Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bucin
Rehan menjelaskan mengenai Tika yang bukan anak kandung Pa.Handoko. Betapa Aldo tercengang kebenaran demi kebenaran terbuka. Dina yang merupakan keponakan pa.Handoko dan Kartika yang notabene anak dari Pa.Handoko malah bukan anak dari Pa.Handoko.
Setelah semua selesai Rehan dan Aldo menuju rumah Aldo. Aldo mengemudikan mobilnya dengan sedikit mengebut. Rehan yang mengikutinya dari belakang terheran mengapa Aldo begitu tergesa-gesa pulang.
"Lu gi** Al? Bawa mobil udah kaya apaan tau."
Aldo tak menjawabnya malah langsung berlari kedalam. Rehan semakin tak mengerti. Rehan pun mengikuti langkah Aldo dengan sedikit berlari.
"Al,, kenapa sih Lu?"
Aldo pun masih saja terdiam. Aldo menuju kamar Dina dan tak dilihatnya Dina di dalam.
"Din,,, Dina..." Teriak Aldo.
Mendengar teriakan Aldo barulah Rehan mengerti. Rehan pun membiarkan Aldo mencari Dina. Rehan duduk di sofa ruang keluarga dan meminta maid membawakan minum untuknya.
"Dinaa...." Aldo terus berteriak.
"Maaf Mas. Mba Dina pergi keluar bersama Mba Anggun." Terang salah satu maid.
"Kemana?"
"Mereka tidak bilang Mas."
Aldo pun segera menelfon Dina.
📱Dimana?
📱Dimini market Mas.
📱Masih lama?
📱Ini mau pulang. Mas sudah di rumah?
📱Iya. Ya sudah hati-hati.
Aldo mematikan panggilan telfonnya. Lalu meminta maid menyiapkan makan siang.
"Kenapa Lu? Nyariin Dina ampe segitunya."
Aldo hanya diam duduk dekat Rehan. Aldo duduk sambil memainkan ponselnya. Rehan hanya diam memperhatikannya.
"Al, Lu bisa deket sama Dina?"
Aldo menatap Rehan dan menganggukan kepalanya.
"Serius Al?" Lagi-lagi Aldo hanya menganggukan kepalanya.
Aldo masih berfikir bagaimana bisa Dina tak menimbulkan reaksi trauma kepada Aldo. Saat fikiran Rehan masih melayang Dina dan Anggun datang. Aldo langsung menghampiri Dina dan mendekapnya. Rehan bengong melihatnya.
"Kamu kenapa pergi keluar Hmmm..."
"Mas,,, aku ga bisa nafas." Aldo pun melepaskan pelukannya.
"Makanya Mba antar dia Al. Dina mau beli es krim."
"Kamu kenapa ga telfon Mas aja sih."
"Mini marketnya kan deket Mas. Dina bisa pergi sendiri sebenernya tapi Mba mau antar."
"Udah besok-besok kalo mau apa-apa bilang Mas aja."
Rehan masih bengong menyaksikan tingkah Aldo yang begitu protektif pada Dina.
"Biasa aja Re liatnya."
"Ini nyata Mba?"
"Nyata dong Re. Aldo memang bucin banget sama Dina."
"Hah! Mereka?"
"Anggapa aja begitu."
"Alhamdulillah.."
Rehan medekati Dina bermaksud untuk memberi selamat dan menanyakan kabarnya setelah kecelakaan tapi Aldo langsung menghalanginya.
"Mau ngapain Lu?"
"Tuhan... Aldo,, Gw mau salaman sama dia."
"Buat apa Lu salaman sama Dina? Modus ya Lu?"
"Sabar-sabar ya Din. Laki Lu emang keterlaluan. Masa Gw sepupunya aja masih di cemburuin." Dina hanya tersenyum di balik punggung Aldo.
"Udah Lu sana balik ke tempat Lu."
Aldo pun membawa Dina duduk di dekatnya. Anggun dan Rehan hanya diam memperhatikannya.
"Es nya mana?" Tanya Aldo.
"Sudah Dina makan tadi sepanjang pulang."
"Kamu kok lama Dek?"
"Tadi ke kantor dulu Mba ada kerjaan."
"Sekarang ko udah pulang? Pasti belum bereskan kerjaannya?" Tanya Dina.
"Karena udah beres makannya Mas pulang."
"Mba, udah lama dia kaya gini?"
"Mba taunya pas Dina kecelakaan aja."
"Apaan Mba?" Tanya Dina.
"Rehan ga percaya kalo Aldo sampe lengket banget sama kamu."
"Iya Din. Kamu kasih apa manusia es ini?"
"****** Lu Re. Lu fikir gw beruang kutub."
"Ga ada bedanya kan."
"Sini Lu." Aldo memberi ancaman canda.
"Maas..." Ucap Dina dan Aldo pun langsung duduk terdiam mematuhinya.
"Dinaaaa.... Lu minta apa gw beliin. Apartemen? Mobil? Atau apa?"
"Sebutin aja Din. Kalo kamu ga mau biar buat Mba."
"Kenapa sih Mas Re?"
"Pokoknya Lu minta apa gw beliin Din."
"Emangnya kenapa Dina kan ga ulang tahun."
"Ga perlu nunggu Lu ulang tahun pokoknya Lu mau apa Gw beliin. Karena Lu udah bisa bikin ni manusia es mencair."
"Masya Allah. Biasa aja Mas. Dina juga ga tau kenapa Mas Al bisa kaya gini."
"Karena kamu istimewa Sayang." Jawab Aldo
"Sayaaaaang." Teriak Rehan dan Anggun.
Dina pun tersipu mendengar ucapan Aldo.
"Jangan malu-malu gitu dong. Mas jadi makin sayang nih."
"Apaan suh Mas. Udah Ah."
Rehan terbahak mendengar Aldo sebegitu bucinnya kepada Dina. Anggun pun hanya mengusap perutnya mendengar adik iparnya bucin.
Tbc...