Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipecat
“Hari ini kalian mau ke mana?” ucap Bima pada Liora dan Arga. Pagi ini, Arga memang datang berkunjung ke keluarga Mahendra.
“Saya ingin mengajak Liora ke suatu tempat, Om. Tapi sebelum itu, saya ada meeting terlebih dahulu. Nggak apa-apa, kan, sayang?” ucap Arga sambil menoleh pada Liora yang berada di sampingnya.
“Tentu saja, sayang. Aku akan setia menemani kamu,” jawab Liora dengan santai.
“Hitung-hitung sekalian belajar dunia bisnis,” sambung Yuliana dengan senyum tipis, menatap Liora penuh arti. “Supaya kamu tidak hanya tahu cara menghabiskan uang, tapi juga bagaimana uang itu dihasilkan.”
Liora tersenyum kecil, sama sekali tidak merasa tersindir.
“Tentu, Mom,” jawabnya ringan. “Lagipula, aku ikut Arga.”
Arga meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja,” ucapnya tenang. “Meeting saya tidak bisa ditunda.”
Liora langsung bangkit tanpa ragu, meraih tasnya.
“Aku siap.”
Bima mengangguk puas melihat itu.
“Bagus,” ucapnya. “Memang sudah seharusnya begitu. Liora tidak bisa terus berada di level yang… biasa saja.”
Sekilas, bayangan Xavero seolah melintas dalam benak mereka, tanpa disebut, tapi terasa.
Layla yang sejak tadi duduk di sofa ikut tersenyum.
“Liora memang cocok di dunia itu,” ucapnya santai. “Apalagi kalau didampingi orang yang tepat.”
Liora melirik Arga sekilas, lalu tersenyum lebih manis.
Arga merapikan jasnya, lalu menoleh ke arah keluarga Mahendra dengan sikap sopan tapi tetap berwibawa.
“Kalau begitu, kami pamit, Om, Tante.”
Mereka mengangguk.
“Hati-hati di jalan.”
Tanpa menunggu lama, Arga melangkah lebih dulu menuju pintu.
Liora mengikuti di sampingnya, bukan di belakang.
Sejajar.
Seolah menunjukkan posisi yang ia inginkan.
Begitu mereka keluar, sebuah mobil mewah sudah menunggu di depan.
Seorang sopir segera membukakan pintu.
Arga memberi isyarat kecil.
“Silakan.”
Liora masuk dengan anggun, tanpa ragu.
Arga menyusul, duduk di sampingnya.
Pintu tertutup.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kediaman Mahendra.
Di dalam mobil, suasana hening beberapa detik.
Liora melirik Arga.
“Meeting kamu penting?” tanyanya santai.
Arga menoleh, tatapannya tenang.
“Selalu penting,” jawabnya singkat. “Tapi hari ini, kamu lebih penting.”
Liora tersenyum tipis.
Jawaban yang sederhana, tapi cukup untuk membuatnya merasa berada di posisi yang tepat.
Setelah dua puluh menit perjalanan, mobil mewah milik Arga berhenti di sebuah restoran terbesar di Eldoria City.
Sopir dengan sigap membukakan pintu. Arga turun lebih dulu, lalu disusul oleh Liora.
Raka—asisten Arga—segera menghampiri mereka. “Tuan, Nona,” ucapnya dengan sopan.
Arga mengangguk singkat, sementara Liora hanya menatap sekilas.
“Apa mereka sudah datang?” tanya Arga.
Raka mengangguk. “Iya, Tuan. Mereka sudah menunggu Anda sejak beberapa menit yang lalu.”
Arga kembali mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam restoran. Tangannya tetap menggenggam tangan Liora, sementara Raka mengikuti dari belakang.
Sesampainya di depan ruang VIP, Raka membukakan pintu.
Di dalamnya, terlihat beberapa rekan bisnis Arga telah hadir dan menunggu.
Raka membuka pintu dengan hormat.
Arga melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti Liora di sampingnya. Tangannya masih menggenggam tangan wanita itu, seolah menunjukkan dengan jelas posisi Liora di sisinya.
Beberapa pria dengan setelan formal langsung berdiri.
“Tuan Arga,” sapa mereka hampir bersamaan.
Arga mengangguk singkat. “Silakan duduk.”
Semua kembali ke kursi masing-masing.
Arga menarik kursi untuk Liora lebih dulu.
“Duduk di sini,” ucapnya pelan.
Liora duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya menyapu ruangan itu sekilas—tenang, tapi jelas menunjukkan kelasnya.
Arga kemudian duduk di kursi utama.
“Baik, kita mulai saja,” ucapnya tanpa basa-basi.
Salah satu pria membuka berkas.
“Seperti yang sudah kami kirim sebelumnya, proyek kerja sama ini akan mencakup—”
Arga mengangkat tangannya sedikit, menghentikan.
“Langsung ke inti,” ucapnya dingin.
Suasana langsung berubah lebih tegang.
“Baik, Tuan. Kami menawarkan pembagian saham sebesar empat puluh persen dengan—”
“Dua puluh lima,” potong Arga datar.
Pria itu terdiam sejenak.
“Tuan, itu terlalu—”
“Ambil atau tinggalkan,” lanjut Arga tanpa emosi. “Saya tidak punya waktu untuk negosiasi panjang.”
Hening.
Beberapa orang saling pandang.
Liora yang duduk di samping hanya memperhatikan dengan ekspresi datar. Ia tidak benar-benar memahami detail pembicaraan, tapi cara Arga berbicara—
tegas, tanpa ragu, cukup membuatnya terlihat, berada di tempat yang tinggi.
Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, sesekali memainkan ujung rambutnya, seolah semua ini adalah hal biasa baginya.
Akhirnya, pria itu menghela napas.
“Baik, Tuan. Kami setuju.”
Arga mengangguk sekali.
“Bagus. Kirimkan revisi kontraknya hari ini.”
“Siap, Tuan.”
Pertemuan itu berlanjut beberapa menit, membahas detail singkat lainnya, semua berjalan cepat, efisien, dan sepenuhnya dalam kendali Arga.
Tidak ada yang berani membantah.
Tidak ada yang berani memperpanjang.
Semua selesai dalam waktu singkat.
Arga menutup map di depannya.
“Kalau begitu, cukup,” ucapnya.
Semua langsung berdiri.
“Terima kasih, Tuan Arga.”
Arga tidak menjawab, hanya mengangguk tipis.
Satu per satu mereka keluar dari ruangan, menyisakan Arga, Liora, dan Raka.
Raka membereskan berkas meeting dengan rapi. Liora menyipitkan mata saat melihat berkas yang ada di hadapannya. Ia meraih kertas itu, lalu membacanya dengan saksama.
“Ini kan perusahaan tempat Xavero bekerja,” ucapnya dalam hati.
Senyum miring perlahan terbit di bibirnya sebelum ia mengembalikan berkas itu ke tempat semula.
“Sayang, aku ingin berdua denganmu,” ucap Liora dengan nada manja pada Arga.
Arga mengangguk, lalu menatap Raka.
Raka yang paham segera pamit dan meninggalkan ruangan.
“Sayang, kamu masih ada meeting?” tanya Liora.
Arga mengangguk. “Tinggal satu lagi. Kamu keberatan menunggu?”
Liora menggeleng pelan. “Tidak sama sekali. Cuma…”
“Cuma apa, sayang? Katakan. Kamu ingin belanja?”
Liora kembali menggeleng.
“Terus?”
“Kamu punya peran besar di PT Wijaya, kan?”
Arga mengangguk. “Itu masih bagian dari Wijaya Group. Kenapa memangnya, sayang?”
“Aku ingin…” Liora mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga Arga.
Arga terdiam sesaat, mencerna permintaan itu, lalu perlahan mengangguk.
"Dengan syarat..." Arga sengaja menggantung kalimatnya. Tanpa menunggu jawaban, ia segera merapatkan jarak dan mencumbu Liora, hingga akhirnya mereka berdua hanyut dalam suasana yang tak terelakkan di dalam ruangan VIP tersebut.
°°
“Radit, Xavero mana?” tanya Adrian pada Radit.
Radit yang sedang sibuk dengan laptopnya sedikit terkejut dengan kehadiran atasannya. “Xavero?”
“Iya, di mana dia?”
“Di gudang, Bos. Di mana lagi?” jawab Radit santai. “Xavero kenapa, Bos? Tumben Bos cari dia.”
Adrian tidak menjawab. Ia langsung berbalik dan pergi, meninggalkan Radit dengan raut wajah bingung.
“Apa Xavero buat masalah?” gumamnya pelan, lalu menggeleng. “Nggak mungkin, dia kan anak baik-baik.”
Sementara itu, Adrian terus melangkah menuju gudang—tempat Xavero bekerja.
“Xavero.”
Xavero yang sedang mengangkat sebuah kardus menoleh. Ia segera meletakkan kardus itu dengan hati-hati, lalu menghampiri atasannya.
“Iya, Bos,” ucapnya sopan.
Adrian terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu, sebelum akhirnya berbicara dengan nada berat.
“Maaf…”
“Maaf kenapa, Bos?” tanya Xavero, bingung.
Adrian menarik napas singkat.
“Kamu dipecat.”
Deg!