NovelToon NovelToon
Sekretarisku Canduku

Sekretarisku Canduku

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Sudah Terbit / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:48.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka Pradita

"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"

Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.

Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.

Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?

Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.

Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.

Selamat membaca!
Terima kasih ya all.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak

Selamat membaca!

Nisa mengerjapkan kedua matanya berulang kali, karena tak percaya Ryan akan mengatakan hal yang demikian.

"Tuan, saya tidak meminta Anda untuk menikahi saya, tapi saya hanya ingin kita melupakan semua kejadian semalam, seolah-olah itu semua tidak pernah terjadi. Jadi tolong sekali lagi, jangan pernah bahas tentang hal itu!"

"Baiklah, kalau itu memang keinginanmu, tapi apakah kamu sudah memaafkanku?"

Nisa terdiam sejenak, walau mungkin ia masih sepenuhnya memaafkan Ryan, tapi ia tak punya pilihan lain agar percakapan ini segera berakhir dan Nisa bisa kembali jauh dari sosok pria yang masih membuatnya trauma saat berada didekatnya.

"Ya aku maafkan, tapi Tuan tidak perlu menikahiku segala," ucap Nisa walau dengan nada yang agak ketus.

Ryan menelan salivanya dengan kasar. Namun, saat ini hatinya sudah lebih tenang dari sebelumnya, karena setidaknya Nisa sudah mau memaafkannya. Ya, walaupun ada perasaan kecewa di dalam hati Ryan atas penolakan yang terlontar dari mulut Nisa.

"Ternyata hanya aku saja yang terlalu berharap untuk bisa menikahinya, tapi kenapa wajahnya selalu menghantui pikiranku, berputar-putar dalam benakku soal kejadian semalam, padahal dia sendiri bersikap biasa saja dan tidak mengharapkan tanggung jawab dariku," batin Ryan merutuki rasa kecewanya dengan mengubur harapan di dalam hati.

"Jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit undur diri untuk melihat Nona Viona dulu, Tuan." Nisa pun memutar tubuhnya tanpa menunggu jawaban Ryan.

Gadis berparas cantik itu pergi meninggalkan Ryan seorang diri yang tengah menunduk lemas tak bertenaga.

Ryan menghempaskan tubuh rapuhnya di atas sofa. Seketika rasa pening mulai menjalar di kepalanya, karena terus dihantui rasa bersalah atas semua yang telah dilakukannya kepada Nisa saat malam itu. Ryan beberapa kali memijat pangkal hidungnya dengan perlahan, berharap itu dapat mengurangi rasa sakit yang saat ini menyerang kepalanya.

"Nisa, kenapa Tuhan mempertemukan kita bila tidak dapat membuat kita bersama. Sejak pertama kali melihatmu, walau hanya melalui tampilan video, entah kenapa saat itu hatiku terasa bergetar dan tertantang untuk bisa memilikimu," batin Ryan mengingat awal pertama kali ia melihat Nisa.

Ryan mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kasar, sampai detik ini bayangan Nisa masih bergelayut manja dalam benaknya sampai-sampai membuat pria itu frustasi dibuatnya. Namun, tiba-tiba Ryan teringat akan satu hal yang membuat harapannya yang sempat sirna mulai tumbuh lagi, walau harapan itu hanya sebesar biji cabai.

Ryan menegakkan tubuhnya, sambil mengusap kedua tangannya.

"Bukankah Mia izin kerja selama dua Minggu, jadi selama itu aku masih punya kesempatan untuk mengambil hatinya. Aku harus memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya," gumam Ryan yang terus memupuk harapannya agar tidak cepat layu dalam pengejarannya untuk mendapatkan cinta Nisa.

Ryan pun bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menuju kamar tidurnya yang berada di seberang kamar Viona.

Sementara itu jauh di depan Ryan, Nisa kini sudah menaiki anak tangga dengan raut wajahnya yang masam.

"Bagaimana ini selanjutnya? Berarti selama 14 hari ini aku akan terus bertemu dengan pria itu? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gerutu Nisa sambil terus melangkah menuju kamar Viona.

Nisa kini sudah tiba di depan pintu kamar Viona, ia pun masuk ke dalam kamar dengan mood yang sudah berantakan. Baginya pertemuan dengan Ryan adalah sesuatu yang sangat dihindarinya dan yang lebih mencengangkan lagi, Ryan mengatakan padanya bahwa ia ingin bertanggung jawab dengan menikahinya.

"Bisa-bisanya dia bisa berpikir demikian. Apa dia tidak berpikir bahwa aku akan menolaknya mentah-mentah!" gerutu Nisa menahan volume suaranya, agar tak membangunkan Viona yang dilihatnya masih lelap tertidur.

Nisa masih terus memandangi wajah Viona yang semakin lama, entah kenapa mampu mengusir kegusaran yang saat ini hinggap di raut wajahnya.

"Kenapa saat aku melihat gadis kecil ini? Perasaanku jadi jauh lebih tenang ya," batin Nisa penuh tanya.

Tak berapa lama, Viona mulai mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah menyadari bahwa sejak tadi Nisa terus memandanginya.

"Aunty, kenapa terus melihatku?" tanya Viona dengan suara serak, karena efek bangun tidur. Namun, masih terdengar menggemaskan.

Nisa pun tersenyum manis, saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Viona. Ia pun dengan yakin menjawab pertanyaan yang terucap dari bibir mungil Viona.

"Habisnya kamu itu cantik banget sih, jadinya Aunty ingin terus memandangi wajah kamu."

Viona mulai bangkit dari posisi tidurnya dengan duduk bersandar di tepi ranjang, mengikuti Nisa yang juga duduk di tepi ranjang, hingga membuat posisi tubuh mereka saling berhadapan.

"Makasih ya Aunty atas pujiannya, teman-temanku di sekolah juga banyak yang bilang aku cantik dan sangat menggemaskan."

Nisa mengembangkan senyum termanis di paras cantiknya. "Kamu benar, Vio. Pasti di sekolah kamu adalah murid satu-satunya yang paling cantik ya?"

"Betul, Aunty. Guruku bilang, aku adalah murid paling cantik, selain itu mereka bilang juga sangat pintar."

"Wah, kamu benar-benar hebat. Ayah dan Ibumu pasti sangat bangga memiliki putri sepintar kamu."

Viona tersenyum dengan ceria. Ia pun langsung memeluk tubuh Nisa yang membuat hati Nisa bergetar. Ada sebuah getaran yang Nisa sendiri tak bisa pahami dengan apa yang saat ini ia rasakan.

"Terima kasih ya Aunty. Kamu itu seperti Ibuku, wajah dan senyummu sangatlah mirip dengannya," ucap Viona layaknya orang dewasa yang sudah dapat menilai orang lain yang sedang dilihatnya.

Raut wajah Nisa memerah mendapat pujian dari Viona. Namun, yang lebih membuatnya tersentak adalah ketika perkataan itu secara tidak langsung melenyapkan keraguan yang ada dalam hatinya, tentang apa yang dikatakan oleh Ryan sewaktu di apartemen.

"Jadi benar yang dikatakan Tuan Ryan, bahwa wajahku memang mirip dengan mantan istrinya," batin Nisa menautkan kedua alisnya.

Nisa sejenak mengabaikan segala pikirannya tentang Ryan, yang tiba-tiba muncul karena perkataan yang Viona ucapkan padanya.

"Oh ya, kapan kamu masuk sekolah? Aunty pengen banget mengantar kamu dan melihat kamu belajar."

"Kata Ayah sih Minggu depan, Aunty, karena kemarin aku sempat sakit, jadi Ayah sudah izin kepada guruku selama satu Minggu."

Raut wajah Nisa seketika panik, ia kemudian menangkup kedua sisi wajah Viona dengan penuh rasa cemas.

"Ya ampun, kamu sakit apa sayang? Bagian mana yang sakit?" tanya Nisa sembari mengecek suhu tubuh Viona dengan menempelkan telapak tangan pada dahi, pipi hingga leher gadis kecil itu.

"Kemarin aku demam tinggi karena merindukan Ibu, tapi sekarang aku sudah sehat karena Ayah mengatakan akan mengajakku bertemu ibu."

"Ya ampun sayang, syukurlah kalau kamu sudah sembuh. Besok Aunty ikut ya saat kamu bertemu Ibumu, agar Aunty bisa mengajak Ibu kamu untuk pulang bersama kita. Aunty tidak mau sampai kamu sakit lagi karena menahan rasa rindu terhadap Ibumu," ucap Nisa sembari mengusap pipi chaby Viona dengan ibu jarinya.

"Iya, Aunty harus ikut dan temani aku ya. Ayah bilang, setelah bertemu ibu aku akan diajak ke mall untuk beli mainan banyak-banyak."

"Siap, Aunty akan ikut bersamamu ya," ucap Nisa mengulas senyum di wajahnya.

Keduanya saling mendekap erat, seolah mereka sudah mengenal dalam waktu yang lama. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka, bahkan saat ini Viona tak sungkan lagi untuk bergelayut manja pada tubuh Nisa.

Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu. Nisa terlihat begitu geram, saat di dalam pikirannya terlintas semua perkataan yang telah Ryan katakan padanya. Perkataan yang dianggapnya sebagai kebohongan belaka.

"Ternyata pria hidung belang itu telah membohongiku. Dia bilang padaku istrinya telah meninggal dan menyebut wajah istrinya sangat mirip dengan aku, tapi buktinya besok dia akan mengajak Viona untuk bertemu dengan Bella. Awas saja kau, Tuan Ryan. Aku akan mengadukan perbuatanmu pada Bella besok. Aku sangat yakin, mereka bercerai pasti karena pria sialan itu berselingkuh," umpat Nisa di dalam hatinya.

Bersambung ✍️

1
Uus Sumartini
smoga mery org baik mau bantu Ryan balikan ma Nisa
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: Halo kak baca juga d novel ku 𝘼𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profilku ya. trmksh🙏
total 1 replies
Uus Sumartini
waah hebat merry brjiwa lugas gak kya ibunya Ryan pikasebeleun
Uus Sumartini
yg kuat nesa km pasti akan bahagia dgn viona jg tuan Ryan
Uus Sumartini
tenang bisa kamu lah pemenang hati Ryan
Uus Sumartini
nah ini yg aku suka ahirnya nisa mau jg 👍💪😍
Uus Sumartini
bibit jahat ada aja.. wong ke telu
Uus Sumartini
nisa jgn sedih ya kan cma bercanda oke
Uus Sumartini
😍😍😍😍💪💪💪💪suka sy Thor ma ceritanya👍💪
Anonim
iya, aku cari juga ga nemu channelnya
Juniartii Marpaung
mantap
Juniartii Marpaung
Apa Nisa sdh sembuh ya Thir?
Juniartii Marpaung
thor jangan bikin Nisa lumpuh, kasihan Viona
Rafika Sari
Luar biasa
Juniartii Marpaung
nyonya Katty terlalu kejam, masa.datang2 langsung bisa menampar Nisa
Juniartii Marpaung
janji adalah hutang nisa...
Raudhatul Ulfah
Lumayan
Syifa
si nisa tidur nya kayak bangke ,tidur apa metong
Serenarara: Ubur-ubur makan sayur lodeh
Minum sirup campur selasih
Coba baca novel berjudul Poppen deh
Dah gitu aja, terimakasih /Joyful/
total 1 replies
✹⃝⃝⃝s̊SAngeL🍁🧚
oh my god ... bilang iya saya mau jadi istri kmu tuan Ryan 😎😎😎😎😎😎
✹⃝⃝⃝s̊SAngeL🍁🧚
Dih Nisa coba buka hatimu untuk Ryan ... ku rasa dia tidak terlalu buruk juga malah sempurna
Puji Utami
kok bikin gedeekkk si Nisa itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!