Orang ketiga dalam suatu hubungan tentu saja akan sering dibenci dan tidak disukai banyak orang. Hal ini harus Riki tanggung karena dia mengambil peran ini. Pasalnya, Riki akan disebut-sebut sebagai perusak keharmonisan hubungan asmara antara Sintya dan Adit
Hubungan pertemanan Adit yang sudah berjalan 5 tahun harus kandas, karena kehadiran Riki sebagai orang ketiga dari hubungan Adit dan Sintya .
Awalnya Riki hanya disuruh Mira untuk menjauhi Sintya dari Adit. Tetapi diluar rencananya, Riki pun akhirnya jatuh cinta dengan Sintya.
Bagaimana akhir dari kelanjutan cinta antara Adit , Sintya dan Riki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febti Sela Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti yang sudah tidak berarti
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam tiga sore.
Mereka berempat mengakhiri pertemuan, setelah berpisah selepas lulus sekolah menengah atas. Satu persatu dari mereka pun pergi meninggalkan kafe Adit.
Saat Sintya ingin meninggalkan meja, tiba-tiba Adit menarik lengan nya.
" Sin, aku ingin memberi tahu sesuatu kepada mu. " ucap Adit.
" Ayo, ikut ke kantorku. " ajak Adit seraya menarik tangan Sintya.
Sintya pun duduk di sofa tanpa berbicara sepatah kata pun.
" Sin, kamu tahu kalau ini semua rencana Mira ?" papar Adit.
" Mira, ada apa dengan dia?" tanya Sintya.
" Riki adalah sepupu Mira, kamu tahu gak pertama kali kamu masuk kerja ?" tanya Adit yang menatap Sintya, " Riki mengirim foto padaku kalau kamu sedang berada di ruang kerjanya." kata Adit sambil mengambil berkas.
" Selang beberapa hari kemudian, ada foto kamu tertidur di sofa.Dan terakhir kemarin adalah foto kamu sedang memakaikan Riki dasi. " papar Adit seraya menyerahkan bukti foto yang kemarin ada di mejanya.
Kemudian Adit menyalakan laptop agar Sintya melihat tayangan CCTV. Bukti rekaman CCTV kalau Mira memasuki ruang kerjanya.
" Pantas tadi pagi aku melihat Mira mengendarai mobilnya. Aku rasa dia ingin masuk ke apartemen tempat Riki tinggal." imbuh Sintya.
" Mungkin Mira ingin merencanakan sesuatu sama Rik." terang Adit meyakinkan Sintya.
" Lantas, untuk apa kamu menunjukkan bukti ini kepadaku Dit ?" balas Sintya yang menatap sendu wajah Adit.
Sintya pun menghampiri Adit yang berdiri dihadapannya, " Semua bukti yang kamu tunjukkan tidak akan mengubah segalanya."
" Aku masih mencintaimu Sin.." ungkap Adit seraya memegang kedua tangan Sintya
" Tapi..." ragu Sintya.
" Tapi kenapa Sin, apa kamu tidak mencintaiku lagi ?" tanya Adit.
" Sejujurnya, aku juga masih mencintaimu. " ungkap Sintya.
" Tetapi semenjak kejadian itu, aku merasa malu jika harus menampakkan diri di hadapanmu." lirih Sintya.
Sejenak mereka pun diam membisu. Perlahan Sintya pun berurai air mata, tak tahan mengingat lagi kejadian yang menimpanya.
" Sudah sore Sin, kamu mau aku antar pulang ?" tanya Adit.
" Tidak usah Dit, aku pulang naik ojek aja. " balas Sintya.
Sintya lalu beranjak dari sofa tempat dia duduk, dan mengambil tasnya.
" Kalau ada apa-apa segera hubungi aku Sin, aku akan selalu ada untuk mu." pesan Adit yang mengantarkan Sintya keluar dari kantornya.
Sintya pun meninggalkan Adit dengan wajah ceria, dan sakit hati yang sedikit terobati.
Dari lantai 12, Riki pun melihat Sintya keluar dari kafe milik Adit. Riki pun langsung bergegas keluar kantor, untuk mengikuti kemana tujuan Sintya selanjutnya.
Sintya hanya berdiri di halte bus, dia terlihat seperti orang linglung. Riki mengamati nya dari kejauhan.
Sintya pun menghentikan taksi, karena cuaca sudah mendung. Dia takut kehujanan jika naik ojek.
Riki mengikuti arah taksi berjalan. Dan kelihatan nya Sintya pulang kerumahnya.
Sintya pun masuk ke dalam rumah nya. Selang beberapa menit Riki pun mengetuk pintu rumah Sintya.
" Assalamualaikum, Ma. Ada Sintya ? " tanya Riki yang berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Sintya.
" Walaikum salam, eh Riki. Sintya baru saja datang. " jawab Mama Anita.
" Sin, ayo kita pulang. " ajak Riki.
Sintya pun mengacuhkan ajakan Riki.
" Sin, sebaiknya kamu pulang. Suami mu sudah menjemput mu." panggil Mama Anita.
" Tapi Ma, aku mau tidur di kamar ku." ucap manja Sintya.
" Sekarang kamu sudah punya suami, dan kamu harus menuruti perintah suami mu Nak !!" saran Mama Anita
Sintya pun memeluk mamanya, dan langsung bergegas pergi ikut bersama Riki.
Didalam mobil, Sintya tidak berbicara sepatah kata pun. Di telinga nya sudah terpasang headset.
" Okelah Sin, aku akan tetap sabar menghadapi sikap mu yang seperti ini." lirih Riki dalam hati.
Riki pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen.
" Kring.. kring.." ponsel Sintya pun berdering.
" Halo, Sin. Apa kamu mau ikut kondangan ke Australia ?" tanya seseorang yang menghubungi Sintya.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen ya! Aku tunggu votenya juga. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan silakan chat Author,👍