuju villa, Tria! Tolong kakak, cepat kamu kesini!” ucap Yuli.

”Kakak, kakak jangan kemana-mana, yah! Kakak tetap bersembunyi di sana! Tria, akan segera ke sana kak. Kak? Halo kak, kakak!” Tria semakin khawatir saat sambungan telfon tiba-tiba terputus.

Rio, Bagas, Risno, Mini dan Nani semakin bingung melihat kecemasan di wajah Tria. Ada apa dengan Yuli?

”Kenapa? Ada apa dengannya?” tanya mereka semua.

Tria mengabaikan pertanyaan mereka, ”Maaf, aku harus pergi! Setelah kembali, baru aku jelaskan pada kalian!” Tria bergegas berlari keluar dari villa.

Nani dan Mini saling memandang keheranan, mereka bingung apa sebenarnya yang sedang terjadi?

”Tria! Tunggu!!” cegah Rio dan Bagas.

”Risno, kamu tetap di sini. Jaga Nani dan Mini.” lanjut Rio berucap.

Rio dan Bagas ikut berlari mengejar Tria. Risno, dia tetap berada di villa, menjaga dua wanita yang ada di sana sesuai perintah Rio.

Kekhawatiran terlihat jelas di pelupuk mata mereka semua. Terutama Risno, ia takut jika ini sudah terencana, dia mulai menduga-duga sesuatu.

Apakah ini termasuk jebakan untuk Tria? Siapa yang membuat jebakan ini? Bagas? Atau Yuli? Keduanya patut di curigai, Yuli mencintai Rio dan Bagas mencintai Tria. Mereka akan melakukan apapun itu untuk mendapatkan orang yang di cintai nya. benak Risno.

Tria berlari kencang sampai di pertigaan gang. Dia tidak melihat seorang pun berada di sana. Dia kebingungan, ingin mencari Yuli kemana?

Tria mengambil handphone dan mencari kontak Yuli dengan terburu-buru. Setelah dapat, ia langsung menghubungi nomornya.

”Nomornya tidak aktif!” Tria semakin khawatir.

Tiba-tiba saja, dia merasakan ada tangan yang membekap mulutnya dari arah belakang.

”Ummm ummm!” Tria ingin berteriak minta tolong, namun suaranya tenggelam, mulutnya di bekap. Ia ingin berontak tapi tidak bisa juga, tangannya di bekuk ke belakang dengan kuat.

Dengan terpaksa, dia menyeret kakinya mengikuti jalan dari ke tiga lelaki yang tidak di kenalnya itu.

Siapa mereka ini? Ya Allah, tolong aku!! Rio..tolong aku... benak Tria.

Bagas dan Rio terhenti saat di pertigaan jalan. Mereka kehilangan jejak Tria. Mereka berdua khawatir dengan keselamatan Tria juga Yuli.

”Kita sudah kehilangan jejak! Kemana perginya Tria?” tanya Bagas.

Rio sendiri bingung untuk menjawab. Kemana arah yang tepat yang harus mereka tuju untuk menemukan Tria dan Yuli?

”Bagas, kamu cari mereka ke arah sana! Aku akan cari ke arah sini! Kita harus menemukan Yuli dan Tria sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua.” usul Rio.

Bagas mengangguk setuju. ”Ok,”

Tanpa menunggu aba-aba lagi mereka berdua segera berpencar. Rio mencari Tria dan Yuli ke arah kanan. Ia berlari memasuki lorong yang gelap itu. Tidak ada tanda-tanda orang di sana.

”Tria... Tria... Yuli...kalian mendengar ku? Tria...! Yuli...!” teriak Rio. Dia frustasi dari teriakannya tidak ada apapun yang merespon.

Di sisi lorong tempat Rio berada, Yuli mendengar teriakan Rio. Ia tersenyum licik, ”Saatnya bereaksi!” gumamnya.

Dengan liciknya, ia mengacak rambutnya agar terlihat berantakan. Ia merobek lengan baju kirinya sendiri. Ia juga membenturkan jidatnya sendiri pada dinding, hingga terlihat memar dan goresan luka di keningnya. Ia semakin tersenyum licik saat mendengar langkah kaki Rio semakin mendekat ke arahnya.

”Tria..! Yuli...” teriak Rio lagi.

Yuli mulai bereaksi. Dia berlari dengan ketakutan ke arah Rio. ”Tolong...!” teriaknya.

Rio mendengar suara orang berlari dan berteriak minta tolong. ”Tria...apakah itu Tria?” dia berlari mendekati suara langkah kaki itu tersebut.

Dia terkejut melihat Yuli yang sedang berlari ketakutan dengan lebam di kening dan rambut acak-acakan juga lengan baju yang ter-sobek.

”Rio, kamu kah itu? Rio..hu..hu..hu....” Yuli langsung berlari memeluk Rio dan menangis di pelukan pria itu.

Rio tidak membalas pelukan Yuli, namun, ia membiarkan wanita itu menangis memeluknya. Saat di rasa Yuli sudah mulai tenang, Rio melepaskan tubuh Yuli dari badannya.

Rio memegang kedua bahu Yuli, ”Apa yang terjadi, Yuli? Di mana Tria?” tanyanya, penasaran.

Yuli tidak senang saat mendengar Rio menanyakan Tria padanya. Ekspresi wajahnya cepat sekali berubah, wajahnya kini tampak menyedihkan. ”Aku...aku pergi keluar untuk mencari angin sebentar. Ketika aku pulang, di pertigaan gang, aku di hadang beberapa preman. Aku berhasil lolos dari mereka lalu bersembunyi.” Yuli menjawab sekaligus menjelaskan yang terjadi pada Rio dengan gemetar dan gugup.

”Lalu, dimana Tria?”

”A-a-aku tidak tau! Aku belum bertemu dengannya.” jawab Yuli.

Rio menjadi khawatir. ”Kita harus cari Tria sebelum berandalan itu menemukannya.” dia menjadi panik.

Yuli mengangguk, ia tersenyum licik tapi Rio tidak melihat itu.

Pasti mereka sudah berhasil membawa Tria di lorong sempit yang temaram itu. Mereka sekarang pasti sedang bersenang-senang dengan Tria. Hahahaha rasain kamu, Tria! Habis ini Rio pasti akan jijik melihatmu, dan Rio akan pergi meninggalkan kamu seperti barang rongsokan. Dan perlahan-lahan Rio akan menoleh padaku dan mencintaiku tanpa bayang bayangmu di hatinya. benak Yuli.

Tria dibawa di sebuah lorong yang pencahayaan nya temaram, berbagai perasaan takut menghampirinya.

Mengapa mereka membawaku kesini? Apa yang mereka inginkan dariku? Siapa mereka? Apa yang akan mereka lakukan padaku? Oh ya Allah, tolong lindungi aku, ya Allah. Rio... Risno... mas Bagas... tolong aku! benak Tria.

”Lepas! Lepaskan kan Aku! Siapa kalian? Apa mau kalian?” tanyanya, saat tangan yang membekuk tangan dan membekap mulutnya terlepas darinya.

”Tolong, kalian jangan sakiti aku! Aku tidak mengenal kalian, dan aku tidak memiliki dendam dengan kalian. Tolong, lepaskan aku! Sebenarnya, siapa kalian?” tanya Tria lagi dengan gemetar ketakutan.

Dia sangat ketakutan ketika melihat ketiga pria tersebut. Apalagi, sekarang mereka sedang berada di lorong sempit yang minim pencahayaan.

Dia semakin ketakutan, apakah ada orang yang akan menolongnya? Meskipun dia berharap Rio, Risno, ataupun Bagas, datang untuk menolongnya, apakah mereka bertiga dapat menolongnya? Tapi itu akan sia-sia, bagaimana mereka akan menemukannya?

Jika saja mereka bertiga berani menyentuh ku, maka aku akan mati!! Bunuh diri akan lebih baik dari pada dinodai mereka bertiga. benak Tria.

1
Denni Siahaan
"semoga dapat ganjaran Karmila
Kadek Bella
lanjut thoor,nggak ada party nya
Aldin Andi
cerita yang bagus
Rosita Husin Zen
tria hamil apa lgi athor kasih tria hamil sepasang anak kembar alhamduliah banget biar tambah bahagia banget kehidupan rumah tangganya rio dan trià aaamiin
Rosita Husin Zen
tria laki laki masih babyàk banget yg lebih baik dari rio jdi jangan tàkut di tinggal sama di sàkiti sama rio aruh selagi kamu tria masih gadis bàik cantik
Rosita Husin Zen
thor knp ga mampus aja sih orang jahat dan licik seprti yuli dan mamanya
Rosita Husin Zen
cepat cepat kàsih tau thor yg jahatin tria kan kasohan banget tria thor
Rosita Husin Zen
cerita ini ga pakai sholat dan mengaji dan memakai jilbab/pakai baju syari yà thor
pecinta hijau: iya...
total 1 replies
Rosita Husin Zen
ini certa nya tetantang keserakahan licik saudra angkat yg tidak tau diri dan tidak punya malu dengan mengambil hak punya orang lain astagfirllohhalazim
Elmiah
senang aku liat rio sama tria nikah mantao
Elmiah
senang aku tapi air mata ku menetis bacanya ro mane kasih tahu juga dong
Elmiah
tria harus kuat
Elmiah
tria lemah takut jadi gak seru bacanya seandai nya tria kawin sama ismael rio nya lemah gak seru
🌻Ruby Kejora
Salam kenal kk. Sukses bwt kk 🌼🌼❤️
pecinta hijau: salam kenal juga.. aamiin...terima kasih
total 1 replies
Aldin Andi
diam diam cinta... langsung saja katakan kalau cinta...nanti xesel loh kalau Rio mencoba mencintai wanita lain.
Aldin Andi
wah...saingan cintax Rio..
Aldin Andi
benar sekali...rindu itu sangat menyiksa....
Aldin Andi
tenang. Mamanya Rio juga setuju kok
Aldin Andi
dekat dekat Tria hanya untuk seorang pria. Ada maunya saja.
Aldin Andi
kamu salah, seharusnya kamu berbagi suka duka dengan teman mu. apa artinya sahabat kalau kamu tidak berbagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!