Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Arjuna Anakku
Beberapa orang berkerumun, terutama ibu-ibu. Wajah mereka tampak antusias.
Keributan tentu saja akan menarik perhatian, dan akan menjadi bahan gibah berhari hari sambil menunggu Bank emok datang.
“Ada apa ini?” tanya Ibu Mimin, tetangga Ambar, sambil mendekat.
“Ini loh, Bu Mimin, Amira memukul mantu saya, dan dia meminta uang pada Rudi, padahal sudah jelas dia selingkuh di luar negeri, padahal Rudi enggak nuntut apa-apa, hanya ingin bercerai,” Ambar menangis terisak.
Ia tampak lemah. Tubuhnya sedikit gemetar. Seolah-olah benar-benar menjadi korban.
Ibu Mimin menghampiri. Ambar langsung memeluknya, menangis di pundaknya.
“Loh, bukannya Amira juga menantu Ibu?” Yuni, yang dulu adalah teman Amira, menyela.
Beberapa orang langsung saling pandang. Tapi tidak ada yang menjawab.
Orang-orang semakin mendekat. Mereka memperhatikan Amira dari atas sampai bawah. Tatapan mereka penuh penilaian.
“Ah iya, inikah Amira?” ucap Lela.
“Amira, beraninya kamu pulang,” ucap Rina. “Kamu itu sudah saja tinggal di luar negeri, kamu itu tukang zina.”
Beberapa orang langsung mengangguk.
“Eh iya, Amira, benar enggak kamu di sana selingkuh dengan majikan kamu?”
Amira mengeratkan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia menahan emosi.
Isu itu ternyata sudah menyebar lama. Bukan baru hari ini. Dan jelas, ini bukan kebetulan.
Amira berdiri tegak. Ia menatap satu per satu wajah di depannya.
“Kalian sudah memfitnah saya, demi Tuhan saya tidak pernah selingkuh, kalau saya selingkuh mana mungkin saya bisa pulang,” Amira menatap tajam.
Suasana sempat hening. Tapi hanya sebentar.
“Sudahlah, Amira, jangan berkelit, video perselingkuhan kamu sudah tersebar sejak setahun yang lalu, hampir semua warga desa mengetahui. Setahun yang lalu, ibu mertua kamu sampai jatuh sakit melihat video itu,” ucap Rina.
Bisik-bisik kembali terdengar.
Semua orang mengingat kejadian itu.
Mereka ingat betul saat Ibu Ambar dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Waktu itu suasana desa sempat heboh.
Menantu yang selama ini dibanggakan ternyata terlibat skandal.
Banyak yang bersimpati pada Ambar.
Namun, tidak semua orang memperhatikan detail.
Jika dipikir-pikir, hanya sebulan setelah video itu viral, Rudi menikah dengan Ratna.
Cepat sekali.
Dan anehnya, video itu tiba-tiba hilang. Tidak ada yang membicarakannya lagi.
Padahal sebelumnya menyebar luas.
Beberapa orang sebenarnya tahu, Rudi sempat membayar orang-orang agar tidak menyebarkan video itu lagi.
Tapi cerita itu kalah oleh cerita yang lebih besar.
Rudi dianggap pria baik. Tetap menjaga nama baik istrinya, meski sudah dikhianati.
Sementara Amira, sejak saat itu, sudah dicap buruk.
Dan hari ini, dia kembali. Dengan tuntutan.
Tentu saja warga tidak menerimanya.
“Terserah kalian percaya atau tidak sama saya, yang jelas saya tidak pernah selingkuh.”
“Mana ada maling ngaku,” ucap Rina cepat.
Beberapa orang tertawa kecil.
Amira menatap Rina tajam. Dalam pikirannya, ia mencoba mengingat. Apa salahnya pada wanita itu? Kenapa begitu keras menyerangnya?
“Itu hak kalian, percaya atau tidak. Saya di sini hanya akan mengambil hak saya. Saya sudah bekerja 3 tahun di Taiwan, setiap bulan gaji saya semua saya kirim ke keluarga ini, tapi apa yang terjadi, lihatlah anak saya ini,” ucap Amira sambil memeluk Arjuna.
Ia menarik tubuh anaknya lebih dekat.
“Bahkan anak saya kurus kering begini, padahal saya kirim uang hampir 20 juta per bulan, tapi anak saya seperti ini.”
Beberapa orang mulai memperhatikan Arjuna.
Tubuhnya memang terlalu kurus untuk anak seusianya.
“Dasar tukang fitnah kamu, Amira!” Ambar berteriak.
“Mana buktinya kalau mengirim uang pada kami untuk biaya anak kamu?”
Amira terdiam sesaat.
Baru kali ini dia sadar, cintanya pada Rudi sangat dalam. Hingga rekening untuk penerimaan gajipun atas nama Rudi, di Taiwan semua kebutuhan makan dan tempat tinggal sudah ditanggung oleh majikan, dan majikannya suka memberi uang receh diluar gaji.
Jadi tidak ada bukti satupun kalau Amira pernah mengirim uang pada Rudi
Amira baru sadar ternyata dia dimanfaatkan
“Asal kamu tahu, karena video perselingkuhan kamu, Rudi sampai menghabiskan uangnya untuk menutup kasus kamu, seharusnya kamu di sana dihukum pancung, Amira, tapi Rudi ke sana kemari mengupayakan kamu agar tidak dihukum, bagaimanapun kamu adalah ibu dari Arjuna,” isak Ambar.
Beberapa orang terlihat tersentuh.
Cerita itu terdengar masuk akal bagi mereka.
“Aku benar-benar sudah tidak kuat, Amira,” ucap Ambar. “Aku wanita bodoh salah menilai orang, sekarang aku hanya ingin Rudi dan kamu bercerai, kenapa kamu banyak tuntutan?”
Semua mata kembali tertuju pada Amira.
Kali ini lebih tajam.
Lebih dingin.
“Sudahlah, kamu layak diceraikan.”
“Kasihan sekali Rudi, ya.”
“Kasihan Ibu Ambar, ya.”
Suara-suara itu datang bertubi-tubi.
Tidak ada yang membela.
Tidak ada yang bertanya.
Semua sudah mengambil kesimpulan. Amira adalah istri yang buruk
Amira menghela napas panjang.
Dadanya terasa sesak.
Ia tahu, di situasi seperti ini, kata-katanya tidak akan mengubah apa pun.
“Baik, aku mau bercerai dan tidak akan menuntut apa pun, hari ini aku dan Rudi tidak ada hubungan apa pun,” ucap Amira.
Kalimat itu membuat suasana sedikit tenang.
Amira memeluk Arjuna erat. Ia mencoba menggendongnya.
Tubuh anak itu ringan.
Terlalu ringan untuk anak usia 7 tahun.
“Kasihan sekali Arjuna, masih kecil harus memikirkan ibunya sampai kena TBC dan akhirnya kurus kering seperti itu.”
Komentar itu terdengar jelas.
Menusuk.
“Tunggu!” Ambar berteriak.
Semua orang menoleh.
“Kamu tidak boleh membawa Arjuna, kamu bukan wanita baik, tinggalkan Arjuna di sini, asal kamu tahu ibumu sudah menculik Dewi dan sekarang kamu malah membawa Arjuna,” ucap Ibu Ambar. “Tidak akan aku biarkan.”
Ucapan itu membuat suasana berubah lagi.
Beberapa orang terkejut.
Sebenarnya Ambar tidak peduli pada Arjuna. Tapi ia tidak ingin terlihat buruk di mata tetangga.
Amira terdiam.
Wajahnya berubah.
Ia baru sadar.
Dari tadi, ia tidak melihat Dewi.
“Ke mana Dewi?” tanya Amira kepada Rudi.
“Ibumu yang gila itu menculik Dewi, sampai saat ini kami masih mencarinya, kamu cari saja ibu kamu, sekarang tinggalkan Arjuna di sini.”
“Tidak!” teriak Amira.
Suasana langsung hening.
Pikirannya kacau.
Amira sangat paham sifat ibunya.
Kasar.
Keras.
Dan tidak punya rasa kasihan.
Jika pada dirinya saja begitu, apalagi pada anaknya.
Bayangan buruk langsung muncul.
Amira menatap Rudi dengan marah.
“Mas, kenapa kamu tidak menjaga Dewi? Sudah aku bilang sejak dulu, jangan biarkan ibuku menemui anak-anak.”
Rudi diam.
“Kamu pikir siapa yang bisa melawan orang gila, ha? Ibumu sangat kejam. Dia mengancam akan menculik semua cucuku kalau tidak memberikan Dewi. Kamu pikir kami hidup baik-baik saja? Kedua anakmu itu mempunyai penyakit berat. Hampir semua tabunganku habis. Kalau mau kamu salahkan, jangan salahkan kami. Salahkan ibumu yang gila itu.”
Ambar menatap Amira dengan sendu, seolah benar-benar menjadi orang yang teraniaya karena menanggung beban hidup yang berat. Wajahnya tenang, suaranya bergetar, tetapi kata-katanya terasa menusuk.
“Juna, sini, Nak.”
Tubuh Juna gemetar. Tangannya yang tadi erat memeluk Amira perlahan terlepas. Ia menunduk, ragu, seperti berada di persimpangan yang tidak ia pahami.
“Juna ikut nenek saja, jangan ikut ibu kamu.”
Dengan langkah kecil yang goyah, Juna berjalan ke arah Ambar. Setiap langkahnya terasa seperti menarik sesuatu dari dalam dada Amira.
Setiap langkah Arjuna menuju Ambar membuat Amira semakin hancur.
Suaminya mengkhianatinya dengan menikah tanpa sepengetahuannya.
Kerja kerasnya menjadi TKI di luar negeri tidak menghasilkan apa-apa.
Anak bungsunya diberikan pada ibu kandungnya yang mempunyai perangai buruk.
Arjuna saja kurus kering diurus oleh suaminya, apalagi Dewi.
Dan Arjuna sekarang melangkah memilih Ambar dan suaminya.
Cibiran tetangga semakin menjadi-jadi.
“Hati anak kecil sangat murni, dia akan memilih keluarga yang baik.”
“Amira benar-benar wanita buruk, ini adalah balasan bagi wanita selingkuh.”
Suara hinaan semakin terdengar dan semakin menyakitkan.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪