Alya Safitri gadis berusia 18 tahun itu kini harus menikah dengan laki-laki bernama Ardi Wijaya, laki-laki pilihan sang ibunda yang di gadang-gadang baik dan lemah lembut tutur katanya, mampu mengasihi dan menjaga Alya dengan sepenuh hati.
Alya menyangkal, namun rasa sakit yang ia terima dari ibu orang tercinta nya mendorong nuraninya untuk menerima tawaran ibunda nya. Meski tak ada rasa ia terpaksa mengambil langkah.
Dia mempertaruhkan hidup, cinta dan masa depan nya demi menjujung harga diri yang telah porak poranda.
Tak ayal bahwa terkadang sebuah ucapan memang lebih menyakitkan dari bilahan pisau tajam. Mampukah Alya menerima Ardi dalam kehidupan dan cinta nya? Atau Ardi hanya akan menjadi tameng balas dendam sakit hati nya?
Ini adalah novel pertama ngothor nganu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pagi ini Ardi benar-benar menggempur istrinya diatas ranjang, hingga berakhir tepat di jam 12 siang, karena ia tak menyia-nyiakan kesempatan, bahkan ia tak bisa melihat istrinya istirahat barang sebentar. Ada beberapa bekas cakaran yang dihasilkan kuku-kuku lentik sang istri di punggung Ardi, sebagai bukti jejak percintaan mereka pagi ini.
Alya tampak tergolek lemah diatas pembaringannya, ia tak mampu berbuat apa-apa bahkan sulit walaupun hanya untuk sekedar menggerakan jari-jarinya, ia menyerah.
"Kamu seperti orang kesetenan. " Ucapan terakhir Alya, yang membuat Ardi terkekeh diakhir ia mendapat pelepasan nya.
Ardi menyelimuti tubuh polos istrinya yang kini sudah terlelap dikarenakan terlalu lelah oleh ulahnya. Dan terakhir Ia mengecup pelan bahu Alya. Lalu ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia terlihat masih segar bugar bahkan tak seperti orang yang habis melakukan ritual panjang. Malah seperti nya ia jadi makin semangat menjalani hari-harinya bersama Alya sang istri tercinta .
Setelah selesai mandi Ardi pergi ke dapur untuk mengambil makan siang ( baru inget makan dia 😂 ) Yah kalian tau sendirikan pagi ini tubuh istrinya yang ia jadikan sarapan. Ia mengambil satu piring makan dengan porsi besar, karena ia tak mungkin melupakan seseorang yang tergolek lemah didalam kamar.
Saat ia berjalan ke arah kamar, ia berpapasan dengan Hayrul yang hendak melenggang keluar.
"Eh Hayrul udah pulang?" sapa ia pada adik kecilnya.
"Udah Mas, aku udah pulang dari tadi, aku udah Assalamualaikum sampe 3x, tapi ngga ada yang mau jawab juga, yaudah aku masuk aja ." curhat dia ceritanya.
"Hehe maaf ya, Mas Ar tadi di kamar mandi soalnya, jadi ngga denger deh Hayrul bilang Assalamualaikum. "
Hayrul manggut-manggut.
"Oh ya kok makannya di bawa ke kamar? Emang Kak Alya sakit beneran?"
"Iya Kak Alya lagi istirahat sekarang. "
"Oh ya pantes aja tadi sebelum aku berangkat sekolah denger Kak Alya ngerintih kesakitan gitu soalnya. "
Ardi melongo mendengar penuturan Adik ipar nya.
"Oh itu, itu dia — kedinginan, yah Kak Alya kedinginan. "
"Tapi Ibu bilang, Itu bukan suara Kak Alya, aku cuma halusinasi aja katanya. " Hayrul mengatakan dengan sejujur jujur nya. 😂
Ardi menepuk jidatnya pelan.
Hufft udah susah-susah nyari alesan.
"Ahh iya emang bukan si, Kak Alya cuma kecapean aja. "
"Tadi kata Mas Ardi iya, terus jawab lagi bukan, yang bener yang mana?" tanyanya keheranan.
"Udah Kak Alya gapapa, kamu tenang aja, sekarang Hayrul main aja yak. "
"Ga mau! Aku mau liat kak Alya dulu. " ucapnya dengan keras kepala.
Tiba-tiba " Mas ." panggil Alya dengan suaranya yang lemah.
"Eh itu suara Kak Alya."
"Mas Ardi. " panggilnya lagi.
"Iya sayang sebentar. " balas Ardi sambil membuka pintu kamarnya, membuat si kecil Hayrul menyelonong masuk , dan langsung lari ke arah Kakaknya.
"Ya ampun Kak Alya. " teriak Hayrul mendapati kondisi mengenaskan Sang Kakak.
🌻🌻🌻🌻🌻
Malam harinya...
"Masih sakit?" tanya Ardi pada kondisi istrinya, yang kala itu masih berada di dalam kamar.
"Sedikit. " ucap Alya malu-malu.
"Yasudah, biar Mas yang menyiapkan makan malam ya, Adek disini saja, kalau ingin ke kamar mandi Adek juga panggil Mas ya. " pinta nya.
Dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi ku ternyata, sampai ke kamar mandi saja, aku harus memanggilnya.
Alya tersenyum melihat tingkah manis suaminya.
"Adek kenapa? Kok senyum senyum sendiri? "
"Ngga papa hehe. "
"Jadi ngga mau bagi-bagi nih?"
Alya menggeleng lucu, mengharuskan Ardi mengecup bibir mungil yang mengerucut imut itu.
"Ihhhh Massss. "
"Hehe lagian gemashh. "
Seharian ini Alya hanya berbaring diatas ranjang nya, semua kebutuhan dan keinginannya suaminya yang akan menggantikan dan mengerjakan nya. Kalo kondisi kaya gini kalian pasti jadi inget sama pepatah yang satu ini ' Wanita akan menjadi Ratu bila ia bertemu dengan lelaki yang tepat, pun sebaliknya , Laki-laki akan menjadi Raja apabila ia juga bertemu dengan wanita yang tepat pula ' . Intinya mari saling menjadi bukan hanya sibuk mencari.
Ardi dengan dibantu Ibu mertuanya menyiapkan makan malam kali ini .
" Istri mu masih kurang sehat Ar?" tanya Bu Ratih basa-basi padahal beliau sudah tau apa yang mereka lalukan tadi pagi, terbukti dari Hayrul yang mendengar suara Alya merintih, jangan berpikir Bu Ratih sepolos itu kawan? Karena ia jauh lebih berpengalaman.😬
"Eum iya Bu, jadi Ardi biarkan saja dia untuk istirahat, biar hari ini Ardi yang melayaninya, selama ini kan Adek sudah banyak meladeni Ardi. " ucap nya pada sang mertua.
" Makasih ya Ar, sudah begitu sayangnya kamu sama Alya. Maaf kalo dia nanti suka manja. "
" Gapapa lah Bu Ardi malah suka. hehe. "
Bu Ratih tersenyum lalu mengangguk menanggapi ucapan Ardi.
Kamu memang terbaik ya Ar.
Hidangan makan malam sudah terlihat cantik nan rapih ditempatnya, dan sudah siap disantap juga pastinya. Ibu Ratih memanggil putra keduanya yang sedang mengaji sendirian dikamar, sedangkan Ardi menjemput istri tercinta nya yang sepertinya terlelap diatas pembaringannya.
Puk puk
"Dek, makan yuk ." ajaknya.
Alya mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatan nya.
"Udah siap yah. " tanyanya.
"He'eum. "
Alya mencoba mengangkat beban tubuhnya, terlihat ia sedikit meringis seperti menahan sakit .
Ardi yang melihat itu, jadi merasa bersalah karena terlalu lama menggempur Alya, tapi bukan salah dia juga, kenapa istri kecilnya ini begitu menggoda pikirnya. Badannya saja yang kecil ternyata, tapi buah khuldi nya, beuh... luber dari genggamannya.
"Mas gendong aja ya? " tawarnya.
"Tidak mau, aku malu sama Ibu, apalagi Adikku, tadi siang saja sudah membuat aku kehabisan kata-kata menjawabnya, apalagi sekarang?" gerutu Alya.
Ardi melilitkan syal dileher sang istri, tanda ia mengerti pasti Alya akan malu dengan keadaan tubuhnya saat ini, dan tanpa aba-aba Ardi langsung membopong tubuh istrinya, ia tak peduli lagi dengan apa yang akan diucapkan sang mertua dan adik kecilnya, toh sudah kepalang basah?
"Mas ihh aku malu. " teriak Alya sambil memukul mukul dada suaminya. Tapi Ardi tak menghiraukan.
" Sampai. " ucapnya.
Apa separah itu yang Alya rasakan, sampai ia tidak bisa jalan sendiri dari kamar, sepertinya waktu itu aku tidak sampai begitu? ucap Bu Ratih dalam hatinya .
Alya hendak menyendokan makanan ke dalam piring, tapi Ardi menahannya.
"Biar Mas saja. " ujarnya.
Alya menaruh kembali tangannya ke tempat semula. Lalu Ardi yang menyendokan makanannya ke dalam piring, tapi hanya satu piring yang ia isi.
"Kok cuma satu, buat akunya mana?" ucap Alya.
"Kita makan berdua, Mas yang akan suapin Dek Alya."
Alya jadi tak enak hati dengan Ibunya, kalo tadi siang sih tidak masalah toh makannya juga dikamar mereka. Tapi ini?
Bu Ratih mengerti, bahkan sangat terbaca jelas dari air muka putrinya bahwa ia sedang malu dengan keberadaan nya.
"Tidak apa Nduk, biar Ardi yg menyuapimu, dia bilang dia ingin melayani mu hari ini, karena kamu sudah bekerja keras untuknya. "
Bekerja keras apa maksudnya?
"Aaaa. " Ardi memberi titah kepada Alya untuk membuka mulutnya.
"Bu. " kali ini si kecil Hayrul yang bersuara.
"Ada apa Nak?" jawab Ibu di sela sela mengunyah nya.
"Ibu udah tau belum, badan Kak Alya pada merah-merah tau Bu, apalagi dilehernya. " dengan wajah polosnya ia bercerita tentang keadaan Kakaknya, yang ia mengerti bahwa Kakaknya benar-benar terluka dan sakit parah.
Gacor banget dah mulutnya.
"Kata Kak Alya itu di gigit semut. " lanjutnya.
Semut kesurupan maksudnya.
"Apa tidak di bawa ke dokter aja Bu, kasian Kak Alya. "
Omaygat nih bocah.
"Coba deh Ibu periksa. " meminta Ibunya memeriksa Sang Kakak.
Dih minta disumpel mulutnya yah.
Bu Ratih tersenyum mendengar cerita putra bungsunya .
Kamu ini masih polos Nak, belum mengerti apa-apa tentang orang dewasa. gumam Bu Ratih dalam hatinya.
"Kakak mu tidak apa-apa sayang, itu hanya penyakit orang yang sudah besar." ucap Bu Ratih, menenangkan putra kecilnya.
"Tapi pada merah Bu badannya, lagian Kak Alya juga sih tidurnya ngga mau pake baju, jadi semutnya pada kesenengan tuh. " sungutnya, seperti tak terima Sang Kakak terluka.
Tak tau sudah semerah apa wajah Alya saat ini dengan pernyataan adiknya.
"Iya-iya nanti Ibu kasih obat tuh si Kakak, sekarang Adek makan ya, ngga baik loh ribut di depan makanan, apalagi ngomong sambil makan. " tuturnya menenangkan si bungsu, agar tak lagi membahas perihal sakit pura-pura Kakaknya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Ardi menggendong kembali tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kamar setelah makan malam. Ia menaruhnya pelan di atas ranjang agar Alya tidak merasa kesakitan, lalu menyelimuti nya dengan selimut tebal.
Sejenak Ardi pergi ke kamar mandi lalu kembali, dan langsung mengistirahatkan tubuhnya di samping istrinya. Tangannya terulur memeluk Alya seperti sebuah guling.
"Dek." panggilnya.
"Hemmm. "
"Adek tau hal apa yang paling berarti dalam hidup Mas dari dulu hingga saat ini? "
Alya menggeleng.
"Tidak tahu. "
"Apa Adek ingin tahu?"
"Apa emang nya? "
"Sungguh Adek ingin tahu?"
"Ti—"
"MENCINTAI MU. " jawab Ardi tanpa mau mendengar respon Alya.
"Berjanji lah Dek untuk selalu mendampingi mas apapun keadaan kita nanti, karena kamu akan selalu menjadi rumahku, tempat dimana aku akan pulang, meski sejauh apapun kaki ini melangkah aku akan selalu pulang ke rumahku, yaitu kamu. Meski apapun yang akan terjadi nanti, Tetap berkeluh kesah lah denganku, meski kita akan sering berdebat, tetaplah tertawa hanya denganku , dan ketika ego mulai menguasai tetaplah genggam tangan ini. Seperti ini. " Ardi memeragakan tangannya menggenggam tangan Alya.
"Tetaplah bertahan, dan jangan pernah bosan untuk meyakinkan hati ini, bahwa kamu adalah satu tujuan hidupku yang selalu ingin aku capai sampai akhir hayat tiba untuk memisahkan. "
Alya mematung ditempat nya, lidahnya kelu tak mampu untuk membalas semua ungkapan hati suaminya, sekarang haru yang ia rasa, sampai kristal bening itu luruh begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Hey, kenapa menangis? Apa kata-kata Mas menyakiti hati Adek?"
Bukannya menjawab, Alya malah membalas pelukan suaminya, ia benamkan wajahnya disana.
"Terimakasih mas atas cinta yang slalu kamu berikan tulus hanya padaku, maaf sampai hari ini aku belum bisa juga membalas perasaanmu." ucapnya.
"Tak apa, dengan Adek menerima Mas saja, Mas sudah merasa bahagia. "
Alya mengeratkan kembali pelukannya. Sedangkan Ardi mengusap usap punggung istrinya.
"Sudah ya, jangan menangis lagi, dan berjanjilah Adek akan selalu seperti ini. "
Alya mengangguk , dan melepaskan pelukannya dari tubuh Ardi, lalu mengelap sisa-sisa air matanya yang tumpah tadi.
"Dek."
"Hemmm. "
"Apa kita akan melakukan nya lagi malam ini?"
Cih, mulai lagi.
🔥🔥🔥🔥🔥