Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Temu Dengan Perempuan Misterius
Sesampainya di kosan, Jono terkejut menerima pesan dari Zora. Dia sungguh tidak mau dibantu begitu. Jono merasa tidak perlu dikasihani walau sebenarnya dia memang butuh uang, tapi bukan begitu cara yang Jono mau. Jono menjadi sangat sentimen, apalagi Zora memberikannya bonus di saat Jono merasa diabaikan dan tidak dihargai cintanya oleh Zora. Jono merasa tersinggung dengan perlakuan Zora padanya, seolah-olah dia memberikan bonus karena dia telah memberikan anak pada Zora. Kelakuan Zora sudah keterlaluan. ‘Emangnya semua bisa dibayar dengan uang? Dasar orang kaya, kelakuan mereka selalu norak!’ Jono bersungut-sungut di dalam hati. Jono sangat tidak senang kemudian dia langsung menghubungi Zora.
“Halo, Jon!” Zora menjawab dari dapur karena memang saat itu dia ingin segera memasak sarapan.
“Saya tidak senang dengan caramu seperti ini, Zora. Saya sudah bilang, tidak usah kirim. Saya tidak mau menerima uang yang seharusnya tidak saya terima.” Jono setengah membentak Zora.
“Loh, saya kan kasih kamu bonus, kok malah marah? Jangan aneh-aneh dong, Jon!” Zora heran mengapa Jono malah mengamuk dikirimi duit. Sepengetahuannya, semua orang senang jika diberikan bonus. Semua pekerja senang diberikan uang oleh majikannya.
“Saya bukan ******* yang harus dibayar!” Jono semakin berang, menurutnya Zora pura-pura tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya, makanya dia harus terus terang mengatakan hal itu, agar Zora tahu bahwa dia tersinggung dengan cara Zora yang seperti ini.
“Loh, siapa yang bilang kamu *******? Saya sedang tidak membayar *******! Jono...., kamu...., kamu keterlaluan, kamu berprasangka buruk terhadapku, tidak sedikitpun aku menganggapmu demikian. Aku benar-benar tulus ingin memberikanmu uang tambahan.” Zora menaikkan suaranya, dia kembali terisak karena prasangka Jono yang terlalu tergesa-gesa.
“Saya tahu kamu sedang mengolok-olok aku dari belakang. Saya tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau memperalatku untuk bisa dapat anak dan mencampakkanku seolah-olah aku tidak punya perasaan sedih sama sekali, seolah-olah aku ini sudah tidak ada bagimu, tidak berarti!” Jono memperhalus suaranya.
“Ternyata kamu belum ikhlas dengan kesepakatan kita ya? Sekarang apa maumu?” Zora mulai menantang Jono.
Jono yang ditantang mulai gentar. Pertama-tama dia telah berprasangka dengan niat baik Zora, dia terlalu terbawa suasana emosi sesaat. Yang kedua Zora mulai lagi dengan pertanyaan yang membuatnya menjadi berpikir dua kali lagi, dia merasa telah menjadi laki-laki pengecut yang tidak konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya, dengan apa yang sudah dijanjikannya. Apakah dia akan meminta Zora mengatakan yang sebenarnya kepada Aditya? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya. Sebenarnya dia sudah ikhlas dengan kesepakatan mereka, hanya karena uang 1 juta yang Zora kirimkan membuatnya menjadi sangat emosional. Hidupnya yang selalu pas-pasan bahkan berkekurangan memang sangat sensitif dengan yang namanya uang.
“Saya ikhlas Zora, tapi saya akan transfer kembali uang kamu yang 1 juta ini.” Jono menyampaikan niatnya untuk mengembalikan uang Zora. Dia tidak mau dipandang rendah dengan Zora walau tidak sedikitpun pikiran Zora merendahkan Jono dengan mengirimkan uang itu.
“Baik jika itu yang kamu mau, tinggal dikirim balik saja. Kalau kamu memang tidak mau menerimanya, tapi tolong jangan berprasangka buruk denganku. Aku sungguh ikhlas memberikannya, bahkan aku sudah beritahu kepada mas Aditya jika aku memberikanmu bonus 1 juta karena kamu tidak pernah datang terlambat ke rumah jika aku sedang membutuhkan supir.” Zora kembali memberikan pengertian kepada Jono yang terlanjur tersinggung karena kelakuannya. Sebenarnya dia juga paham mengapa Jono sampai berpikiran demikian, itulah sebabnya dia juga menerima alasan Jono untuk mengembalikan uang itu. Dia tidak mau bertengkar lebih lama hanya karena kesalahpahaman ini.
“Iya, saya akan transfer balik. Maafkan saya jika tadi terlalu emosional.” Jono juga langsung melunak karena dia sadar bahwa dia memang terlalu sentimental. Kemudian langsung memutuskan panggilan itu dan buru-buru mentransfer uang yang baru masuk di rekeningnya.
Zora tidak habis pikir mengapa Jono bisa sangat sentimen hanya karena dikirimi uang. Dia segera kembali memasak kemudian serapan. Sarapannya terasa tidak terlalu enak kali ini. Dia kemudian menyeduh teh manis hangat. Dia membawa tehnya dan setoples cemilan ke studio lukisnya dan kembali melukis.
Jono merasa sangat bodoh, tingkahnya barusan sangat konyol. Dia juga heran mengapa dia sangat sentimen tadi. Mengapa dia tidak menggunakan otaknya yang biasanya sangat rasional melihat keadaan? Dia menghembuskan nafas berat, seolah-olah dia baru saja melepaskan beban yang sangat berat. Dia memaki-maki dirinya sendiri sekarang.
Dia keluar menuju warteg langganannya. “Mbok, makan Mbok, seperti biasa. Pakai teh tawar hangat!” Jono memesan makanannya.
Jono makan sedikit pagi ini, peristiwa tadi terngiang-ngiang di pikirannya. Dia tidak menghabiskan sebagian besar makanan yang ada di piringnya.
“Loh, kenapa gak habis, mas?” Mbok Jenar yang selalu kepo itu terheran-heran melihat Jono tidak menghabiskan makanannya. “Mas, makanan yang ada di piring, kudu dihabiskan, kasihan loh banyak orang yang ndak bisa makan di dunia ini, kalau mas ndak menghabiskan makanan yang di piring, mas sama saja merampas makanan orang-orang yang tidak bisa makan, orang-orang miskin di luar sana!” Mbok Jenar ngomel-ngomel lagi, semua orang yang tidak menghabiskan makanan yang di piringnya akan diomeli dengan kalimat yang sama. Padahal ya, dia gak rugi juga. Habis tidak habis, tetap saja yang pesan makanan harus bayar penuh.
“Ah, Mbok Jenar, cerewet ah. Kenapa gak jadi motivator aja Mbok seperti yang di tv-tv?” Jono menimpali ceramah Mbok Jenar.
“Lah, dibilangin malah ngelawan, mas….!” Mbok Jenar kembali mau mengulangi kalimat yang sama, Jono sangat hafal dengan perilaku Mbok Jenar. Banyak pelanggan yang sudah diomelinya. Dia langsung memotong pembicaraan.
“Sudah-sudah, berapa?” Jono memotong dengan menanyakan harga makanannya.
“Tiga belas juta!” Mbok Jenar membalas.
Jono mengeluarkan uangnya 15.000. “Kembali dua juta!” Jono teriak ke Mbk Jenar.
“Nggak ada uang pas toh?” Mbok Jenar tidak terlalu suka jika pelanggannya bayar dengan uang tidak pas, dia bingung harus mengembalikan berapa. Dia sering khilaf, justru mengembalikan uang lebih banyak daripada uang yang diterimanya.
“Nggak ada! Sini balik dua juta!” Teriak Jono mengulangi.
“Yowes, bentar!” Sambil membuka laci meja tempat uangnya Mbok Jenar menunjukkan muka yang kebingungan. “Nih, dua juta!” Mbok Jenar mengembalikan uang recehan 5 ratus 4 keping.
“Nggak ada uang kertas kah?” Jono lebih memilih dikembalikan pakai uang kertas. Sudah terlalu banyak uang logam di kosannya. Dia belum sempat menukarnya.
“E...mas, logam juga uang toh?!” Mbok Jenar ngotot memberikan uang logam uang itu. “Kalau ndak ada uang 5 ratus, uang seribu tidak ada, 5 ratus dulu baru 1 juta. E….!” Mbok Jenar makin cerewet dan Jono harus memotong kalimatnya daripada dia harus mendengar terus ceramah Mbok Jenar yang itu-itu saja.
“Ya, ya, ya, yowes, sini, sini!” Jono menangkap uang yang ada di tangan Mbok Jenar. “Guwa pamit ya, makasih Mbok!” Jono pamit sambil berjalan menuju kosannya lagi.
Sesampainya di kosan dia berusaha menghubungi nomor perempuan misterius itu. Dia mulai curiga jika perempuan itu adalah salah satu dari kawan Rebecca atau suruhan Rebecca, "Tapi untuk apa ya?" Jono menebak-nebak dalam hatinya.
“Halo, Jon!” Suara perempuan tadi malam menjawab di seberang sana.
“Halo, tadi malam kamu belum bilang siapa kamu, boleh saya tahu sekarang?” Jono kembali menanyakan siapa perempuan yang sedang berbicara dengannya.
“Jangan buru-buru gitu dong, kamu sudah pernah lihat saya sekali. Tapi kamu lupa. Hmm...saya jadi tersinggung, apakah penampilan saya kurang menarik ya? Apakah saya kurang cantik ya di matamu? Belum ada loh laki-laki yang tidak tertarik denganku.” Perempuan di ujung sana berceloteh, terlalu percaya diri.
“Iya saya tidak ingat sama sekali!” Jono mengaku benar-benar tidak ingat sama sekali. “Temannya Rebecca ya?” Jono mulai menebak-nebak.
“Rebecca? Siapa Rebecca? Pacarmu ya? Ah saya kecewa kalau kamu sudah punya pacar!” Suara manja di seberang sana membuat Jono semakin penasaran.
“Eh bukan, kami baru saja putus! Jangan terlalu misterius dong, ini dengan siapa?” Jono yang memang lagi benar-benar hampa hatinya semakin penasaran. Dia terlalu jujur kepada orang yang bahkan dia tidak kenal sama sekali perihal statusnya sekarang, perkara pribadinya yang tidak penting orang lain tahu.
“Oh, baru putus. Syukurlah kalau begitu, berarti lagi kosong nih?! Kalau begitu, gimana kalau kita ketemuan malam ini?” Perempuan di ujung sana menawarkan ide.
“Baik, di mana?” Jono bertanya, dia tidak sabar ingin berjumpa dengan perempuan itu. Hatinya benar-benar sedang kacau sekarang, dia butuh penghiburan. Mana tahu orang yang akan ditemuinya bisa menjadi temannya di Jakarta yang serba individualis ini.
“Ok, nanti saya kirim alamatnya ya.” Perempuan di seberang sana langsung mengakhiri percakapan mereka.
Jono masih ingin berbicara jadi diam kembali. Dipandanginya ponselnya sekadar memastikan bahwa percakapan mereka sudah berakhir. Dia tampak senyum sumringah, akhirnya akan ada teman baru di Jakarta. ‘Tapi siapa ya? Apakah teman se-SMA atau teman se-SMP ya?’ Jono masih saja penasaran.
Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum lanjut...😉 Jangan lupa vote, like, dan komentarnya. Bang Otom love you all! 💛💛💛
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂