Biar asyik jangan lupa Follow akun aku ya !!
Yang sudah saya ucapkan terima kasih dan selamat membaca !!
Arzachio Mexram Morales adalah seorang pria yang berkedudukan sebagai pemimpin klan Mafia yang berada di, Meksiko. Bukan hanya Meksiko saja yang dapat dirinya kuasai. Hampir seluruh klan mafia yang ada di seluruh dunia berada di bawah kekuasaannya. Dirinya memiliki warna mata yang sangat indah sekaligus langka. Kenapa begitu ? karena dirinya memiliki 2 bola mata yang berbeda jenis, yang sebelah kiri berwarna biru dan yang sebelah kanan berwarna hijau zamrud. Semua wanita yang menatap matanya akan terpukau dan langsung jatuh cinta.
Tapi bagaimana jadinya jika seorang pemimpin mafia menjadi seorang ayah ? itulah yang dihadapi oleh Arzachio Mexram Morales yang tak sengaja bertemu seorang bayi laki-laki di markas besarnya. Entah bagaimana bocah laki-laki tersebut bisa sampai ke sana, yang jelas akibat kejadian tersebut dirinya memiliki status baru yaitu menjadi seorang Ayah yang terpaksa merawat seorang anak tanpa adanya dampingan seorang wanita disisinya. Hingga tanpa sengaja anak yang dirinya rawat memanggil seorang wanita dengan sebutan mama.
Lantas bagaimana kelanjutan kosah mereka ??
yang penasaran silahkan mampir dan tinggalkan jejak ya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis puisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
" Amaaaaa." teriak Al senang setelah sampai di mansion sang ayah. " Celamat datang ama, celamat datang uga Aca. Dilumah Al yang mewah !!." sombong bocah itu di depan Xena dan juga Aca yang kini menatap dirinya dengan kesal.
" Aca, yuk kita pulang !!. Malas aunty disini, Al nyebelin." kesal Xena mengajak Aca untuk kembali ke apartementnya.
" Iya aunty, Aca uga kecal. Yuk kita pulang !!." jawab Aca sambil memegang tangan Xena membuat Al yang tengah menatap mereka berdua mencibik kesal.
" Ihhh, ama ama Aca nyebelin. Al dan cuka ya, com masuk !!." hebohnya menarik tangan Xena dan Aca yang disebelah tangan dan kirinya.
Sedangkan Arzachio mencibik kesal ke arah mereka bertiga, pasalnya tidak ada yang mau menggandeng dirinya. Membuat dirinya terlihat seperti sangat amat menyedihkan.
" Aku tuan rumah tapi aku pula yang tidak dianggap kehadirannya." batin Arzachio menggeram kesal.
" Ck, jangan seperti orang kampung jika tidak ingin di permalukan disini." sindir Arzachio pedas membuat ketiga orang itu terdiam dan tak mengelurakan sepetah kata akibat apa yang dirinya ucapkan.
Mendengar sindiran pedas yang dikeluarkan pemilik rumah membuat kedua bocah dan satu wanita dewasa itu menatap kesal ke arahnya. Sedangkan yang ditatap malah acuh dan menlanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda dengan gaya santai dan coolnya.
" Nyolot !!." ucap Xena ketus.
" Ili bilang bos, hahaha." hina Al mengejek sang ayah.
" Betul, cetuju !!. Uncel tampan ili ya." ucap Aca memanas manasin Arzachio.
Sedangkan yang disindir langsung terdiam dan menghentikan langkahnya. Ingin sekali rasanya dia mengambil Sniper kesayangannya yang berada di ruang pribadinya dan menembak kepala mereka bertiga satu per satu. Namun, karena dirinya masih memiki hati nurani niatnya pun dirinya urungkan karena dirinya tidak mau merasakan yang namanya kehilangan.
Sudah cukup dirinya tidak dianggap dalam keluarganya dan sekarang keluarga yang dirinya miliki tak mungkin dirinya hancurkan. Dan sampai kapan pun akan dia jaga hingga nyawa menjadi taruhannya.
Dan bukan itu saja, meskipun dirinya tidak memiliki suatu ikatan dengan kedua orang yang berjenis kelamin perempuan itu. Tetap saja mereka sangat berarti bagi anaknya meskipun bukan anak kandungnya sendiri. Akan selalu dirinya jaga baik dari musuh-musuhnya dan juga teman lamanya Richard.
" Tak akan kubiarkan mereka menyakiti orang-orang yang kusayangi. Yang berani menyakitinya berarti harus siap mati." ucap batinnya menyeringai lebar membayangkan para musuh yang berani menyakiti keluarganya mati ditangannya sendiri.
" Sudah selesai berdebatnya, sekarang cepat masuk atau Axton kamu tahu kan dikamar ayah ada sesuatu yang panjang tengah menggantung disana !!." pungkas Arzachio santai dan menatap ke arah anaknya yang terkejud atas perkataan yang diucapkan sang ayah.
" Iya apa !!." lesu Al menarik Xena dan Aca memasuki rumah.
Ya, maksud dari perkataan Arzachio tadi adalah Sniper kesayangannya. Senjata yang selalu Arzachio perlihatkan kepada putranya. Jika ada seseorang yang berhianat atau berani mengusik ketenangannya maka Sniper itu lah yang bergerak membasmi mereka. Dan ancaman yang diberikan oleh sang ayah bukanlah ancaman biasa. Jika saja mereka masih melanjutkan ucapan yang berniat menyindir sang ayah maka sudah dapat dipastikan mereka pasti akan berjumpa dengan senjata mematikan yang ayahnya miliki. Dan itu semua tidak akan pernah bocah itu biarkan terjadi.
" Maksudnya apa !?." tanya Xena yang tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh kedua laki-laki yang berbeda usia ini.
" Dah ama cum masuk. Al capek au tidul." desak Al berharap sang mama melupakan pertanyaan yang dirinya ajukan kepadanya.
" Iya-iya. Ayo kita masuk !!." seru Xena dan melangkahkan kaki panjangnya ke dalam mansion yang megah dan juga mewah yang dimiliki oleh bocah yang telah dirinya asuh beberapa bulan ini. Dan diikuti dengan langkah Al, Aca, dan yang terakhir Arzachio yang memperhatikan mereka bertiga dari belakang dengan saksama dan juga intens.
" Apa yang disukai Axton dari wanita menyebalkan ini. Ck, dari penampilannya saja kita sudah tahu bahwa dirinya tidak pantas untuk berada disini." gumam Arzachio berdecak kesal dan menilai penampilan Xena dari belakang.
" Dan ya nona Xena kemarin anda memperlakukan saya dengan buruk bukan !! maka kamu juga harus aku perlakukan sama. Biar kita impas." desis Arzachio bernada rendah yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri.
...🐺🐺🐺🐺...
Setelah selesai mengantarkan Xena dan juga Aca ke kamar yang akan mereka tempati. Arzachio memutuskan untuk pergi menuju ruang kerjanya. Dimana dirinya ingin membahas sesuatu yang penting bersama dengan anak buahnya untuk keamanan putranya, Axton.
" Tuan !!." sapa salah seorang tangan kanan kepercayaan Arzachio.
" Katakan, ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan." ujar Arzachio to the point tanpa menunda-nunda karena dirinya paling benci dengan kata bertele-tele.
" Kami berhasil menangkap salah seorang bawahan Richard yang bertugas memata-matai nona Xena, tuan !!." jawabnya membuat Arzachio menyeringai lebar.
" Bagus, kalau begitu bawa dia ke mini bar kita. Aku ingin mengenalkannya pada kesayanganku, Cinta." imbuhnya santai sambil terkekeh sinis membayangkan hukuman apa yang pantas di dapatkan oleh orang yang berani mengusik hidupnya.
Sedangkan sang tangan kanan bergidik ngeri mendengar ucapan yang sang majikan katakan. Dirinya benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana jika dirinya sampai berani menghianati sang majikan. Mungkin bukan hanya cinta yang akan mengoyaknya tapi juga binatang lainnya yang berebut tubuhnya untuk dikoyakkan.
Dan ya, mini bar yang dimaksud dari sang majikan bukanlah mini bar biasa yang terdiri dari alkohol dan juga vodka. Tapi mini bar yang dimaksudkannya adalah kandang singa putih yang sangat amat ganas bernama cinta yang dipelihara sang majikan sejak dirinya masih muda. Mini bar hanyalah sebuah kata kiasan agar setiap orang yang mendengarnya tidak ketakutan melainkan tertipu dan dirinya sangat menyukai itu.
" Baik tuan !!." lugas sang kanan menjawab dan mohon undur diri meninggalkan ruangan tersebut.
" Selamat cinta, sekarang kamu mempunyai makanan berup daging segar yang masih memiliki darah yang segar. Semoga kau suka pemberian dari tuan muda mu berikan." seringai kejam Arzachio yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merinding ketakutan.
Di sisi lain
" ........".
" Yes Sir, sesuai rencana anda semuanya berjalan dengan lancar !!." ucap orang itu dengan Formal dan juga tegas.
" .......".
" Baik Sir akan saya usahakan semuanya berjalan sesuai rencana kita." jawabnya lagi.
" ......".
" Anda tidak perlu khawatir saya dan para rekan sudah memperhitungkan semuanya dan saya pastikan tidak akan ada yang namanya kesalahan dan juga kekeliruan." seru orang itu lagi sambil mengangguk mantap.
"......".
" Baik Sir, kalau begitu saya mohon undur diri." pamitnya dan mematikan sambungan telephone secara sepihak takut ada yang mendengar percakapan yang dirinya lakukan.
kak lanjut lagi, aku nungguin lohh