Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naas
"Ra, kayaknya aku baru lihat amang yang tadi, karyawan baru?" tanya Marcel sambil sesekali melihat Ziano yang berjalan malas di belakang sana, makin jauh nampak makin kecil.
"Siapa? A Ano?" tanya Ara.
"Namanya Ano?" tanya balik Marcel.
"Yang barusan bareng aku, iya. Namanya siapa gitu, aku lupa. Ingetnya A Ano aja, soalnya namanya susah diucapin." meskipun sudah berusaha diingat-ingat tetap saja yang nempel di kepalanya cuma Ano. Soalnya semua orang manggilnya gitu.
"Kayaknya bukan orang sini yah? aku baru lihat."
"Emang bukan orang sini. Ngakunya orang kaya, tapi aku sih nggak percaya, paling juga niat nipu."Ara jadi teringat awal-awal dipinjemin duit.
"Harus hati-hati kalo gitu, Ra." ucap Marcel.
"Iya. Tenang, aman aja kok. Semua nih gara-gara Abah yang bawa orang sembarangan. Udah nggak bisa kerja harus ditampung juga. Tadinya sih aku mikir mending udah lah kasih uang aja biar pergi dari pada disini bikin rugi, tapi Uci nempel banget sama A Ano. Terus kemaren juga aku bawa ke taman buat bantu-bantu lumayan bisa diandelin." jelas Ara.
"Jadi kamu ngelarang aku ke taman gara-gara ada dia? tega banget, Ra." Padahal biasanya setiap malem minggu dirinya selalu ke taman. Bagaimana pun caranya yang penting bisa ketemu Ara. Meski harus pake kaca mat ahitam bahkan masker dan topi sekali pun ia lakukan. Seperti biasa awal-awal pura-pura sebagai pembeli kemudian duduk-duduk disana berlama-lama sampai dagangan Ara habis atau Yudi sudah menghubungi kalo dia otw jemput.
"Nggak gitu juga, Cel. Lebih ke jaga-jaga aja sih. Tau sendiri taman kalo malem minggu ramenya kayak apa? takut ada yang lihat terus lapor ke Abah atau ke bapak kamu gimana? ancur kita berdua." Ara menghela nafas panjang.
Marcel ikut menghela nafas panjang, "orang tua kita ribet yah, Ra? Kita yang anak-anak tapi mereka yang kekanak-kanakan."
"Iya, nggak ngerti juga sampe selama ini pada ributnya." jawab Ara, "ini juga kalo sampe ada yang laporan ke abah atau bapak pasti bakal rame." lanjutnya.
Masalah keluarga mereka sudah sampai dibawa ke ketua RT bahkan pihak Desa tapi tetap saja, damai hanya sebatas ucapan dan pernyataan hidup saling rukun pun hanya sebatas hitam diatas putih yang tak memberi efek apa pun. Mereka hanya saling diam tak akur.
"Aman aja, orang sini juga udah pada tau kok." tidak rukunnya orang tua Ara dan Marcel memang sudah menjadi rahasia umum, kecuali Ziano tentunya yang merupakan warga abal-abal. Tak jarang mereka kasihan pada Ara dan Marcel yang sejak kecil sudah sama-sama malah sering kali jadi korban keegoisan orang tua sehingga warga kerap kali tak mengadu meskipun melihat mereka bersama.
"Aku langsung ke pom bensin yah." ucap Marcel begitu mereka tiba di pangkalan ojeg. Ara langsung turun, menggendong Lusi.
"Mang, nggak niat ngerusak orderan, ketemu neng Ara deket kandang jadi sekalian diangkut." lanjutnya pada amang ojeg yang sedang mangkal.
"Iya, paling juga mau beli sate kan?" jawabnya santai. Sate lontong dan Ara di minggu pagi sudah seperti agenda rutin yang tak terlewatkan.
Lusi langsung menarik Ara menuju tukang sate yang juga mangkal di pangkalan ojeg. Bukan tukang sate dengan gerobak kali lima dan tenda lesehan, melainkan kang sate keliling dengan motor hingga tempat duduknya ala kadarnya, itu pun nebeng di pangkalan ojeg.
"Satenya di bungkus dua yah, Mang. Bumbunya di pisah." ucap Ara memesan.
Saat kang sate baru saja selesai membungkus pesanan Ara, Ziano datang dengan pelipis yang basah. Ia langsungn duduk santai di samping Ara.
"Hayu, A." ajak Ara.
"Hayu? kemana?"
"Pulang lah." jawabnnya sambil memamerkan sate di tangan kanannya, "satenya udah jadi." lanjutnya.
"Ayo, Ci." ajaknya pada Lusi.
Gadis kecil itu turun dari pos ronda yang merangkap sebagai pangkalan ojeg dan menarik tangan Ziano yang baru saja duduk.
"Ayo, Papi! Uci pengen cepet-cepet sampe rumah terus makan."
"Udah laper banget ini." tangan kecilnya mengusap perut dengan gemas.
Hih! Ziano menghentakkan kakinya. "naik ojeg aja lah pulangnya, Ra!"
"Kalo Aa punya uang yah silahkan. Aku sama Uci sih mau jalan kaki aja, biar sehat."
Lusi menggandeng tangannya, "ayo, Pi..."
"Tau gini gue tunggu di kandang aja tadi!" batin Ziano namun nasi sudah menjadi bubur, kini ia hanya bisa berjalan dengan pasrah. Dulu cuma ke mini market depan kompleks saja pakai mobil sekarang pulang pergi mungkin ada satu kilo meter malah jalan kaki. Naas.
.
.
.
Ini mana like komennya guys? naas banget dah sepi gini wkwkwk
BTW di tik tok lagi rame masalah yang selingkuh itu, padahal udah nikah 11 tahun gegara belum punya anak
Aduh lah akunya malah pengen bikin cerita kayak gituan, tapi takut berat... gimana dong ini wkwkwkw
udah ah sekian aku mau CFD dulu, nggak mau kalah sama A Ano atuh, jalan biar sehat wkwkwk
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih