Apakah kau percaya pada cinta?
Morgan dipertemukan dengan Vivian, seorang wanita yang pernah dia cintai dulunya. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu.
Perjalanan cinta mereka menghadapi banyak sekali tantangan, hingga jarak dan waktu benar-benar memisahkan mereka.
Namun semakin jauh mereka dipisahkan, mereka semakin menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Apakah mereka berhasil dipersatukan kembali? Bagaimana perjalanan cinta mereka akan terjadi?
Penuh dengan nuansa romantis bercampur pelajaran hidup yang menarik, ikuti kisahnya disini!
Update setiap hari pukul 23:00 - 02:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theofanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badmood
Salju yang dingin telah berhenti dan digantikan oleh sinar cahaya matahari yang hangat membuat bunga-bunga es mulai mencair.
"Ayo Vivian, aku sudah siap!" Morgan memanggil Vivian yang sedang berganti pakaian.
Sebelumnya Vivian tidak membawa pakaian, kecuali yang ada pada tubuhnya sehingga Vivian meminjam pakaian Morgan yang kebesaran dan serba hitam.
Vivian berjalan keluar kamarnya dan menatap Morgan dengan perasaan yang malu.
"Ini terlalu besar untukku, aku takkan keluar seperti ini." Vivian cemberut menatap Morgan yang sedang tertawa melihatnya menggunakan pakaian Morgan.
"Baiklah baiklah, akan kucarikan pakaian Angela. Mungkin saja dia meninggalkan beberapa disini." Morgan beranjak dari depan pintu apartemennya dan masuk ke kamar tamu tempat Angela biasa tidur.
"Tunggu dulu, apa maksudmu pakaian Angela? Oh aku tahu, jadi Angela sering tidur disini berduaan bersamamu? Baiklah buaya!" Gumam Vivian dalam hatinya melihat Morgan membawakan pakaian Angela padanya.
"Aku takkan menggunakan pakaian itu, akan kugunakan apa yang sudah kugunakan saja!" Vivian berjalan keluar lebih dulu dan meninggalkan Morgan yang memegang pakaian wanita di tangannya.
"Ada apa dengan sikapnya itu? Heran wanita selalu saja berubah-ubah moodnya," pikir Morgan meletakkan pakaian Angela kembali dan segera keluar menyusul Vivian yang tidak tahu dimana mobil Morgan berada.
Morgan berlari menyusul Vivian yang sudah berada didalam lift, sebelum Morgan tiba, pintu liftnya menutup dan Vivian terlihat cuek tidak ingin menahan pintunya bagi Morgan.
"Wanita ini sungguh gila!" Gerutu Morgan dalam benaknya. Morgan menekan lagi tombol liftnya dan segera menyusul Vivian ke lantai bawah.
Morgan mengarahkan pandangannya ke pintu keluar dan melihat Vivian duduk berpangku tangan disana.
"Vivian, ada apa denganmu? Mengapa kau jadi tiba-tiba seperti ini?" Morgan menanyakan pada Vivian dengan baik, Morgan takut jika dirinya melakukan kesalahan pada Vivian.
"Oh aku baik-baik saja!" Vivian berdiri dan tidak mau menatap mata Morgan yang sedang berbicara dengannya.
"Ayo cepatlah aku kedinginan disini!" Lanjut Vivian mengajak Morgan segera pergi ke mansion Keluarga Wisse.
"Baiklah jika kau baik-baik saja. Ayo kita pergi." Morgan mengeluarkan kunci mobilnya. Vivian mengikutinya dari belakang, namun sangat berjarak, Vivian berpikir untuk tidak menyapa buaya ini!
Perjalanan mereka menjadi hening, setiap Morgan bertanya sesuatu, Vivian selalu menjawabnya dengan 'y' atau 'tidak'.
Vivian hanya menatap kearah jendela dan melihat banyak anak-anak yang bermain di salju yang menumpuk.
Dengan perasaan yang geregetan pada Morgan, setelah tahu bahwa Angela sering tidur disana.
Apa yang mereka lakukan biasanya? Apakah mereka melakukan yang tidak-tidak?
Vivian terlihat menggertakan giginya seperti ingin menggigit sesuatu dengan kuat.
Vivian dan Morgan tiba di mansion Keluarga Wisse, mansion yang luas dilengkapi dengan air mancur pada bagain depannya, kolam renang yang luas, lapangan golf, hingga hutan pribadi.
Morgan tidak menyangka bahwa Vivian tinggal di mansion sebesar ini.
Morgan memandang ke depan mansion Vivian dan melihat Ayah & Ibu Vivian beserta beberapa pelayan berdiri menyambut mereka.
"Ibuku merupakan fansmu. Tolong layani dia dengan baik!" Vivian memandang Morgan masih dengan perasaan badmood.
Morgan menepikan mobilnya didepan orang tua Vivian yang berdiri dengan sangat antusias disertai senyuman haru karena akhirnya putri mereka satu-satunya membawa seorang pria.
Pantas saja, beberapa tahun lagi orang tua Vivian menginjak usia lanjut dan sangat mengharapkan seorang menantu dan cucu yang bisa mereka perlakukan sebagai anak mereka sendiri.
Morgan keluar lebih dulu dan bermaksud untuk membukakan pintu mobilnya untuk Vivian, namun ketika Morgan ingin memegang ganggang pintu mobilnya, Vivian membuka pintunya dengan sengaja dan dengan perasaan yang badmood sehingga pintu mobilnya menabrak wajah Morgan.
"Rasakan itu buaya!" Pikir Vivian senang keluar dari dalam mobil Morgan.
"Wanita ini benar-benar tidak waras!" Morgan menadahkan tangannya didada agar dirinya tetap tabah dan sabar menghadapi Vivian.
Orang tua Vivian yang melihatnya terkejut dan tidak percaya akan tindakan Vivian yang terlihat sengaja itu.
Sontak ibu Vivian berlari kearah Morgan dan membawanya masuk agar dapat mengobati memar di wajah Morgan.
Mrs. Wisse tidak menyangka juga bahwa pria yang dibawa Vivian adalah idolanya sejak dulu, Morgan Collins.
Mrs. Wisse sangat ingin sekali memeluk idolanya dan berfoto dengannya, namun itu diurungkannya saat melihat kondisi Morgan yang sedang kesakitan.
"Vivian itu sebenarnya anak yang baik dan anggun, namun ketika dia tidak menyukai sesuatu atau ketika moodnya sedang buruk, dia akan bertindak berlebihan dan akan menjahili orang yang tidak disukainya. Kuharap Morgan dapat memakluminya. Dan sebagai orang tuanya, ibu minta maaf atas kelakuan anak kami." Mrs. Wisse mengambil p3k dan mengobati wajah Morgan dengan lembut.
"Baik nyonya Wisse, saya dapat menerimanya." Morgan tersenyum dengan keadaan memar di wajahnya.
Vivian masuk dan melihat Ibunya mengobati Morgan. Vivian sama sekali tidak menyapa Morgan yang adalah buaya baginya!
"Ibu aku akan kekamarku dan tidur hingga pria ini pergi!" Vivian menyapa ibunya dengan cemberut.
"Tidak! kau harus minta maaf pada Morgan dan setelah itu kita akan makan siang bersama!" Tegas Mrs. Wisse mengecap pinggangnya memarahi Vivian.
"Hai Morgan yang tampan, maafkan aku ...." Vivian menyapa Morgan dengan senyuman mengerikan.
Ayah Vivian datang dan melihat kejadian itu dari belakang Vivian, "haha, kisah cinta anak muda memang menyenangkan. Aku ingin muda lagi dan mendapat istri baru." Tawa Mr. Wisse melihat kearah Mrs. Wisse yang sedang merawat wajah Morgan di ruang tamu.
"Apa kau bilang? Istri baru?!" Nada Mrs. Wisse meninggi melotot ke suaminya yang tertawa.
"Tidak tidak, aku hanya bercanda. Baiklah, ayo kita makan siang di taman kita. Para pelayan telah mempersiapkan semuanya disana." Mr Wisse menggandeng putrinya dan pergi lebih dulu ke taman yang berada di wilayah mansion mereka, agar dapat pergi ke sana, mereka harus menggunakan kendaraan golf.
"Keluarga ini cukup unik, meskipun mereka hanya bertiga namun cukup menghibur," pikir Morgan ketika digandeng Mrs. Wisse ke halaman belakang dan menaiki kendaraan golf menyusul Mr. Wisse dan Vivian.
"Mansion sebesar ini takkan menyenangkan jika tidak ada menantu dan cucu yang bersama kami." Mrs. Wisse tersenyum bahagia kearah Morgan dan menceritakan sifat-sifat Vivian hingga cita-citanya dari kecil saat mereka berada di kendaraan golf.
"Nah itu mereka," tunjuk Mrs. Wisse kearah platform kayu yang mengapung berada di atas danau yang mencair hingga platformnya dapat mengapung milik Keluarga Wisse.
Pemandangan di halaman belakang mansion Keluarga Wisse sungguh menakjubkan dan sangat luas, bagaimana bisa helipad, taman golf, hutan, dan bahkan danau bisa berada dalam 1 pagar yang sama?
Hamparan rumput golf yang tertutup salju, hutan pinus, dan beberapa burung-burung yang bersiul menemani makan siang keluarga Wisse bersama Morgan.
Ketika Morgan duduk, Mrs. Wisse meminta Vivian menuangkan jus untuk Morgan. Dengan sengaja lagi, Vivian menuangkan jus hingga kelewat penuh dan membasahi celana Morgan.
"Vivian!" Panggil Morgan saat celana Morgan telah basah.
"Oh iya!" Vivian mendengarkan Morgan dan berhenti menuangkan jusnya.
Untungnya ayah dan ibunya tidak melihat itu karena akan ada cek-cok lagi.
Namun para pelayan yang berada dibelakang mereka menyembunyikan tawanya melihat tingkah konyol Vivian kepada seorang artis terkenal.
"Entah kenapa wanita ini menjadi gila! Namun aku tetap harus menjaga sikapku didepan keluarganya." Morgan menepuk dadanya lagi agar dirinya tetap bersabar.
"Morgan, bagaimana karirmu sebagai seorang artis?" Tanya Mr. Wisse kearah Morgan yang sedang membersihkan tumpahan jus di celananya.
"Saya baru saja mengeluarkan album baru, tuan. Dan baru saja saya nyanyikan di aula New Paris." Morgan menatap Mr. Wisse dengan formal.
"Kalau begitu, masa depanmu sudah tidak diragukan lagi. Baiklah, aku menyetujuimu untuk menikahi putriku sesegera mungkin!"
"Hah?! Apa ayah ingin aku menikah dengan buaya ini? Dia telah sering mengajak wanita bernama Angela untuk tidur di apartemennya!" Vivian bernada tinggi menatap ayahnya dan Morgan, secara tidak sadar Vivian mengungkapkan semua unek-uneknya dari tadi pagi.
"Angela? Vivian, Angela itu adalah sahabatku sejak kami masih bayi. Dia menggantikan peran sebagai kakakku dan sebagai orang yang selalu menjagaku sejak aku kehilangan seluruh keluargaku ketika kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu. Ketika aku sibuk dan tidak dapat pulang ke apartemen, dialah yang membersihkan apartemenku menggantikan peran ibuku," jawab Morgan dengan nada yang tenang, karena Morgan benar-benar jujur.
Vivian mendengar semua penjelasan Morgan dengan baik, dan merasa sangat, sangat bersalah telah menyangkakan yang tidak-tidak pada Morgan.
Terlebih dirinya sudah berkelakuan buruk pada Morgan hingga menyakiti dan menyulitkan Morgan.
Mr. Wisse dan Mrs. Wisse mendengar apa yang diucapkan Morgan pada mereka.
Kejadian yang sama, yang menimpa anak mereka Jeremy Wisse yang adalah pilotnya sendiri.
Mr. Wisse mendekat pada Morgan dan memeluknya, begitupun Mrs. Wisse.
"Anak kami, Jeremy Wisse juga tewas dalam kecelakaan pesawat tragis itu," jelas Mrs. Wisse dan melepas pelukan mereka dari Morgan.
Dengan perasaan yang bersalah, Vivian memeluk Morgan setelah orang tuanya kembali duduk.
"Maafkan tindakanku yang berlebihan. Kau adalah pria yang baik, kau bahkan bisa menghadapiku dengan sabar. Terima kasih, Morgan."
Hari itu berlalu dengan penuh kebersamaan antara keluarga Wisse dan Morgan. Orang tua Vivian bangga pada Morgan dan mengajak Morgan untuk berkunjung kesana lagi.
yuk mampir juga di novel ku
yang berjudul
SAMA RUPA BEDA NASIB
aku nyicil baca dan like nya y, aku jadikan favorite dulu
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Semangat Up Kak 🌸🌸
Eh, ada si Gwen, Aerin ikut gk?
Morgan cepat sembuh ya...
kasihan vivian, apalagi dia sedang hamil 😢
kok jd kesel ya sama william😌
Wah wah, pesen ngga sepanjang biasanya aja harus diselidiki.. wah 😆🤣
wah wah, Cie yang di temenin Jeremy.. Cie Cie.. yang dimasakin..
uhh indah bgt oemandangannya suka deh huhu😢
hai kakak, maaf ya aku baru mampir lagi huhu😭
Adudu Will kamu itu keren masa gitu 😭
angela, masalah lacak melacak emang jagonya. tapi maaf, vivian udah tau.
kaget juga dia ternyata william yang melakukannya
di tunggu respek nya. 2 like 👍👍
(Baru kali ini liat Wiliam di suruh suruh)🤣🤣
Semoga penyakit Morgan cepet sembuh,biar Vivian gak nangis-nangisan lagi🙂🙂