Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.
Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.
Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!
Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENOLAKAN SANG RAJA.
Pintu kaca otomatis itu terbuka pelan, mengalirkan udara panas Jakarta ke dalam lobi. Ghufran masih membatu, sementara Zhawa melangkah ragu melewati batas pintu. Pandangan mereka bertemu, menciptakan keheningan yang panjang di tengah ramainya lalu lintas karyawan kantor.
Kakek Udin menepuk bahu tegap Ghufran, menyadarkan pria itu dari lamunannya. "Nak Ghufran, hadapi saja. Tidak elok kalau kamu lari sekarang. Selesaikan apa yang harus diselesaikan."
Ghufran menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Baik, Kek." Ia menoleh ke arah Rian. "Yan, kita tetap pergi ke restoran di seberang jalan. Tapi tolong pesan dua meja yang terpisah."
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di sebuah restoran bersuasana tenang. Kakek Udin dan Rian duduk di meja sudut dekat jendela, sementara Ghufran dan Zhawa duduk berhadapan di meja bagian tengah. Di atas meja mereka, dua cangkir teh hangat yang baru diantarkan pelayan masih mengepulkan uap tipis.
Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara. Ghufran berdeham kecil untuk memecah kecanggungan yang terasa mencekik. "Bagaimana kabarmu, Zhawa?"
Zhawa mendongak, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Alhamdulillah, saya baik, Kang. Kang Ghufran sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, saya juga sehat dan baik-baik saja," jawab Ghufran dengan nada suara yang tenang, sangat berbeda dengan sikapnya tiga bulan lalu.
Zhawa menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dadanya. "Kang, saya tidak mau berbelit-belit. Saya langsung tanya saja. Apakah orang baik yang membiayai seluruh pengobatan operasi Bapak itu... adalah Kang Ghufran?"
Ghufran mengalihkan pandangannya ke arah cangkir teh, mencoba bersikap santai. "Zhawa, menu makanan di sini enak-enak. Kamu belum makan siang, kan? Lebih baik kita pesan makanan dulu."
"Tolong jangan alihkan pembicaraan, Kang," desak Zhawa, matanya mulai berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Kakek Udin sudah cerita soal madrasah dan pembangunan desa. Tolong jujur kepada saya, apakah biaya rumah sakit Bapak juga dari Akang?"
Melihat desakan yang begitu kuat dari Zhawa, Ghufran akhirnya menyerah. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengangguk perlahan. "Iya, Zhawa. Memang saya yang mengurus semuanya."
Air mata Zhawa menetes satu titik. "Kenapa, Kang? Kenapa Akang melakukan semua ini untuk keluarga saya? Padahal... padahal dulu di desa, saya sudah menolak Akang mentah-mentah. Saya bahkan mengusir Akang."
Ghufran mengulas senyuman tipis yang sangat tulus. "Membantu sesama itu hal yang wajar, Zhawa. Lagipula, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan."
"Tapi dari mana Kang Ghufran bisa tahu kalau Bapak sedang sakit parah dan dirawat di kota?" tanya Zhawa lagi, masih tidak habis pikir.
"Itulah yang saya maksud kalau semuanya sudah diatur oleh Allah," tutur Ghufran dengan lembut. "Di hari yang sama saat bapakmu masuk ke rumah sakit itu, Ibu saya juga tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke tempat yang sama. Kamar rawat mereka bahkan berdekatan. Dari sanalah saya tahu kondisi bapakmu melalui Rian. Jadi, sekarang kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Yang paling penting adalah kesehatan bapakmu bisa kembali pulih."
Zhawa menundukkan kepalanya, rasa bersalah dan utang budi yang amat besar kini bergemuruh hebat di dalam dadanya. "Lalu... dengan apa saya harus membalas semua kebaikan Akang yang luar biasa ini? Biaya itu pasti sangat besar, Kang. Apakah... apakah saya harus menjadi istri untuk Kang Ghufran agar utang budi ini lunas?"
Senyuman Ghufran memudar, digantikan oleh tatapan mata yang teduh namun sarat akan ketegasan. "Tidak perlu, Zhawa. Saya sama sekali tidak butuh balasan itu. Saya juga tidak suka kalau kamu melakukan hal sebesar pernikahan hanya karena merasa berutang budi kepada saya."
Zhawa mendongak, menatap Ghufran dengan pandangan tidak percaya.
"Saya melakukan semua ini murni karena Allah, tidak ada niat terselubung apa pun," lanjut Ghufran sembari melirik jam tangannya. "Jadi, sekarang sebaiknya kamu kembalilah ke rumah sakit. Bukankah kamu harus menjaga bapakmu yang baru selesai operasi? Oh ya, soal makanan di sini, nanti biar Rian yang bungkus dan mengantarkannya ke kamarmu. Sekarang, kembalilah."
Ghufran pun bangkit dari kursinya. "Maaf, Zhawa, saya harus bergabung kembali dengan Kakek Udin dan Rian."
Pria itu memutar tubuhnya, bersiap melangkah pergi. Namun, baru dua langkah kaki Ghufran mengayun, suara Zhawa terdengar memecah keheningan dari arah belakang.
"Aku bersedia, Kang! Aku bersedia menjadi istri Akang!" seru Zhawa dengan suara bergetar menahan tangis.
Langkah kaki Ghufran seketika terhenti. Tubuhnya mendadak kaku. Mendengar kalimat itu keluar dari mulut wanita yang sempat ia gilai selama berbulan-bulan, seharusnya hati Ghufran melonjak kegirangan. Namun, entah mengapa, dadanya justru terasa sangat sesak dan sakit. Ia tahu persis, kalimat pasrah dari Zhawa itu lahir dari rasa bersalah dan keterpaksaan untuk membalas budi, bukan karena sebuah ketulusan cinta. Ghufran yang sekarang telah belajar meletakkan cinta Allah di atas segalanya, tidak akan sudi mengemis cinta manusia lagi.
Tanpa membalikkan badannya untuk menatap Zhawa, Ghufran berkata dengan nada suara yang dingin namun mantap. "Tapi aku yang tidak bersedia, Zhawa. Jadi, sebaiknya kamu segera kembali ke rumah sakit."
Setelah mengucapkan kalimat penolakan yang telak itu, Ghufran langsung melangkah lebar menuju meja Kakek Udin dan Rian, meninggalkan Zhawa yang terpaku sendirian di kursinya. Zhawa hanya bisa menatap punggung tegap Ghufran yang perlahan menjauh dengan perasaan yang campur aduk tidak menentu. Dengan hati yang terluka, Zhawa akhirnya memilih untuk kembali berjalan gontai menuju rumah sakit.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar rawat VIP, Pak Imran langsung menyadari perubahan drastis pada raut wajah putrinya. Wajah Zhawa tampak mendung dan kedua matanya terlihat sembap.
Pak Imran membetulkan posisi duduknya di ranjang. "Zhawa, ada apa, Nak? Kenapa wajahmu jadi mendung begitu setelah kembali dari luar?"
Zhawa berjalan mendekati ranjang ayahnya, lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini kembali mengalir deras membasahi pipinya. "Bapak... ternyata hamba Allah yang membiayai seluruh pengobatan Bapak itu memang Kang Ghufran."
Pak Imran terkesiap. "Masya Allah, jadi benar Nak Ghufran?"
"Iya, Pak," jawab Zhawa di sela isak tangisnya. "Tadi Hawa bertemu dengannya di restoran seberang jalan. Karena Hawa merasa utang budi kita terlalu besar, Hawa mengajukan diri untuk membalas kebaikannya dengan cara menjadi istrinya, Pak."
Pak Imran mengernyitkan dahi. "Lalu, apa tanggapan Nak Ghufran?"
"Dia menolak Hawa mentah-mentah, Pak," tutur Zhawa, suaranya terdengar sangat pilu. "Dia bilang, dia tidak bersedia menikah dengan Hawa. Pak... apakah Kang Ghufran sebenarnya masih sangat kesal dan dendam kepada Hawa karena dulu Hawa pernah menolaknya di desa?"
Mendengar keluh kesah putrinya, Pak Imran mengembus napas panjang. Beliau mengulurkan tangan tuanya, mengusap lembut kepala Zhawa yang tertutup jilbab dengan penuh rasa sayang untuk menghiburnya.
"Zhawa, dengarkan Bapak, Nak," ujar Pak Imran dengan nada suara yang sangat tenang dan bijak. "Nak Ghufran menolakmu bukan karena dia dendam atau masih kesal atas kejadian di desa dulu. Bapak yakin, dia menolakmu karena niat yang ada di dalam hatimu itu salah."
Zhawa mendongak, menatap mata ayahnya dengan pandangan bingung. "Niat yang salah bagaimana, Pak?"
"Pernikahan itu adalah ibadah yang sangat sakral, Zhawa. Nak Ghufran itu pria yang cerdas dan sekarang hatinya sudah jauh lebih bersih. Dia tidak mau membangun rumah tangga yang didasari atas rasa kasihan atau sekadar transaksi tebusan utang budi. Dia ingin dihargai sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang penagih utang," jelas Pak Imran dengan lembut.
Zhawa terdiam seketika, kata-kata ayahnya laksana anak panah yang tepat sasaran, membuat hatinya kini dipenuhi oleh rasa bimbang yang baru tentang siapakah sebenarnya sosok Ghufran yang ada di hadapannya saat ini.
terimakasih